Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Flashback part 2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Plak!


Brian menampar Audy.


"Lancang sekali dirimu mendorongku! Aku memang menyukaimu, namun bukan berarti aku tidak bisa menyakiti dirimu!" bentak Brian.


Audy memegang pipinya yang memerah bekas tamparan Brian dan menangis.


"Apa mau kalian?" tanya Audy ketakutan dan terus saja menangis.


"Apa kau tuli? Kau tidak dengar kalau aku menginginkan dirimu, dasar bodoh!" umpat Brian.


"A-aku mohon ke-keluarlah dari rumahku," mohon Audy dengan tangan yang di katupkan.


"Hahaha..." Brian tertawa sinis. "Kenapa kalian tidak tertawa? Bukankah ini lucu?! Hahaha... ayo tertawalah kawan!" ujar Brian dan ketiga temannya itu pun ikut tertawa.


"Lucu sekali dirimu gadis manis! Apa aku seperti orang bodoh yang akan melepas mangsanya setelah sekian lama mengintai? Tidak! tidak akan ku lakukan walau kau menjerit dan menangis darah sekalipun di hadapanku!" tolak Brian.


"Ta-tapi bukan seperti ini caranya," pungkas Audy.


"Lalu bagaimana caranya?" tanya Brian. "Apa seperti ini?" tanya Brian lalu menyudutkan Audy ke tembok.


"Le-lepaskan aku!" rontah Audy namun di tulikan oleh Brian.


"Tidak akan ku lepaskan," bisik Brian pada telinga Audy lalu meniupnya membuat bulu-bulu Audy meremang.


"A-apa yang ka-kau lakukan," risih Audy berusaha menepis tangan Brian yang mulai nakal.


"Biarkan aku menyentuhmu!!" geram Brian lalu mencekal tangan Audy dengan satu tangannya.


"Ja-jangan lakukan itu! Aku mo-mohon," pinta Audy menangis.


"Cup... cup... cup... jangan menangis sayang!" tutur Brian sambil menyeka air mata Audy.


Cuih!


Audy meludah tepat di wajah Brian. Membuat pria itu menggeram.


Plak!


Brian kembali mendaratkan tangannya di pipi mulus Audy. Gadis itu kembali meringis perih sambil memegangi pipinya dan berusaha mendorong tubuh Brian agar menjauh darinya.


"Setelah kau meludahiku, kau kira aku mau melepaskanmu begitu saja? Tidak!" lontar Brian lalu mulai menciumi Audy tanpa izin.


Audy terus saja menjerit memohon pada Brian, namun sayang laki-laki yang sudah seperti ke masukan setan itu menulikannya. Brian dengan bengisnya melancarkan aksinya itu.


Audy sudah terkapar tidak berdaya di sofa setelah melakukan hubungan terlarang dengan Brian atau sebut saja di perkosa oleh Brian karena Audy sedari tadi terus saja memberontak, minta di lepaskan.


Kontrakan Audy memang berada agak jauh dari rumah warga lainnya, jadi walaupun dia berteriak sampai pita suaranya lepas pun tidak akan ada yang mendengarnya.


Setelah melakukannya, Brian pun keluar dari rumah Audy untuk meminta agar temannya juga melakukan hal sama pada Audy.


Audy yang sudah tidak tahan lagi di perlakukan seenaknya seperti ini, langsung saja memunguti bajunya dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci kamarnya dari dalam.


Dengan perasaan takut-takut, Audy kembali memakai pakaiannya yang sudah robek-robek karena ulah biadab Brian. Keadaan Audy sangat mengenaskan.


Hampir sekujur tubuhnya terdapat luka-luka dan tanda merah-merah semua itu hasil dari perbuatan baji*ngan Brian yang memaksa untuk melakukannya pada Audy.


Audy terduduk lemas di lantai. Tenaganya terkuras habis untuk melawan Brian dan lagi bagian intinya masih sakit serta perih di sekujur tubuhnya.


"Ro-ronal!" ucap Audy sesegukan.


Audy lalu meraih ponselnya yang sempat ia letakan tadi di atas nakas.


"Di mana wanita itu?" murkah Brian yang dapat di dengar oleh Audy.


"Aku tidak tahu. Setelah kau menyuruhku masuk, wanita itu sudah tidak ada lagi di sini," jawab teman Brian.


Audy ketakutan dan dengan terburu-buru ia pun menelpon nomor yang di kiranya adalah nomor Ronal namun salah, nomor yang ia telpon adalah nomor Andra.


