Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Dua Bumil


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


"Bagaimana apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Dimas pada Rio yang sedang berkutak dengan komputernya.


"Sudah," jawab Rio.


"Huwaaaa... akhirnya," timpal Jack bernapas lega.


Dua minggu bukanlah waktu yang singkat bagi mereka untuk mencari bukti. Pagi, siang dan malam mereka selalu mencari dan mencari.


Dan akhirnya Rio sekarang bisa menemukan bukti itu. Jack lalu memeluk Rio sangkin bahagianya.


"Thanks bro lo udah buat gue keluar dari sutuasi ini," ucap Jack hendak mencium Rio namun langsung didorong oleh hacker itu.


"Woy! Gue bukan pisang makan pisang yah!" timpal Rio menatap tajam Jack yang nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.


"Jadi bagaimana?" tanya Dimas.


"Itu murni dilakukan oleh preman-preman kompleks kontrakan Audy," jawab Rio. Setelah menganalisis ternyata penyebab dari kematian Audy bukanlah sesuatu yang direncakan untuk membuat Ronal dan Andra bermusuhan.


"Untung kita mendapatkan rekaman ini," ujar Jack sambil memperlihatkan sebuah kamera cctv berukuran mini yang ia dapatkan dari kontrakan lama Audy.


Sepeninggalnya Audy, rumah kontrakan itu sudah tidak ada yang mau mengontrak lagi dan itu memudahkan mereka mencari bukti tersembunyi dan alhasil mereka mendapatkan sebuah kamera cctv mini atau Eazzzy Mini USB Digital Camera.



Eazzzy Mini USB Digital Camera mempunyai desain kecil, modis, dan cocok untuk segala jenis alat portabel. Eazzzy Mini Camera adalah kamera mainan mink yang built-in dengan USB sehingga dapat dihubungkan ke komputer setelah mengambil objek tanpa harus dihubungkan dengan kabel.


Semua yang terjadi lima tahun lalu terekam didalam sana dan hal itu membuktikan kalau Andra tidaklah bersalah.


"Kita harus menyeret para kaparat itu kedalam penjara!" tutur Jack.


"Benar, selesaikan ini dulu baru game over!" kata Dimas.


"Misi lagi Rio!" seru Jack dengan senyum smirknya.


Sebelum memastikan semuanya beres, Dimas tidak akan kembali ke rumah besar dulu. Dia akan membuktikan pada kakak beradik itu jika Andra bukanlah penyebab kematian Audy.


"Siapkan anak buah kita nanti malam!" titah Dimas.


"Emang kita bertiga tidak bisa menghabisinya?" timpal Jack sombong.


"Kau ini sok sekali," ucap Rio menoyor kepala Jack. "Mereka bukanlah preman pasar ataupun preman pensiun, mereka kuat dan terbentuk dalam suatu geng yang dibawahi oleh mantan Mafia," pungkas Rio membuat Jack membelalak.


Dia mengira hanya preman biasa yang kerjaannya hanya mabuk dan malak saja, tapi ternyata preman berkelas.


"Wow amazing," kata Jack membulatkan matanya.


"Aku mau istirahat dulu kalian kalau mau bisa istirahat juga, tugas kita usai tinggal nanti malam," pungkas Dimas lalu keluar dari ruangan pribadi Rio.


"Lo gak mau ikut sama gue Ri?" tanya Jack.


"Kemana?" tanya Rio mengkerutkan matanya.


"Cuci mata," jawab Jack mengerlingkan matanya.


"Mat lo katarak yah?" tanya Rio membuat Jack berdecak kesal.


"Percuma ngomong sama jomblo tingkat akut satu spesies dengan Sofia," ejek Jack lalu terbirit keluar dari ruangan Rio.


***


Sementara di rumah besar, kedua ibu hamil itu sedang berjemur dikolam berenang rumah besar sambil memainkan hp masih-masing.


"Naf!" panggil Sofia pada Nafisah yang berjemur disamping kanannya.


"Iya?" balas Nafisah menghadap kearah Sofia.


"Makan ini yuk!" seru Sofia sambil memperlihatkan sebuah makanan khas negara gingsen pada Nafisah.


Mata Nafisah tidak berkedip menatap layar benda pipih itu, ia kemudian menelan air liurnya. Seketika itu juga Nafisah ingin memakan makanan tersebut.


"Siapa yang akan membuatnya untuk kita?" tanya Nafisah.


"Chef Xion," jawan Sofia dengan mata berbinarnya.


"Sof, chef Xion dari china bukan korea," ujar Nafisah.


