
SELAMAT MEMBACA!
***
INDONESIA.
Hari ini Ariana berangkat ke kampus tanpa diantar oleh Dimas. Ariana mengemudikan mobil sendiri, namun masih dalam kawalan anak buah Andra.
Ariana memakai mobil porsche boxser berwarna biru. Hadiah ulang tahunnya yang ke 14 tahun diberikan oleh almarhum ayahnya.
Ariana turun dari mobilnya sambil membuka kacamata hitam yang bertengger di matanya, membuat para gadis-gadis yang melihatnya menjadi insecure dan para kaum adam menjadi klepek-klepek.
Ariana tidak menggubris teriakan pujian yang diberikan para mahasiswa dan juga bisik-bisik tetangga yang menjulid dirinya terlalu pamer.
Terserah Ariana dong. Percuma punya kalau tidak dipergunakan. Ariana hidup bukan untuk membahagikan semua orang. Selagi masih bisa, why no?
"Halo siti," sapa Ariana kala melihat siti berjalan sambil menunduk menuju kelas mereka.
Siti mendongakkan wajahnya dan menatap Ariana, "Ha-hay Ana," sapa balik Siti sambil tersenyum.
Ariana lalu merangkul Siti, "Jangan dengarkan apa yang mereka bicarakan! Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, bereskan?" bisik Ariana pada Siti saat telinganya samar-samar mendengar mahasiswi yang membicarakan Siti serta mengejek Siti kampungan.
"I-iya An," balaw Siti tersenyum kaku.
"Aku juga dulu pernah berada di posisimu," ujar Ariana saat mereka sudah duduk di bangku masing-masing.
"Be-benarkah?" tanya Siti tidak percaya. Ia kemudian mengamati penampilan Ariana dari atas sampai bawah. Mewah. Yah sangat mewah.
"Tidak percaya?" tanya balik Ariana dan secara spontan Siti menggeleng.
"Pernah dengar berita tentang anak smp yang dibuli sekitar tiga tahun yang lalu? dan itu sangatlah viral dijagat maya," kata Ariana dan Siti pun mengangguk.
Pembulian Ariana memang sempat menjadi berita ter-hot. Tapi tidak lama hanya sekitar tiga hari, lalu berita itu menghilang bagai tenggelam di dasar samudra.
"Ya-yang di-dibuli sampai-sampai di-disiram air got da-dan seragamnya di-dirobek i-itu bukan?" tanya Siti dan dijawab anggukan kepala oleh Ariana.
"Itu aku," Aku Ariana membuat Siti melotot.
"Ga-gak mungkin," Siti menggeleng. Kalau tidak salah ingat, banyak gosip yang beredar kalau anak yang dibuli itu meninggal karena depresi dan lagi anak itu beda jauh dengan Ariana. Sulit untuk diakui Siti.
"Butuh bukti?" tanya Ariana lalu mengeluarkan hpnya dan memperlihatkan foto dirinya waktu masih culun.
Disana ia berfoto bersama kedua orang tuanya diambil saat ulang tahun ke-15nya.
"I-ini beneran ka-kamu?" tanya Siti sambil mengarahkan matanya bergantian melihat Ariana sekarang dan Ariana yang ada dalam foto tersebut.
"Yaiyalah masa setan," ucap Ariana memutar bola matanya malas.
"Se-sekarang kok ca-cantik yah?" kata Siti dengan polosnya.
"Karena memang aku cantik dari dulu hanya saja dulu aku lebih suka berpenampilan seperti itu," jelas Ariana ke-pdan tingkat dewa.
"Kau juga cantik kalau saja penampilanmu ini kau ubah," tutur Ariana membuat Siti tersipu malu. Baru kali ini ada yang memujinya cantik selain ayah dan ibunya.
"Ti-tidak juga," kilah Siti.
"Jangan merendah kalau tidak mau di rendahkan," seru Ariana membuat Siti menatapnya lekat-lekat tak tahu apa maksud ucapan Ariana barusan.
"Ma-maksudmu?" Siti benar-benar gagal paham.
"Maksudku, jangan selalu merendah karena disaat kita sendiri merendah orang-orang akan merendahkan kita. Percaya dirilah! Saat orang memuji balaslah dengan sebuah kepercayaan diri buat mereka segan pada dirimu," jelas Ariana. Siti manggut-manggut ngerti.
Lama mereka terdiam. Sampai tak sadar jika Dosen sudah datang. Mata pelajaran pertama pun dimulai.
***
"Mau ke kantin bersamaku?" ajak Ariana pada Siti.
__ADS_1
"Bo-boleh," jawab Siti. Mereka pun berjalan menuju kantin.
