Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Resepsi


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Malam hari, resepsi pernikahan Andra dan Nafisah pun digelar sangat meriah. Dihadiri beribu-ribu orang penting serta artis dan juga model papan atas ikut serta meramaikan.


Resepsi mereka tak luput dari pemberitaan. Dibagian sudut tempat resepsi sudah banyak kamera berjejer dari berbagai media televisi. Mereka akan meliput setiap inci dari resepsi pengusaha muda tersebut.


Andra dan Nafisah nampak serasi diatas pelaminan layaknya seorang pangeran dan putri dari negeri dongeng.


"Selamat yah tuan Andra," kata tamu undangan sembari menjabat tangan Andra.


"Selamat nyonya," kata yang lainnya.


"Terima kasih," balas Nafisah tersenyum.


"Semoga sakinah mawaddah dan warohmah," ucap tamu yang lainnya lagi.


"Amin," balas Andra dan Nafisah.


Seorang pria tampan berdiri di atas panggung, menjadikan dirinya sebagai sorotan dari para tamu. Sepertinya pria itu akan membawakan sebuah lagu. Pria yang tidak lain adalah Adam mulai menyanyikan lagu pupus yang dipopulerkan oleh band dewa 19.


Adam dan keluarganya memang di undang datang oleh keluarga Nafisah karena penolakan lamarannya bukan berarti membuat kedua belah pihak menjadi putus silaturahmi.


Dengan suara merdunya yang dipadukan dengan rasa yang tidak bisa dirangkai dengan kata-kata, lagu pupus sangat menghibur para tamu undangan.


Mereka semua bahkan ikut tenggelam dalam nyanyian Adam. Mereka tahu maksud dari lagu tersebut, tapi mereka tidak tahu apa maksud dari pria tampan itu sehingga ia menyanyikan lagu galau yang mampu menyayat hati tersebut.


Nafisah yang juga ikut mendengarkan Adam bernyanyi menjadi merasa bersalah. Bahkan sangat bersalah. Dia sampai kehilangan konsentrasi diatas palaminan membuat tamu undangan yang hendak menyalaminya terdiam bingung di tempatnya.


"Nafisah," bisik Andra pada telinga Nafisah membuat gadis cantik bercadar itu terkesiap dan langsung saja tersenyum lalu menjabat tangan tamu yang tadi hendak menyalaminya.


"Jangan menghayal dulu Nyonya Yudhiantara," ujar tamu tersebut dengan senyum menggodanya.


Nafisah hanya membalas dengan senyuman dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan wanita tadi. Sedangkan Andra yang melihat istrinya itu kebingungan tersenyum tipis di tempatnya.


Setelah menyanyikan lagu pupus, kini Adam dan kedua orang tuanya akan menyalami kedua pengantin. Adam terlihat tidak bersemangat. Kenyataan ini sangat membuatnya terpuruk.


Hatinya bagaikan diiris-iris oleh belati. Rasa sakit ia rasakan disertai dengan rasa sesak ketika kakinya mulai menaiki pelaminan. Pelaminan yang seharusnya menjadi miliknya dan juga Nafisah.


Tapi, inilah takdir dan jodoh. Manusia hanyalah aktor/aktris dan Allahlah sutradara sekaligus penulis skenario hidup manusia.


Manusia hanya harus menjalankan dan Allah yang menentukan. Allah akan memberikan penderitaan yang nantinya akan terbalaskan dengan sebuah kebahagiaan.


Ingat pantun yang berbunyi :


Merakit-rakit ke hulu


Berenang-renang ketepian


Bersakit-sakit dahulu


Bersenang-senang kemudian.


Bait pantun tersebut juga masuk dalam lirik lagu raja dangdut, Rhoma Irama.

__ADS_1


Berakit-rakit ke hulu


Berenang ke tepian


Sakit-sakit dahulu


Susah-susah dahulu


Baru kemudian


Bersenang-senang


Pahit rasanya empedu


Manis rasanya gula


Sakit-sakit dahulu


Susah-susah dahulu


Baru kemudian


Berbahagia


Yakinlah, Allah hanya menguji manusia sesuai dengan kemampuan si empunya. Percayalah Allah telah merencanakan sebuah kebahagiaan yang jauh lebih indah dari semua itu.


Adam mulai menyalami kedua orang tua Nafisah yang juga duduk di pelaminan mendampingi sang putri bungsu.


Hamish memeluk Adam. Dia lalu berbisik pada Adam dan mengatakan, "Jodoh, Rezeki dan maut sudah ada yang atur. Percayakan semuanya pada yang di atas. Kau pasti akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari putri bungsuku itu."


"Kau pria yang baik dan pria yang baik akan dipasangkan dengan wanita yang baik pula," imbuh Harfisah yang dibalas anggukan kepala oleh Adam.


Kini gilirannya menyalami mempelai perempuan pun tiba, Adam berhadapan dengan Nafisah. Nafisah tersenyum ramah. Adam mengulurkan tangannya, namun Nafisah malah mengatupkan kedua tangannya.


Adam lalu menarik tangannya dan tersenyum. " Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah dan warohma," ucap Adam tulus. Meskipun hatinya sendiri sakit mendengar perkataannya. Namun dia bukanlah orang jahat yang akan mendoakan rumah tangga orang lain menjadi hancur.


Adam menatap Andra yang dari tadi hanya menyimak dengan wajah datarnya. Dalam segi fisik maupun materi memang Andra jauh lebih unggul dari dirinya.