Sofia menepuk jidatnya sendiri, "Oh god Naf! Bukan semua yang bisa membuat makanan itu harus orang korea! Chef Xion adalah chef, juru masak dan pastinya dia tahu membuat makanan itu," tutur Sofia.

__ADS_1


"Yasudah ayo!" ajak Nafisah berdiri dari berjemurnya.


Mereka pun kembali masuk kedalam rumah besar.


"Chef Xion! Chef Xion!!" teriak Sofia dan Nafisah.


Pak Arif yang saat itu sedang memotong buah persediaan untuk bumil itupun sampai teriris tangannya sangkin kerasnya teriakan kedua wanita itu.


Pak Arif meringis perih sembari mengibaskan tangannya guna menghentikan darah mengalir.


"Tangan bapak kenapa?" tanya Nafisah.


"Teriris nyonya," jawab pak Arif.


"Dicuci dulu gih pak baru balut dengan plester," saran Nafisah dan dijawab anggukan kepala oleh pak Arif.


"Makanya pak kalau melakukan sesuatu itu hati-hati!" imbuh Sofia dan pak Arif hanya menganggukkan kepalanya.


"Ini juga karena ulah kalian berdua," batin pak Arif kesal.


"Pak lihat chef Xion gak?" tanya Sofia.


"Tuh Chef Xion," tunjuk pak Arif pada chef Xion yang baru saja datang dengan mengangkat beberapa kardus sayur-sayuran.


"Chef!!" panggil Sofia dengan nyaring membuat chef Xion terkejut dan kardus yang djbawahnya itupun terjatuh mengenai kakinya.


"Awh..." chef Xion meringis sakit sambil mengusap-usap kakinya, berbanding terbalik dengan Sofia yang malah terbahak.


"Sof gak baik tahu!" seru Nafisah memperingati Sofia.


"Habisnya lucu sih," ujar Sofia tanpa dosa.


"Aduh... Naf perutku kram!!" ringis Sofia sambil memegang perutnya.


"Kualat itu," timpal Nafisah lalu mendudukkan Sofia pada kursi.


"Huwaaa... Naf sakit," keluh Sofia.


"Duduklah dulu Sof! Ini akan membantumu untuk sembuh," pungkas Nafisah.


Pak Arif datang membawa baskom bersisi air hangat dan juga handuk.


"Kompres dengan ini nyonya," seru pak Arif menyodorkan baskom itu pada Nafisah.


"Angkat bajumu Sof!" titah Nafisah dan Sofia pun mengangkat bajunya lalu Nafisah mulai mengompres perut Sofia dengan telaten.


Setelah sepuluh menit barulah perut Sofia tidak sakit lagi. Sofia berdiri dari duduknya.


"Sudah baikan?" tanya Nafisah memastikan.


Sofia tersenyum sumringah dan mengangguk,"Gak lagi udah sembuh," jawab Sofia.


"Hayuk aku mau makan sskarang!" tambah Sofia menarik tangan Nafisah dan berjalan menuju chef Xion yang sedang membersihkan sayur-sayur tadi.


"Apa ada yang bisa saya bantu nyonya, nona?" tanya chef Xion.


"Iya," jawab mereka kompak.


"Bantu apa nyonya?" tanya chef Xion.


"Masakan untuk kami ini!" titah Sofia sambil memperlihatkan makanan yanh ingin mereka makan.



Ramen atau ramyeon bukan suatu hal yang asing lagi untuk didengar bagi kebanyakan orang. Berbagai jenis ramen dengan bermacam-macam rasa kini sudah banyak sekali tersebar di berbagai penjuru dunia.


Salah satu negara yang juga memproduksi ramen adalah Korea. Negara ini cukup banyak memproduksi mie instan atau ramen dengan berbagai macam rasa.


"Mau rasa yang apa nyonya, nona?" tanya chef Xion.


Nafisah dan Sofia saling bertukar pandang dan sama-sama mengedikkan bahu. Mereka tidak tahu ada rasa apa saja makanan itu.


"Yang pasti seperti yang ada digambar ini!" timpal Sofia.


"Iya, saya tahu, tapi nyonya dan nona mau yang rasanya apa?" tanya chef Xion sopan.


"Seperti yang ada digambar!" balas Sofia. " Iyakan Naf?" tanya Sofia dan diangguki oleh Nafisah.


"Astaga dua orang ini. Kalau saja bukan majikan sudah kutimpuk kalian dengan wajan ini. Sabar-sabar! Mereka sedang hamil," batin chef Xion menjerit tertahan.


