
SELAMAT MEMBACA!
***
Pagi hari di Maldives, Nafisah terbangun lebih dulu dari Andra. Setelah selesai salat dan mandi, Nafisah lalu menyingkup gorden dan memandang pantai dari balik jendela kamar resort mereka.
"Selamat pagi dunia," sapa Nafisah pada dunia. "Indahnya," puji Nafisah pada pantai yang terlihat begitu indah, sejuk dan nyaman.
Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, Nafisah tidak terkejut ia malah tersenyum.
"Good morning, sayang," sapa Andra sambil memeluk Nafisah dari belakang dan menciumi kepala Nafisah yang telah terbungkus jilbab.
"Morning too mas," jawab Nafisah.
"Sayang, maafkan aku," ucap Andra meletakkan wajahnya di bahu Nafisah.
"Mmm... untuk apa?" tanya Nafisah melirik Andra dengan ujung matanya.
"Untuk yang semalam," jawab Andra.
"Kenapa harus minta maaf? Itu sudah kewajibanku untuk melayanimu mas," ujar Nafisah.
Cup!
Andra mencium pipi Nafisah, "Terima kasih sayang. Kamu adalah istri terbaik," kata Andra.
"Hahaha... bisa saja kamu mas," Nafisah tertawa dan memukul pelan lengan Andra. "Sudah, sana Mandi dulu mas," tutur Nafisah saat menyadari tangan Andra mulai nakal menyentuh bagian sensitifnya.
"Baiklah, aku mandi dulu yah," malas Andra.
Cup!
Andra kembali mendaratkan kecupan sayang pada seluruh wajah Nafisah dan terakhir ******* lembut bibir Nafisa. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam kamar mandi.
Nafisah geleng-geleng kepala. "Oh god, benarkan dia suamiku? Huwaaa... romantisnya," gumam Nafisah senyum-senyum sendiri.
***
Setelah sarapan, Andra dan Nafisah memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai dan sekarang mereka sudah ada di pantai menikmati sejuknya angin yang berhembus.
Pantai Kurumba merupakan salah satu pantai terindah di Maldives yang cocok untuk bulan madu. Cocok untuk pengantin baru seperti Andra dan Nafisah.
Pasangan yang berbulan madu maupun berlibur dapat melakukan beberapa aktivitas yang menyenangkan, seperti mencoba scuba diving, spa, atau bahkan bersantai di laguna.
Selain melakukan beberapa hal tersebut, juga dapat mengunjungi beberapa cafe di sekitar pantai yang menawarkan olahan seafood segar yang menggugah selera.
Andra dan Nafisah berjalan bergandengan tangan, menelusuri pinggir pantai.
__ADS_1
Terlihat banyak sekali orang-orang bermain air. Ada yang berlari-larian, ada yang bermesraan dengan pasangannya dan ada juga yang berenang.
Sebuah getaran dari saku celana Andra membuat atensi pria itu beralih dan mengeluarkan benda pipih itu.
Diliriknya layar monitor itu dan yang ternyata menelponnya adalah salah satu rekan bisnisnya. Ada perasaan kesal saat ini dalam diri Andra.
Bagaimana bisa orang itu mengganggu acaranya dengan sang istri. Walau bukan acara apa-apa, tapi berjalan di tepi pantai juga merupakan hal yang romantis.
Apakah Dimas tidak becus mengerjakan semuanya? Baru kali ini Andra merasa kesal dengan urusan pekerjaan. Padahal pekerjaan adalah prioritasnya.
Ralat dulu. Ya, itu dulu karena sekarang Nafisahlah yang menjadi prioritas dan nyawanya. Selama Nafisah berada di sisinya, maka semuanya akan baik-baik saja.
"Sayang aku angkat telpon dulu," ucap Andra dan diangguki oleh Nafisah.
Pria itupun berjalan menjauh dari pantai. Mencari tempat yang sedikit lebih jauh agar dia bisa mendengar secara jelas apa yang dikatakan oleh rekan bisnisnya dan begitupula sebaliknya.
Setelah kepergian Andra, Nafisah tidak tahu harus melakukan apa. Dia pun memilih untuk duduk di pasir sembari menunggu suaminya itu selesai menelpon.
"Hay," sapa seseorang yang entah sejak kapan sudah duduk d isamping Nafisah.
Nafisah yang merasa jarak mereka terlalu dekat pun sedikit menggeser tubuhnya.
"Mau minum?" tawar pria itu mengarahkan sekaleng minuman dingin pada Nafisah.
Nafisah menggeleng, " Tidak terima kasih," kata Nafisah menolak halus.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud seperti itu," sesal Nafisah.
" Tidak-tidak. Anda tidak salah. Anda benar seharusnya kita tidak menerima pemberian orang asing karena banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Bukankah begitu?" ujar pria itu sambil meminum minumannya.
"Anda benar tuan. Ini bukanlah negara kita di sini apapun bisa terjadi," balas Nafisah membuat pria asing itu mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Tidak usah formal. Aku masih muda," ucap pria itu.
