
Brak! Suara pintu terbuka lebar terdengar nyaring hingga membuat orang yang ada di dalam ruangan mengalihkan perhatiannya. Roxi terlihat mengernyit bingung hingga sedetik kemudian senyum di bibirnya terbit.
"Tuan, saya membawa satu lagi teman wanita itu yang berusaha menyelinap dan melawan Anda!" teriak Dery dengan Charly berada di tangannya.
Charly tampak menatap tajam wajah Roxi yang tengah menyeringai padanya. Namun, kini pandangannya beralih pada Liora yang sedang kerepotan bertarung dengan anak buah Roxi.
"Dasar bodoh! Kenapa malah tertangkap? Bantu aku sekarang!" teriak Liora sambil terus bertarung dengan anak buah Roxi.
"Hahaha! Mana bisa dia membantumu sedangkan dia bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri," ujar Roxi dengan tawa puasnya.
Charly menggeram kesal, dia mengepalkan tangannya yang ada di belakng tubuhnya. Begitu juga dengan Dery, dia merasa geram dengan sikap Roxi yang telah menipu dan memanfaatkannya.
Namun, matanya melebar ketika melihat ibunya tengah berdiri di dekat Roxi dan Tuan yang dulu dia kira adalah Roxi itu sendiri.
"Ibu?" gumam Dery yang membuat Charly juga ikut melihat ke arah wanita yang berdiri di samping laki-laki tua, tidak jauh dari Roxi.
"Hei, bodoh! Cepat bantu aku! Jangan malah bengong!" Liora sangat kesal, dia tahu jika Charly tidak mungkin tertangkap oleh Dery segampang itu.
Charly mengerjap, dia kembali mengalihkan perhatiannya pada Liora, dia kemudian membawa tangan Dery melewati kepala lalu membantingkan ke depan, hingga kini laki-laki itu jatuh terbentang di lantai. Dery yang tengah fokus menatap ibunya kini tidak sadar jika Charly menyerangnya, hingga dia tidak bersiap untuk melawan.
Charly langsung menghampiri Liora dan membantu bertarung melawan anak buah Roxi, hingga tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah terkapar tak berdaya di seberang tempat.
Melihat situasi yang sudah genting Roxi mengambil senjata api dan menembakannya ke udara untuk menghentikan pertarungan Charly dan Liora yang maish berusaha memukuli semua anak buahnya.
"Jangan bergerak, atau aku akan menembak kalian semua saat ini juga!" teriak Roxi sambil mengacungkan ujung senjata api itu pada Charly dan Liora.
Charly dan Liora berdiri tegak sambil terus berusaha mendekat satu sama lain. Tatapan mereka terus memantau pergerakan Roxi yang tampak ikut waspada. Sementara itu, Dery berjalan menghampiri ibunya, dia tidak menyangka jika saat ini wanita yang telah melahirkannya itu berada di sini, bersama Roxi.
"Ibu, kenapa ada di sini? Di sini bahaya, Bu. Lebih baik sekarang ibu ke luar dari gedung ini," ujar Dery mencoba membujuk ibunya untuk mau menyerahkan diri.
"Lalu, kamu mau ibu ditangkap sama orang-orang itu, heh?! Ibu gak mau masuk penjara! Ibu mau tetap di sini!" jawab Ibu Dery sambik membuang muka.
"Tapi, Bu, di sini bahaya untuk ibu. Aku gak mau ibu kenapa-napa," ujar Dery, menatap ibunya memohon.
"Ibu gak mau! Sebaiknya kamu pikirkan saja dirimu sendiri, jangan terus mengurus kehidupan ibu!" kesal Ibu Dery.
"Lagian ibu di sini sama kekasih ibu. Dia akan menjaga ibu. Iya 'kan, honey?" sambung ibu Daniel dengan tangan memegang lengan bagian atas laki-laki tua di sampingnya.
Dery melebarkan matanya sambil menggeleng kepala pelan. Dia tidak bisa percaya dengan penglihatannya saat ini. Ibunya kini bersama laki-laki yang berbeda lagi? Kenapa selalu begini? Ibunya seolah selalu tidak merasa puas enggan satu laki-laki saja.
.
"Di mana pengendali bomnya?" bisik Charly ketika mereka berdua kini berdiri berdampingan.
__ADS_1
"Remot yang ada di atas meja," jawab Liora sambil melihat sebuah remot yang dibiarkan tergeletak di atas meja.
