Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia: Persiapan Honeymoon


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Di dalam kamar, Andra dan Nafisah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Andra sibuk dengan ponselnya dan Nafisah sibuk mengeringkan rambutnya.


Andra meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menatap istrinya, "Naf!" panggil Andra.


Nafisah menoleh menatap Andra, "Iya mas?" tanya Nafisah.


"Setelah mengeringkan rambutmu, persiapkan bajumu dan juga bajuku yah," ujar Andra.


Nafisa mengernyit, "Untuk apa mas?" tanya Nafisah bingung.


"Aku akan mengajakmu ke Maldives," jawab Andra. "Aku di undang tuan Alex untuk datang di acara pernikahannya dan aku ingin mengajakmu pergi bersama," tambah Andra.


"Baiklah," balas Nafisah tanpa banyak bertanya.


Setelah menyelesaikan mengeringkan rambutnya, Nafisah pun berjalan menuju walk in closet guna untuk mengeringkan rambutnya.


"Di mana kopernya?" tanya Nafisah kalang kabut mencari di mana koper suaminya di simpan.


Nafisah lalu mendongakkan wajahnya ke atas dan di lihatlah koper suaminya berada di atas lemari pakaian suaminya.


"Oh ternyata di sana," gumam Nafisah terkekeh. "Tapi ini sangatlah tinggi, oh ya ampun," cerocos Nafisah sambil berjinjit dan berusaha untuk menggapai koper tersebut, namun tidak bisa.


"Ehem," dehem Andra dari ambang pintu.


"Eh, mas," ucap Nafisah malu-malu.


"Kamu sedang apa?" tanya Andra berjalan mendekat ke arah Nafisah.


"Aku sedang mengambil koper itu," tunjuk Nafisah. "Tapi susah terlalu tinggi bagiku," lanjut Nafisah nyengir kuda pada Andra.


"Kalau susah kenapa tida memanggilku?" tanya Andra memicingkan matanya.


"Aku takut mengganggumu," jawab Nafisah jujur.


"Hanya masalah seperti ini tidak akan menggangguku," balas Andra dan Nafisah hanya mengangguk.


"Minggirlah biar aku yang ambir," tutur Andra dan Nafisah pun memundurkan posisinya memberi celah untuk Andra.


"Tolong ambilkan aku kursi itu," pinta Andra menunjuk sebuah kursi yang berada di sudut ruangan.


Nafisah mengangguk lalu berjalan dan mengangkat kursi tersebut kemudain meletakannya di hadapan Andra.


Andra lalu naik ke atas kursi tersebut dan mengambil dua buah koper. Andra menyerahkan koper tersebut pada Nafisah dan turun dari kursi.


"Lain kali kalau kamu tidak bisa melalukannya panggil saja aku atau panggil penghuni lainnya jika aku tidak ada di rumah!" ujar Andra.


"Iya mas," balas Nafisah.


"Aku ke ruang kerjaku dulu," pamit Andra dan Nafisah pun mengangguk.


Andra berlalu menuju ruang kerjanya sedangkan Nafisah sudah mulai memasukan baju-baju mereka.


***


Di tempat lain, terlihat Ronal sedang berbincang serius dengan seseorang di balik ponsel.


"Ada apa? Kenapa menelponku?" tanya Ronal sambil memandang hamparan kota dari dinding apartemennya.

__ADS_1


"Aku mau memberitahumu jika Andra dan Nafisah akan pergi ke Maldives," jawab orang dari balik ponsel tersebut.


"Untuk apa mereka ke sana?" tanya Ronal sambil mendudukkan tubuhnya pada sofa.


"Kalau aku dengar-dengar sepertinya mereka akan honeymoon," tebak orang di balik ponsel.


"Hmm," dehem Ronal.


"Apa kau tidak di undang ke acaranya tuan Alex?" tanya orang balik ponsel.


"Alexander Kemal Malik?" tebak Ronal.


"Ya," singkat orang tersebut.


"Tidak, orang seperti dirinya sangat terpandang dan buat apa dia mengundang diriku yang hanya butiran debu ini?" kelakar Ronal tertawa miris.


"Ckckck... jangan selalu merendah seperti itu! Mana Ronal yang sombong?" ucap orang balik ponsel.


"Cih... inilah Ronal Dirgantara yang sebenarnya sebelum berubah menjadi macam hutan," balas Ronal.


"Up to you, sekarang apa rencanamu?" tanya orang itu lagi.


"Entahlah nanti ku pikirkan," jawab Ronal acuh lalu berjalan menuju lemari kaca yang ada di ruangannya itu dan mengambil salah satu botol anggur di sana.


