Terjerat Cinta Bos Mafia

Terjerat Cinta Bos Mafia
Terjerat Cinta Bos Mafia : Pasutri Kasmaran


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA!


***


Pagi hari di rumah besar. Andra keluar dari kamar mandi sepertinya pria itu baru saja selesai mandi. Dengan handuk yang melilit pinggang dan air yang berjatuhan dari rambutnya, Andra berjalan mendekat ke arah sang istri yang masih tidur.


Sehabis sholat subuh tadi, Nafisah kembali tertidur sedangkan Andra lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaan kantornya karena seharian ini ia berencana ingin menghabiskan waktu bersama Nafisah.


Ya, karena kemauan istrinya, Andra harus mengikuti ajakan Nafisah untuk sholat dan menjadi imamnya lagi.


"Pagi sayang," bisik Andra di telinga Nafisah lalu mencium singkat pelipis Nafisah.


Nafisah menggeliat lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Andra. Enggan rasanya jika harus bangun.


"Sayang," panggil Andra sambil menggoyang-goyangkan badan Nafisah.


Namun, tidak ada respon yang diberikan oleh Nafisah sama sekali. Andra keheranan dibuatnya. Semalam setelah makan mereka langsung tidur tidak melakukan kegiatan apapun, tapi istrinya ini tidur seakan-akan habis begadang sampai jam dua pagi.


Andra kemudian duduk di bibir ranjang lalu mengusap-usap lembut rambut Nafisah yang belum dibalut jilbab.


"Ngantuk hmm?" tanya Andra di telinga Nafisah.


Nafisah menggeliat geli kemudian membalikkan tubuhnya menyembunyikan wajahnya di dada bidang polos suaminya itu.


Andra tersenyum dibuatnya. Dengan senang hati Andra mendekap erat istrinya itu.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu dari luar membuat Andra mau tidak mau harus melepaskan dekapan istrinya terlebih dulu.


"Sebentar sayang aku mau membukakan pintu dulu," ucap Andra, namun Nafisah bukannya melepaskan malah mempererat pelukannya pada pinggang Andra.


"Gak mau," rengek Nafisah dengan manjanya masih dengan mata terpejam.


"Sebentar saja sayang," kata Andra lagi membuat Nafisah berdecih kesal kemudian membuka matanya dan menatap kesal Andra.


"Yaudah sana pergi!" kesal Nafisah dengan bibir mengerucut lucu.


Andra geleng-geleng kepala melihat tingkah menggemaskan istrinya itu lalu mencium singkat bibir Nafisah yang mengerucut sangkin gemasnya.


Andra pun berdiri lalu berjalan menuju pintu dan membukakan pintu dan nampaklah Dimas dengan wajah sok manisnya.


"Ada apa?" tanya Andra datar.


"Slow man! Hari ini lo gak ke kantor?" tanya Dimas.


"Kau ini tuli atau bagaimana ha? Bukankah sudah gue bilang hari ini gue tidak mau ke mana-mana? Jika hanya itu maka pergilah," pungkas Andra hendak menutup pintu kamarnya kembali, namun dihalangi oleh Dimas.


"Apa lagi Dim? Lo mau membuat istri gue marah pada gue?" geram Andra.


"Tunggu sebentar lagi Ndra! Ini tentang Ronal," ucap Dimas memelankan suaranya.


"Ada apa lagi dengannya? Bukankah dia sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Andra tidak sabaran.

__ADS_1


"Kepo jugakan," cibir Dimas yang langsung diberi tatapan tajam oleh Andra.


"Dia tidak apa-apa. Tapi yang ditakutkan dia nekat lagi bos," ujar Dimas so mendrama.


" Nekat apanya? Anak buahnya sudah gue dan Jack habisi. Siapa yang mau membantunya lagi? Tidak ada dan sebentar lagi perusahaannya pun akan bangkrut," balas Andra tersenyum miring. Dimas manggut-manggut mengerti.


"Maka pergilah dari sini atau lo gue tendang ke antartika?" ancam Andra. Dimas menggeleng lalu berlalu dengan cepat meninggalkan kamar Andra.


Andra pun kembali menutup pintu kamarnya. Dia membalik badannya dan sudah tidak mendapati Nafisah lagi diatas ranjang.


Gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Andra cukup paham jika istri manjanya itu sedang mandi. Andra pun memutuskan untuk memakai pakaian santainya saja sembari menunggu istrinya selesai mandi.


