Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Sofia Bertemu Marvin


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Auch..." ringis Sofia ketika tanpa sengaja ia mengiris jarinya dengan pisau buah.


"Kamu kenapa Sof?" tanya Nafisah sembari meletakkan buah-buahan yang tadi ia kupas dan meraih tangan Sofia yang berdarah.


"Tanganmu berdarah!" seru Nafisah panik.


"Ini cuma luka kecil kok Naf! Jangan terlalu khawatir seperti itu!" timpal Sofia memutar bola matanya malas.


"Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Nafisah


"Entahlah, perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak," jawab Sofia.


"Hanya perasaanmu saja! Aku juga sering merasakan seperti itu," timpal Nafisah dan dijawab anggukan kepala oleh Sofia.


"Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa," harap Sofia dan ditimpali amin oleh Nafisah.


"Sudah, letakkan saja itu! Sekarang urus lukamu itu! Darahmu terus saja mengalir," ujar Nafisah kawatir.


"Ahahaha... seperti aku akan mati saja kehabisan darah. Ini hanyalah luka kecil Naf!" imbuh Sofia terkekeh namun ia tetap melakukan apa yang di perintahkan Nafisah padanya.


"Luka sekecil apapun, jika dibiarkan terus menerus tidak di obati bisa parah juga Sof!" tutur Nafisah dan Sofia hanya manggut-manggut dari pada harus membalas ucapan Nafisah.


"Pak Arif," panggil Nafisah.


"Iya nyonya?" tanya Pak Arif sembari membungkuk hormat.


"Saya boleh minta bantuan gak pak?" tanya Nafisah.


"Tentu saja boleh nyonya," balas Pak Arif mantap.


"Tolong ambilkan kotak P3K pak," kata Nafisah dan Pak Arif pun mengangguk lalu mengambil kotak P3K.


"Ini nyonya," Pak Arif menyodorkan kotak P3K pada Nafisah.


Nafisah lalu menerimanya, "Terima kasih pak," kata Nafisah dan Pak Arif mengangguk.


"Apa masih ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Pak Arif.


Nafisah menggelengkan kepalanya, "Tidak ada lagi pak," ucap Nafisah.


"Saya permisi dulu nyonya, nona," balas Pak Arif dan diangguki oleh Nafisah serta Sofia kemudian Pak Arif berlalu meninggalkan kedua bumil itu.


"Sini biar aku membantumu mengobati lukamu itu," tutur Nafisah dan Sofia pun mengarahkan tangannya pada Nafisah.


Nafisah pun mengobati luka Sofia dengan hati-hati lalu memakaikannya plester.


"Selesai," ucap Nafisah.


"Terima kasih Naf!" balas Sofia dan dijawab angukan kepala oleh Nafisah.


Ting!

__ADS_1


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Sofia. Sofia lalu meraih ponselnya yang ia letakkan tadi di atas meja.


Sofia mengernyit, nomor yang tidak dikenal mengiriminya sebuah pesan. Sofia lalu membuka pesan tersebut dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui ternyata Marvinlah yang mengiriminya pesan.


Baby, aku sudah kembali. Mari bertemu! Kamu masih mengingatku bukan? Ayo bertemu nanti aku share lokasinya. Kekasihmu Marvin.


Begitulah isi pesan Marvin kepada Sofia.


"Dapat dari mana orang gila ini nomor ponselku?" batin Sofia bertanya-tanya.


"Siapa Sof?" tanya Nafisah.


"Eh, bukan dari siapa-siapa Naf! Ini pesan dari operator katanya kartuku sudah tenggat," bohong Sofia dan Nafisah pun percaya.


Ting!


Satu pesan masuk lagi dan kali ini adalah pesan yang berisi lokasi Marvin sekarang berada. Sofia lalu berdiri dari duduknya.


"Kenapa Sof?" tanya Nafisah.


"Aku harus keluar untuk mengisi pulsa dulu, kamu tidak apa-apakan aku tinggal sendirian?" tanya Sofia memastikan.


"Iya gpp," jawab Nafisah tersenyum.


"Baiklah aku pergi dulu Naf," pamit Sofia dan diangguki Nafisah.


Sofia lalu berjalan menuju kamarnya guna mengambil tas dan kunci mobilnya setelah itu ia pun mengendarai mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan Marvin.


"Dasar pria gila!" umpat Sofia kesal.


***


Setelah menempuh perjalan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Sofia sampai di restoran yang di share oleh Marvin.


Sofia turun dari mobilnya dan dengan perasaan kesal, ia pun menutup pintu mobilnya dengan sangat keras.