"To-tolong!" ucap Audy tertahan setelah panggilannya di angkat.


"Audy! Halo! Kau kenapa?" tanya Andra Khawatir.


"To-tolong!" ucap Audy lagi.


"Cari gadis itu!" teriak Brian marah.


Deg!


Jantung Audy berdetak kencang. Dia ketakutan sangat ketakutan saat ini.

__ADS_1


"Audy, siapa laki-laki itu?" tanya Andra.


"Pe-penja..." belum sempat Audy mengatakannya tiba-tiba saja panggilannya terputus.


"Ke-kenapa mati?" tanya Audy gugup karena takut.


Brak!


Brian dan teman-temannya mendobrak pintu kamar Audy dengan sekali hentakan.


"Di sini kau rupanya," Brian tersenyum miring. "Oh, jadi kau ingin melakukannya di kamar," sinis Brian.


Audy memundurkan tubuhnya takut-takut. Semakin Audy mundur, semakin maju pula Brian dan ketiga temannya itu.


"Ja-jangan!" teriak Audy.


"Jangan berteriak sayang, aku tidak menyukainya! Aku lebih suka suara desahanmu," kata Brian.


"Baji*ngan!"


"Breng*sek!"


"Bang*sat!"


"Yah, teruslah mengumpat! Aku suka dirimu yang seperti ini," ledek Brian.


"Setan kau, Brian!" sungut Audy. "Apa kau tidak berpikir jika orang yang kau lecehkan sekarang adalah seorang wanita! Apa kau tidak memikirkan ibumu yang juga seorang wanita? Bagaimana perasaanmu jika hal ini terjadi pada ibu dan juga adik perempuanmu?" berang Audy tanpa memberi jeda untuk Brian menyela.


Prang!


Brian menghempaskan semua skicare milik Audy dengan emosi yang bergejolak.


"Bacot!" umpatnya.


"Untuk apa aku memikirkan wanita yang jelas tidak memikirkanku dan membuangku di jalanan? Untuk apa, ha?" hardik Brian dengan wajah memerahnya.


"Jangan sok tahu kamu!!" imbuh Brian.


Brian mendekat lalu menyeret Audy dengan menarik rambut wanita malang itu. Audy menjerit kesakitan. Rambutnya seakan-akan ingin lepas dari tempurung kepalanya.


"Sakit!!" jerit Audy memukul-mukul tangan Brian.


Brian menghempaskan tubuh Audy dengan keras dan membuat wajah wanita itu terbentur keras di lantai.


"Katamu kau suka padaku, tapi ini bukanlah rasa suka tapi hanyalah obsesi semata!" desis Audy tersenyum mengejek Brian.


Dia sudah tidak peduli bahkan di bunuh sekarang juga pun wanita itu sudah tidak memperdulikannya. Percuma baginya jika hidup, semua orang akan mencapnya sebagai wanita murahan karena kelakuan Brian pada dirinya.


"Kau!!" murkah Brian.


Brian lalu berjalan menuju salah satu temannya dan langsung menarik pistol yang ada di saku celana tamannya itu.


"Rian, apa yang akan kau lakukan?" tanya temannya itu.


"Diam!! Wanita ini tidak pantas untuk hidup!" bentak Brian membuat temannya itu terdiam membisu.


Audy tersenyum miring.


"Rian, jangan lakukan itu! Kita bisa dalam bahaya jika ada yang tahu," tukas teman Brian yang lainnya.


"Tidak akan ada orang yang tahu jika tidak melihat kita melakukannya!" pungkas Brian lalu kembali mendekati Audy.


"Tapi sebelum melenyapkanmu, aku ingin melakukannya lagi," kata Brian mengelus muka Audy dengan jari telunjuknya.


"Kalian keluarlah jika tidak ingin melihatku melakukannya!" tegas Brian dan ketiga temannya itu pun keluar dari kamar Audy.


Lalu Brian kembali melakukannya dengan Audy.


Dor!


Brian menembak jantung Audy setelah melakukan pelepasannya. Audy tersenyum dan setelah itu, dia pun tidak sadarkan diri.


Ketiga teman Brian masuk ke dalam kamar Audy dan menganga melihat Audy sudah tidak bernyawa karena tembakan Brian yang pas mengenai jantung Audy.


"Rian apa kau sudah gila?" bentak si pemilik pistol tersebut.


Brian tertawa bak orang gila lalu dia mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Kau mau apakan pisau itu lagi?" tanya pemilik pistol itu was-was.


Srek!