"Berapa waktu kita, jika dia mengaktifkan bom itu?" tanya Charly.
"Kurang dari tiga puluh detik," jawab Liora masih dengan suara sangat kecil.
"Hah?!" Charly terjingkat kaget mendengar jawaban Liora.
"Dia manusia gil*, kita memang harus sangat berhati-hati menghadapinya. Atau mungkin kita harus lebih gila dari dia," jelas Liora dengan pemikirannya selama dia menjadi sandra di sini.
Charly terdiam, mencoba berpikir cara mendapatkan remot yang mengendalikan bom dari tangan Roxi. Hingga tiba-tiba--
Brak! Dery yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, tiba-tiba menyerang Roxi. Dia menendang tangan Roxi yang memegang senjata, hingga akhirnya terlepas dan jatuh entah ke mana. Namun, laki-laki tua yang berdiri di samping ibunya balik menyerang Dery, dia menendang punggung Dery hingga membuatnya terhuyung ke depan dan hampir saja tersungkur jika Dery tidak cepat-cepat menyeimbangkan diri.
Charly pun memanfaatkan situasi untuk menyerang Roxi, sementara Liora bergerak cepat mengambil remot yang tergeletak di atas meja. Namun, ketika dia hendak mengambilnya, ibu Dery lebih cepat dan langsung mengantongi remot itu.
"Haish! Dasar wanita tua bodoh! Mau saja dimanfaatkan oleh laki-laki gile seperti mereka," gumam Liora menatap jengah mertua Tiara itu.
"Apa kamu bilang? Dasar wanita kasar, pantas saja anakku lebih memilih menikah lagi, ternyata kamu sama sekali tidak memiliki sopan santun!" hardik Ibu Dery dengan wajah melotot tajam.
"Heh!" Liora menghembuskan napas kasar dnegan senyum mengejek di bibirnya.
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau selama ini anakmu itu hanya menuruti perintahmu saja?! Dia itu sangat mencintaiku, jadi dia tidak akan pernha berkhianat kalau bukan kamu penyebabnya nenek tua," balas Liora tajam.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak drama, lebih baik berikan remot itu kepadaku sekarang juga, atau aku akan mengambilnya dengan cara kasar," ujar Liora yang mulai jengah dengan perdebatan tidak bermanfaat ini.
"Enak saja, tidak bisa! Ini adalah milik Roxi, hanya dia yang bisa mengambilnya dariku," ujar ibu Dery sambil menyembunyikan remot itu di belakang tubuhnya.
"Oh, begitukah? Baiklah, kamu yang memaksa aku untuk berbuat kasar, jadi jangan salahkan aku." Liora menyeringai lebar sambil bersiap untuk menyerang ibu Dery.
Ditengah pertarungan itu, tiba-tiba suara helikopter yang terbang mendekat pun terdengar, mengalihkan perhatian semua orang di sana. Bersamaan dengan itu, Roxi dan laki-laki tua itu pun mulai tersudut oleh Charly dan Dery.
Sementara Liora terus berusaha mengambil remot yang kini malah dimasukan ke dalam baju oleh wanita tua itu.
"Dasar bodoh! Kalau sampai tombol itu tertekan dan bom di gedung ini aktif, kita semua bisa mati!" geram Liora yang sudah mulai tidak sabar.
"Ambil saja kalau kamu bisa! Aku tidak akan pernah memberikan ini kecuali pada Roxi!"
"Dasar bodoh!" umpat Liora sambil langsung menendang bagian perut Ibu Dery. Bodo amat tentang kesopanan sebagai Tiara, saat ini nyawa mereka semua lebih penting daripada apa pun.
"Aakh! Dasar wanita kurang ajar! Menangu gil*!" teriak Ibu Dery sambil memeluk tubuhnya sendiri, dia meringkuk di atas lantai karena sudah tidak sanggup lagi untuk bangun.
Liora langsung menggeledah tubuh Ibu Dery, mencoba mencari letak remot itu di balik bajunya. Hingga saat Liora mendapatkannya, alangkah terkejutnya dia mendapati waktu di remot itu sudah berjalan, yang artinya bom sudah diaktifkan.
__ADS_1
Sementara itu, helikopter yanh diminta Charly sudah terlihat mendekat, di sana tampak seseorang menggelantung bersiap untuk menolong Charly dan yang lainnya.
