
SELAMAT MEMBACA!
***
Waktu yang mereka tunggu pun akhirnya tiba. Siang ini mereka akan ke rumah orangtua Nafisah dan tentunya untuk melamar Nafisah.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Sofia memeriksa semua yang akan mereka bawa ke rumah Nafisah.
"Sudah nona," jawab Pak Arif.
"Baiklah bos, mari kita pergi sekarang!" seru Sofia pada Andra.
Andra pun mengangguk, "Bawa semua itu ke mobil!" titah Andra pada para anak buahnya.
"Siap bos," balas mereka.
Andra dan yang lainnya pun berjalan menuju mobil mereka.
***
Sedangkan di rumah Nafisah, semuanya sudah menanti kedatangan Andra dan para rombongannya.
"Aduh cantiknya adikku ini," puji Amira setelah selesai mendandani Nafisah.
"Aduh aku tersandung," kelakar Nafisah.
"Lah kok malah tersandung dek? bukannya tersanjung yah," ralat Amira lalu mereka pun terbahak.
"Assalamualaikum ukhty," ucap Aliyah yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam," jawab Amira dan Nafisah.
"Kamu sudah datang Al? ayah dan ibumu bagaimana?" tanya Nafisah.
"Ayah dan ibuku sudah ada di luar menunggu kedatangan calon sepupu iparku," goda Aliyah menaik turunkan alisnya.
Ibu Aliyah atau Makcik Meurah adalah adik kandung dari ayah Hamish, jadi keluarga Aliyah di undang untuk menyaksikan proses lamaran Nafisah karena bagaimanapun mereka adalah keluarga.
"Oh iya btw, kamu dan calonmu itu ketemu di mana Naf?" tanya Amira mode kepo.
Deg!
Nafisah tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya keluh dan bibirnya seakan di lem tidak bisa terbuka untuk bicara.
"Kepo amat sih Al," tukas Amira.
"Yah kak Ira, Aliyahkan cuma nanya," cemberut Aliyah mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah kalau tidak mau di jawab juga gak papa!" tambah Amira.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Nafisah mengalihkan pembicaraan.
"Lancar sih, tapi aku gak terlalu suka sama si botak," jawab Aliyah sambil meremas-remas tangannya sendiri.
"Si botak?" tanya Nafisah bingung.
"Iya dek, si botak itu atasan Aliyah di di divisinya," jawab Amira.
"Emang kenapa? Ada apa dengan atasanmu itu Al?" tanya Nafisah lagi.
"Dia itu orangnya ganjeng Naf, masa yah waktu itu tangan aku di pegang kek gini," Aliya memperaktikkan saat tangannya di pegang oleh atasannya. "Kayak gitu, idih jijik banget aku," jelas Aliyah bergidik ngeri.
"Hahaha... sabar yo!" balas Nafisah terkekeh geli.
__ADS_1
"Itu sih bukan ganjen namanya Al, tapi kamu yang terlalu ke pd-an!" cibir Amira sambil geleng-geleng kepala.
"Terserah kakak mau bilang apa tapi bagi Aliyah itu adalah pelecehan!" tegas gadis berjilbab itu.
"Up to you," kata Amira.
Drt-drt-drt!
Ponsel Aliyah berbunyi. Aliyah lalu meraih ponselnya dan terlihatlah nama atasannya di layar monitor benda pipihnya itu.
"Panjang umur dia," kata Aliyah lalu mengangkat panggilan bosnya.
"Assalamualaikum pak," ucap Aliyah.
"Waalaikumsalam, Al kamu bisa ke kantor sekarang!" perintah atasannya.
"Kenapa pak? Bukannya hari ini saya libur?" tanya Aliyah dengan nada tidak terima.
"Kamu datang saja sekarang nanti saya jelaskan! Saya janji kalau kamu datang sekarang, saya akan memberikan bonus padamu bulan ini," bujuk atasan Aliyah.
Wajah Aliyah langsung berseri-seri mendengar kata bonus diucapkan atasannya itu.
"Baik pak, saya ke sana sekarang," semangat Aliya.
"Baikalah saya tunggu!" ucap bosnya itu lalu mengucap salam dan mematikan panggilannya.
"Naf, maafin aku yah! Aku haru ke kantor sekarang," ucap Aliyah.
"Iya gak papa, pergilah," tutur Nafisah.
"Oke, aku pamit yah assalamualaikum," pamit Aliya.