"Kenapa dia meminta bertemu di tempat seperti ini? Cih, sok romantis sekali. Dulu pas pacaran saja dia tidak pernah mengajakku ke sini palingan makan nasi bungkus dalam hutan," gerutu Sofia lalu melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam restoran tersebut.


Sofia berjalan menuju Marvin yang berada di sudut ruangan.


"Ada apa? Kenapa kau memintaku ke sini?" tanya Sofia lalu duduk di depan Marvin.


"Tenanglah dulu baby," ucap Marvin lembut. "Kita pesan makanan terlebih dulu baru kita bicara," tambah Marvin lalu memanggil pelayan.


"Iya tuan mau pesan apa?" tanya pelayan.


"Baby, kamu mau makan apa?" tanya Marvin sambil membolak-balikkan buku menu.


"Apaan baby-baby yang ada ****! Mukamu mirip ****!!" ketus Sofia pada Marvin membuat si pelayan terkekeh.


Marvin lalu menatap tajam pelayan tersebut. "Maaf tuan," ucap pelayan itu menciut.


"By, jangan ketus-ketus dong sayang," kata Marvin menekankan kata-katanya.


"Terserah gue dong emang lo siapa ngatur-ngatur gue," sewot Sofia memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Saya pesan spagheti dua dan es teh dua," ucap Marvin pada pelayan.


"Baik silahkan tunggu tuan," balas pelayan lalu meninggalkan Sofia dan Marvin.


"Sof!" panggil Marvin lembut namun Sofia menulikannya.


Marvin lalu menghela napasnya dengan kasar, "Sof lihat aku sini!" pinta Marvin berusaha sabar menghadapi sifat Sofia.


"Cepat katakan ada apa kau memintaku ke sini! Aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan pria bajing*an seperti dirimu!" ujar Sofia pada Marvin dengan nada sinisnya.


"Sabar sebentar baby!" balas Marvin mengulur waktu.


"Gue udah bilang yah sama elo jangan panggil gue dengan panggilan keramat itu lagi!" tegas Sofis menatap tajam Marvin.


"Kenapa? Bukannya kita masih sepasang kekasih?" Marvin menaik turunkan alisnya.


"Mantan!! Dan jangan menyebut gue kekasih lo lagi karena itu hanyalah masa lalu dan kenapa juga gue bisa khilaf sampai nyantol sama pria seperti elo," kesal Sofia sambil menunjuk-nunjuk Marvin.


Bukannya marah, Marvin malah terkekeh melihat tingkah menggemaskan dari mantan kekasihnya itu.


"Kamu yang memutuskannya sepihak tanpa persetujuan dariku dulu dan kuanggap itu tidaklah sah! Sekarang kamu masih pacarku!" tegas Marvin dan Sofia geleng-geleng kepala mendengar perkataan Marvin.


"Dasar gila! Selain breng*sek ternyata lo sudah gila juga! Memangnya waktu gue tembak lo dulu tuh otak lo geser atau gimana?" ejek Sofia tersenyum miring


"Terserah kamu mau bilang apa, tapi kamu masih pacarku dan selamanya hanya akan menjadi milikku," balas Marvin.


Sofia mendesah kesal, dia muak dengan Marvin yang selalu memaksa kehendaknya. Sofia lalu berdiri dari duduknya dan menggebrek meja restoran.


Brak!


"Gue udah bilang yah sama elo kalau kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi! Kenapa lu ngeyel! Lu bisa gak sih bahasa indonesia!" teriak Sofia memaki-maki Marvin di depan semua pengunjung restoran.


"Sof!" tekan Marvin malu karena mereka menjadi sorotan dari para pengunjung.


"Kenapa? Malu?" cibir Sofia sambil bersidekap. Ia tidak perduli sekarang menjadi tontonan para pengunjung restoran, dia hanya ingin mempermalukan Marvin agar tidak lagi mendekatinya.


"Aku pulang!" ucap Sofia lalu meraih tasnya namun sebelum pergi Marvin berdiri dari duduknya dan menahan tangan Sofia.


"Lepaskan Marvin!" murkah Sofia berusaha melepaskan tangannya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita bicara!" tegas Marvin tidak mau dibantah namun Sofia masih saja menarik tangannya dari tangan Marvin.


Marvin tidak bisa lagi menahan tangan Sofia dan itu mengakibatkan Sofia terhuyung ke belakang.


"Aaaaaa..." jerit Sofia.


***


Info selanjutnya Follow aku ig aku @Noona_Risma 14 yah😊


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE😗

__ADS_1


__ADS_2