Dua puluh menit, Andra sudah selesai berpakaian begitu pula dengan Nafisah.


"Mau makan di sini atau di bawah saja?" tanya Andra membantu Nafisah memakai cadarnya.


"Di bawah saja," jawab Nafisah dan Andra pun mengangguk lalu menuntun Nafisah keluar kamar.


***


Sedangkan di dalam kamar Sofia, gadis itu masih memikirkan perihal kemarin kenapa dia bisa mual-mual menghirup bau bawang goreng saja.


"Sudah tanggal berapa ini?" tanya Sofia pada dirinya sendiri lalu melirik tanggal di ponselnya.


"Ini sudah lewat dari tanggal haidku biasanya dan sebentar lagi sudah masuk bulan baru," ucap Sofia. "Apa jangan-jangan aku..." Sofia lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak mau!!" ucapnya sambil meremas-remas rambutnya.


"Apakah memang benar jika aku ini hamil?" tanya Sofia pada dirinya sendiri dengan bingung.


"Aku harus mengeceknya," kata Sofia selanjutnya lalu membuka aplikasi belanja online dan mulai memasan benda yang bisa digunakan untuk mengecek kehamilan atau testpack.


"Sudah, nanti kita buktikan apa benar aku hamil atau ini hanya firasatku saja," gumamnya dan Sofia pun leluar dari kamarnya.


***


"Pagi Sof," sapa Nafisah yang tidak sengaja berpapasan dengan Sofia.


"Pagi pasutri kasmaran," balas Sofia sedikit mengejek.


"Apa-apaan sih Sof," ucap Nafisah malu-malu.


"Hahaha... malu yah, habis ngapain kok lupa waktu sih?" selidik Sofia.


"Gak ngapa-ngapain," jujur Nafisah.


"Gak usah gugup gitu Naf! Aku mau keluar sebentar yah bos," pamit Sofia.


"Mau ke mana?" tanya Andra.


"Hirup udara segar bentaran doang," jawab Sofia dengan puppy eyesnya.


"Ya sudah sana," usir Andra. Sofia bersorak senang lalu berjalan meninggalkan kedua pasutri yang sedang kasmaran itu.

__ADS_1


Andra dan Nafisah duduk di kursi mereka masing-masing. Pak Arif sudah menyajikan kembali sarapan untuk tuan dan nyonya mudanya itu.


"Mau makan apa sayang?" tanya Andra setelah memerintahkan semua pelayannya untuk pergi.


"Satu piring berdua yah," pinta Nafisah sembari membuka cadarnya.


"Apapun untukmu," balas Andra.


"Mas yang pilih aku makan apa yang mas makan," kata Nafisah dan Andra pun mengangguk.


Andra lalu dengan hati-hati menyuapi Nafisah makan. Nafisah tersenyum sambil mengunyah makanannya.


"Makasih," ucap Nafisah.


"Iya," balas Andra lalu mencubit gemas hidung Nafisah.


"Auh, gak bisa napas mas," tegur Nafisah.


"Maaf sayang, siapa suruh kamu imut," tukas Andra menyengir kuda


"Emang salah aku kalau imut," kata Nafisah mencabik kesal.


"Morning kakak and kakak ipar," seru Ariana yang baru saja datang dengan menenteng beberapa buku pelajarannya.


"Udah mau berangkat An?" tanya Nafisah.


"Udah kak," jawab Ariana lalu menyalami tangan Andra dan Nafisah bergantian.


"Gak serapan dulu?" tanya Andra.


"Udah tadi. Ana berangkat yah kak. Byebye," pamit Ariana.


Nafisah membalas melambaikan tangannya pada Ariana.


"Mas gak kerja?" tanya Nafisah saat dirinya baru sadar kalau suaminya itu masih memakai baju santai dan dengan senang hati menemaninya dan menyuapinya makan.


"Gak," jawab Andra singkat.


" Kenapa?" tanya Nafisah lagi mengernyit.


"Mau menemani kamu seharian," jawab Andra jujur bahkan sangat jujur.


"Romantisnya suaminya aku yah," puji Nafisah lalu tanpa sadar mencium pipi Andra.


"Mulai nakal yah," goda Andra membuat Nafisah merah merona.


"Gak sengaja itu," cicit Nafisah menundukkan kepalanya kebawah.


πŸ”«πŸ”«πŸ”«


TBC...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTEπŸ’•

__ADS_1


__ADS_2