
SELAMAT MEMBACA!
***
"Turun!" kata Feng setelah mereka sampai di markas mereka.
"Tidak!! Saya tidak mau turun!! Lepaskan saya!!" teriak Nafisah menentang.
"Dasar keras kepala! Kalian seret dia masuk! Kalau masih tidak mau juga bopong saja," ucap Feng lalu berjalan lebih dulu masuk ke dalam markas.
"Ya Allah mau di apakan aku?" gumam Nafisah gelisah.
"Lepaskan saya!! Jangan menyentuhku!!" teriak Nafisah terusa saja memberontak saat dengan paksa anak buah Feng menariknya keluar dari mobil.
"Nyonya, tolong bekerja samalah," balas salah satu anak buah Feng mulai muak dengan sikap Nafisah yang selalu saja memberontak menjadikan pekerjaan mereka menjadi semakin sulit.
"Bekerja sama? Bodoh! Mana ada orang yang diculik kau mintai kerja samanya!" umpat Nafisah dengan geram.
"Iya juga sih, ah sudahlah itu tidak penting. Sekarang anda ikutlah atau saya bopong dan saya banting anda!!" ancam anak buah Feng.
"Ba-baiklah," pasrah Nafisah ketakutan. "Tapi jangan menyentuhku!!" Nafisah menghempaskan tangan anak buah Feng yang memegang tangannya dengan kasar.
"Tapi..."
"Tenang saja, saya tidak akan kabur! Lagi pula buat apa saya kabur jika jalanan saja saya tidak tahu. Yang ada saya bisa mati dimakan binatang buas," pungkas Nafisah mengedarkan pandangannya melihat sekitar markas hanya ada pohon-pohon besar karena tempat ini berada ditengah hutan.
"Baiklah silahkan," balas anak buah Feng mempersilahkan Nafisah untuk melangkah masuk lebih dulu.
Nafisah pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas geng fire.
Prok-prok-prok!
Suara tepukan tangan menggema kala Nafisah sudah berada di dalam markas.
"Wah, hebat kau yang diculik tapi kau dengan soknya melangkah masuk sendiri tanpa diseret, i like it," ucap seseorang yang sedang duduk di single sofa di tengah-tengah ruangan.
Nafisah mengernyit bingung. "Siapa lagi dia," gumam Nafisah pelan.
"Selamat datang Nyonya Andra Yudhiantara," sambut orang itu lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Nafisah.
"Kau!!" tunjuk Nafisah terkejut.
"Ya aku," balas pria ity tersenyum miring.
"Sebarnya siapa kalian ini? Ada urusan apa kalian denganku sampai-sampai berani menculikku? Apa salahku? Aku tidak mengenal kalian semua," teriak Nafisah murkah.
__ADS_1
"Diam!!" bentak pria yang tidak lain adalah Ronal. "Kau banyak bacot sekali nyonya! Diamkan mulutmu itu biar kujawab apa yang tidak dapat kau mengerti ini!" tambah Ronal.
"Kita sudah pernah bertemu bukan bahkan sudah dua kali dan inj adalah pertemuan ketiga kita," pungkas Ronal tersenyum miring.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Aku memang tidak ada urusan denganmu tapi dengan suamimu aku masih punya urusan yang belum kuselesaikan dan tentang kenapa kami menculikmu itu karena kau adalah kelemahan terbesar dari Andra!" lanjut Ronal menjelaskan pada Nafisah. Nafisah mengernyit bingung.
"Baiklah mari kujelaskan dengan rinci tentang ini!" tutur Ronal lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. "Namaku Ronal, Ronal Dirgantara. Kau tahu rival bukan? Ya, aku rival dari suamimu. Aku memang sengaja mengintaimu, dari saat di Maldives sampai saat kau ingin membeli dasi itu," tambah Ronal.
"Semua pertemuan pasti ada maksud dari semua itu dan maksud pertemuan kita adalah ini!" lanjut Ronal.
"Kenapa kau jadi bisa sekarang? Apa kau takut? Tidak-tidak aku rasa kau tidak takut denganku! Kau istri dari Andra si bos Mafia dan sahabat dari Sofia gadis pembunuh," Ronal menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Nafisah membulatkan matanya. "Ma-mafia? Pembunuh? Apa maksudnya?" tanya Nafisah.
