Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.10 Rencana yang gagal


__ADS_3

Semenjak mengetahui kalau ternyata Dery memanfaatkan Tiara untuk meraih kekayaan, Liora merasa semakin geram kepada suaminya sendiri. Terlebih ketika dia baru saja datang dari pasar, ternyata di rumahnya kini sudah kedatangan tamu yang tidak dia duga sebelumnya.


"Ah, untung kamu sudah datang, tolong buatan air minum untuk Ibu," ujar Niken dengan nada suara dilembut-lembutkan.


Liora bisa melihat jelas, ada tatapan meremehkan dan penuh kemenangan dari Niken dan mertuanya yang kembali lagi bercengkrama tanpa menghiraukannya.


"Aku capek, kalau mau minum tinggal buat saja sendiri, atau panggil pelayan," jawab Liora acuh, kemudian meningalkan dua wanita yang kini melihatnya dengan tatapan marah.


"Menantu kurang ajar! Berani kamu melakukan itu padaku, hah?!" teriak mertua Tiara dengan wajah memerah.


Ini adalah pertama kalinya Tiara bertindak kasar dan melawannya. Selama ini Tiara selalu menghormati kedua mertuanya, karena memang mereka yang merawat sejak kedua orang tua Tiara meninggal. Tiara sudah menganggap kedua mertuanya itu sebagai orang tuanya sendiri.


Namun, kini Tiara bukanlah seperti orang yang mereka kenal dulu. Semenjak pulang dari rumah sakit, Tiara berubah menjadi sosok yang liar dan sulit untuk diatur oleh seluruh keluarga Dery.


Itu juga terlihat saat ini, ketika Liora sama sekali tidak terintimidasi dengan teriakan mertuanya yang tengah murka padanya.


Alih-alih menghentikan langkahnya kemudian berbalik untuk melihat sang mertua. Liora malah terus berjalan ke dalam lalu masuk ke kamar tanpa menghiraukan suara sang mertua yang terus memanggilnya.


"Ibu lihat sendiri, kan? Dia sekarang sudah berani melawan kita, dia bahkan sekarang sudah tidak menghormati Ibu lagi," ujar Niken menambah emosi dari mertuanya. Dia menanamkan kebencian di hati mertua dan suaminya untuk Liora.


Mertua Tiara tampak mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh kebencian, melihat punggung Liora yang kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.


.


Liora sengaja menyibukkan diri di kamar Davi untuk membantu menyiapkan sekolah anak itu, demi menghindari dua mertua dan madu Tiara. Rasanya tidak penting untuk trus meladeni dua wanita yang selalu mencari masalah padanya.


Setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, ternyata rumah kini sudah terasa sepi, baik Niken ataupun Ibu mertuanya sudah tidak ada di sana.


"Mak, Niken dan ibu mertua ke mana?" tanya Liora pada Mak Onah yang tengah membersihkan dapur.


"Mereka pergi tidak lama setelah Non Tiara mengantarkan Den Davi ke sekolah," jawab Mak Onah.

__ADS_1


"Ke mana?" tanya Liora lagi.


Bukan karena perduli Liora bertanya tentang madu dan meetuanya itu, tetapi dua memiliki rencana di saat rumah sedang kosong seperti ini. Dia ingin mencari tahu tentang perusahaan atau apa pun yang menyangkut itu dari rumah ini lebih dulu. Liora yakin jika Dery pasti menyimpan sesuatu yang penting di rumah ini, entah di ruang kerja atau di kamar utama.


"Enggak tau, Non." Mak Onah menggeleng samar.


"Oh, ya sudah." Liora mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian beranjak kembali ke ruang keluarga.


Dalam setiap langkahnya Liora mencoba meneliti setiap CCTV yang terpasang di rumah ini. Mencoba mencari celah untuk pergi ke rumah kerja Dery yang berada di lantai bawah lebih dulu.


Setelah beberapa saat yakin dengan pengamatannya, Liora pun berjalan santai dan masuk ke kamarnya. Ini adalah hari ke dua dirinya berada di rumah. Hingga dia pun belum terlalu mengetahui kebiasaan yang terjadi di sana.


Namun, karena rasa penasaran dan keinginannya untuk segera menuntaskan apa yang ingin dia lakukan pun membuatnya nekat untuk menyelidiki dengan informasi yang sangat kurang.


