Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.74 Terkecoh lagi


__ADS_3

"Rere, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi pada hari itu? Kenapa kamu bisa kecelakaan?" tanya Liora setelah dia bertanya tentang kondisi sahabat Tiara itu.


Ya, ketika dia berada di perjalanan menuju ke lokasi kapal pesiar, tiba-tiba Rere menghubunginya dan meminta bertemu secepatnya dengan Liora. Karena itu juga akhirnya Liora terpaksa berpisah dengan Charly yang harus segera memeriksa kapal pesiar, sementara dia menemui Rere yang masih dirawat di rumah sakit.


Flashback....


"Oma, kayaknya tante Rere sakit, dia gak mau turun dari mobil," ujar Davi dengan polosnya. Ternyata anak itu merasa khawatir pada kondisi Rere yang terlihat sangat pucat, anak kecil itu mengira jika Rere tengah sakit, hingga dengan polosnya dia mengadu pada kedua orang tua Rere.


"Ayo, kita lihat tante Rere," ujar ayah Rere sambil mengajak Davi untuk ke luar bersama-sama.


Melihat itu, orang yang menodongan senjata api pada Rere pun mulai panik, dia meminta teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah. Apa lagi, penjaga gerbang pun ikut menghampiri mobil wanita itu.


Alangkah terkejutnya Davi dan semua orang ketika Rere ke luar dengan seorang laki-laki yang menodongkan senjata api pada wanita itu.


"Mundur kalian semua, atau aku akan memastikan peluru di dalam senjata ini menembus kepalanya," ancam laki-laki dengan hoodie hitam itu.


"Jangan! Jangan sakiti anakku!" teriak histeris ibu Rere, dia sudah menangis melihat nyawa anakknya tengah terancam.


"Mau apa kamu? Kamu mau uang? Berapa? Akan aku kirimkan sekarang juga, asal kamu lepaskan anakku." Ayah Rere pun ikut panik, dia mencoba bernegosiasi dengan si pengancam yang dia kira ingin memeras atau melakukan perampokan.


"Heh, aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin anak itu, serahkan dia padaku, maka aku akan melepaskan wanita ini!" ujar si pengancam itu.


"Tidak, jangan berikan Davi, Mah, Pah!" teriak Rere cepat, hingga membuat si pengancam geram.


"Diam!" bentak si pengancam sambil mengencangkan lengan yang mencekik leher Rere dari belakang, hingga wanita itu sulit untuk bernapas.


Tanpa mereka tahu, salah satu penjaga gerbang yang baru saja ke luar dari pintu belakang mencoba melawan, dia memukul belakang kepala si pengancam dengan cukup kerasa hingga Rere bisa terlepas.


Si pengancam pun semakin geram dengan perlawanan dari keluarga Rere, hingga pertarungan itu pun tidak bisa terelakkan, semua penjaga berusaha melumpuhkan si pengancam, hingga di saat mereka hampir berhasil menangkap si pengancam, tiba-tiba dua buah mobil menerobos masuk dan langsung menyergap seluruh keluarga Rere dan pekerja di sana.


Mereka mengacaukan rumah dan menyekap semua pekerja, sementara Rere, Davi, dan kedua orang tua Rere dibius dan dimasukan ke dalam mobil yang sama. Hingga di tengah jalan mereka melakukan skenario untuk membuat Rere dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan, sementara Davi mereka pindahkan ke mobil yang berbeda.


Flashback off....


"Kejadian itu begitu cepat, Liora, maafkan aku karena tidak bisa menjaga Davi," ujar Rere penuh sesal.


"Tak apa, harusnya aku yang meminta maaf karena sudah melibatkan kamu dan orang tuamu, sampai membuat kalian mengalami kecelakan seperti ini," jawab Liora.

__ADS_1


"Oh ya, apa selama itu kamu tidak mendengar apa pun? Mungkin mereka sempat menyebutkan tempat Davi disekap sekarang?" tanya Liora penuh harap.


Rere terlihat mencoba mengingat sesuatu, wanita itu tampak berpikir keras, hingga dia mengingat sesuatu yang mungkin bisa membantu Liora untuk mencari Davi.


"Hotel ... di sebuah bukit," ujar Rere ragu.


"Aku sempat mendengar mereka menyebutkan itu, tapi aku tidak ingat nama bukitnya, Liora. Maaf," jawab Rere lebih yakin dari sebelumnya.


"Gak apa, Re. Terima kasih untuk infonya, aku harus segera pergi sekarang!" ujar Liora sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Hati-hati, Liora, mereka bukan orang-orang biasa. Maaf, aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu kamu," ujar Rere penuh sesal. Dia mengalami cedera di kaki, hingga membuatnya harus berjalan menggunakan tongkat untuk sementara waktu.


"Kamu sehat lagi saja, itu sudah membantuku, Re. Jadi lakukan perawatan dengan baik, agar aku tidak merasa bersalah," jawab Liora sebelum dia ke luar dari ruang rawat Rere.


"Oh ya, sampaikan salamku pada kedua orang tuamu juga, maaf aku belum bisa menjenguk mereka," ujar Liora lagi kemudian benar-benar pergi dari ruang Rere.


