Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.38 Menyusup


__ADS_3

Hari ini, Charly berencana untuk mengikuti Dery yang berencana untuk menghadiri sebuah lelang ilegal, sekaligus memeriksa keadaan perusahaan yang diberitakan sedang mengalami krisis.


Hingga di sinilah Charly berada, gedung sepuluh lantai yang merupakan pusat kegiatan perusahaan berlangsung. Charly memarkirkan mobilnya di seberang jalan, dia melihat keadaan perusahaan yang kini sedang dikelola oleh Dery.


Lama memperhatikan, akhirnya Charly ke luar dari mobil dan berjalan menyebrang jalan untuk mencapai gedung tersebut. Dengan menggunakan pakaian santai dibalut jaket berwarna hitam dia lebih dulu masuk ke dalam kantin.


Ya, ini adalah jam makan siang, Charly duduk di sana memperhatikan setiap karyawan yang sedang asik makan bersama ambil bercengkrama. Charly membutuhkan akses untuk masuk ke kantor, sementara dirinya tidak memiliki kenalan yang bisa membawanya untuk masuk.


Charly tersenyum ketika ada seorang karyawan yang meletakkan kartu karyawan di atas meja tepat di dekat gelas jus milik orang itu, Charly tersenyum kemudian berjalan menuju ke arah meja itu, lalu di saat dia hampir melewati meja tempat karyawan itu, Charly sengaja menyenggol seseorang yang berpapasan dengannya hingga gelas itu tumpah ke baju laki-laki yang duduk.


"Oh, maafkan saya, saya tidak sengaja!" ujar panik mereka bersamaan.


Sementara yang lain ribut membersihkan baju mereka, Charly memanfaatkan itu dengan tangan yang masih bersih menyelinap di dalam kekacauan kemudian mengambil kartu karyawan milik orang itu. Setelah berhasil Charly melenggang meninggalkan kantin tersebut, kemudian masuk ke area kantor dengan menggunakan kartu karyawan yang dirinya pegang.


Dirinya terus berjalan santai walau sebenarnya telinganya fokus mendengarkan arahan dari salah satu temannya yang sedang meretas CCTV kantor agar dirinya aman dan tidak meninggalkan jejak.


Semalam Charly dan Ramon sudah memperlajari letak gedung ini, dan mencari pusat data yang ada di sana, hingga Charly bisa mendapatkan informasi lengkap hanya dengan meng-copy data yang ada di sana.


"Pusat data itu ada di lantai ke sepuluh," ujar seseorang yang terdengar melalui earphone di telinganya.


"Hem." Charly hanya bergumam sebagai tanda jika dia masih mendengar perkataan dari seseorang di sana.


Charly sudah mulai memasuki lift, dia kemudian berhenti di lantai sembilan, mengingat hanya orang-orang penting saja yang berkantor di sana. Dia melanjutkan perjalanannya menaiki tangga darurat untuk mencapai lantai sepuluh gedung itu, menyelinap masuk tanpa ada yang menyadari keberadaannya.


Karena ini masih dalam waktu makan siang, jarang karyawan yang terlihat sibuk, hingga Charly mudah untuk menyelinap menuju ruang pusat data. Namun, ternyata di sana masih ada beberapa orang yang bekerja hingga mengharuskan dia menunggu sambil bersembunyi di salah satu sisi.


Ruangan yang penuh dengan berbagai alat elektonik untuk menunjang pekerjaan di seluruh kantor itu, terlihat berantakan.


"Masuklah ke salah satu komputer utama yang ada di sana, agar aku bisa meretasnya." Perintah terdengar kembali di earphone yang dia pakai.


Charly merunduk, dia berjalan dengan memanfaatkan meja kerja sebagai penghalang, hingga bisa lolos dari penglihatan beberapa orang karyawan yang masih asik bekerja sambil saling berbicara.


"Aku rasanya ingin segera ke luar dari perusahaan ini," keluh seorang laki-laki paruh baya yang memakai atasan kemeja berwarna maroon.


Charly mengacuhkan pembicaraan antar karyawan yang menurutnya tidak penting. Namun, beberapa saat kemudian, dia tidak bisa lagi mengacuhkanya saat mendengar tentang sebuah kecurangan yang terjadi di sana.


