
SELAMAT MEMBACA!
***
Di sebuah pedesaan di kota A. Sudah dini hari, namun semua penghuni rumah yang sedikit besar itu masih saja terjaga.
Pasalnya beberapa saat yang lalu mereka baru mendapat kabar jika putri mereka belum pulang ke kontrakannya semalam.
"Yah, gimana ini?" tanya Harfisah, ibu Nafisah dengan terisak.
Setelah mendapatkan kabar Nafisah belum pulang dari semalam mampu membuatnya menangis tiada henti. Kalau boleh di tampung mungkin air matanya sudah setengah gelas.
Benar kata orang, jika ibu adalah orang yang paling mengkhawatirkan anaknya. Meskipun anggota keluarga yang lain pun sama khawatirnya, namun masih terdapat perbedaannya.
"Tenanglah bu!" kata Amira menenangkan sang ibu yang tiada hentinya menangis dan menangis.
"Ibu takut adikmu kenapa-kenapa, Ra" balas Ibu Harfisah.
Ini yang tidak disukainya. Membiarkan Nafisah jauh dari keluarga. Apalagi merantau ke kota orang. Nafisah memang anak yang mandiri, tapi semandiri apapun seorang anak bagi orang tua mereka masihlah anak kecil.
"Sabarlah, bu! Ayah juga sudah meminta Bayu mencari Nafisah," imbuh Ayah Hamish pada sang istri agar berhenti menangis.
"Ibukan dulu sudah bilang jangan biarkan Nafisah jauh dari kita! Ayah gak tahu bagaimana bahayanya kota itu," ujar Ibu Harfisah.
Dia tahu bagaimana kota J itu. Dia sudah sering menonton berita-berita tentang penculikan, pembunuhan dan lainnya.
"Ayah, tahu bu!" timpal Ayah Hamish, namun Ibu Harfisah menggeleng.
"Tidak, kamu tidak tau mas, kalau kamu tahu kamu tidak akan membiarkan putriku kesana!" tutur Ibu Harfisah dengan suara bergetar.
"Yah, bu, sudahlah! Jangan saling menyalahkan. Kita sebaiknya memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menemukan adikku secepatnya!" seru Amira menengahi kedua orang tuanya. Ini bukanlah saat yang tepat untuk saling menyalahkan.
"Pokoknya ibu mau ke kota J besok!" tegas Ibu Harfisah tidak menerima bantahan ataupun penolakan.
"Baiklah, biar Ayah mengurus semuanya ibu tidurlah dulu. Amira kamu temani ibumu!" perintah Ayah Hamish dan Amira pun mengangguk.
"Ayo bu!" ajak Amira menggandeng tangan ibunya menuju kamar ibu dan ayahnya.
"Ra, Ibu khawatir dengan adikmu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu Harfisah.
"Pasti, adikku akan baik-baik saja bu," balas Amira.
Walaupun dia juga ragu dengan ucapannya sendiri. Dia bukanlah peramal maupun tuhan yang tahu segalanya, tapi tidak ada salahnya jika berharap bukan?
Bukankah ucapan adalah doa? Dan semoga saja ucapannya itu terkabul. Amin.
Amira mungkin tidaklah semandiri adiknya, namun dia tak kalah dewasa dari Nafisah. Dia tahu dimana saat dia harus dewasa dan menjadi penenang maupun penengah diantara kedua orang tuanya.
__ADS_1
Amira mirip seperti Nafisah. Hanya saja Amira tidak mengenakan penutup wajah. Dia hanya mengenakan hijab dan baju tertutup. Hamish dan Harfisah mengajarkan kedua putri mereka tentang ilmu agama dan mana yang diperbolehkan serta mana yang tidak diperbolehkan.
Sejak kecil mereka sudah di ajarkan untuk menutup aurat dan tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis tanpa adanya ikatan.
"Sekarang Ibu tidurlah dulu!" ucap Amira sambil menyelimuti tubuh ibunya.
"Nafisah... " ucap Ibu Harfisah sebelum menutup matanya.
Tak lama Hamish pun masuk ke dalam kamar. Amira yang melihat ayahnya datang pun meminta izin untuk kembali ke kamarnya.
Hamish duduk di bibir ranjang samping istrinya. Dia membelai lembut kepala istrinya yang terbungkus jilbab itu dan memberikan kecupan di keninganya lalu bergegas membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri.
