
SELAMAT MEMBACA!
***
Sebelum makan malam, Nafisah ingin salat Isya terlebih dulu dan Andra juga masih setia menemani istrinya itu.
Selama kehamilan Nafisah, Andra selalu saja cemas berlebihan. Dia bahkan tidak membiarkan Nafisah turun ke lantai bawah dengan menggunakan tangga. Tidak boleh ini dan tidak boleh itu.
"Mas," panggil Nafisah pada Andra yang duduk berselonjor di atas ranjang sambil memainkan hpnya.
"Hmm..." dehem Andra tanpa menoleh kepada Nafisah dan itu membuat Nafisah berdecih kesal. "Iya ada apa sayang?" tanya Andra dan tetap saja memainkan hpnya.
"Mas, lihat apa sih? Kenapa sibuk banget? Lihat yang bening-bening yah!" kesal Nafisah karena dari tadi diabaikan oleh Andra dan lebih mementingkan benda persegi kecil itu.
"Astaga sayang, kamu fitnah ini," balas Andra tanpa menoleh pada Nafisah lagi.
Nafisah memutar bola matanya malas, "Ya sudah kalau mas memang lebih sayang sama hp itu dari pada aku, sana mojok aja bareng tuh hp dan jangan bicara lagi sama aku," marah Nafisah mengerucutkan bibirnya.
Deg!
Andra terkejut dengan ucapan Nafisan barusan laki-laki itu langsung menyimpan hpnya dan menoleh kepada istrinya yang sudah bersedekap menghadap jendela.
"Sayang," panggil Andra hendak memegang Nafisah namun tangannya ditepis oleh istrinya itu.
"Jangan ngambek dong," ucap Andra namun Nafisah hanya diam saja. "Naf! Jangan gini dong," tambahnya hampir gila di diamkan oleh Nafisah.
"Terserah, mas gak usah peduli sama aku, mainin aja terus tuh hp," cibir Nafisah sinis.
"Sayang, aku juga main hp itu untuk kerja. Cek email yang masuk," jelas Andra memeluk Nafisah dari belakang. "Jangan marah lagi dong," bujuk Andra.
"Tapi, kalau diajak bicara itu lihat aku mas, jangan lihat hpmu memangnya yang bicara sama kamu tuh hp," cerocos Nafisah tidak suka.
"Iya-iya sayang, aku minta maaf yah," ujar Andra. "Tadi kenapa kamu manggil aku, hmm?" tanya Andra lembut sembari mengelus-elus kepala Nafisah sayang.
"Gak apa-apa," ucap Nafisah masih kesal.
"Mau makan sesuatu? Mau minum sesuatu? Atau kamu mau pergi ke suatu tempat? bilang saja sayang!" ucap Andra beruntun karena dia tahu pasti Nafisah menginginkan sesuatu sekarang.
"Bukan itu," balas Nafisah.
__ADS_1
"Terus?" Andra mengangkat alisnya sebelah. "Mau apasih sayang, bilang aja! mas kan bukan Tuhan yang bisa tahu isi pikiran kamu," kesal Andra karena Nafisah hanya diam saja.
"Emang siapa yang bilang kamu Tuhan? Ada yang bilang? Enggakkan!" Ketus Nafisah melepas paksa pelukan Andra dari perutnya lalu berdiri.
Andra meremas rambutnya putus asa. Menghadapi ibu hamil memang harus ekstra sabar. Stok sabar harus dibanyakin.
Andra menghela napasnya dengan kasar, "Untung sayang," gumamnya pelan.
"Aku mau salat mas," ucap Nafisah kemudian.
Yah sholat aja, apa susahnya sih?!
Ingin rasanya sekarang Andra menenggelamkan dirinya di dasar laut.
"Hanya itu?" tanya Andra memastikan.
Nafisah mengangguk polos, "Tapi kamu yang jadi imam," timpal Nafisah.
Andra melototkan matanya tidak percaya. Dia lalu menelan salivanya susah payah, "A-aku?" gagap Andra dan Nafisah pun mengangguk mantap.
"Iya," singkat, padat dan jelas.
"Kamu tidak salah ngidamkan sayang? Apa kamu demam atau salah minum vitamin tadi?" kelajar Andra.
