
SELAMAT MEMBACA!
***
Hari ini adalah hari di mana Andra akan menyetor hafalan surah Ar-rahman pada Nafisah sesuai kesepakatan mereka.
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga rumah besar untuk menyaksikan bagaimana Andra menghapalkan surah Ar-Rahman di hadapan mereka semua.
Semuanya terdiam membisu, mata mereka tertuju pada Andra yang duduk di single sofa.
"Bisa kita mulai?" tanya Nafisah setelah menghela Napas panjang.
Andra mengangguk. Andra menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghelanya secara perlahan.
"Ndra, semangat lo pasti bisa," kata Dimas menyemangati sahabatnya itu.
"Iya kak, kakak pasti bisa. Kakak kan orang jago!" imbuh Ariana.
"Diamlah!! Kalian kira aku sedang bertanding!" bentak Andra lalu menatap mereka dengan tajam.
Dimas, Sofia dan Ariana langsung menciut setelah mendapatkan bentakan dan juga tatapan tajam dari Andra.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Nafisah lagi.
Andra kembali mengatur emosinya agar tidak muluap. Dia pun kembali menghirup napas dalam-dalam dan kembali menghelanya dengan pelan.
Andra memulai dengan membaca taawuds dan basmalah terlebih dahulu. Baru setelah itu dia pun mulai membaca ayat demi ayat surah Ar-rahman.
*ar-raḥmān
'allamal-qur'ān
khalaqal-insān
'allamahul-bayān
asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān
wan-najmu wasy-syajaru yasjudān
was-samā'a rafa'ahā wa waḍa'al-mīzān*
Dan seterusnya.
Andra menghapalkan surah ar-rahman tanpa hambatan. Andra sangat lancar mengucapkan ayat demi ayat surah Ar-rahman.
__ADS_1
Sejujurnya Andra sudah menghapal surah Ar-rahman, namun hanya 30 ayat. Sehingga dua malam satu hari waktunya ia gunakan untuk menghafal kelanjutan ayat yang belum ia hafal sepenuhnya itu.
Semuanya nampak tertegun di tempat menyaksikan seorang Andra yang begitu mudahnya mengucapkan ayat-ayat Ar- Rahman.
Nafisah tersenyum ternyata syarat yang ia berikan bisa dengan mudahnya dilakukan oleh Andra.
"Subhanallah," gumam Nafisah dalam hati.
Setelah menyelesaikan hafalan surah Ar-rahman, Andra menutupnya dengan mengucapkan 'Shadaqallahul adzim'.
Sofia dan Ariana sontak langsung bertepuk tangan dengan girangnya. Mereka sesekali berpelukan dan tersenyum.
Seperti biasa, Andra hanya diam dengan wajah datar dan sorotan mata tajam.
"Yeey, kak Nafisah akan jadi kakak iparku," sorak Ariana antusias dan bertos riah dengan Sofia.
Dimas mengacungkan kedua ibu jarinya pada Andra. "Hebat lo Ndra!" puji Dimas.
"Ehem," Andra berdehem. Dia masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Nafisah.
"Alhamdulillah, ternyata kamu bisa menghapalkan surah Ar-rahman," tutur Nafisah.
"Terus?" tanya Andra pada Nafisah. Bukan pujian yang ia inginkan melainkan sesuatu yang akan membuatnya bahagia.
"Baiklah seperti janjiku, Kau telah menghapal surah Ar-rahman, maka aku pun akan membantumu bicara pada ayah dan ibuku," ujar Nafisah.
"Dim, kita ke kantor sekarang!" lanjut Andra dan Dimas pun mengangguk. Mereka kemudian meninggalkan ketiga gadis itu.
Sofia dan Ariana langsung menghampiri Nafisah dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar.
"Wah, kakak akan menjadi kakak iparku," ucap Ariana sambil memeluk Nafisah dengan erat. Nafisah hanya tersenyum tidak tahu harus berkata apa.
"Selamat!" timpal Sofia dan bergantian dengan Ariana memeluk Nafisah.