***
Pagi harinya, keluarga Nafisah sudah siap untuk berangkat ke kota J.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Ibu Harfisah setelah di rasa semuanya sudah siap.
"Baiklah," balas Ayah Hamish.
Amira baru saja akan melangkahkan kakinya mengikuti langkah kedua orangtuanya, namun terhenti karena sebuah panggilan dari nomor yabg tidak dikenal.
Amira nampak berpikir sejenak.
Nomor siapa ini?
Siapa yang menelponnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergerilya di pikirannya. Setelah panggilan ke lima, Amira pun akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum," ucap Amira.
"Waalaikumsalam kakak," balas Nafisah.
"Nafisah?" kata Amira.
"Iya kak, ini Nafisah," ujar Nafisah.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Amira.
"Aku... aku sedang di rumah temanku," jawab Nafisah yang jelas jika dia sedang berbohong.
"Jangan di matikan dulu, aku akan memberitahu ayah dan ibu yang sangat mengkhawatirkanmu!" seru Amira sambil berjalan keluar rumah.
"Yah, bu, Nafisah menelpon!" kata Amira antusias.
"Apa?! Sinikan hpmu!" pinta Ibu Harfisah.
__ADS_1
"Nafisah, kamu di mana sayang?" tanya Ibu Harfisah.
"Aku menginap di rumah temanku, Maaf aku lupa mengabari kalian," jelas Nafisah.
"Alhamdulillah," ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kamu baik kan sayang?" tanya Ayah Hamish.
"Alhamdulillah baik Yah," jawab Nafisah.
"Syukurlah kalau begitu. kami akan ke kota J sekarang," seru Ibu Harfisah.
"Tidak usah bu, ibukan sudah tahu kalau Nafisah baik-baik saja. Kalian tetaplah disana! Nafisah janji gak akan membuat Ayah, ibu dan kak Amira khawatir lagi," janji Nafisah.
"Benar kata Nafisah bu! Kita tetaplah disini," ujar Ayah Hamish.
"Baiklah, tapi kamu harus janji sama ibu jangan buat khawatir lagi! Kalau mau menginap di rumah temanmu kabari ibu atau ayah, kalau boleh kakakmu juga! Jangan lupa lima waktunya! Sering-seringlah bertukar kabar! Mengerti?!" ceramah Ibu Harfisah pada putri bungsunya itu.
"Iya bu," balas Nafisah singkat, padat dan jelas.
"Sudahlah kita sudah tahu kalau Nafisah baik-baik saja, maka tutup saja panggilan telpon itu! Mungkin dia sedang sibuk sekarang!" tutur Ayah Hamish.
"Baiklah, assalamualaikum," kata Nafisah.
"Waalaikumsalam," balas mereka serentak.
"Sudahlah bu, jangan khawatir lagi. Kan Nafisah sudah memberi kabar dan dia juga dalam keadaan baik-baik saja," ucap Ayah Hamish kala melihat masih ada kecemasan di wajah istrinya.
"Ayah tidak mengerti," ucap Ibu Harfisah kemudain meninggalkan Ayah Hamish dan Amira.
Bagi seorang ibu, putra dan putri adalah segalanya diatas segalanya. Khawatir itu wajar. Biar pun mereka mengatakan mereka dalam kondisi baik, namun insting keibuan seorang ibu terkadang menghawatirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di khawatirkan.
Hamish dan Amira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Harfisah yang menurutnya terlalu overprotektif.
"Yah, kalau begitu Amira pamit yah!" izin Amira pada sang Ayah.
"Mau ke mana?" tanya Ayah Hamish.
"Aku ada urusan dengan teman-temanku, yah," jelas Amira.
Ayah Hamish mengangguk tanda mengerti. Anak zaman sekarang memang beda dengan zamannya dulu. Hamish tidak mau ambil pusing, dia pun mengizinkan putri sulungnya itu.
"Tapi, izin dulu sana sama ibumu, takut dia nanti marahin ayah lagi," ujar Ayah Hamish.
"Baiklah," ucap Amira kemudian menyusul ibunya masuk ke dalam rumah.
🔫🔫🔫
__ADS_1
TBC....
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN JUGA VOTE YAH❤