"Auch..." ringis Ariana saat dirinya terjatuh sangat keras ke lantai karena dengan sengajanya Diana mendorongnya dari belakang.
"Ups," Diana menutup mulutnya. "Maaf," kata Diana mendrama dengan raut wajah sok menyesal.
"Mau lo itu apa sih?" tanya Ariana geram.
Gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba saja Diana si gadis yang sudah Ariana cap sebagai rivalnya dengan seenak jidat mendorongnya sampai tersungkur di lantai.
"Kita impas," balas Diana tanpa menjawab pertanyaan Ariana.
"Oh jadi lo dendam karena kemarin gue dorong? Cih, memalukan sekali dirimu nona," cibir Ariana sambil bersidekap menatap remeh pada Diana dan kedua temannya.
"Wah, gak bisa dibiarin nih anak baru. Songong banget lo," kata Naswi sok garang.
"Emang lo pikir lo siapa ha?" bentak Maria.
"Emang penting buat gue perkenalan dulu sama kalian? Memangnya kalian siapa? Kalian bertiga gak ada bedanya sama anak tk," tukas Ariana membuat Diana dan kedua dayang-dayangnya mengeluarkan tanduk.
"Apa lo bilang? Coba ulang sekali lagi!!" teriak Diana membuat semua mahasiswa dan mahasiswi menatap ke arah mereka berlima.
Tangan Diana sudah mengepal kuat-kuat. Wajahnya sudah merah padam. Matanya menatap tajam Ariana yang hanya menampakkam wajah datarnya.
"Gak ada pengulangan!" seru Ariana.
Diana kemudian menjambak rambut Ariana karena sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.
Ariana tak mau kalah, ia juga menjambak rambut Diana. Mereka saling jambak-jambakan. Membuat teman-teman mereka kalang kabut untuk memisahkan mereka berdua.
Siti sudah kewalahan menarik Ariana agar melepaskan tangannya dari rambut Diana, begitu pula dengan Naswi dan Maria mereka melakukan hal yang sama.
"Su-sudah An!" seru Siti berusaha melerai.
"Dia harus dibasmi Sit!" balas Ariana makin menjambak rambut Diana. Menyebabkan beberapa rambut Diana rontok. Berbeda dengan rambutnya yang masih utuh dan tidak rontok sama sekali.
"Sudah Di! Nanti kita dilihat dosen," ujar Naswi dan Maria.
"Di, nanti dosen lihat!" tutur Maria namun tidak digubris oleh Diana yang masih menjambak dan menarik rambut panjang Ariana.
"Ada apa ini?" tanya seseorang dengan suara baritonnya membuat Diana dan Ariana menghentikan pertarungan jambak-jambakannya.
"Kak Dimas," kata Ariana sambil memperbaiki rambut dan pakaiannya yang terlihat kusut.
"Ana apa yang terjadi?" tanya Dimas mendekat kearah Ana.
"Di-diana mendorong A-ana kak," jawab Siti.
Ariana menatap tajam Siti membuat gadis berkacamata itu menunduk takut.
"Elo diam yah cupu!" bentak Diana.
"Apa itu benar Ana?" tanya Dimas dan Ariana mengiyakannya.
"Kau tahu siapa dia?" tanya Dimas dengan suara beratnya.
"Untuk apa aku tahu siapa dia?" jawab Diana dengan sombongnya.
"KALIAN SEMUA HARUS TAHU SIAPA DIA! DIA," teriak Dimas sambil menunjuk Ana. " DIA ADALAH ARIANA YUDHIANTARA, ADIK DARI PEMILIK KAMPUS INI," lanjut Dimas membuat Diana dan kedua temannya melongo. Mereka saling tatap.
Mahasiswa dan mahasiswi saling bergosip. Menggosipkan apa yang selanjutnya akan terjadi pada Diana.
Ariana tersenyum miring saat melihat wajah Diana yang sudah pucat. Bukan maksud untuk pamer, namun rivalnya itu harus sadar bahwa masih ada orang yang lebih di atasnya dan jangan sekali-kali memperlakukan orang dengan seenaknya.
"So, apa kau tahu kelanjutan masa depanmu di kampus ini nona Harahap?" tanya Dimas.
"A-aku tidak tahu kalau dia nona muda Yudhiantara," kilah Diana dengan nada panik plus takutnya.
"Tahu atau tidak seharusnya kau memperlakukan semua orang dengan baik! Apalagi dia adalah mahasiswi baru di sini," ujar Dimas dengan nada tegasnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf," tutur Diana mengulurkan tangannya pada Ariana. Mungkin jika meminta maaf gadis berparas hindi itu mau memaafkannya dan melupakan perihal tadi.
