Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Gadis Laknat


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Dimas dan Ariana berjalan beriringan memasuki area kampus setelah memarkirkan mobil Bugatti Centodieci yang sengaja dipinjamkan Andra kepada mereka.



Itu pun karena  rengekan Ariana yang tidak ingin menaiki mobil Honda HR-V Special Edition JBL Audio milik Dimas.



Alasannya hanya karena bentuk mobil itu tidak ia sukai. Konyol bukan? Pastilah bahkan sangat konyol.


"Lihatlah mata para mahasiswi itu, mata mereka bahkan hampir copot dari tempatnya saat melihat paras tampan kak Dimas," bisik Ariana sambil mencuri pandang pada semua mahasiswi yang tiada hentinya memandangi ketampanan Dimas.


"Abaikan saja mereka! Beginilah resikonya kalau punya wajah tampan," sombong Dimas bersikap acuh pada semua mahasiswi yang mengaguminya bahkan ada yang menyapanya namun ia abaikan.


"Halah kak Dimas seperti seleb aja," cibir Ariana melihat Dimas sok tampan.


"Cih, kau meragukan kakak tampanmu ini An?" ucap Dimas tertahan.


"Iya-iya ku akui kalau kakak memang tampan tidak jauh berbeda dengan kakakku tapi lebih tampanan kakakku sih," cerocos Ariana. Dimas berdecih kesal.


"Sudah sampai, masuklah dosenmu sudah mengajar dan ingat belajar yang baik!" tutur Dimas sambil mengacak-acak rambut Ariana.


"Ish, kak Dimas rambut Ana jadi berantakan. Jangan di acak-acak dong!" kesal Ariana lalu menepis tangan Dimas yang mengacak-acak rambutnya.


Semua mahasiswi yang melihat itu berteriak histeris. Mereka berpikiran jika Ariana dan Dimas adalah sepasang kekasih karena begitu romantis.


"Kenapa lagi dengan mereka semua!" ucap Ariana merasa aneh dengan jeritan dari mahasiswi.


"Sudah tidak usah di dengar! Masuklah sekarang dan nanti hubungi kakak agar menjemputmu saat pulang nanti," ujar Dimas.


Ariana mengangguk, "Siap kak," balasnya lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kelasnya.


"Permisi bu," ucap Ariana sopan.


"Eh, ayo masuk nak!" balas bu dosen yanh sedang mengajar.


"Siapa?" bisik-bisik para mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas itu.


"Perhatian semuanya!" ucap bu dosen sedikit meni ggikan suaranya. "Dia adalah mahasiswi baru di kelas ini, namanya Ariana, Ariana Yudhiantara! Adik dari pemilik universitas ini," jelas bu dosen menekankan nama Ariana agar teman-teman kelasnya memperlakukan Ariana dengan baik atau jika tidak mereka akan berhadapan langsung dengan Andra.


"Halo Ariana," sapa mereka semua ramah.


"Hai teman-teman," balas Ariana tersenyum manis pula.


"Baiklah, silahkan duduk Nak Ariana ibu akan memulai kembali pembelajarannya," titah bu dosen.


"Iya bu," kata Ariana lalu berjalan menuju bangku kosong.


Jika ada yang tanya kenapa Ariana bisa dengan mudahnya masuk universitas padahal dia tidak tamat SMA, maka perlu kalian ketahui semuanya akan menjadi mungkin jika uang yang bertindak.


Serta kekuasaan Andra pun tak kalah ambil alih. Ini universitas yang didirikan ayahnya beberapa puluh tahun yang lalu, sehingga memudahkan adik bahkan kerabat jauhnya untuk masuk.

__ADS_1


Ariana menyimak materi yang dibawakan dosen dengan seksama. Ia mengambil jurusan Teknologi informasi (TI) atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Information technology (IT).


"Semuanya naikan buku kalian dan dengarkan saya baik-baik," titah bu dosen dan semua mahasiswa/mahasiswi pun mengikuti arahan yang diberikan bu dosen.


Pembelajaran dimulai dengan begitu serius bahkan tidak ada yang buka bicara mereka semua sibuk menyimak dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh bu dosen.


Setelah bermenit-menit berlalu, barulah pembelajaran selesai.


"Minggu depan kita lanjutkan pembahasan hari ini, sampai di sini saja sekian dan terima kasih atas perhatian kalian semua," tutup bu dosen.


"Iya bu, terima kasih kembali," balas mereka kompak dan setelah itu bu dosen pun keluar dari kelas.


Semua teman kelas Ariana lalu berlomba-lomba keluar dari kelas. Ariana kembali memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.


Ariana menatap ke arah gadis yang duduk di samping tempat duduknya. Gadis itu tampak ketakutan. Ia meremas jemari-jemari tangannya. Bola matanya tiada hentinya bergerak ke sana ke sini.


Ariana menggelengkan kepalanya dan kembali memasukkan bukunya. Ia hendak berdiri, namun dia terkejut ketika seseorang dengan soknya menendang pintu kelasnya.


Brak!


Ariana memperhatikan ketiga mahasiswi yang baru saja menendang pintu kelasnya dan berjalan angkuh masuk ke dalam kelas.