"Mau rasa seafood, kimchi, sapi, dan ayam?" tanya chef Xion akhirnya.

__ADS_1


"Seafood sepertinya enak Sof!" jawab Nafisah dan disetujui oleh Sofia.


"Baiklah nyonya dan nona tunggulah disana dulu," imbuh chef Xion.


Kedua ibu hamil itu kompak menggelengkan kepala mereka. Mereka tidak ingin duduk disana, mereka ingin melihat proses pembuatan makanan khas korea selatan itu.


"Baiklah," putus chef Xion.


Chef Xion memulai dengan menyiapkan bahan-bahan terlebih dulu. Setelah itu, dia menyiapkan panci dan diisi dengan air secukupnya lalu mendidihkannya.


Setelah itu, chef Xion memasukkan ramen instan dan merebusnya sampai lunak.


Selanjutnya, chef Xion mengiris-iris daun bawang, mencincang bawang putih, mengiris panjang paprika merah dan juga mentimun dengan telaten lalu menumisnya sampai matang. Kemudian chef Xion menambahkan kaldu seafood.


Setelah itu chef Xion meniriskan mie yang sudah direbus. Kemudian masukkan semua bumbu pelengkapnya.


"Wow," ucap Sofia dan Nafisah bersamaan.


"Silahkan dicoba nyonya," ucap chef Xion menyajikan dua mangkok ramen untuk mereka.


"Selamat makan Naf!" kata Sofia dan mulai memakan ramennya.


Nafisah membaca doa lalu menyusul Sofia mengunyah ramen tersebut. Mereka berdua berdecak kagum dan berlomba-lomba menghabiskan ramen tersebut.


"Lagi!" ucap Nafisah dan Sofia saat ramen mereka sudah habis tidak tersisa.


"Kali ini aku mau yang rasa kimchi!" imbuh Sofia.


"Aku juga," timpal Nafisah.


Lagi-lagi chef Xion kembali membuatkan ramen untuk kedua ibu hamil itu.


"Ini nyonya, nona," ucapnya kembali menyajikan ramen buatannya dihadapan kedua wanita hamil tersebut.


Mereka kembali memakannya dan berhenti setelah mangkok yang ketiga kalinya.


"Alhamdulillah babynya udah kenyang," ucap Nafisah sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Iya," timpal Sofia.


"Bayinya? Huft... bukan cuma bayinya yang kenyang tapi kalain juga sama!" gerutu Chef Xion dalam hatinya.


Sofia tidak sengaja melirik paprika merah yang ada dihadapan chef Xion dan tiba-tiba saja ia mau melihat chef Xion memakan paprika tersebut.


"Chef!" panggil Sofia.


"Iya nona?" tanya Chef Xion.


"Apa kau mau membantuku?" ucap Sofia dengan puppy eyesnya.


"Bantu apa nona?" tanya balik chef Xion.


"Tiba-tiba saja aku ingin melihatmu memakan buah paprika merah itu! Boleh yang chef?!" tutur Sofia.


"Tapi..."


"Gak baik loh nolak ibu hamil, emang chef tega melihat anakku nanti ileran karena gak bisa lihat chef makan paprika? Enggakkan, jadi makanlah sekarang!" cerocos Sofia membuat Nafisah terkekeh geli. Untung saja ia tidak mengidam aneh seperti Sofia itu.


"Baiklah," pasrah chef Xion lalu memulai memakan buah paprika merah tersebut.


Paprika memang tidaklah pedas, namun tidak semua manusia menyukai buah paprika.


paprika merah menyajikan rasa manis terbaik dan mengandung cukup banyak vitamin karena melalui proses pematangan yang sempurna.


Pak Arif mendekat hendak mengambil blender, namun terhenti ketika Sofia memanggilnya untuk mendekat.


"Iya nona?" tanya pak Arif lalu menatap chef Xion yang nampak tersiksa dengan memakan buah paprika.


"Pak, temanilah chef Xion memakan buah ini!" ucap Sofia memberikan buah paprika oranye kepada pak Arif.


Pak Arir terbelalak. Dia sangat membenci paprika, tapi Sofia malah menyuruhnya memakan mentah buah tersebut.


Ya ampun mimpi apa mereka berdua semalam? Sehingga harus menghadapi kedua wanita hamil itu.


Sambil nunggu Risma up, hayuk intip novel menarik dibawah ini!πŸ˜‰ Jangan lupa tinggalkan jejak juga yah😊



πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•


__ADS_2