"Charly, bawa Davi bersamamu sekarang!" ujar Panik Liora. Tidak ada yang dia pikirkan sekarang kecuali keselamatan Davi dan Charly dari ledakan bom yang hanya akan terjadi dalam hitungan detik lagi.
Charly mengalihkan perhatiannya pada Liora, dia melihat gurau panik dari wajah wanita itu.
"Remotnya sudah ditekan! Bomnya sudah aktif!" teriak Ibu Dery yang sadar akan hal itu. Suasana di sana pun menjadi panik. Roxi dan laki-laki tua yang merupakan kepercayaannya itu pun kini bangkit kembali dan menyerang Charly dengan brutal agar mereka dapat naik helikopter yang kini sudah terbang diatas mereka.
"Ramon! Selamatkan Davi dulu, aku akan mengurus di sini dulu!" teriak Charly pada Ramon yang berada di ujung tangga helikopter.
"Selesaiakn dengan cepat!" teriak Ramon sambil turun dan mengambil Davi yang meringkuk di pojokan karena takut dengan pertarungan yang terjadi di depannya.
Sementara itu, Liora mengacuhkan ibu Dery, dia berlari untuk membantu Charly dan Dery, melawan Roxi dan orang kepercayaannya itu. Apa lagi kini anak buah Roxi yang tadi sempat terkapar mulai bangkit dan menyerang kembali.
"Kamu ikut bersama Ramon, biarkan di sini aku dan Dery yang memebereskan," titah Charly pada Liora.
"Tidak! Kita akan pergi bersama!" tolak Liora tegas di sela melawan para anak buah Roxi dengan sekuat tenaga.
Setelah mengamankan Davi, Ramon kembali dengan membawa senjata api, dia segera menembak para anak buah Roxi agar mundur. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi, kini hitungan waktu mundur ledakan sudah dimulai, dan mereka hanya bisa menyelamatkan diri sendiri dan mengorbankan yang lainnya untuk ikut hancur bersama gedung tua itu.
Tembakan beruntun Ramon lakukan hingga membantai semua lawan Charly yang ada di sana. Kini Roxi dan anak buahnya sudah terkapar di lantai dengan berbagai kuka tambah di tubuh mereka. Dery yang menyadari kini ujung senjata api Ramon mengarah pada ibunya pun berlari menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu. Hingga ....
"Arghh!" Dery bersipuh di depan ibunya dengan punggung menjadi tameng peluru yang seharusnya mengenai ibunya.
"Tidaak! Dery!" teriak histeris ibunya sambil memeluk anak sematawayangnya yang telah berkorban untuk hidupnya.
"Dery, kenapa kamu lakukan ini, Nak?" Ibu Dery memangku kepala Dery yang sudah terlihat lemah. Air mata penyesalan pun terlihat mulai mengalir membasahi pipi wanita paruh baya itu.
Dery tersenyum, dia melihat wajah sang ibu dengan sorot mata penuh ketenangan. Sungguh, sejak ayahnya meninggal dia tidak pernha lagi merasakan hangatnya pelukan sang ibu, dan nyamannya tertidur di pangkuan ibu. Kini dia senang karena dia kembali mendapatkan semua itu, walau dalam keadaan meregang nyawa. Perlahantangan Dery terulur mengusap air mata yang mengalir di wajah ibunya.
"J–jangan menangis, Bu. Tersenyumlah, untukku sekali saja. A–aku rindu senyuman tulus ibu," ujar Dery dengan suara yang sangat lirih.
"Tidak! Kamu tidak boleh begini! Maafkan ibu ... maafkan kebodohan ibu!" Ibu Dery menggeleng cepat, dia sungguh sangat menyesal dengan semua yang terjadi pada anaknya. Namun, nyatanya penyesalan itu sudah tidak berarti lagi, karena semuanya sudah terlambat.
"Dery! Anakku! Aku mohon jangan begini! Bangun!" Ibu Dery semakin histeris ketika melihat Dery kini mulai menutup mata.
Sementara itu, Charly yang fokus pada Dery dan ibunya tidak menyadari jika Roxi masih bisa bergerak, dia mengambil senjata api yang tadi terlepar kemudian menarik pelatuknya dengan kekuatan yang tersisa. Hingga ....
"Hk!"
"Tidak!"
Kira-kira siapa yang tertembak?
__ADS_1