Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.59 Takdir yang rumit


__ADS_3

Charly tampak tersenyum puas dari balkon kamarnya sambil melihat penangkapan Boy dan Niken yang berhasil dia lakukan dengan sangat rapih, walau dengan waktu yang cukup sedikit.


Ingatannya kembali pada saat tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang di pagi buta. Ya, itu adalah Tiara atau mungkin kita panggil dia Liora. Masa itu, Charly bahkan belum sempat terbangun setelah hampir semalaman dibuat bergadang oleh pengakuan Liora yang tiba-tiba di hari sebelumnya.


Namun, suara gaduh dari bawah yang memang terdengar begitu nyaring membuat dia dan Ramon pun akhirnya teraksa menyadarkan diri dan beranjak dari tempat tidur mereka masing-masing.


Alangkah terkejutnya mereka berdua ketika melihat Liora sudah ada di depan rumah dengan napas memburu, seolah baru saja berlari.


"Ada apa kamu ke sini pagi-pagi begini?" tanya Charly setelah mempersilahkan Liora untuk masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. Ah, sepertinya bukan dia yang mempersilahkan masuk, karena yang sebenarnya terjadi adalah, Liora lebih dulu menerobos masuk ke rumah begitu dia membuka pintu.


"Maaf. Tapi, aku benar-benar membutuhkan bantuan kalian sekarang," ujar Liora sambil mengambil air di tangan Ramon dan meneguknya hingga tandas.


Charly dan Ramon tampak saling pandang dengan kening berkerut dalam, mereka berdua masih belum mengerti dengan maksud dari ucapan yang baru saja Liora ucapkan.


"Maksud kamu, apa?" tanya Charly pelan.


"Aku ingin menangkap Niken dan selingkuhannya hari ini," ujar Liora yang langsung mendapat tatapan tajam dari Charly maupun Ramon.


"Kamu gila? Kita bahkan belum menyusun rencana untuk menangkap mereka! Bagaimana jika semuanya gagal?" Ramon berbicara sarkas.


"Makanya kita siapkan dari sekarang. Kalau kita menunggu lagi, itu akan lebih sulit, apa lagi sekarang Dery dan bosnya sudah tau jika aku ada di pihak kalian! Bagaimana kalau mereka mencari identitas kalian dan mengetahui siapa sebenarnya kalian? Kita akan gagal!" sambar Liora, tidak mau kalah.

__ADS_1


"Aku sudah memiliki rencana, dan ini akan lebih mudah karena kita masih tau di mana terget kita berada," sambung Liora lagi sambil menaruh sebuah flash disk yang dia bawa di atas meja.


"Kalian hanya perlu menggunakan koneksi kalian untuk mengirim semua bukti ini pada polisi dan mendesak mereka untuk menangkap Niken dan selingkuhannya hari ini juga," ujar Liora lagi.


Charly dan Ramon masih tampak diam, mereka seperti belum mau menyetujui apa yang Liora sarankan.


"Seperti yang kamu katakan, kini kita sudah berada di arena perang dan kemarin itu baru sebatas perkenalan. Maka sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menyerang, bukankah lebih baik jika kita menyerang mereka lebih dulu? Bukankah kamu juga sudah mengetahui tempat persembunyian bos besar Dery? Lalu, kita tunggu apa lagi?"


Liora masih terus membujuk dan mendesak Charly untuk menyetujui rencananya.


"Tapi, kami memiliki sistem kerja yang harus dipatuhi. Kami tidak bisa langsung melakukan penangkapan atau serangan pada target sebelum melaporkannya dulu pada atasan kami." Ramon tampak berusaha menjelaskan sistem kerja mereka sebagai agen rahasia.


"Tapi, bagaimana jika ini darurat? Kita mungkin akan kehilangan kesempatan ini kalau terus ditunda," debat Liora.


"Ayo kita kerjakan." Tiba-tiba saja Charly menyela ucapan Ramon, kemudian berdiri sambil menyambar flash disk di atas meja dan berjalan menuju ke lantai dua, di mana kamar dan ruang kerjanya berada.


"Yes!" Liora berseru senang kemudian memilih berjalan setengah berlari untuk mengikuti Charly menuju ke lantai dua.