Aliyah pun berlalu meninggalkan kamar Nafisah.
***
Andra dan rombangannya tiba di rumah Nafisah beserta keluarganya.
"Bawa semuanya!" titah Andra pada anak buahnya.
"Baik bos," balas mereka lalu mulai menurunkan seserahan yang akan di berikan Andra.
Andra lalu membenarkan jasnya terlebih dulu baru menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Sudah siap tuan?" tanya Pak Arif dan dijawab anggukan kepala oleh Andra.
Tok-tok-tok!
Pak Arif mengetuk pintu rumah Nafisah.
"Assalamualaikum," ucap Pak Arif.
"Waalaikumsalam," sahut ayah Hamish. "Silahkan masuk, pak," tambah Ayah Hamish.
Andra dan yang lainnya pun masuk ke dalam rumah Nafisah. Setelah meletakkan semua bawaan bosnya, anak buah Andra pun kembali ke halaman rumah Nafisah.
"Bu, panggilkan Nafisah!" seru Ayah Hamish.
"Baik yah," balas Ibu Harfisah lalu beridiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Nafisah.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
Ibu Harfisah mengetuk pintu kamar Nafisah.
"Sayang, ayo buruan mereka sudah datang," seru Ibu Harfisah.
"Iya bu," kata Nafisah.
Ceklek!
Nafisah membuka pintu kamarnya.
"Bismillah dulu dek!" titah Ibu Harfisah.
Nafisah mengangguk lalu mengucapkan basmalah.
"Ayo!" ajak Ibu Harfisah.
Mereka pun berjalan menuju ruang tamu di mana semuanya berada. Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tamu rumah Nafisah dan sebagai wali dari Andra, Pak Arif mulai membuka bicara.
"Baiklah, pertama-tama perkenalkan nama saya Pak Arif kepala pelayan rumah besar Yudhiantara dan alhamdulillah saya juga merupakan orang kepercayaan keluarga Yudhiantara," ucap pak Arif.
"Di sini saya sebagai wali dari tuan muda Andra Yudhiantara. Kami datang ke sini dengan niat hati untuk melamar putri anda menjadi istri dari tuan muda Andra. Sekiranya bapak dan ibu bisa menerimaa lamaran kami ini," tambah Pak Arif.
"Kalau Pak Arif hanyalah wali, lantas di mana orangtua Nak Andra?" tanya Makcik Meurah.
Andra tersenyum tipis, "Papa saya sudah meninggal dua tahun yang lalu dan mama saya sedang koma," jawab Andra.
"Maafkan makci nak, makcik benar-benar tidak tahu," sesal Makcik Meurah tak enak hati.
"Tidak apa-apa bi," tutur Andra.
"Panggil makcik saja dan suami makcik kamu panggil pakcik," pungkas Makcik Meurah dan dijawab anggukam kepala oleh Andra.
"Baiklah, keputusan saya serahkan pada Nafisah karena merekalah yang akan menjalani bahterah rumah tangga bukan kami," jelas Ayah Hamish.
"Bagaimana sayang?" tanya Ibu Harfisah.
Nafisah menghela napas lalu membaca basmalah dalam hati barulah dia menganggukkan kepalanya.
"Nafisah terima lamarannya," kata Nafisah dan semua orang pun mengucap syukur.
Seserahan yang mereka bawa pun diserahkan pada keluarga Nafisah walaupun sempat menolak, namun karena mendengarkan kata-kata manis dari Sofia, keluarga Nafisah pun menerimanya.
"Bagaimana dengan tanggal pernikahannya?" tanya Ayah Hamish pada pak Arif.
"Apa anda tidak keberatan jika pernikahan mereka berdua diadakan dua minggu lagi?" tanya balik Pak Arif sesuai dengan keinginan tuan mudanya.
"Saya setuju, lebih cepat maka lebih baik," tutur Ayah Hamish dan mereka pun tersenyum.
"Akad nikah dan resepsinya akan diadakan di kota J!" seru Andra.
"Kenapa?" tanya Ibu Harfisah kurang setuju.
"Tidak apa-apa, hanya saja saya ingin menikah di rumah saya agar ibu saya yang sedang koma bisa mendengar saya mengucapkan ijab qobul," jawab Andra.
"Baiklah kalau begitu kami ikut kata Nak Andra saja," imbuh Ayah Hamish.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKA, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1