"Iyakan aku terkejut sayang, tidak ada angin tidak ada hujan kamu ngajakin aku salat dan juga aku yang harus jadi imammu," jelas Andra.
"Itukan gampang mas, katanya dulu mondok masa biar jadi imam aja kamu gak bisa sih. Jangan bilang hafalan salat kamu gak bisa lagi atau gerakan salat," gerutu Nafisah asal ceplas ceplos.
Entah ini akibat hormon kehamilan yang membuat istrinya itu jadi cerewet ataukah memang istrinya ini saja aslinya orang cerewet hanya saja Andra tidak tahu?
"Ckckck... aku hanya kaget aja Naf! Bukan berarti aku tidak tahu yah," sombong Andra.
Nafisah tersenyum miring, "Ya sudah kalau begitu ayo buktikan jika memang benar kami bisa jangan diomongin doang," balas Nafisah sinis.
Andra lalu berdiri membuat Nafisah mengernyit, "Mau kemana?" tanya Nafisah.
"Tadi kamu yang minta kita salat bareng kan? Dan sekarang aku mau wudhu dulu atau kamu berubah pikiran dan salat barengnya di pending dulu?" tanya Andra konyol.
"Oh kirain mau kabur karena gak bisa. Ya sudah sana ambil air wudhu! Tidak ada pending-pending kalau masalah salat emang kamu mau napasmu di pending sama Allah," balas Nafisah.
__ADS_1
"Iya-iya kamu sekarang kok cerewet sih," ejek Andra.
"Mas, jangan menggodaku yah!" peringat Nafisah. "Buruan ambil air wudhu! Kamu bisakan?" selidik Nafisah dan Andra pun mengangguk.
"Kamu kira suamimu ini gak ngerti gituan?! Apa gunanya aku mondok selama enam tahun kalau tidak ngerti ginian. Jangankan wudhu surah ar-rahman saja aku hafal," jelas Andra menyombongkan dirinya.
"Huft... dasar," kata Nafisah setelah Andra menghilang masuk ke dalam kamar mandi guna mengambil air wudhu.
"Mas, pakai ini," Nafisah memberikan peci pada Andra dan Andra pun memakainya.
"Masyaallah tampannya suamiku," puji Nafisah dan Andra pun tersenyum bangga.
"Ayo mas," ajak Nafisah dan Andra pun berdiri pada staf depan Nafisah.
Mereka lalu memulai salat empat rakaat mereka
***
"Asslamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap keduanya setelah melakukan empat rakaat.
Nafisah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah begitu pula dengan Andra.
"Ya allah aku akan mengembalikan suamiku ke jalan yang engkau ridhoi, maka bantulah hambamu ini ya allah. Jadikanlah hamba seorang istri yang bisa menunjukkan jalan yang lurus kepada suami hamba ya allah, amin," doa Nafisah dalam hati.
Andra lalu mengulurkan tangannya pada Nafisah dan Nafisah pun mencium punggung tangan suaminya itu. Setelah itu, Andra mencium kening Nafisah dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih mas," ucap Nafisah dan Andra hanya membalas dengan senyuman. "Aku harap kita bisa salat berjamaah lagi, bukan kali ini saja tapi besok dan hari-hari yang akan datang," tambah Nafisah.
Andra menatap Nafisah lalu mengangguk. "Ajari aku dan ingatkan aku. Tegurlah aku jika aku salah dan nasehati aku juga," pungkas Andra membuat Nafisah menitikkan air matanya terharu.
"Jangan menangis sayang," ucap Andra menyeka air mata istrinya.
"Izinkan aku membantumu mas, menyempurnakan agamamu. Aku memang tidak sempurna tapi insyaallah denganku agamamu akan sempurna," tutur Nafisah menggenggam tangan Andra lalu mengecupnya berulang kali.
"Seharusnya aku yang meminta agar kamu bisa membawaku kembali ke jalan yang benar. Aku sadar jika selama ini aku begitu tersesat, namun ini bukanlah saatnya aku meninggalkan pekerjaanku itu," lirih Andra dan Nafisah tersenyum mengerti.
"Aku tahu mas, aku akan selalu membantumu untuk kembali jika kamu sudah siap untuk kembali," balas Nafisah lalu mereka pun berpelukan.
π«π«π«
__ADS_1
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