Dalam setiap langkahnya dia mencoba menghubungi Helen yang pasti sedang memantau Charly sekarang, untuk memberi tahu apa yang dia dapatkan dari Rere.


.


Charly menghentikan mobilnya di dekat sebuah dermaga sesuai dengan lokasi yang telah diberikan oleh Helen sebelumnya, dia masuk perlahan sambil sambil mengendarkan pandangannya, memastikan jika suasana di sana memang aman. Dia sana ada Ramon. yang sudah menunggu kedatangannya sejak beberapa saat yang lalu.


Perlahan kedua pria itu pun mendekat dan mulai masuk ke dalam kapal pesiar. Di sana mereka baru mendapati beberapa orang laki-laki yang tampak terkejut ketika melihat kedatangan Charly dan Ramon.


"Siapa kalian?" tanya salah satu di antara dua orang yang kini berada di depan Charly dan Ramon.


"Di mana anak yang kalian culik?!" tanya Charly.


Kedua laki-laki itu tampak melebarkan matanya, mereka sepertinya tahu apa yang dimaksud oleh Charly, hingga akhirnya mereka menyerang Charly dan Ramon secara brutal. Namun, itu tak membuat Charly gentar, laki-laki itu sudah terbiasa untuk menghadapi situasi seperti ini.


Di atas kapal pesiar itu pertarungan pun terjadi, apa lagi ternyata dari dalam ada banyak lagi laki-laki yang datang dan saling membantu melawan Charly dan Ramon.


Semua itu membuat Charly dan Ramon cukup kewalahan, beberapa kali Charly mendapatkan pukulan dari lawan mereka yang kini sudah bertambah menjadi delapan orang.


Brak! Salah satu dari empat orang lawan Charly terpelanting dan menabrak dinding kapal. Tidak perduli dengan itu, Charly kembali memutar tangan salah satu lawannya kemudian menendang yang lainnya, hingga--


Byur! Dua orang lawan Charly berhasil jatuh ke dalam air tanpa bisa Charly tahan. Charly menyeringai melihat semua itu. Ramon yang melihat itu ikut mengikuti Charly, hingga satu orang lawannya pun menyusul terjun bebas ke dalam lautan.

__ADS_1


"Yuhu, ini menyenangkan!" teriak Ramon, walau beberapa luka pun terlihat di wajahnya.


Charly hanya menggeleng sambil masih fokus melakukan pertarungan dengan dua orang sisanya. Laki-laki itu tampak memberikan tendangan beruntun pada satu orang di depannya, kemudian melakukan salto hingga kakinya berhasil menendang dagu pria satunya lagi.


Seluruh lawannya sudah ambruk begitu saja. Charly menatap Ramon yang masih sibuk dengan dua lawannya lagi.


"Jangan khawatirkan aku, kamu masuk saja, cepat cari anak kecil itu!" teriak Ramon sambil kembali menendang lawannya hingga menyusul yang lainnya ke dalam lautan. Dia seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Charly.


"Oke!" jawab Charly sambil bergegas untuk masuk ke dalam kapal pesiar itu.


Namun, dirinya kembali mendapatkan kekecewaan, ketika melihat tidak ada siapa pus di sana. Kapal pesiar itu kosong, tanpa ada bekas penyekapan atau penculikan sekali pun.


"Haish, sial!" umpat Charly sambil kembali ke luar.


"Mana anak itu? Kenapa kamu hanya sendiri?" tanya Ramon yang baru saja menyelesaikan pertarungannya.


"Tidak ada, sepertinya kita kembali terkecoh," jawab Charly, kemudian menatap dua orang yang sudah babak belur di depannya.


Dengan wajah mengeras, Charly menghampiri dua orang itu lalu mencengkram baju bagian depannya hingga tubuh mereka terangkat.


"Di mana kalian sembunyikan anak itu, hah?!" tanyanya dengan rahang mengeras dan urat leher yang tampak menonjol, menandakan dia sedang menahan amarahnya yang sudah hampir meluap.


"K--kami tidak tau," ujar salah satu diantara mereka.


"Katakan sekarang, atau kalian tidak akan selamat!" teriak Charly dengan wajah yang menggebu.


Dua kali berhasil dikelabuhi oleh Roxi membuatnya geram bukan main, rasa marah bercampur kesal kini mulai menumpuk di dalam dada, hingga membuat Charly tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Kami benar-benar tidak tahu, kami hanya disuruh untuk menjaga kapal ini karena akan ada orang yang datang untuk mencurinya," jawab satu laki-laki lagi.


BRUK! Charly menghempaskan tubuh kedua laki-laki itu sambil berdecak kesal. Dia benar-benar masuk kembali ke dalam permainan Roxi.


.


Sementara itu di suatu tempat, Roxi tampak menyeringai lebar ketika melihat rekaman CCTV di sebuah kapal pesiar yang menampilkan video pertarungan Charly dan beberapa orang laki-laki lainnya.


"Dasar bodoh! Mudah sekali menipu para pria tidak punya otak itu," gumam Roxi sambil terus menatap layar datar di depanya.

__ADS_1



__ADS_2