
Roxi memperlihatkan sebuah rekaman CCTV pada Liora dan Davi. Di sana terlihat Charly dan Dery yang kini tampak berada di dalam suatu ruangan yang sama. Charly terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, sementara Dery berjaga di dekat pintu.
Liora melebakan matanya ketika melihat jika seluruh gedung ini ternyata sudah dilengkapi dengan CCTV yang bisa merekem gerak-gerik mereka dari segala sudut. Wanita itu tampak melirik sinis pada Roxi yang sedag duduk bertompang kaki di kursi yang sudah disediakan.
Sialan! Ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Dari sini, laki-laki brengsek ini bisa melihat semua yang kita lakukan tanpa harus bertatap muka, batin Liora mengumpat kesal, kerena lagi-lagi mereka kalah satu langkah dari Roxi.
"Lihatlah, dua laki-laki bodoh itu sekarang sedang menyiapkan kendaraan untuk kita melarikan diri dari sini, honey," ujar Roxi dengan santainya.
"Cih! Jangan harap aku dan anakku akan mau ikut dengamu, dasar bajingan gila!" sinis Liora tanpa takut sedikit pun.
"Aku tak memberikanmu pilihan, honey. Kamu memang harus ikut bersamaku jika kamu tidak mau semua orang yang ada di sini mati," ujar Roxi masih dengan wajah santainya.
Liora mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Roxi, dia tentu tidak percaya dengan ucapan laki-laki itu, walau dalam hati Liora, dia juga sedikit khawatir dengan ucapan Roxi.
"Kamu pikir bisa mengancamku dengan perkataan murahan seperti itu, heh? Sepertinya sekarang kamu memang tidak sadar posisi. Baiklah biar aku beritahu apa yang sedang terjadi padamu." Liora tampak masih menatap geram laki-laki yang hanya berjarak sekitar lima meter darinya.
"Kamu lihat di luar sana? Posisimu kali ini sudah terpojok. Lihatlah di luar sana, hotel ini sudah dikepung. Kamu tidak bisa pergi ke mana pun, selain menyerahkan diri," sambung Liora lagi.
"Hahahaha!" Roxi tergelak ketika mendengar ucapan Liora yang terdengar lucu di telinganya.
Sementara itu, Liora tampak menatap bingung, ketika melihat Roxi malah tertawa karena ucapannya. Kini dia mengira jika laki-laki itu memang sudah gila.
"Lihatlah," ujar Roxi kemudian, sambil memberi kode pada salah satu anak buahnya untuk mengganti CCTV pada yang lainnya.
Liora kini semakin dibuat terkejut ketika melihat apa yang terlihat di layar datar itu. Sebuah peledak, dan itu lebih dari satu. Peledak itu bahkan tersebar di banyak sudut gedung bekas hotel itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, heh? Dasar manusia bajingan!" teriak Liora dengan menahan kesal.
Dia tahu jika gedung itu sudah cukup tua dan rapuh, dengan semua bahan peledak yang Roxi pasang, dia yakin itu mampu merobohkan gedung itu hingga rata dengan tanah. Liora memperkirakan jika memang semua peledak itu diaktifkan dalam waktu bersamaan, bukan hanya orang di dalam gedung yang akan menjadi korban, tetapi seluruh orang yang kini berada di sekitar gedung pun akan terkena imbas ledakannya.
"Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, jika kamu memang tidak memiliki pilihan. Karena, nasib mereka kini bergantung padamu, honey ... mau ikut denganku dan menyelamatkan mereka, atau mati bersama dengan semua orang yang ada di sini," ujar Roxi sambil memperlihatkan sebuah remot yang merupakan alat pengendali bom itu.
"Kamu tau? Sekali aku menekan tombol ini, maka tidak akan ada jalan lagi untuk menghentikannya. Mereka akan meledak secara bersamaan dalam waktu kurang dari satu menit, dan kamu pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?" sambung Roxi lagi dengan senyum yang terlihat cukup mengerikan untuk Liora, walau itu sama sekali tidak menggentarkan hatinya untuk melawan laki-laki itu.
Dengan mengetahui semua itu, semangatnya untuk bebas dari Roxi dan menyelamatkan semua orang yang ada di sana pun semakin berkobar. Begitu juga dengan kebenciannya pada Roxi, dia bahkan bersumpah, untuk lebih memilih mati daripada harus mengikuti laki-laki sikopat gila itu.
