
SELAMAT MEMBACA!
***
"Ini buktinya," Dimas memberikan CCTV mini itu pada Andra.
"Akhirnya semua kesalah pahaman ini akan selesai juga," ucap Andra bernapas lega.
"Terus apa yang akan lo lakuin setelah ini?" tanya Dimas.
"Gue akan memberikan ini pada Ronal, biar dia tahu kalau selama ini dia itu cuma salah paham sama gue," pungkas Andra sambil memutar-mutar benda itu di tangannya.
"Tentang masalah Sofia bagaimana?" tanya Dimas.
"Kalau masalah ini, gue tidak bisa berbuat banyak. Sofia dan Akhsan sama-sama keras kepala. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan masa depan bayi mereka. Untung Sofia sudah mau menerima kehadiran bayinya," jelas Andra.
"Sofia sudah tidak akan menggugurkan bayinya lagi?" tanya Dimas dan dijawab anggukan kepala oleh Andra.
"Baguslah kalau begitu," kata Dimas.
"Sudah pergilah sana ke ruanganmu!" titah Andra pada Dimas.
"Iya-iya ini juga baru mau pergi," ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Andra begitu saja.
Andra lalu menyalakan laptopnya dan mengirimkan pesan email pada Ronal.
Mari kita bertemu di tempat biasa.
Ketik Andra lalu mengirimnya pada Ronal.
Buat apa? Apa kau mau membunuhku? Cih... baiklah setelah aku pulang dari korea mari bertemu! Biar aku bisa menghabisi dirimu.
Balas Ronal. Andra tersenyum miring dan tidak lagi membalas pesan itu. Dia kembali berkutak dengan pekerjaan kantornya.
***
Di rumah besar, Nafisah dan Sofia sedang memakan buah mangga muda di temani Ariana yang hanya duduk santai sembari memainkan ponselnya.
"Kamu tidak kuliah An?" tanya Nafisah.
"Tidak," jawab Ariana singkat.
"Kenapa?" tanya Nafisah sambil terus mengunyah buah mangganya.
"Dosen Ana, gak masuk hari ini," jawab Ariana masih serius memainkan hpnya.
"Serius banget main hp-nya chatan sama siapa tuh? Sama pacar kamu yah," goda Sofia melirik layar monitor ponsel Ariana.
"Apaan pacar, orang Ariana lagi main game juga," sewot Ariana memutar bola matanya malas.
"Kirain," balas Sofia tersenyum kaku.
"Kak," panggil Ariana lalu menyimpan hpnya dan menatap Nafisah serta Sofia.
"Kenapa?" tanya Nafisah dan Sofia.
"Ana semalam nonton film," ucap Ana menggantung.
"Terus?" tanya Sofia tidak sabaran.
"Filmnya itu menceritakan sosok anak yang tidak mempunyai orangtua, aku yakin jika kalian menontonnya pasti akan menangis seperti diriku semalam," jelas Ariana bersemangat.
"Film itu mengajarkan pada kita agar selalu menyayangi anak kita kelak, tidak ada cinta yang diinginkan mereka selain cinta kedua orangtua," jelas Ariana.
__ADS_1
"Filmnya menyedihkan yah An?" tanya Nafisah dan Ariana pun menganggukan kepalanya.
"Sangat, Ana saja semalam nangis sesegukan dan lihatlah mata Ana yang membengkak ini," ujar Ariana menunjukkan matanya yang membengkak.
"Ana harap kakak berdua bisa memberikan kasih sayang penuh dan cinta kakak pada bayi-bayi kalian itu," tambah Ariana.
"Pasti," jawab Nafisah sambil mengelus perutnya.
"Meski bayiku hanya memiliki seorang ibu, aku akan tetap memberikannya sebuah kasih sayang yang membuatnya lupa akan sosok ayah," lirih Sofia dengan mata menerawang jauh ke depan.
Nafisah mengelus pelan bahu wanita jerman itu.
"Aku baik-baik saja. Lagi pula aku juga tidak ingin anakku punya ayah seperti pria itu," ucap Sofia tersenyum.
"Kakak tenang saja, anak kak Sofia tidak akan merasa sendiri di dunia ini karena kami akan selalu ada untuknya," seru Ariana tersenyum pada Sofia.
"Terima kasih An," ucap Sofia.
"Tidak usah berterima kasih kak, karena kita adalah keluarga dan keluarga akan selalu ada untuk anggota keluarga lainnya," ucap Ariana dan dijawab anggukan kepala oleh Sofia.
"Sayang, apa kamu mendengarnya? Di sini banyak yang menyayangimu, kamu cepatlah keluar biar bisa melihat betapa indahnya dunia ini," pungkas Sofia sambil mengelus perutnya.