"Late," ucap Ariana bersidekap.
" Kenapa?" tanya Diana. Dia tidak terima ini. Dia sudah meminta maaf sampai-sampai menjatuhkan harga dirinya di depan semua mahasiswa dan mahasiswi yang mengagumi serta menakutinya.
"Karena kau terlambat! Sudahlah aku mau makan, yuk siti!" ucap Ariana lalu menarik Siti menuju kantin kampus, meninggalkan Diana yang masih melongo mendapat perilaku angkuh dari Ariana.
"Bubar!" kata Dimas lalu berjalan menuju parkiran. Tadi ia ke kampus untuk bertemu salah satu dosen, tapi dia tidak sengaja melihat ada keributan.
Alhasil karena penasaran ia pun mendakat dan mendapati Arianalah yang bertarung jambak-jambakan dengan gadis yang diketahuinya putri dari pengusaha yang dulu juga pernah menjadi rekan bisnis bosnya.
Diana menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan perasaan kesal yang membuncah dan berjalan menjauh dari kerumunan tempatnya dan Ariana bertengkar.
"Di, tunggu kami!" teriak Naswi dan Maria. Mereka pun berlari menuju Diana yang mulai menjauh.
"Di, hosh-hosh kok lo ninggalin kita sih?" tanya Naswi dengan nafas ngos-ngosan.
Diana tidak menjawab dia terus saja berjalan.
"Guys! Kok gue merasa gak asin yah dengan nama gadis itu?" tanya Maria dan seketika langkah Naswi dan Diana terhenti.
"Maksud lo paan?" tanya Diana.
"Kalian gak aneh gitu, sama nama nona muda Yudhiantara itu?" tanya Maria dengan jari telunjuknya diketuk-ketukkan pada dagunya.
"ARIANA," ucap mereka dengan intonasi keras membuat orang-orang yang berlalu lalang menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Bentar. Bukankah Ariana yang dulu kita buli namanya cuma Ariana?" tanya Diana. Naswi dan Maria mengangguk.
"Lagi pula Ariana yang kita buli itu cupu bukan seperti nona muda Yudhiantara," timpal Naswi dan mereka setuju akan hal itu.
"Namun firasatku mengatakan jika itu benar dia. Setelah peristiwa itu Devan tidak diketahui hilang ke mana dengan keluarganya bukan? Sepertinya itu semua adalah perbuatan kakaknya Ariana dan dia adalah tuan Andra Yudhiantara," jelas Maria.
"Untung saja waktu itu nama kita tidak dibawa-bawa. Kalau sampai itu terjadi entah bagaimana nasib kita," tambah Maria bergidik ngeri.
"But, pasti Ariana masih mengingat kita bukan?" tanya Naswi.
"No! Bukankah selama tiga tahun ini dia menghilang bak ditelan bumi? Mungkin saja dia sakit. Depresi, sehingga membuat memorinya akan peristiwa tiga tahun yang lalu terhapus dan kita aman," ujar Diana.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi! Shoping kuy," ajak Diana dan kedua temannya itupun serentak mengiyakan. Diana memang tipekal orang yang mudah melupakan, jadi dia tidak akan berlama-lama memikirkan kejadian tadi.
***
Di kantin, Ariana dan Siti sudah melahap makanan yang telah mereka pesan masing-masing.
"A-apa kepalamu ti-tidak sakit?" tanya Siti dan dijawab gelengan kepala oleh Ariana. Sejujurnya kepala Ariana sangat sakit. Tapi, dengan soknya Ariana menggeleng.
"Orang seperti Diana pantas diperlakukan seperti tadi," ujar Ariana.
"Kalau dia membulimu lagi dorong atau jambak saja rambutnya sampai botak," tambah ariana.
"A-aku," ucap Siti terpotong.
"Takut?" tanya Ariana dan Siti mengiyakan. " Cih, kenapa harus takut sama dia? Yang perlu kau takutkan itu tuhanmu bukan makhluknya," jelas Ariana bijak.
Sesama manusia kenapa harus takut? Kalau mereka bisa berbuat semau mereka lantas kenapa kita tidak bisa membalasnya?
"Sekarang kau sahabatku jadi urusanmu adalah urusanku juga! Tenanglah aku akan selalu bersamamu," imbuh Ariana.
"Te-terima kasih," balas Siti dan dijawab anggukan kepala
oleh Ariana.
"Makanlah!" kata Ariana. Mereka pun menyudahi pembicaraan mereka dan melanjutkan makan mereka.
🔫🔫🔫
TBC...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