
SELAMAT MEMBACA!
***
"Anak buah, kita bagi tiga karena tidak mungkin jika markas dibiarkan tidak terjaga," ujar Andra dan dijawab anggukan kepala oleh Jack.
"Sebagian tetap di sini dan sebagian lagi bagi dua!" ucap Jack.
Setelah dirasa semuanya sudah sempurna, Andra dan yang lainnya pun mulai bergerak.
Jack mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata itu dikarenakan jarak antara rumah besar dan lokasi pertama atau markas Ronal sangatlah jauh.
"Sepertinya kau sangat semangat Jack," ucap Andra.
"Pastinya bos, ini sudah lima bulan setelah penembakan Sofia dan aku sangat rindu menggunakan senepan apa lagi mendengar suara peluruku tertancap di dalam tubuh musuh," jelas Jack tersenyum smirk.
"Kau benar. Aku pun sangat merindukan bau darah yang menusuk indra penciumanku," timpal Andra.
Mungkin hanya mereka berdua yang suka dengan hal-hal yang ekstrim, apa lagi darah. Hiiiy... banyak orang yang takut milihat darah dan mereka bahkan merindukan mencium bau anyir.
Andra dan Jack lalu tertawa sinis kala membayangkan mereka menembak dan menghabisi para kaparat itu.
Tidak butuh waktu lama mereka kini telah tiba di lokasi markas geng fire. Jack menghentikan mobilnya begitu pula dengan mobil anak buah yang ikut dengan mereka.
Andra keluar dari mobil disusul dengan Jack dan anak buah mereka.
"Sebaiknya kita berjalan saja!" ujar Andra dan diangguki oleh Jack.
"Pegang senjata kalian!" titah Jack.
"Baik bos," jawab mereka serentak.
Mereka semua pun berjalan masuk ke dalam hutan.
"Sekarang kami harus ke mana?" tanya Andra ketika mereka dihadapkan pada pertigaan antara lurus, belok kanan dan belok kiri.
"Belok kiri bos," jawab Rio dari seberang sana.
"Belok kiri!!" perintah Andra.
"Sepertinya di sana bos," tunjuk Jack pada rumah besar yang ada di tengah hutan itu.
Andra mengangguk, "Iya itu dia markas Ronal yang selama ini tidak kita ketahui maupun geng mafia lainnya," kata Andra.
"Sembunyi!" tutur Jack kala melihat seseorang menyenter ke arah mereka.
Mereka semua lalu bersembunyi di balik pohon besar. Setelah di rasa cahaya senter yang mengarah pada mereka sudah tidak ada lagi, Jack pun memberanikan dirinya untuk mengintip.
"Wow, anak buahnya lumayan banyak bos," ujar Jack sambil memperhatikan anak buah Ronal.
"Itu tidak penting bagiku!" tukas Andra. "Sekarang lempar granatnya ke sebelah kanan agar kita bisa masuk ke dalam lalu kalian atasi mereka!" perintah Andra dan dibalas anggukan kepala oleh anak buahnya.
"Siap-siap!" ucap Jack lalu melempar granat ke arah kanan.
Blar!
__ADS_1
Granat itu pun meledak dan benar saja sebagian anak buah Ronal berlarian menuju arah ledakan granat itu terjadi.
"Hajar mereka sekarang!" ucap Jack.
"Baik bos," balas anak buah mereka lalu berlari dan mulai menyerang anak buah Ronal.
Andra dan yang lainnya pun langsung masuk ke halaman markas geng fire tanpa halangan sedikit pun.
"Dasar bodoh!" hina Jack tersenyum miring saat mereka sudah berhasil menyelinap masuk.
"Siapa di sana!" teriak salah satu anak buah Ronal.
"Cih, hama ini," Jack lalu maju dan langsung saja memberikan tendangan mautnya pada orang yang berteriak tadi. "Ckckck... hanya itu? Dasar lemah!" kata Jack meremehkan kekuatan anak buah Ronal.
Hanya sekali tendangan dan sudah terkapar tidak sadarkan diri, cih sungguh sangat lemah.