"Kalau anakku sudah lulus sekolah sepertimu, aku juga mau ke luar dari kantor ini. Perusahaan ini terlalu banyak melakukan proyek ilegal, bahkan beberapa minggu kemarin, kita menggunakan bahan yang tidak seharusnya di pabrik. Aku melihatnya sendiri saat berkunjung ke pabrik minggu kemarin." Laki-laki yang terlihat lebih muda terdengar menimpali perkataan temannya.


Mereka berbicara dengan cara berbisik, hingga cukup samar untuk didegar, walau memang masih bisa terdengar bagi Charly yang sudah terbiasa menggunakan telinganya untuk mendengar suara kecil seperti itu.


Jadi Dery juga melakukan kecurangan di perusahaan? Dasar laki-laki licik! batin Charly menahan geram pada Dery yang menyembunyikan banyak kebusukkan di belakangnya.

__ADS_1


Komputer utama ada di ujung paling depan, hingga semua karyawan yang bekerja di sana bisa melihatnya, itu menambah sulit pekerjaan Charly hari ini.


"Cepatlah, lima belas menit lagi waktu masuk kantor." Lagi-lagi sebuah peringatan terdengar dari earphon yang terpasang di telinga.


Charly berhasil menghindari para karyawan, dia akhirnya mencapai salah satu komputer utama yang ada di sana. Untung saja karyawan yang tadi masih bekerja tiba-tiba saja ke luar dari ruangan hingga dia bebas berjalan kemudian mengerjakan apa yang dia tuju.


Setelah cukup lama berusaha masuk ke dalam akses komputer utama akhirnya dia bisa melakukannya.


"Oke, aku sudah bisa meretasnya. Hubungkan USB-nya sekarang," ujar seseorang yang terus mengawasi Charly dalam menjalani pekerjaanya kali ini.


Charly pun mengikuti perintah orang itu dan mulai menghubungkan USB yang dia bawa pada komputer utama.


"Pengunduhan berlangsung, butuh sekitar lima menit dari sekarang."


Waktu istirahat semakin sempit, sebagian dari karyawan bahkan sudah ada yang mulai kembali ke kantor setelah menyelesaikan makan siang mereka.


Sementara Charly masih belum menyelesaikan tugasnya, dia terkejut ketika ada seseorang yang sudah memasuki kantor di saat sambungan USB belum siap untuk diputuskan.


Secepat kilat Charly bersembunyi di salah satu meja kerja yang ada di sana, dengan hati gusar karena USB masih berada di komputer utama.


"Lima belas persen lagi." Kata itu terdengar di telinga, hingga Charly melebarkan mata.


"Lima." Orang itu mulai menghitung mundur, sementara Charly masih terjebak di salah satu


udah mulai ramai, karena karyawan yang kembali setelah waktu istirahat sudah hampir habis.


"Tiga." Seseorang tampak berjalan menghampiri meja tempatnya bersembunyi.


"Dua." Perlahan Charly mulai memundurkan langkahnya untuk mencapai komputer utama lagi.


"Selesai." Charly berhasil memutus sambungan USB dan mengantongi benda itu lagi. Dia kini bersiap untuk ke luar dari ruangan itu yang pasti akan lebih sulit lagi.


Charly menutup kepalanya menggunakan topi, kemudian melapisisnya dengan kupluk hoodie yang dia pakai. Dia menarik napas dalam kemudian menghembusakannya perlahan sambil mulai mengawasi situasi. Sudah ada sekitar lima orang yang masih tampak mengobrol dan belum bersiap untuk kembali ke mejanya masing-masing.


Sepertinya aku harus sedikit membuat kekacauan, batinnya tidak menemukan cara lain untuk ke luar, karena bila dia menghabiskan waktu untuk berpikir, maka waktu istirahat akan terlanjur habis.


Dia kemudian berdiri dan menampakkan diri, hingga membuat orang-orang di sana terkejut bukan main. Mereka langsung mengalihkan perhatiannya pada orang asing yang sangat mencurigakan.


