
SELAMAT MEMBACA!
***
Seorang pria dengan setelan jasnya sedang memandang hamparan kota dari dinding yang berwujudkan kaca bening itu.
Tangannya satu dimasukkan ke dalam saku celananya, sedangkan yang satunya memegang sebuah gelas berisikan anggur.
Lama pria itu terdiam dalam lamunannya. Lebih tepatnya dia sedang bergulat dengan pikirannya. Entah apa yang dipikirkan pria itu hanya tuhan dan dia yang tahu.
"Bagaimana bisa dia akan menikah? Bukankah dia tidak pernah menyukai seorang wanita sebelumnya?!" tanya pria itu entah pada siapa ia bertanya. Di ruangan itu hanya ada dia seorang tidak ada orang lain.
"Setelah melakukan semuanya dia bahkan ingin berumah tangga dan hidup bahagia tanpa karma," ucap pria itu lagi tersenyum miring.
"jangan melakukan tindakan apapun, biarkan pernikahannya berlangsung hanya beberapa waktu sebelum istrinya menemui tuhannya kembali," tambah pria itu sinis. Matanya terlihat berkobar-kobar. Tersirat sebuah dendam di sana, yang entah ditunjukkan pada siapa.
"Baik kalau itu maumu," kata seseorang tiba-tiba.
Pria itu lalu berbalik menuju meja kerjanya. Dia meminum anggurnya dengan sekali tegukan dan membuang gelas kosong itu ke sembarang arah. Membuat gelas itu pecah berkeping-keping di lantai.
Pria itu lalu meraih hpnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dia menyeringai.
"Sebentar lagi pekerjaanmu akan berakhir. Buat mereka tidak pernah melupakan namamu!! Andra dan keluarganya harus tahu siapa kita sebenarnya," ujar pria itu. Dia sedang berbicara dengan seseorang dari balik panggilan hp.
"Akan ku pastikan mereka mengingat namaku dan tidak akan pernah melupakannya! bahkan akan ku jadikan sejarah ini semua!" tegas orang itu sambil tertawa sinis di seberang sana.
Pria itu lalu memutuskan sambungan panggilan tersebut. Dia kemudian mendudukkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Dia menggerak-gerakkan kursi tersebut sambil menatap langit-langit ruangannya.
"Kau akan merasakan sebuah kehilangan Andra!" gumam pria itu lirih.
Sebuah ketukan pintu membuat pria itu mengalihkan pandangannya pada sosok pengetuk pintu.
Pria itu hanya menatap sebentar lalu memejamkan matanya. Tanpa dipersilahkan masuk, sosok pengetuk pintu yang merupakan seorang wanita itu masuk ke dalam ruangan pria itu.
"Sir," ucap wanita itu dengan pelan.
"Why?" tanya pria itu masih dengan matanya yang terpejam.
"Sir, nona Raisa ingin bertemu dengan Anda," jawab wanita dengan nama tag Niken Astri itu.
"Suruh dia pulang, moodku lagi bahagia sekarang! Jangan sampai wanita sialan itu menghancurkannya," titah pria itu dan diangguki oleh Niken, sekertaris pria itu.
"Saya pamit undur diri sir," kata Niken.
__ADS_1
Ronal Dirgantara, nama yang terpajang indah diatas meja kerja pria itu.
Ya, dia adalah Ronal. Musuh atau rival sejati dari Andra Yudhiantara. Dialah dalang dibalik penyerangan yang terjadi di rumah besar beberapa minggu yang lalu.
Pria dengan perawakan tampan. Bukan seorang blasteran seperti Andra. Dia asli berdarah indonesia.
Berumur sama seperti Andra hanya berbeda bulan. Andra lebih tua tiga bulan dari dirinya.
Ronal seorang CEO di perusahaan yang telah ia rintis dari nol setelah perusahaan papanya bangkrut akibat ulahnya, namun menyalahkan semuanya pada Andra.
Hal itu adalah alasan kedua mengapa dia menjadikan Andra sebagai rivalnya.
Dia dan Andra dulu merupakan seorang sahabat. Sahabat dari kecil, namun hancur karena sebuah kesalahan. Entah siapa yang melakukan kesalahan, namun bisa disimpulkan sepertinya Andralah yang melakukannya.
Kalau saja tidak, mana mungkin Ronal menjadikan sahabat baiknya itu sebagai rival sejati?!.
"Akhirnya balas dendamku akan terwujud," ucap Ronal dengan mata terpejam.