"Sudah beres bos," ucap Jack.
Bugh!
Karena tidak siaga seseorang berhasil menendang punggungnya dari belakang membuat Jack terhuyung.
"Awch..." Jack meringis sambil memegang punggungnya yang sedikit sakit. Andra menggelengkan kepalanya.
"Sialan, berani-beraninya kau menendangku!!" geram Jack dengan giginya yang digemerutukan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Mati kau sialan," ucap Jack lalu menendang orang itu dengan sangat keras.
Anak buah Ronal itu pun terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya dan detik berikutnya dia sudah tidak sadarkan diri.
Mendengar suara ribut-ribut dari depan, anak buah Ronal yang semulanya berada di halaman belakang pun berlarian menuju halaman depan markas mereka.
"Bos, sepertinya kau masuk saja selamatkan nyonya. Biar kami saja yang mengurus hama-hama ini," ujar Jack dan Andra pun mengangguk.
Sebelum masuk, Andra terlebih dulu menembakkan pelurunya pada salah satu anak buah Ronal yang hendak menembak Jack dari belakang.
Dor!
Jack membalikkan tubuhnya dan membulatkan matanya ketika seseorang mengarahkan pistol ke arahnya, namun pria itu malah terjatuh karena tertembak oleh Andra.
"Terima kasih bos," teriak Jack pada Andra.
Andra mengangguk, "Hati-hati dan kalian semua jangan sampai ada yang tertembak apa lagi sampai kehilangan nyawa," peringat Andra dan itu adalah sebuah perintah.
"Siap bos," ucap mereka serentak.
Andra pun berlari masuk ke dalam markas Ronal. Tidak seperti di halaman depam, di dalam mapah terlihat begitu sepi. Tidak ada yang berjaga di sana.
Tak-tak-tak!
__ADS_1
Suara seseorang melangkah mendekat ke arah Andra dan Andra pun langsung bersembunyi.
"Karena perempuan itu, kita harus susah payah membuang ini semua," bisik-bisik anak buah Ronal menggerutu kesal.
"Ho'oh menyusahkan sekali dan juga sangat menyebalkan sama seperti suaminya," timpal temannya.
"Bwahahaha... kau benar sekali," mereka terbahak bersama.
Andra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tahu siapa yang dimaksud kedua anak buah Ronal itu. Andra lalu muncul dihadapan kedua pria itu dan membuat keduanya terkejut.
"Ka-kau!!" tunjuk mereka kaget.
"Ya, apa kalian barusan menggosipku?" tanya Andra menaikkan sebelah alisnya.
"Ti-tidak," gagap mereka.
"Ckckck... dusta sekali bibirmu," kata Andra.
Plak!
Plak!
Andra menampar kedua pria itu dengan sangat keras membuat kepala kedua pria itu menghadap ke samping.
"Itu karena kalian telah menggosipku," kata Andra menyeringai.
Bugh!
Bugh!
Andra meninju perut keduanya.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." mereka terbatuk sambil memegangi perut mereka masing-masing.
"Itu karena kalian telah mengatakan jika istriku menyebalkan!" kata Andra lagi.
"Dan ini," Andra menggantungkan kalimatnya lalu mengeluarkan pisau kecilnya dan menyeringai jahat membuat kedua pria itu bergidik ngeri.
Srek!
Srek!
Andra menyayat leher keduanya dengan bengis.
"Itu karena kalian sudah ikut andil dalam penculikan istriku," ucap Andra lalu kembali memasukkan pisaunya dan menyeret kedua pria itu ke belakang lemari yang ada di ruang tamu kemudian menyembunyikan mayat keduanya di sana.
Andra lalu membuka bajunya dan mengganti baju kaosnya dengan baju salah satu anak buah Ronal agar dia dikira sebagai anak buah Ronal.
"Jadi, mereka tidak membawa Nafisah ke mana-mana. Nafisah ada di sini dan lokasi kedua adalah zonk! Ckckck... permainanmu sangat kuno Ronal," ejek Andra tersenyum miring.
π«π«π«
TBC...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTEπ
__ADS_1