
SELAMAT MEMBACA!
***
Di meja makan, semua orang kalang kabut karena kedua ibu hamil itu tidak mau memakan sarapannya. Mereka merajuk karena keinginan mereka di tolak mentah-mentah oleh Andra.
"Sayang, ayolah makan sarapanmu! Kamu gak kasihan apa sama bayi kita? Dia nahan lapar loh itu," bujuk Andra dengan lembut.
"Gak akan!" ketus Nafisah.
"Kak Sof, makan yah makan!" kata Ariana sambil membantu menyuapi Sofia.
"Kakak gak mau makan An sebelum kakakmu itu mau berguling-guling di lantai!" tutur Sofia memandang jengkel Andra.
"Benar, kami berdua akan tetap mogok makan jika kamu tidak mau melakukan satu hal itu!" timpal Nafisah.
Nafisah dan Sofia pagi ini mengidam ingin melihat Andra si bos mafia berguling-guling di lantai seperti apa yang mereka semalam tonton.
"Sayang," melas Andra. Bagaimana kata pelayan jika dia berguling-guling layaknya orang gila di lantai? Astaga memalukan sekali!
"Ya sudah kalau kamu gak mau, aku juga pokoknya gak mau makan!" balas Nafisah dengan tatapan tajamnya.
"Ini juga demi bayi kita, emang kamu mau anak kita ileran? Gak mau kan ya sudah sana cepat guling-guling! Cuma sepuluh kali kok, apa susahnya sih?!" gerutu Nafisah memonyongkan bibirnya.
"Argh," jerit Andra tertahan sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kalian semua keluarlah!" titah Andra pada para pelayan yang masih setia berdiri di sudut ruang makan.
"Jangan! Kenapa mengusir mereka? Mereka juga harus melihatmu guling-guling!" cerocos Nafisah menahan langkah para pelayan untuk tetap pada tempat mereka.
Mau tidak mau Andra pun mneyetujuinya. Dia berdiri dari duduknya dan berjongkok di lantai. Nafisah dan Sofia sudah bertepuk tangan dengan girangnya, sedangkan Ariana menatap kasihan pada kakaknya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Dimas yang baru saja kembali dari markas besar.
"Pagi!" jawab mereka serentak.
"Loh, bos kok disitu? Gak makan bos? Atau sakit perut? Mules yah!" cerocos Dimas membuat Andra berdecih kesal.
Tanpa mereka sadari, Nafisah dan Sofia saling melempar kode dengan isyarat mata mereka. Mereka kemudian menatap Dimas yang juga menatap mereka secara bergantian.
"Kenapa? Apa ada yang salah denganku?" tanya Dimas pada Nafisah dan Sofia.
Nafisah dan Sofia menggeleng.
"Lalu?" tanya Dimas was-was.
"Kamu ikut mas Andra guling-guling juga dibawah sana!" titah Nafisah.
"Ayo Dimas buruan!" timpal Sofia.
"Astaga malangnya nasibku, baru pulang dari penyelidikan panjang langsung di perintah guling-guling bukannya menawarkan makanan kek," gumam Dimas pelan nyaris tak terdengar.
"Tak usah banyak bicara! Cepatlah!" ucap Sofia seakan-akan bisa mendengar gumaman Dimas.
Dimas mencabik kesal lalu ikutan berjongkok dengan Andra.
__ADS_1
"Sayang," melas Andra lagi.
"Tidak! Lakukan cepat!" titah Nafisah.
"Kau siap Dim?" tanya Andra.
Dimas mengangguk pasrah, "Siap tidak siap gue harus siap," jawab Dimas asal.
"Ayo tunggu apa lagi?! Mulailah," kata Sofia.
Dimas dan Andra pun berbaring di lantai. Mereka memulai dengan berguling ke kanan lalu berguling ke kiri. Hal itu mereka lakukan berkali-kali sampai pada hitungan ke sepuluh.
"Astaga kepalaku pusing sekali," keluh Dimas memegangi kepalanya.
Andra juga merasakan hal yang sama, namun dia tidak mengeluh. Andra menggeleng-gelengkan kepalanya guna menghilangkan rasa pusingnya.
"Good!" ucap Nafisah dan Sofia bersamaan.
"Kalian yang terbaik!" puji Sofia.
Pak Arif dan chef Xion bergidik ngeri. Mereka yang lebih dulu merasakan apa yang sekarang tuan-tuannya itu rasakan.
Punggung pak Arif bahkan sampai encok dinaiki chef Xion, untung setelah di urut punggungnya kembali membaik.
"Makanlah sekarang!" titah Andra.
Nafisah dan Sofia pun mulai melahap sarapan mereka dengan rakusnya. Tapi, hal itu terlihat wajar saja karena mereka sedang hamil.
Mereka semua lalu sarapan dalam diam.
***
Jam kini sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu korea selatan. Seorang pemuda dengan perawakan gagahnya baru selesai gym.
Pria itu lalu meraih handuk melap keringatnya kemudian mengambil air botol dan meminumnya hingga tandas.