"Kak Nafisah tenang saja! Kakakku itu orangnya baik, yah meskipun dingin," ujar Ariana.
"Insyaallah yah Ana," balas Nafisah.
"Apa aku bilang, bos Andra itu memang hebat," puji Sofia menepuk-nepuk dadanya setelah melepaskan pelukannya pada Nafisah.
"Dia memang hebat, tapi tidak sehebat yang diatas," ucap Nafisah menujuk ke atas.
Sofia mendongakkan wajahnya ke atas menatap langit-langit. Mencari orang yang katanya lebih hebat dari bosnya.
Memangnya ada yang lebih hebat dari bosnya? Wah, bosnya masih kalah telak ini. Bisa murkah bosnya jika tahu masih ada yang jauh lebih hebat dibanding dirinya. Namun, siapa dia? Sofia bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kak Sofia sedang melihat apa sih?" tanya Ariana ikut memandang ke langit-langit rumah mencari apa yang sedang dilihat oleh Sofia.
"Kata Nafisah masih ada yang lebih hebat dari bos Andra dan itu diatas, tapi kok gak ada yah?" tanya Sofia dengan polosnya.
Ariana menepuk jidatnya sendiri. Sofia ini bodoh atau polos sih?! atau kedua-duanya? Polos plus bodohnya.
"Maksud aku yang diatasi itu Allah SWT bukan manusia dan lagi mana ada manusia di atas langit-langit rumah?" jelas Nafisah sambil geleng-geleng kepala.
Ternyata gadis jerman ini bisa bodoh jugaa, apa mungkin ketularan Akhsan kali yah?! Ke seringan dekat-dekat Akhsan ini, mulai sekarang Sofia harus jaga jarak dengan Akhsan. Akhsan bak virus corona yang menular.
Eh, tapi kok malah bawa-bawa Akhsan sih? Bisa ke selak biji nangka tuh cowok jadi-jadian. [Hihihi]
"Oh begitu, hehehe..." Sofia nyengir kuda. Memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih.
"Aduh-aduh kak Sofia ini yah, benar-benar pintar," kata Ariana gemas sendiri dengan tingkah Sofia sampai-sampai mau menjambak rambut panjang gadis jerman itu.
"Kakak kan memang pintar," kata Sofia membanggakan dirinya.
Kerena nyatanya memang dia pintar. Buktinya dia bisa lulus dengan pangkat S2 dan dia juga lulusan terbaik di universitasnya di jerman.
"Terserah kakak aja deh, Ana mau ke kamar dulu!" pamit Ariana dan diangguki oleh Nafisah.
"Kok dia pergi?" Tanya Sofia pada Nafisah. Nafisah mengedikkan bahunya tidak tahu.
"Aku juga mau ke kamar dulu yah," Tutur Nafisah menepuk bahu Sofia dan berlalu meninggalkan Sofia sendirian di ruang keluarga.
"Pada ninggalin aja," gumam Sofia cemberut.
"Sendiri aja mbak," kata Akhsan yang entah sejak kapan dia sudah ada di ruang keluarga membuat Sofia terkejut.
"Eh... kodok," kaget Sofia. "Kau!!" geram Sofia menunjuk wajah Akhsan dengan menahan emosinya sangking kagetnya.
"Kenapa?" tanya Akhsan sambil berjalan mendekat ke arah Sofia.
"Jangan dekat-dekat! Hush, jauh-jauh dengan gue!!" teriak Sofia sambil mengibaskan tangannya mengusir Akhsan layaknya mengusir ayam.
Akhsan tidak menggubrisnya dia tetap saja berjalan mendekat ke arah Sofia.
Tinggal tiga langkah lagi dan Sofia langsung lari terbirit-birit. Menjauh agar kepolosan Akhsan tidak menular lagi kepadanya.
Akhsan mengernyit bingung melihat tingkah Sofia yang tidak seperti biasanya. Cuek dan selalu marah-marah kepadanya.
"Aneh," Cibir Akhsan dan dia pun mulai membereskan cangkir-cangkir kosong bekas minum tuan, nyonya dan nonanya itu.
🔫🔫🔫
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