"Tunggu delapan bulan lagi kak," kekeh Ariana.
"Hahahaha..." mereka bertiga pun tertawa.
***
Brak!
Dimas membuka pintu ruangan Andra dengan keras membuat si empunya ruangan terkejut dengan mata melebar.
"Dimas!!" geram Andra.
"Ada apa dengan markas?" tanya Andra.
"Kita di serang Ndra dan barusan jack menghubungiku jika mereka terkepung," jawab Dimas.
"Sialan! Siapa lagi yang berani mengibarkan bendera peperangan denganku," murkah Andra lalu berdiri dari duduknya. "Ayo kita ke sana sekarang," kata Andra lalu berjalan keluar dari ruangannya di ekori Dimas di belakangnya.
"Dim percepat lajunya!" titah Andra pada Dimas yang mengemudikan mobilnya.
Dimas kemudian menancap gas dengan kuat sehingga kecepatan laju mobil yang mereka gunakan itu di atas rata-rata.
Andra mengepalkan tangannya, rahangnya sudah mengeras dan matanya sudah memerah karena amarah.
Dor!
Dor!
Dor!
Mobil Andra yang baru masuk ke dalam halaman markas besar langsung di hujani peluru oleh musuh-musuh mereka.
"Cih... kaparat ini!!" Dimas berdecih kesal.
Dimas lalu menancap gas dan langsung saja menabrak orang-orang yang menghalangi mobilnya untuk masuk ke dalam markas besar.
Dengan sekali tancapan gas, mereka semua sudah tumbang dengan darah yang mengalir di tubuh mereka.
Dimas tersenyum miring.
Dimas memarkirkan mobil mewah itu di sembarang tempat lalu melompat turun dari dalam mobil begitu juga dengan Andra.
__ADS_1
Dor!
Dor!
Dor!
Andra menembaki orang-orang yang berusaha mendekat ke arahnya.
Bugh!
Bugh!
Dimas memberikan pukulan dan tendangan mautnya pada dua orang yang berusaha menembaknya.
"Di mana Jack?" tanya Andra pada Dimas seraya terus saja menembaki mereka semua.
"Aku di sini bos," teriak Jack yang sedang di seret oleh ketua hama-hama tersebut.
"Akhirnya kau datang juga Andra," ucap ketua hama-hama itu tetsenyum penuh kemenangan.
Anak buahnya berhasil melumpuhkan semua anak buah Andra. Bahkan Rio pun mereka tangkap dengan kedua tangan terikat.
Sedangkan Jack, wajahnya sudah penuh dengan lebam-lebam dan juga terdapat luka tembakan di lengan sebelah kirinya.
"Sialan kau Marvin!!" teriak Andra tidak terima dengan perbuatan dari musuh mafianya itu.
"Yes, i am," ejek Marvin dengan senyum miring dan sebelah alis yang dinaikan.
"Apa maumu, ha sialan?" marah Andra dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kau sudah tahu mauku bukan? Aku menginginkan kekuasaanmu ini dan juga aku mau So-fia," jawab Marvin seenak jidatnya sendiri menekankan kata Sofia di akhir kalimatnya.
"Cih, itu hanyalah mimpimu!!" ejek Andra tersenyum miring pula.
"Aku tahu kau sekarang sudah menikah dan istrimu sekarang sedang hamil bukan?" ujar Marvin dengan nada sedikit mengancamnya.
"Jangan berani kau melibatkan keluargaku dalam masalah kita ini!!" teriak Andra marah saat nama Nafisah dan juga calon bayinya di sangkut pautkan dalam hal ini.
"Ckckck... sekarang bahkan dirimu sudah diperbudak oleh cinta," ucap Marvin meremehkan.
"Di mana Andra yang dulu? Di mana Andra yang tidak pernah perduli dengan cinta?" teriak Marvin sok kehilangan.
"Dan kau bilang apa tadi? Jangan berani melibatkan keluargaku dalam masalah kita ini? Cih... dusta sekali mulutmu itu! Lantas bagaimana dengan ayahku yang kau bunuh dan kau jadikan santapan binatang buasmu itu? Apa dia bukan keluargaku?!!" pekik Marvin.
"Itu karena dia terlibat dalam hal ini!!" balas Andra.
"Tapi tetap saja, kau berurusan denganku! Lalu kenapa ayahku yang kau bunuh breng*sek," murkah Marvin.
Plak!
Marvin menampar Jack.
Plak!
Marvin juga menampar Rio.
Andra membulatkan matanya tidak terima dengan perlakuan Marvin yang seenaknya memukuli anak buahnya.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1