Sudah lama sekali Ronal menunggu hari di mana Andra kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Setelah kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Ronal sudah meninggal saat usianya 18 tahun. Karena sebuah perampokan yang terjadi di rumahnya saat itu.
Kematian kedua orang tuanya itu murni di lakukan oleh sang perampok tanpa campur tangan Andra. Jadi, Ronal tidak menyimpan dendam akan hal tersebut pada mantan sahabatnya itu.
Ronal sudah lama mengintai Andra. Ronal juga tahu jika sahabat kecilnya itu merupakan seorang mafia.
"Kau selalu mengatakan bukan jika nyawa harus dibayar dengan nyawa? Maka itu akan aku lakukan," kata Ronal menatap foto Andra yang di pajang di sudut ruangannya yang sudah dipenuhi dengan panah jarum dart.
Dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju foto Andra. Dia mengambil beberapa panah jarum dart dari nakas yang ada di ruangannya. Dengan jarak satu meter Ronal mulai melemparkan satu persatu panah jarum dart itu.
Ronal memiliki seorang adik berjenis kelamin seorang pria pula. Adiknya sejak kecil sudah dititipkan kepada bibinya yang tinggal di negeri gingseng.
Saat ini hanya Andra dan keluarganya yang tahu jika Ronal Dirgantara memilik seorang adik.
Brak!
Suara dorongan pintu dengan keras membuat Ronal membalikkan badannya.
Dia menatap tajam wanita yang baru saja masuk itu. Wanita dengan pakaian seksi itu, langsung berhamburan ke pelukan Ronal.
Dengan manjanya ia bergelayut di lengan kekar Ronal.
"Honey, wanita murahan itu tidak membiarkanku masuk," adu wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Raisa.
Wanita yang dijadikan mainan untuk pengisi waktu kosong Ronal.
__ADS_1
Ronal menatap ke arah Niken. Niken menunduk. Dia sadar, dia melakukan kesalahan.
Dia terlalu luguh sampai bisa dikelabuhi oleh wanita ular itu.
"Mana yang lebih murahan dirimu atau sekertarisku?" tanya Ronal sambil meghentakkan tangan Raisa.
Raisa terlonjak kaget. Tapi, hanya sebentar Tidak lama. Karena dia bukanlah tipekal orang yang bisa memasukkan kata-kata menohok ke dalam hatinya.
"Maafkan saya sir," sesal Niken masih menundukkan pandangannya.
"It's okey! Panggil satpam seret wanita murahan ini keluarga dari kantorku dan jangan biarkan dia masuk lagi ke perusahaanku!" titah Ronal.
Niken kemudian meninggalkan ruangan Ronal untuk memanggil satpam.
Raisa masih terdiam di tempatnya. Dia masih tidak bisa mencerna kata-kata Ronal barusan.
Apa sekarang Ronal membuangnya?
Raisa menganga setelah mendapatkan pikiran tersebut. Dia langsung mendekat ke arah Ronal. Memeluk pria itu dari belakang.
"Honey, kau tidak berniat membuangku bukan?" tanya Raisa gelisah.
"That's right!" balas Ronal spontan lalu melepaskan pelukan wanita itu dan melemparkan cek senilai 2 M pada Raisa.
Raisa dengan senang hati memunguti cek yang terjatuh dilantai. Dia tersenyum lebar.
Niken datang dengan dua satpam bersamanya.
"Usir wanita mu-ra-han ini pak!" titah Niken mengeja kata murahan. Dia tidak terima dirinya dikatakan murahan dari wanita simpanan itu.
Raisa merupakan seorang model pada masanya dan sekarang telah menjadi jala*ng dan bahkan dengan senang hati menjadi seorang simpanan.
Dua satpam itu langsung saja menarik paksa Raisa untuk keluar dari ruangan Ronal.
"Lepaskan!! Saya bisa sendiri," ucap raisa memberontak sambil melemparkan tatapan tajamnya pada Niken yang hanya menampilkan wajah datar.
Niken menaikan satu alisnya dan berucap, " tunggu apalagi? Keluarlah!" usir Niken dengan dagunya.
Raisa berdecih lalu keluar dari ruangan Ronal sambil menghentak-hentakkan heelsnya ke lantai. Karena terlalu tinggi, dia sampai keseleo dan terjatuh ke lantai.
Satpam dan Niken tertawa melihat Raisa terjatuh. Raisa bangkit lalu menatap sinis dan berlalu meninggalkan mereka karena malu.
"Lakukan tugasmu," kata Ronal. Niken mengangguk dan berlalu meninggalkan Ronal diikuti kedua satpam tersebut.
π«π«π«
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