
SELAMAT MEMBACA!
***
Akhirnya acara resepsi Andra dan Nafisah selesai. Dengan tubuh yang telah remuk-remuk, Andra lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar pengangtin mereka.
"Aku mau mandi," kata Andra dan dijawab anggukan kepala oleh Nafisah.
Keduanya masih merasa canggung, bahkan jantung mereka berdetak lebih kencang dari detak normal saat berhadapan berdua.
Andra lalu masuk ke dalam kamar mandi kamarnya. Mereka memutuskan untuk tidur di kamar utama atau kamar yang di tempati Andra.
Nafisah duduk di kursi meja riasnya lalu membuka penutup wajahnya dan mulai menghapus make up di wajahnya dengan pembersih wajah dan kapas.
"Oh astaga, ada apa dengan jantungku?" gumam Nafisah sembari memegang dadanya. "Tenanglah jantung! Kalau kau seperti ini, bisa-bisa aku mati karenamu," cerocos Nafisah pelan.
Nafisah menarik napasnya dalam-dalam lalu menghelanya secara perlahan. Tari napas, buang, ia melakukannya secara berulang-ulang sampai di rasa jantungnya sudah kembali di detak normalnya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan sosok Andra dengan tubuh atletisnya dan handuk yang melilit pinggangnya keluar dari kamar mandi secara tiba-tiba membuat Nafisah kalang kabut memakai penutup wajahnya.
"Tidak usah ditutup-tutup lagi!" seru Andra berjalan mendekat ke arah Nafisah.
"Eh," Nafisah tersentak kaget saat tangan Andra menyentuh tangannya dan melepaskan penutup wajahnya.
Kini wajah cantik bak dewi milik Nafisah terpampang nyata di hadapan Andra. Andra sampai dibuat tidak bisa berkedip karena paras cantik wanitanya itu.
"Cantik," kata Andra tanpa sadar.
"Ha?" Nafisah lagi-lagi kaget mendengar Andra mengatakan jika dia cantik.
"Tidak ada. Tidak usah dipakai lagi jika hanya ada aku dan kamu di sini! Bukankah aku sudah mahram bagimu?" ujar Andra dan diangguki kepala oleh Nafisah.
"Baiklah sekarang kamu mandilah!" titah Andra menjauhkan dirinya dari Nafisah.
Nafisah lalu berjalan menuju kamar mandi. "Berhenti!" ucap Andra.
Nafisah menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, "kenapa?" tanyanya.
"Kamu akan mandi dengan gaun itu?" tanya Andra menunjuk gaun yang masih melekat di tubuh Nafisah.
"Hmm..." dehem Nafisah karena tidak tahu harus berkata apa.
"Kenapa? Apa kamu malu memperlihatkan tubuhmu kepada ku?" selidik Andra dengan mata memicingnya.
Nafisah mengerjap-ngerjapkan matanya tidak tahu harus berkata apa. Memang benar ia masih malu dan merasa canggung memperlihatkan tubuh setengah telanjangnya pada laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Benarkan?" tanya Andra mengikis jarak antara mereka.
"I-iya, eh tidak," gugup Nafisah ingin berjalan mundur namun enggan takut menyinggung perasaan sang suami.
"Jadi iya atau tidak?" tanya Andra menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"I-iya," aku Nafisah.
"Kenapa malu? Aku bahkan akan sering melihat lekuk tubuhmu itu! Kalau hari ini tidak, maka hari-hari berikutnya iya," jelas Andra dan Nafisah membetulkan hal itu.
"Tunggu apa lagi? Ayo bukalah gaunmu itu lalu mandi!" ujar Andra berlalu meninggalkan Nafisah menuju walk in closet.
Nafisah terdiam sejenak berusaha mencerna kata-kata Andra lalu mulai menanggalkan gaun pengantinnya dan meraih handuk baru kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama bagi Nafisah untuk melakukan ritual mandinya, dia lalu keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya karena lupa membawa baju gantinya.
"Sedang apa?" tanya Andra ketika melihat Nafisah berjalan mengendap-endap keluar dari kamar mandi.
"Ti-tidak ada," gagap Nafisah karena terkejut. "Aku ingin memakai piyama dulu," tambah Nafisah hendak berjalan menuju walk in closet namun tangannya dicekal oleh Andra.