"Sudah datang?" tanya pria itu saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Hmm," jawab seorang gadis yang memeluknya itu dari belakang.
"Joy," panggil pria yang tidak lain adalah Akhsan Dirgantara.
"Ya?" tanya gadis bernama Joy itu.
"Aku akan kembali ke Indonesia," ujar Akhsan dengan nada senduhnya. "Perawatan kakak sudah selesai dan kami harus segera kembali untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perusahaan kakak. Kasihan Niken. Selama kami tidak ada, dia yang menyelesaikan semuanya," tambah Akhsan.
Joy manggut-manggut mengerti. Tangannya belum juga di lepas dari perut tunangannya itu. Dia bahkan dengan nyamannya menyandarkan kepalanya pada punggung Akhsan.
"Kembalilah," balas Joy.
"Kamu tidak apa-apa aku meninggalkanmu lagi?" tanya Akhsan.
"Tidka apa-apa selama kamu setia padaku! Aku percaya tunanganku ini tidak akan mengecewakanku," ujar Joy dengan yakinnya.
Deg!
__ADS_1
Ucapan Joy bagaikan batu besar yang menghantam hati Akhsan. Hatinya tiba-tiba saja tergelitik. Dia kembali mengingat Sofia yang kini sedang mengandung anaknya.
Apakah itu sebuah pengkhianatan?
Tapi, Akhsan dan Sofia melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Ralat hanya Sofia yang tidak sadar, sedangkan Akhsan saat itu sangatlah sadar.
Bukankah sudah jelas Akhsan berkhianat hanya karena sebuah nafsu sementara?
Akhsan tersenyum kecut lalu membalikan tubuhnya dan kini dia sudah mendekap Joy dari depan. Joy semakin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Akhsan.
"Joy," panggil Akhsan lagi.
"Katakan saja jika kamu mau mengatakan sesuatu," ujar Joy menatap Akhsan lekat-lekat.
"Apa kamu sangat percaya padaku?" tanya Akhsan.
Joy terkekeh, "Kenapa kamu menanyakan hal itu? Jelas saja aku sangat mempercayaimu, bahkan sangat-sangat mempercayaimu," tutur Joy lalu mencium singkat bibir Akhsan.
"Kamu tidak selingkuh bukan?" selidik Joy dengan mata memicingnya.
Jleb!
Akhsan menelan salivanya dengan kasar. Sekali lagi pertanyaan Joy membuatnya tidak bisa berucap.
"Apa benar kamu selingkuh?" tanya Joy melepas paksan pelukannya lalu mundur beberapa langkah.
Akhsan masih terdiam. Entah apa yang harus dia katakan pada Joy. Di satu sisi ia ingin mengatan yang sebenarnya, namun tidak tega pada Joy dan satu sisi lagi, kakaknya selalu mengancamnya jika dirinya tidak menikahi Sofia.
"Akhsan! Jawab aku!" bentak Joy dengan mata berkaca-kaca.
"Ti-tidak, aku tidak berselingkuh," balas Akhsan. "Memangnya siapa gadis yang lebih cantik darimu? Dimataku tidak ada, hanya ada kamu dan kamu di dalam sini," lanjut Akhsan sambil menunjuk dadanya.
"Kamu membuatku takut," kata Joy menutup wajahnya. "Aku takut kehilangan kamu, aku tidak bisa tanpa kamu, pokoknya kamu milikku dan selamanya akan terus menjadi milikku!" tegas Joy lalu kembali memeluk Akhsan lebih erat dari yang tadi.
Joy hanyalah gadis polos yang jatuh cinta pada Akhsan. Dia tidak tahu bagaimana kerasnya dunia percintaan. Dia paling tidak menyukai yang namanya orang ketika.
Dia memiliki trauma masa kecil. Ibunya meninggalkan dirinya dan sang ayah hanya karena seorang pria. Sampai sekarang dia tidak bisa menghilangkan trauma itu. Dia bahkan sering menjerit histeris jika mengingat kejadian itu.
Joy mengidap penyakit Post traumatic stress disorder (PTSD).
Post traumatic stress disorder (PTSD) merupakan kondisi psikologis seseorang yang mengalami serangan panik. Rasa panik ini disebabkan oleh kejadian lampau yang menyakitkan hati dan membuatnya merasa takut.
Kondisi seperti ini lebih besar menimpa wanita dibandingkan pria, sebab kondisi psikologis antara pria dan wanita berbeda. Wanita lebih mudah mengingat semua hal dan memiliki perasaan yang lebih sensitif sehingga emosinya menjadi lebih tinggi.
Seseorang yang mengalami PTSD ini umumnya merasakan mimpi buruk yang lebih sering. Ketakutan-ketakutan yang ada dalam ingatan yang akan selalu muncul dan membuatnya sulit untuk tidur.
***
Untuk Visualnya Joy aku bakal pos di Ig [@Noona_Risma14]😉
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕
__ADS_1