Srrr!


Ronal menuangkan anggur tersebut ke dalam gelas anggur dan meminumnya.


"Kau minum lagi?" pekik orang dari balik telpon.


"Hmm..." jawab Ronal singkat.


"Awas saja jika nanti kau sakit dan merepotkanku!" ancam oramg tersebut sinis.


"Dari pada kau merepotkanku, lebih baik kau mati saja!" umpat adiknya.


Tut-tut-tut!


Panggilan di akhiri sepihik oleh adiknya dan Ronal hanya terkekeh.


Tak-tak-tak!


Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar memasuki ruangan Ronal.


"Malam bos," sapa pria berambut gondrong pada Ronal.


"Bagaimana?" tanya Ronal tanpa menyapa balik.


"Sudah beres bos, saya sudah menghabisi idiot itu," balas pria yang yang merupakan tangan kanan Ronal sambil tersenyum smirk.


"Good Feng!" kata Ronal tersenyum bangga pada pria yang dipanggilnya Feng itu.


Ronal lalu kembali meneguk winenya. "Kau mau minum?" tawar Ronal pada Feng.


Ronal memawarkan Anggur Penfolds Grange Hermotage (1951) kepada Fang.



Anggur Merah yang satu ini berasal dari Australia dan menjadi salah satu anggur merah termahal didunia. 


Anggur merah yang bernama ‘Penfolds Grange Hermitage’ ini dilelang pada tahun 2004 seharga 38.420 dollar AS (1botol). 

__ADS_1


Jika dirupiah kan sekitar Rp. 534 juta, Anggur Merah jenis Penfolds Grange Hermitage ini dipercaya memiliki rasa yang sangat luar biasa, karena sudah disimpan sejak tahun 1951 di Australia.


"Tidak usah sungkan begitu Feng!" ucap Ronal lalu menuangkan wine pada gelas lain dan memberikannya pada Feng.


Pria sangar itu pun tidak menolak dan menerimanya dengan senang hati. Lumayan minum wine mahal.


"Cheers!" seru Ronal lalu membenturkan gelasnya dengan gelas Feng.


Ronal dan Feng menghabiskan malam dengan menikmati minuman beralkohol itu tanpa ada efek mabuk yang mengganggu mereka.


***


Kembali ke rumah besar Andra, setelah selesai berkemas Nafisah memutuskan untuk tidur. Lelah juga rasanya mengemasi macam-macam barang suaminya.


"Sudah selesai?" tanya Andra yang baru saja kembali dari ruang kerjanya.


"Iya mas baru saja selesai," jawah Nafisah.


"Sekarang ayo tidur kita akan berangkat pagi besok!" ujar Andra dan Nafisah pun mengangguk.


Nafisah dan Andra lalu membaringkan tubuh mereka di atas ranjang. Nafisah tersentak kaget saat Andra mengikis jarak di antara mereka dan memeluk posesif pinggangnya.


"Selamat malam," ucap Andra lalu mencium singkat puncak kepala Nafisah.


Nafisah terkesiap, namun secepat mungkin ia mengembalikan kesadarannya.


"Mas," panggil Nafisah namun tidak ada sahutan dari Andra.


Nafisah lalu mendongakkan wajahnta dan ternyata Andra sudah tertidur.


"Huft... baru aja mau mengingatkan untuk baca doa dulu," gumam Nafisah lirih.


Nafisah pun membaca doa sebelum tidur lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andra dan mulai terlelep.


Kukuk ruyuk!


Bunyi suara ayam menandakan jika pagi kini telah menyapa. Andra dan Nafisah sudah siap dari jam lima pagi tadi.


"Kita sarapan dulu," ajak Andra dan Nafisah pun mengangguk.


Mereka lalu bergandengan tangan menuju ruang makan.


"Hei kau!" panggil Andra pada salah satu pelayan rumahnya.


"Iya tuan?" tanya pelayan dengan membungkuk hormat.


"Bawa semua koper yang ada di kamarku ke dalam mobil!" titah Andra.


"Baik tuan," balas pelayan dan Andra pun kembali berjalan menuju ruang makan.


"Morning kakak dan kakak ipar," sapa Ariana yang sudah duduk manis di kursi meja makan.


"Morning too An," sapa balik mereka. Andra dan Nafisah pun duduk di tempat mereka.


"Kalian berangkat jam berapa?" tanya Ariana di sela-sela makannya.


"Sudah ini," jawab Andra.


Ariana ber "oh" riah lalu mengangguk mengerti.


🔫🔫🔫

__ADS_1


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE💕


__ADS_2