"Ke-kenapa?" kata Nafisah tergagap setelah menyadari tatapan lain Andra.
"Apa kamu sudah lupa sayang, jika malam ini adalah malam pertama kita?" bisik Andra di telinga Nafisah sembari menghembuskan napasnya di daun telinga Nafisah membuat Nafisa meremang.
"A-aku ingat," jawab Nafisah cepat sambil bergerak-gerak risih.
"Lalu untuk apa kamu memakai baju?" tanya Andra sambil menghirup dalam-dalam wangi khas tubuh istrinya.
"U-untuk," Nafisah mencari-cari alasan.
"Sudah tidak perlu memakai baju!" imbuh Andra lalu membalikkan tubuh Nafisah.
Nafisah tersentak kaget saat tubuhnya menubruk tubuh tegas Andra. Nafisah menelan salivanya dengan kasar.
"Santai saja sayang," ujar Andra tersenyum miring.
Perlahan tapi pasti bibir kenyal milik Andra sudah mendarat di bibir ranum milik Nafisah. Andra ******* bibir Nafisah dengan pelan, namun lama kelamaan, ******* pelan itu kini berubah agresif dan menuntut untuk melakukan lebih.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Andra menuntun tubuh Nafisah untuk berbaring di ranjang yang telah dihiasi oleh bunga mawar.
Andra melepaskan bibirnya dari bibir Nafisah setelah merasa jika tidak ada balasan dari istrinya itu.
"Kenapa tidak membalasnya?" geram Andra.
"A-aku tidak tahu caranya," polos Nafisah.
"Ikuti apa yang aku lakukan!" titah Andra dan Nafisah pun mengangguk. Andra kembali menautkan bibir mereka dan kali ini Nafisah membalasnya walau masih kaku.
Setelah puas bermain dengan benda kenyal itu, Andra lalu memberikan beberapa tanda kissmark di leher Nafisah.
"Pertama memang akan sakit, namun aku akan bermain pelan," ujar Andra saat hendak melakukan penyatuan tubuh dengan Nafisah.
Dan sampai di sini saja Author pamit undur diri... wkwkwk
***
Keesokan harinya, semua orang sudah ada di meja makan kecuali Andra dan juga Nafisah yang masih tertidur di kamar.
"Kenapa kakak belum bangun?" tanya Ariana sambil memotong-motomg sticknya.
__ADS_1
"Namanya juga pengantin baru, mungkin mereka lelah semalaman begadang," kelakar Makcik Meurah sambil tertawa.
"Biasanya juga kakakku begadang kalau sedang lembur, tapi tidak pernah kok bangun terlambat," jelas Ariana.
"Lembur karena kerjaan dan karena ini beda!" timpal Makcil Meurah sambil geleng-geleng kepala menghadapi gadis berusia delapan belas tahun itu.
"Beda apa..."
"Diamlah An! Sekarang kamu selesaikan saja makanmu!" potong Sofia.
Ariana nampak kesal, "Baiklah," ucapnya malas.
Drt-drt-drt!
Ponsel Dimas berdering. Dimas lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari Andra.
"Halo," ucap Dimas.
"Tolong minta Pak Arif bawakan sarapan buat gue dan Nafisah ke kamar!" titah Andra.
"Kenapa di kam..." belum sempat Dimas bertanya Andra sudah memutuskan panggilan singkat itu.
"Sialan," umpat Dimas pelan.
"Kenapa?" tanya Sofia.
"Andra dan Nafisah bakal sarapan di kamar. Pak Arif tolong bawakan makanan untuk Andra dan Nafisah ke atas!" titah Dimas.
"Baik tuan," balas Pak Arif lalu masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan sarapan buat Andra dan Nafisah.
Tok-tok-tok!
Pak Arif mengetuk pintu kamar Andra dan Nafisah.
Ceklek!
"Ini tuan," kata Pak Arif menyerahkan nampan makanan pada Andra.
"Makasih pak," ucap Andra lalu mengambil nampan tersebut dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa?" tanya Nafisah berjalan mendekat ke arah Andra dengan tertatih-tatih.
"Pak Arif," jawab Andra lalu membantu Nafisah berjalan.
"Makasih," kata Nafisah tersenyum.
"Ayo makan!" seru Andra dan mereka pun makan bersama.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1