"Ckckck... ternyata kau tidak tahu yah, lantas kenapa kau mau menikah dengan Andra jika latar belakang suamimu saja kau tidak tahu bodoh?" umpat Ronal berdecak.
"Karena aku bukan wanita yang memandang pria melalui latar belakang mereka," balas Nafisah menskakmat Ronal.
Prok-prok-prok!
Ronal kembali bertepuk tangan dan tersenyum miring.
"Wow luar biasa Andra bisa mendapatkan gadis secerdik dirimu," puji Ronal namun sinis.
"Tapi apa kau tahu kalau suamimu ity bukanlah orang yang suci dan semua orang yang berada di rumah besar itu sudah tidak ada yang suci. Dosa mereka sudah banyak bahkan terlalu banyak!" ujar Ronal memprovokasi.
Ronal tercengang dengan respon Nafisah yang terlihat biasa saja. "Apa kau tahu maksudku?" tanya Ronal memastikan.
"Lalu kenapa jika mereka semua tidak suci? Semua manusia tidak ada yang tidak memiliki dosa. Kau tidak usah sok suci tuan jika dirimu saja tidak jauh berbeda dengan mereka!" sinis Nafisah tersenyum miring dibalik cadarnya.
"Kurang ajar!!" geram Ronal mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kau yang memulai dan aku hanya mengikutu cara bermainmu! Jangan mencoba untuk mencuci otakku karena sekeras apapun kau berusaha aku tidak peduli tentang apa yang telah mereka perbuat karena kesucian bukanlah milik manusia!" jelas Nafisah panjang lebar.
"Cih, kau dan Andra memang cocok menjadi pasangan sama-sama menyebalkan!" kesal Ronal.
"Bawa dia! Aku muak berbicaea dengannya yang ada darah tinggiku naik," geram Ronal memerintahkan anak buahnya.
"Kenapa? Apa sekarang kau sudah merasa kalah Tuan Ronal Dirgantara?" ejek Nafisah. "Dasar lemah," tambahnya.
"Diam!!" bentak Ronal. "Kau diam! Tutup mulut sialanmu itu atau kalau tidak kau akan tahu bagaimana sadisnya seorang Ronal Dirgantara," ancam Ronal.
"Tunggu apa lagi bodoh!! Bawa dia!!" titah Ronal menunjuk Nafisah.
"Kalian seret wanita itu!" timpal Feng pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik bos," balas anak buah mereka.
"Kau kalah!" ejak Nafisah sekali lagi. "Lepaskan!" Nafisah menghempaskan tangan anak buah Ronal dengan keras.
"Aku bisa jalan sendiri," kata Nafisah.
"Dan kau!" tunjuk Nafisah pada Ronal. "Siap-siaplah habis di tangan suamiku!" ancam balik Nafisah.
"Di mana tempatnya?" tanya Nafisah garang.
"Di-di sana nyonya," gugup anak buah Ronal menunjukkan jalan pada Nafisah.
Nafisah lalu melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukkan anak buah Ronal.
Ceklek!
Anak buah Ronal membukakan pintu untuk Nafisah. Nafisah lalu masuk ke dalam kamar.
"Kalian berdua pergilah!" ketus Nafisah mengusir kedua anak buah Ronal.
Kedua anak buah Ronal saling tatap bingung. Bisa-bisanya ada orang yang diculik berlaku seperti ini seolah-olah dialah tuan rumah.
"Tunggu apa lagi?!! Pergilah!!" bentam Nafisah membuat kedua anak buah Andra terkejut lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.
"Dasar bodoh! Memangnya aku akan kabur apa?!" kesal Nafisah.
Nafisah merasa aneh dengan perutnya. Ia mengernyit.
"Huwek... huwek..." Nafisah mual ia lalu berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Nafisah mengangkat kain penutup wajahnya lalu memuntahkan isi perutnya.
"Huwek... huwek... huwek..."
"Ada apa... huwek... huwek... denganku?" tanya Nafisah lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya.
Nafisah lalu berkumur-kumur dan menyandarkan tubuhnya pada tembok lalu memijit pangkal hidungnya dan juga pelipisnya.
***
Follow ig ku @Noona_Risma 14π
Semua info terbaru ada di sana!
π«π«π«
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