"Siapa kamu?!" tanya salah satu diantara mereka yang kebanyakan sudah berumur tiga puluh tahun ke atas.


Charly tidak menjawab, tatapannya fokus menuju pintu ke luar tanpa menghiraukan para karyawan yang panik karena melihat penyusup yang datang ke kantor mereka. Salah satu dari karyawan itu bahkan langsung menghubungi keamanan agar segera datang.

__ADS_1


Sementara itu Charly sudah berhasil ke luar dari ruangan itu, dia kemudian masuk ke dalam salah satu ruangan yang ternyata adalah sebuah pantry kantor dan menemukan seragam ofice boy di sana.


Hais, wajah sepertiku tidak cocok memakai baju seperti ini, kesal Charly saat dia terpaksa membuka hoodie miliknya dan menggantinya menggunakan baju seragam ofice boy. Dia mengeratkan topi miliknya sebelum ke luar dari ruangan itu.


Saat dirinya hendak mencapai pintu lift, ternyata para petugas keamanan sudah sampai di sana, hingga Charly kembali mundur dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata toilet, dia mendapati peralatan pembersih di sana. Secepat kilat dia membawanya untuk menyadarkan diri di depan para petugas keamanan yang mulai mencari penyusup itu.


Sementara di telinga, seseorang pun memberikan instruksi jalan mana yang masih aman untuk Charly lewati, hingga Charly tidak akan berpapasan dengan para petugas keamanan yang sedang mencarinya.


"Masuk melalui tangga darurat sekarang," perintahnya. Charly mengikuti, dengan langkah cepat dia menuruni setiap anak tangga.


"Ke luar di lantai ke delapan," perintahnya lagi, saat melihat ada yang mulai masuk dari pintu tangga darurat di lantai tujuh.


Charly kembali mengikuti, dia menyalakan lift, dan turun menggunakan kotak besi tersebut.


"Berhenti di lantai lima!" Orang itu kembali memberi instruksi.


Charly kembali menurut, lift berhenti di lantai lima. Namun, ternyata tepat saat itu, ada beberapa petugas keamanan yang memergokinya dan menyerang dirinya secara bersamaan.


Haish, sial! batin Charly mengumpat kesal.


"Kamu terlalu ceroboh, John," geram Charly.


"Sorry," ujar laki-laki yang terus memantau pergerakannya.


Charly terpaksa melawan, dia melakukan pembelaan diri dari serangan para petugas keamanan, hingga beberapa karyawan mulai panik melihat pertarungan dadakan itu. Bahkan ada banyak wanita yang berteriak dan berlari ketakutan menghindari dari tempat kejadian.


"Masuk ke tangga darurat sekarang!" sebuah perintah kembali terdengar.


"Sorry, sepertinya sekarang kamu harus berolahraga sedikit, Charly," imbuh laki-laki itu yang terdengar dari earphone di telinga Charly.


"Haish, sial! Sejak tadi aku sudah berolahraga, brengsek!" umpat Charly berbarengan dengan terlihat lima orang petugas keamanan yang kembali berdatangan.


Sejak tadi, Charly memang berusaha untuk tidak melukai para petugas keamanan yang sebenarnya hanya sedang bekerja, dia hanya melakukan gerakan membela diri tanpa berniat menyerang.


Setelah cukup lama kembali bertarung, akhirnya dia bisa ke luar dari gedung itu dengan selamat. Kini yang tersisa dari pakaiannya hanya kaos warna hitam yang dia pakai sebelumnya, mengingat Charly harus menghilangkan jejak dengan membuang baju petugas kebersihan yang dirinya pakai.


"Misi hari ini berhasil," gumamnya setelah kembali mengendarai mobil miliknya walau masih terdengar ada napas yang memburu.


"Ini bukanlah oleh raga kecil, John," sambungnya lagi, meraskaan tubuhnya yang lengket oleh keringat.


"Hahaha, kamu selalu hebat, Charly!" Tanpa rasa bersalah laki-laki di balik earphone itu terdengar tertawa senang dengan kesulitan yang baru saja dilalui Charly.

__ADS_1


"Brengsek," umpat Charly kemudian melepaskan earphone di telinganya begitu saja.


__ADS_2