
Tiara terdiam ketika tiba-tiba Dery memberikan sebuah lukisan abstrak yang dia tahu itu sangat mahal. Bahkan sebelum jiwanya terjebak di tubuh Tiara, Liora dan para anggota gengster sangat penasaran dengan pemilik lukisan itu, karena kabar yang beredar kalau lukisan itu telah menghilang beberapa tahun lalu.
Namun, sekarang dia bisa mendapatkan lukisan itu dari Dery yang notabene adalah suaminya sendiri dan sedang mengelola perusahaan kedua orang tuanya.
"Ini lukisan apa, Mas? Pasti lukisan ini mahal, ya?" tanya Tiara berpura-pura polos. Ya, hanya itu lah yang sekarang bisa dia lakukan di hadapan Dery. Berpura-pura polos.
"Hanya lukisan biasa saja. Kemarin aku menghadiri pameran lukisan milik salah satu rekan kerja, makanya aku membeli lukisan ini darinya," jawab Dery dengan suara yang terdengar lembut.
"Oh, begitu ternyata." Tiara mengangguk-anggukkkan kepala dengan mata masih menatap lukisan di tangannya. Dalam hati dia sama sekali tidak memepercayai apa yang dikatakan oleh Dery.
"Terima kasih, Mas," sambung Tiara lagi sambil tersenyum tipis pada Dery.
"Apa ini, Mas? Kamu memberikan lukisan mahal itu untuk Tiara? Sedangkan aku tidak kamu berikan apa pun?" Tiba-tiba Niken melakukan protes begitu melihat Dery memberikan lukisan pada Tiara. Matanya tampak melotot dengan kedua tangan berkecak pinggang.
Jelas saja, suara Niken langsung mengalihkan perhatian Tiara dan Dery yang sedang mengobrol di depan kamar Tiara.
"Kalau kamu mau, ambil saja. Bukannya kamu suka dengan barang bekas?" ujar Tiara santai. Matanya melirik kilas pada Dery yang tampak terkejut dengan ucapannya.
Ya, Tiara berkata begitu memang sebagai sebuah sindiran kepada Dery dan Niken. Sepertinya maksud perkataan itu sampai pada Dery, hingga raut wajahnya langsung berubah.
Dery tersenyum tipis kemudian beralih pada Niken, dia meraih pinggang wanita yang sedang hamil itu seraya berkata. "Sudahlah, ayo kita ke atas, aku juga memiliki hadiah untuk kamu."
Lebih baik aku hindarkan mereka berdua, dari pada aku harus mendengar keributan di hari yang masih pagi begini, batin Dery sambil membawa Niken menjauh.
Sontak ucapan Dery langsung membuat Niken tersenyum senang.
"Benarkah, apa itu, Mas? Perhiasan? Atau tas edisi terbatas?" tanya Niken dengan wajah sumringah dan nada suara manja.
Tiara tidak perduli dengan kemesraan yang sengaja dipertontonkan oleh Dery dan Niken di depannya. Sambil berdecak kesal, Tiara langsung masuk begitu saja ke kamar.
Dery tersenyum tipis saat ujung matanya melihat Tiara tampak kesal karena ulahnya yang langsung mengalihkan perhatian pada Niken. Laki-laki itu mengira jika Tiara cemburu kepadanya dan Niken.
__ADS_1
Padahal Tiara sama sekali tidak merasa cemburu pada Dery dan Niken, dia hanya jengah melihat kemesraan antara sepasnah suami istri itu yang terlihat sekali hanya dibuat-buat. Bahkan Tiara bisa melihat jika Niken menebar senyum manja palsu kepada Dery, hanya karena menginginkan hadiah yang sudah disiapkan oleh laki-laki itu.
"Ck, dasar bodoh!" umpat Tiara begitu dia menutup pintu kamar miliknya, kepalanya menggeleng miris melihat kebodohan Dery yang mau saja dimanfaatkan oleh Niken.
Tiara tampak menaruh lukisan itu di atas ranjang, dia meneliti setiap detail yang terlihat, memastikan jika lukisan itu memang asli. Sebagai seorang ketua gengster yang sering melakukan pencurian barang berharga, tentu saja Liora tahu cara untuk membedakan lukisan asli atau palsu.
Apa selama ini Dery selalu memberikan barang berharga pada Tiara? Apa ini adalah modus pencucian uang? Tapi, kalau memang benar, sekarang di mana Tiara menyimpan semua barang yang diberikan oleh Dery? Atau apa mungkin Tiara memang selama ini menyukai lukisan?
Liora membatin dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya bingung, sungguh hatinya kembali dilanda gundah saat ini karena sikap Dery pada Tiara. Liora sangat tahu jika lukisan itu pasti harganya sangat mahal, tetapi kenapa Dery malah memberikan lukisan ini padanya?
Atau mungkin ini salah satu caranya merayu Tiara agar tidak pergi meninggalkannya? Tiara kembali membatin, menerka apa maksud Dery padanya.