Pantas saja jika Nafisah bersanding dengan seorang Andra Yudhiantara. Namun, bukan berarti Adam mengatakan jika Nafisah gadis yang memandang dari segi materi maupun fisik.


Gadis bercadar itu adalah gadis yang menerima apa adanya seseorang. Adam juga tak kalah tampan, jika saja Nafisah memandang dari fisik.


"Kalian berdua sangat cocok," tutur Adam bergantian menatap Nafisah dan Andra.


Andra sebenarnya tahu jika pria yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah pria yang mendahuluinya melamar Nafisah. Dalam hati dia salut dengan pria tersebut. Andra tahu jika ketegaran pria itu hanya di luar di dalam pasti dia sangatlah rapuh.


"Baiklah, aku pergi dulu. Selamat sekali lagi!" kata Adam.


"Makasih kak Adam sudah datang jauh-jauh hanya untuk menghadiri resepsi kami," balas Nafisah sungkan.


"Tidak apa, kitakan satu kampung dan juga tetangga masa kami tidak datang," seru Adam kemudian berlalu meninggalkan pelaminan.


Di bawah pelaminan, Ariana dan Sofia sedang menikmati segala macam sajian yang tersedia di meja seraya memandang Adam yang berlalu meninggalkan acara resepsi Nafisah dan juga Andra.


"Sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan," kata Ariana dan diangguki oleh Sofia.

__ADS_1


"Kasihan," balas Sofia sok mendrama.


"Tadi saja menyanyikan lagu pupus, itu adalah lagu paling galau versiku. Untung saja dia tidak bernyanyi.. harusnya aku yang di sana," timpal Akhsan.


"Diam!! Suaramu membuat gendang telingaku hampir meledak," seru Sofia sambil menyumpalkan kue brownis ke mulut Akhsan.


Ariana tersenyum geli. " Kalian memang cocok!" kata Ariana tiba-tiba membuat duplikat tom and jery itu melotot.


"Ih, amit-amit aku sama dia," tunjuk Sofia pada Akhsan. "Mimpi!! Aku masih normal, masih suka pisang ," celutuk Sofia.


"Kak Akhsan juga masih punya pisang kok," imbuh Ariana dan dibetulkan oleh Akhsan.


"pisang Akhsan sudah lembek, Eh kamu anak kecil kenapa ngomongin itu sih?!" kata Sofia. Ariana mengedikkan bahunya.


***


Di tempat lain, masih sama di kota J. Ronal sedang duduk di single sofa dengan sebuah laptop menyala yang di simpan di atas meja berhadapan dengannya.


Di tangan Ronal sudah ada gelas yang tidak lain dan tidak bukan selalu berisikan minuman beralkohol itu.


Ronal dengan minuman memabukkan itu bagaikan raga dan jiwanya. Tanpa minuman Ronal seakan tak dapat bernapas. Bisa dibilang ia pecandu berat minuman keras tersebut.


Netra milik Ronal tidak teralihkan dari layar monitor laptopnya. Dia duduk sambil menyilangkan kakinya, menonton sebuah pertunjukkan yang terlihat sangat menyentuh hatinya.


Dia secara diam-diam berhasil membuat anak buahnya yang telah menyamar menjadi seorang kameramen dengan begitu mudahnya masuk ke dalam ruangan resepsi.


"Mewah dan yah, bahagia sekali dirimu tuan Andra Yudhiantara," kata Ronal.


"Kau bahkan memamerkan istrimu ke publik. Kau mau melindunginya atau malah mau menjobloskannya ke dalam lubang buaya! Dasar brengsek!!" lanjut Ronal.


"Tapi, begini lebih baik! Kau telah membantuku mengenal siapa istrimu dan bagaimana rupanya. Kasihan sekali dirinya harus menikah dengan pria brengsek sepertimu. Tapi, tenang saja nona, kau akan segera lepas dari kungkungan iblis itu," ujar Ronal memperhatikan Nafisah dengan sangat teliti.


Paras seseorang kembali mampir ke dalam pikirannya. Pikiran yang sudah lama ia kubur kini muncul kembali.


Ronal menghempaskan gelas yang tadi di pegangnya lalu meremas kepalanya. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi sakit.


Bayangan-bayangan masa lalu kini menari-nari di kepalanya. Seorang gadis imut dan cantik tertawa keras menghiasi isi kepala pria tampan itu.


"Ku mohon jangan lakukan ini," pinta Ronal sambil menggeram tertahan.


Dengan tertatih- tatih, Ronal melangkahkan kakinya menuju nakas. Ia meraih sebuah kotak obat lalu membukanya dan dengan cepat ia menelan obat itu. Entah berapa jumlah yang diminumnya. Ia juga tak sadar dan begitu pula dengan Risma [ Hehehe ].


Ronal kemudian mendudukkan tubuhnya pada bibir ranjang king size miliknya. Sebuah foto diatas nakas yang berukuran 5R mampu membuat matanya berkaca-kaca.


Ia mengadahkan mukanya ke atas. Menahan agar air mata yang sudah lama tidak keluar itu tidak jatuh. Mengingat semua itu membuatnya kembali rapuh.


***


Jangan tertipu oleh cover! Kadang kala seseorang dari luar terlihat bahagia, tapi di dalam sangatlah rapuh. Demikian juga, seseorang berwatak dingin hanyalah sebuah topeng untuk menutupi sebuah kesedihan yang teramat pedih.


πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2