Untuk kesekian kalinya dia mencoba melepaskan ikatan di pergelangan tangannya, dia sudah tak perduli lagi walau rasa perih dan panas kini terasa di sana akibat dari gesekan kulit dan tali yang terus berulang, hingga kini dia yakin jika kulit mulus milik Tiara itu sudah terkelupas.
Beberapa saat kemudian ponsel di depan Roxi tampak berdering, Liora langsung mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu. Dia yakin jika itu adalah telepon dari Charly yang ingin mengatakan sesuatu pada Roxi, dia bisa melihat itu dari setengah layar di depannya yang kembali menampilkan ruangan di mana Charly dan Dery berada.
"Bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan? Sepertinya mulai sekarang kamu harus memikirkannya, karena kendaraan kita akan segera sampai," ujar Roxi dengan senyum yang sama di bibirnya.
Liora hanya membuang muka, dia begitu muak hanya untuk menatap laki-laki bajingan dan brengsek seperti Roxi. Jika saja dia bisa, ingin rasanya dia membunuh Roxi saat ini juga.
"Bagaimana?" tanya Roxi begitu dia mengangkat telepon itu.
"Helikopter yang kamu inginkan akan datang dalam waktu tiga puluh lima menit lagi," jawab Charly dari ujung sambungan telepon.
"Ada bom di sini! Efakuasi semuanya dari sini dan cepat pergi, Charly! Ke luar dari sana sekarang, kita semua diawasi! Ada CCTV di sana!" teriak Liora tiba-tiba.
"Kita tidak bisa percaya padanya, Charly. Pergilah sekarang ju-- eumm ... eummm!" Perkataan Liora terputus begitu saja karena salah satu anak buah Roxi yang langsung membungkam mulutnya.
__ADS_1
"Mamah! Jangan sakiti Mamah, Om! Jangan Jahat sama Mama!" teriak Davi yang melihat Liora diperlakukan kasar oleh anak buah Roxi.
Roxi langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan tatapan tajam pada Liora, dia kemudian berjalan menghampiri wanita itu dengan amarah yang menggebu.
"Bungkam mulut anak ini sekarang. Telingaku panas mendengar rengekannya," titah Roxi tanpa mengalihkan tatapannya pada Liora. Anak buah Roxi pun mengangguk dan langsing mengerjakan perintah bos besarnya itu.
"Dasar wanita ja*ang! Jadi kamu lebih memilih mati di sini daripada ikut denganku, heh?! Kamu pikir bisa menolaku seperti ini?!" sentak Roxi sambil menjambak rambut Liora kuat, hingga membuat kepala Liora mendongak paksa.
"Cuih! Aku lebih memilih mati daripada harus ikut bersama dengan pria gila sepertimu," geram Liora.
.
"Liora! Liora, apa kamu baik-baik saja di sana? Liora, jawab aku!" teriak Charly begitu mendengar suara teriakan dari Liora.
"****! Dasar bajingan gila!" kesal Charly ketika dia menyadari jika sambungan teleponnya sudah terputus.
Charly mengacak rambutnya, sambil berterak kesal, napasnya terdengar memburu, hingga dadanya terlihat naik turun dengan cepat. Pikirannya berputar cepat, mengingat kembali apa yang tadi diucapkan oleh Liora, walau itu terdengar samar.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak memanggil nama Liora? Siapa itu Liora?" tanya Dery yang merasa tidak mengenal nama yang baru saja dipanggil oleh Charly.
Charly menatap wajah laki-laki yang kini tengah berdiri di sampingnya dengan wajah bingung bercampur khawatir. Sebenarnya Charly belum sepenuhnya bisa mempercayai Dery, walau sekarang laki-laki itu terlihat tidak tahu apa-apa. Walau bagiamana pun Dery sekarang, laki-laki itu tetap saja pernah menjadi anak buah Roxi.
"Tidak ada, itu hanyalah nama rekanku," jawab Charly dengan nada suara sangat datar dan dingin.
Charly kini berjalan menjauhi Dery sambil mencoba terus mengingat apa yang diucapkan oleh Liora, matanya pun mengedar mencari apa yang mungkin disembunyikan oleh Roxi, dan petunjuk itu akan mengarah pada keberadaan Liora saat ini.
__ADS_1