Sementara itu, tangannya digunakan untuk mengambil ponsel di saku celana kemudian menghubungi sebuah nomor yang bisa memberikannya informasi tentang Dery.
Namun, beberapa kali Tiara menelepon tetap tidak ada jawaban dari laki-laki yang selalu membantunya itu. Suara ketukkan di pintu mengalihkan perhatian Tiara, dia memilih untuk memotret lukisan itu, kemudian mengirimkannya pada nomor tersebut. Tiara menaruh lukisan itu di bawah ranjang agar tidak terlalu terlihat mencolok.
"Iya, sebentar," ujarnya sambil membuka pintu.
"Non, Den Davi gak mau sarapan, katanya nungguin Non Tiara," ujar Mak Onah, yang berdiri di depan pintu, raut wajahnya jelas sekali jika dia sedang khawatir saat ini.
"Ya udah aku ke kamar Davi sekarang, Mak tolong bawa sarapan aku ke kamar Davi, ya," ujar Tiara.
"Iya, Non." Mak Onah langsung pergi ke dapur untuk mengambil sarapan milik Tiara, sementara itu Tiara langsung menghampiri anak itu yang pasti sudah merajuk karena dia lama.
Tiara lebih dulu mengetuk pintu kamar Davi sebelum masuk. Tidak mendengar ada jawaban dari dalam, wanita itu kemudian berseru sambil mulai menempelkan tangannya di gagang pintu.
"Mama masuk ya, sayang," ujar Tiara, kemudian membuka pintu perlahan.
Benar saja, Davi tampak sedang duduk bersidekap dada di atas ranjang pipinya tampak menggembung, menunjukkan pada Tiara bahwa saat ini Davi tengah merajuk. Wanita itu tampak tersenyum tipis sambil menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu.
"Boleh mama masuk?" tanya Tiara kemudian.
__ADS_1
Davi tampak melihatnya tanpa memberikan jawaban. Tiara masih mempertahankan senyumnya, dia kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke kamar anak itu.
"Davi marah sama, Mama?" tanya Tiara sambil duduk di samping anak itu.
Davi masih membisu.
"Maafin Mama ya, sayang. Sekarang kita makan yuk, gimana kalau Mama yang suapin?" tanya Tiara sambil mulai mengambil piring berisi menu sarapan yang terlihat masih utuh.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya, Mak Onah tampak muncul dengan nampan di tangannya, setelah Tiara mempersilahkan masuk. Davi langsung melihat Tiara begitu melihat Mak Onah membawa menu sarapan lagi.
"Mama, belum makan?" tanya Davi dengan mata melebar.
Tiara tersenyum. "Bukannya Mama janji mau sarapan bersama Davi."
Senyum di wajah anak itu pun langsung terlihat, awalnya Davi mengira kalau Tiara lupa jika mereka janji untuk sarapan bersama, makanya dia marah dan tidak mau berbicara. Namun, setelah melihat jika sang Mama juga belum sarapan, dia mulai mengerti, mungkin Tiara ada urusan lain hingga baru datang ke kamarnya.
"Ya udah, Davi makan sendiri saja kalau gitu," ujar anak itu sambil mengambil piring di tangan Tiara.
Tiara dan Mak Onah saling pandang sambil tersenyum, melihat Davi yang tampak mulai menyantap sarapannya.
Tiara pun mengambil piring yang sudah dibawakan oleh Mak Onah, mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan hati yang bahagia.
Satu lagi ikatan yang membuat Liora tidak bisa mengacuhkan kehidupan keduanya ini. Yaitu hubungannya dengan Davi, mereka berdua sama-sama saling membutuhkan. Davi membutuhkan Liora sebagai Tiara, dan Liora membutuhkan Davi untuk membuatnya tetap bertahan di rumah ini.
Ya, satu rasa yang membuat Liora terus bertahan untuk menjadi Tiara dan mau melakukan permintaan Tiara di dalam mimpinya adalah, cara Davi memandangnya. Setidaknya di dekat Davi, Liora merasa memiliki keluarga yang sangat menyayanginya walau sebenarnya yang disayangi Davi adalah Tiara.
Anak itu juga membuatnya merasa memiliki keluarga kembali. Merasakan bagaimana rasanya dia selalu ditunggu kehadirannya dan menyambut kedatangannya dengan mata berbinar dan wajah bahagia.
Rasa itu rasanya sudah hilang sejak kedua orang tuanya meninggal, dan kini Liora bisa merasakannya kembali dari Davi dan Mak Onah. Walau dia tahu jika perhatian itu ditunjukkan kepada Tiara, tetapi setidaknya selama dirinya masih ada di dalam tubuh wanita itu, Liora ingin menikmati semua kasih sayang yang telah lama hilang darinya.
......................
__ADS_1
Kakak semua mampir di karya aku yang baru yuk, yang baru rilis di PF F-z-o. Masih baru, tolong ramaikan ya Kak😍