Setelah sekitar lima menit berdiam diri di dalam kamar, Liora pun perlahan berjalan sambil menghindari sorot kamera CCTV yang terpasang di berbagai sisi di rumah ini.


Sesekali dia harus menunduk karena atau berjalan di belakang lemari demi menghindari CCTV itu.


"Ck! Gak berguna!" decak kesal Liora. Dia memilih berbalik dan berjalan kembali meninggalkan tempat itu.


Liora menghentikan langkahnya saat dia berada di depan tangga menuju lantai dua. Kepalanya sedikit mendongak untuk melihat ke arah atas dengan rasa penasaran yang ada di dalam hatinya.


Ada apa saja di atas sana? Apa aku coba masuk ke kamar utama dulu saja, siapa tau itu malah lebih gampang? batin Liora bertanya.


Dirinya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencari informasi tentang Dery dan perusahaan Tiara.


Liora menoleh ke segala arah, memastikan kalau semuanya masih aman jika dia mencoba ke lantai dua. Dia juga memperhatikan CCTV yang berada di sekitarnya, memastikan kalau dirinya tidak akan terlihat jika menaiki tangga.


"Dari bawah enggak ada. Tapi, kalau dari atas gimana?" Liora mendesah berat mengingat biasanya tangga selalu diawasi oleh CCTV.


"Apa tidak ada tangga lain selain ini?" gumam Liora, kemudian memilih untuk berkeliling rumah.

__ADS_1


Akhirnya siang itu Liora gunakan untuk berjalan berkeliling rumah untuk, sekaligus mencari celah untuknya bisa menyelinap dari segala arah. Sedangkan malam harinya dia disibukkan oleh membuat denah lantai satu rumah, sekaligus menandai tempat-tempat yang terbebas dari pengawasan CCTV ataupun penjaga yang bertugas di luar rumah.


"Baiklah, besok baru aku mencoba naik ke atas melalui tangga khusus pelayan," gumam Liora sambil melihat denah yang hampir setengah jadi itu.


Setelah berkeliling rumah, ternyata dia mengetahui kalau ada tangga lain di bagian belakang rumah, tangga itu khusus untuk pelayan naik ke atas. Di sana hanya sedikit CCTV, karena letaknya yang juga cukup tersembunyi.


Liora bahkan sampai tertidur di atas meja rias yang sengaja dia gunakan untuk tempatnya menggambar denah rumah.


.


Ternyata semuanya sama sekali tidak sesuai rencana saat hari ini Niken dan Dery malah tidak ke luar rumah sama sekali. Liora lupa jika hari ini adalah akhir pekan.


"Ish, sial! Semakin lama saja aku menjalankan rencana," kesal Liora. Dia berjalan bolak-balik di dalam kamar, mencoba bersabar dengan keadaan yang sekarang terjadi.


Sedetik kemudian Liora melebarkan matanya, saat mengingat sesuatu, dia kemudian berjalan cepat menuju ke kamar Deva.


"Deva, kita main ke taman komplek yuk," ajak Liora penuh semangat.


Jika memang hari ini tidak bisa mendapatkan hasil tentang Dery dan perusahaan milik Tiara, setidaknya dia bisa mengawasi Charly dari luar sana.


"Ayo!" Deva yang tampak sedang bermain dengan mobil hotwheels miliknya langsung bernajak berdiri dan menghampiri Liora dengan semangat.


Keduanya pun berjalan riang menuju ke luar, walau pertanyaan dari Dery yang sedang asik bermesraan dengan Niken sempat menghentikan langkah mereka.


"Kita mau main ke luar. Di sini gerah ada orang yang bersikap tidak tahu tempat," jawab Liora sambil melanjutkan langkahnya bersama Deva.


"Apa kamu bilang!" Dery hampir saja bangun dari sofa dan menyusul Liora jika saja Niken tidak menahannya.


"Biarkan saja, Mas. Sepertinya dia sedang iri kepadaku," ujar Niken sambil menahan tangan Dery. Dia tersenyum penuh kemenangan mengira Liora tengah cemburu padanya yang selalu dimajakan oleh suaminya.


Rasakan itu Tiara, aku akan terus membuat kamu kesal sampai tidak kuat lagi berada di rumah ini dan memilih untuk pergi!

__ADS_1


__ADS_2