"Tapi, Charly! Hei, Charly!" Ramon masih mencoba untuk menghentikan keputusan Charly yang akan melakukan ide gila dari Liora yang jelas-jelas akan melanggar ketentuan kerja mereka.


"Charly, kita harus bicara berdua dulu!" Kesal karena diacuhkan oleh sahabat serta rekan kerjanya, Ramon akhirnya menarik paksa Charly agar memisahkan diri dari Liora.

__ADS_1


Liora tampak mengedikkan bahu acuh, melihat Charly yang dibawa ke luar begitu saja oleh Ramon. Dia yakin, jika Charly sama gilanya dengan dirinya, dan itu yang membuat mereka tidak bisa saling mengalahkan selama bertarung di California.


Sementara itu Charly dibawa menuju dekat tangga oleh Ramon. Laki-laki itu masih saja berusaha membujuk Charly untuk mengurungkan niatnya membantu Liora.


"Ini rencana gila, Charly! Kamu tau kan apa resikonya jika kita berani bertindak tanpa melaporkannya dulu pada atasan?" ujar Ramon dengan wajah paniknya.


"Aku tau, tapi menurutku apa yang dikatakan Liora juga benar, kita mungkin tidak memiliki kesempatan lain lagi, jika tidak bertindak dari sekarang," jawab Charly.


"Charly!" Ramon terdengar membentak Charly, dia kemudian menghembuskan napas kasar sambil memegang pundak Charly.


"Aku tau kamu memiliki rasa lebih pada wanita itu, entah itu Tiara atau Liora. Tapi, sadarlah ... kita berada di negara ini untuk menjalankan misi, bukan untuk mencari cinta. Jadi, aku mohon ... jangan sampai kamu dibutakan oleh perasaan itu, Charly," ujar Ramon panjang lebar, mencoba menyadarkan sahabatnya yang dia curigai tengah dimabuk cinta.


Charly ikut menghembuskan napas pelan, dia menangkup salah satu tangan Ramon yang masih bertengger di pundaknya kemudian meremas dengan sedikit tenaga, seolah sedang meyakinkan sahabatnya itu jika ini sudah menjadi keputusannya.


"Aku masih bisa memisahkan apa itu perasaan pribadi atau memang tugas yang saat ini kita harus selesaikan. Percaya padaku, aku memutuskan ini bukan hanya untuk wanita di dalam sana. Tapi, ini juga untuk misi kita berdua," jelas Charly penuh keyakinan, kemudian memilih untuk kembali berjalan masuk ke kamar miliknya, di mana ada Liora di sana.


Ramon tampak mengacak rambutnya frustasi. Beberapa kali dia menghembuskan napas kasar sebelum kemuidan memutuskan untuk bergabung bersama Charly dan Liora yang tengah mempersiapkan semuanya di dalam kamar.


Pagi itu, mereka semua sibuk untuk menyusun rencana dan menghubungi koneksi mereka yang ada di negara ini untuk memberikan bukti sekaligus memberikan rencana penangkapan dua orang yang menjadi tersangka. Saking sibuknya Charly bahkan sampai tidak sadar jika ternyata Liora sudah teridur di sofa kamarnya karena terlalu lelah menunggu. Wanita itu juga tidak tidur semalaman, demi untuk menyiapkan semua rencana yang sekarang tengah dilakukan oleh Charly dan Ramon.


Charly tersenyum melihat itu, dia kemudian memilih untuk membaringkan Liora di atas tempat tidur miliknya agar lebih nyaman. Sementara Ramon hanya menggelengkan kepala samar, dia menyadari jika Charly memang menyimpan rasa untuk salah satu wanita yang kini berada di dalam satu tubuh itu. Entah itu Liora atau mungkin Tiara.

__ADS_1


Dalam hati, Ramon berharap jika suatu hari nanti Charly bisa mendapatkan bahagianya, walau mungkin itu bukan hal yang mudah. Mengingat semua masalah yang pasti akan dihadapi Charly kedapannya, apa lagi kini lawan Charly bukan hanya manusia, tetapi juga takdir yang terlalu rumit untuk dapat dimengerti oleh pemikiran makhluk hidup seperti mereka.



__ADS_2