"Baiklah," kata Nafisah.
Pria itu lalu bangkit dari duduknya. Sepertinya ia sudah akan pergi. Dia lalu memakai kembali kacamata hitam yang sebelumnya ia masukkan ke dalam saku kemejanya.
"Aku pergi dulu. Hari ini aku belum tahu siapa namamu, tapi lain kali aku pasti sudah mengenalmu. Senang bertemu denganmu," ucap pria itu sebelum berjalan menjauh meninggalkan Nafisah yang masih berdiam diri duduk di atas pasir putih.
"Tadi siapa?" tanya Andra yang kini telah duduk di tempat pria tadi. Ternyata Andra sudah selesai menelpon. Dia juga melihat interaksi Nafisah dengan pria tadi. Sebelum ia sampai ternyata pria itu telah pergi lebih dulu.
"Bukan siapa-siapa. Dia tadi hanya menawariku minum," jawab Nafisah apa adanya.
"Lalu kamu menerimanya?" tanya Andra. Nafisah menggelang.
"Good honey! Jangan terlalu percaya pada orang asing apalagi jika dia memberikan sesuatu padamu. Bukan apa-apa karena banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi," ujar Andra sambil mengelus sayang kepala Nafisah yang tertutup jilbab.
"Apa yang kamu katakan sama dengan apa yang pria tadi katakan padaku," kata Nafisah. Entah suatu kebetulan atau memang kata-kata itu pasaran, tapi apa yang mereka katakan mengandung artian yang sama.
__ADS_1
"Mungkin cuma kebetulan," tutur Andra dan diangguki oleh Nafisah.
Mereka pun menghabiskan waktu mereka dengan duduk santai di pantai.
***
Tak jauh dari Andra dan Nafisah, diam-diam ada seseorang yang mengawasi mereka.
Seseorang berjenis kelamin pria itu mengawasi Andra dan Nafisah dengan ikut duduk di atas pasir putih. Wajahnya memang lurus ke depan, namun kedua bola matanya menatap kearah Nafisah dan Andra yang sedang bermesra-mesraan.
Pria itu tersenyum miring. Setelah puas mengawasi kedua pasangan suami istri itu, pria itu pun memutuskan kembali ke kamarnya.
Ternyata oh ternyata dia juga menginap di resort kurumba sama dengan Nafisah dan Andra. Pria itu berjalan gontai menjauh dari pantai.
***
"Sepertinya akan turun hujan," kata Nafisah setelah melihat langit mulai mendung.
"Iya, ayo kita kembali!" ajak Andra saat kulitnya dijatuhi setetes air hujan sambil menggandeng tangan Nafisah menuju resort.
***
Hawa dingin mulai menyelimuti kedua makhluk tuhan itu. Andra dan Nafisah sudah terbalut selimut tebal, namun tetap saja merasa kedinginan.
Dari mereka kembali ke resort sampai malam tiba, hujan tidak pernah berhenti. Dia selalu saja menumpahkan airnya dengan begitu deras ditambah lagi angin kencang. Oh sungguh membuat hawa malam ini terasa begitu dingin.
Andra yang semula berbaring sambil memainkan hpnya kini mulai mendekat ke arah Nafisah dan tanpa aba-aba ia langsung memeluk Nafisah.
Membuat istrinya itu terkejut dan langsung terbangun dari mimpi indahnya.
"Tidurlah lagi," ucap Andra menempatkan kepalanya pada bagian dada Nafisah. Tempat ternyamannya.
"Mas belum tidur?" tanya Nafisah dan dijawab gelengan kepala oleh Andra.
"Tadi Dimas mengirimiku email tentang perusahaan yang pemiliknya tadi menelponku," jawab Andra dengan posisinya yang sudah nyaman. Tangannya melingkar di pinggang ramping Nafisah serta kepalanya yang sudah berada di bagian dada Nafisah.
"Sepertinya besok kita harus kembali sayang," lanjut Andra. Sebenarnya waktu mereka masih ada sekitar dua hari, namun karena urusan pekerjaan yang tidak bisa diatasi oleh Dimas, jadilah Andra harus turun tangan langsung dan membatalkan bulan madunya yang masih tersisa dua hari lagi.
"Gpp mas! Aku juga sudah merindukan negara kita, keluargaku dan juga orang-orang yang ada di rumah besarmu," ujar Nafisah namun Andra menggeleng. Nafisah mengernyit mengatupkan kedua tangannya pada pipi suaminya agar matanya dapat menatap mata suaminya.
"Ralat, bukan rumah besarku tapi rumah besar kita," tutur Andra lalu mencium gemas bibir mungil Nafisah.
Lagi-lagi mereka melakukan penyatuan. Hawa yang semulanya terasa dingin kini telah berubah menjadi hawa panas karena nafsu dari kedua insan yang sedang memadu kasih itu.
🔫🔫🔫
TBC...
JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, DAN VOTE💕
__ADS_1