Brian menyayat leher Audy dengan sadisnya. Tak hanya itu saja ia kembali menembak pelipis Audy.


Brian berdiri setalah melakukan itu semua. Dia tersenyum penuh kemenangan seolah-olah pembunuhan yang di lakukannya merupakan sebuah prestasi yang perlu di banggakan.

__ADS_1


"Rian!!" panggil ketiga temannya itu.


Brian mengangkat satu tangannya, "Diamlah! Biarkan ini menjadi tugas gue!" kata Brian lalu melap pisau dan pistolnya itu menghilangkan sidik jarinya agar tidak ada yang mengetahui jika dialah pelaku yang sebenarnya.


"Sekarang kita pergi!" seru Brian berjalan keluar meninggalkan jasad Audy.


Ketiga temannya itu saling tatap dan merasa tidak tega melihat keadaan Audy yang begitu mengerikan saat ini.


"Semoga kau mati dengan tenang nona," kata si pemilik pistol itu lalu menyusul Brian dan kedua temannya.


Mereka tidak sadar jika di kamar Audy terdapat CCTV mini yang sengaja gadis itu pasang sebagai percobaan, namun dia lupa untuk mematikannya.


Semua perbuatan Brian terekam di sana.


***


Setelah lama berkemudi, akhirnya Andra sampai di rumah kontrakan Audy. Jarak dari bar dan rumah kontrakan Audy sangat jauh sehingga membutuhkan waktu lama untuk sampai.


Andra lalu turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah Audy yang pintunya tidak di tutup.


"Audy!!" panggil Andra.


"Kau dimana? Audy!!" teriak Andra.


Andra lalu masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah kamar Audy dan di lihatlah Audy terkapar tidak bernyawa di lantai.


"Audy!" ucap Andra lalu berhambur mendekat ke Audy.


Andra meringis melihat tubuh Audy yang terlihat mengerikan itu. Ia lalu menatap benda yang terletak tidak jauh dari tubuh Audy.


Sebelum meraih pistol tersebut, Andra terlebih dulu menggunakan sarung tangan hitamnya lalu mengambil pistol dan pisau itu.


"Siapa yang tega melakukan ini padamu?" gumam Andra lirih.


"Apa yang kau lakukan Andra!!" teriak Ronal dari ambang pintu, mengejutkan Andra.


Andra langsung saja membuang pistol dan pisau yang di pegangnya itu.


"Ronal ini salah paham! Bukan aku! Audy tadi..."


"Sudahlah kau harus mempertanggung jawabkan ini semua Andra Yudhiantara!" potong Ronal tanpa mau mendengarkan pejelasan Andra.


"Tidak!! Bukan aku yang melakukannya. Lantas kenapa harus aku yang bertanggung jawab!!" tegas Andra.


"Pergilah Andra! Sebelum aku menghabisimu disini!!" ucap Ronal sambil mendekap erat tubuh Audy yang sudah tidak bernyawa itu.


"Bu..."


"Pergi!!" sela Ronal dan Andra pun meninggalkan Ronal bersama kekasihnya itu.


Setelah kepergian Andra, Ronal meraih pistol itu dan meremasnya lalu melemparkannya pada tembok. Kemudian pisau itu ia tusuk-tusukan pada bantal.


Dia gila sekarang. Kekasihnya mati dalam keadaan yang seperti ini.


"Audy!!!" teriak Ronal terisak.


Suara ricuh-ricuh pun terdengar dari luar rumah kontrakan Audy, sirena mobil polisi juga terdengar.


"Apa yang kau lakukan!!" hardik salah satu warga pada Ronal.


Ronal tidak menjawab. Dia masih menangis sembari mendekap Audy, tidak menghiraukan para warga yang meneriakinya.


Bugh!


Salah satu warga memukul Ronal membuat Ronal terhempas ke belakang.


"Astagfirullah," teriak bapak yang tadi menonjok Ronal ketika melihat jasad Audy.


"Dasar pria breng*sek! Kenapa kau membunuh nak Audy bajin*gan!!" tuduh bapak itu.


Warga hendak kembali menghakimi Ronal namun di tahan oleh polisi. Polisi pun mengamankan Ronal yang masih dalam keadaan terpukul, antara sadar dan tidak.


Jasad Audy pun di bawa untuk di atopsi dan Ronal di tahan atas tuduhan pelenyapan.


Flashback off


***


Yuk Follow Ig Risma [@Noona_Risma14]


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH💕

__ADS_1


__ADS_2