Ariana memicingkan matanya dia merasa tidak asin dengan ketiga wajah gadis itu. Ariana baru ingat sekarang jika ketiga gadis itu adalah Diana, Naswi dan Maria.


"Oh jadi mereka kuliah di sini juga," ucap Ariana pelan sembari mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


Ariana menanam dendam kepada tiga gadis itu setelah peristiwa tiga tahun yang lalu. Diana, yah gadis itu yang membuat Ariana dipermalukan oleh semua teman sekolahnya dulu.


Dan kedua teman laknatnya itu juga ikut andil dalam pembulian yang terjadi pada Ariana. Mereka juga yang telah merobek seragam Ariana di depan umum. Sadis bukan? Ya, bahkan sangat sadis.



Brak!


Diana menggebrak meja gadis cupu yang duduk di sebelah Ariana. Gadis itu tersentak kaget begitu pula dengan Ariana.


Tidak hanya itu, Diana bahkan tega menendang kursi yang di duduki oleh gadis itu sehingga membuat si empunya terhuyung dan terjatuh ke lantai dengan kursinya.


"Hahahaha... syukurin itu," tawa Diana dan kedua temannya tanpa dosa.


Gadis berkepang dua itu lalu berdiri dan membersihkan roknya yang sedikit kotor.


Diana mendekat dan menjepit dagu gadis itu dengan tangannya, "Mana uangnya sialan?" bentak Diana.


"Ti-tidak ada Di-Diana," gagap Siti dengan raut wajah piasnya.


"Apa katamu tidak ada?" murkah Diana memperkeras jepitan tangannya pada gadis itu.


"To-tolong lepaskan. Sa-sakit," ringis gadis itu sambil terisak.


"Huuuu... dasar cengeng," ejek Naswi.


Diana lalu melepaskan jepitan tangannya dengan keras membuat gadis culun itu menubruk meja yang ada di sampingnya.


"Auch..." ringis gadis itu memegang perutnya yang sakit.

__ADS_1


Ariana merasa kasihan dengan gadis tersebut, namun dia tetap diam saja di tempatnya. Dia ingin melihat sampai mana keberanian Diana untuk menyiksa gadis tidak berdosa itu.


"Mar mana guntingnya?" Diana mengadahkan tangannya pada Maria.


"Ini Di," balas Maria memberikan gunting yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya pada Diana.


"Ka-kau mau a-apa Diana," ucap gadis culun sambil memundurkan langkahnya hingga tubuhnya sudah tidak dapat menghindar lagi karena di halangi oleh tembok.


Diana menyeringai lalu menarik rambut kepang gadis culun itu dengan kasar. "Aku mau memotong rambutmu ini," ucapnya.


"Ja-jangan aku mohon," mohon gadis culu mengatupkan kedua tangannya dan meringis sakit sambil terisak.


"Inilah akibat karena kau telah mempermainkan aku, Diana Harahap," ucap Diana lalu melepaskan kacamata gadis itu.


"Di-diana kembalikan kacamataku," pinta gadis itu karena tidak bisa melihat dengan jelas setelah kacamatanya dilepas paksa oleh Diana.


Diana hanya acuh lalu meletakkan kacamata itu di atas meja. Diana hendak menggunting rambut gadis culun, namun kalah cepat dengan gerakan Ariana yang menepis dengan kasar tangan Diana membuat gunting tersebut terjatuh ke lantai.


"Kau!" tunjuk Diana dengan geram. "Siapa kau? Berani sekali dirimu melakukan hal itu padaku," murkah Diana menggemerutukan giginya.


"Kau tidak perlu tahu aku siapa, lepaskan gadis ini," titah Ariana lalu mendorong keras tubuh Diana hingga terjatuh ke lantai.


"Sialan," umpat Diana lalu berdiri dan hendak melayankan tamparan di pipi Ariana, namun tangannya lebih dulu di cekal Ariana.


"Berani sekali dirimu ingin menamparku," sungut Ariana lalu memutar tangan Diana.


"Auch... sakit *******!" pekik Diana.


"Lalu kau kira apa yang kau lakukan tadi tidak menyakiti dia," tunjuk Ariana pada gadis culun yang berdiri ketakutan di sana.


"Su-sudah!" teriak gadis culun itu menengahi Ariana dan Diana.


"Di, lebih baik kita pergi saja," ujar Naswi takut dengan Ariana.


"Kali ini lo berdua beruntung, tapi tidak lain kali!" ucap Diana sebelum pergi meninggalkan Ariana dan gadis culun itu.


"Te-terima kasih," kata gadis culun itu dengan gagapnya.


"Sama-sama. Aku Ariana," Ariana mengulurkan tangannya.


Gadis culun itu lalu menerima uluran tangan Ariana, "Siti Maisaroh," balasnya.


"Lain kali panggil aku Ana saja," tambah Ariana.


"Ba-baiklah," kata Siti.


"Mau pergi ke kantin bersamaku?" tanya Ariana dan siti pun mengangguk.


Mereka berdua kemudian pergi menuju kantin.


🔫🔫🔫


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕

__ADS_1


__ADS_2