
Charly masuk ke sebuah hotel yang berada di pinggiran kota. Dia kemudian menaiki lift lalu ke luar di lantai empat, berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya sampai di depan pintu hotel bertuliskan angka 425, dia kemudian mengetuk pintu itu beberapa kali.
Tidak lama menunggu seorang laki-laki paruh baya tampak membuka pintu kemudian mempersilahkan Charly untuk masuk ke dalam.
"Apa yang kamu ingin sampaikan hingga menyuruh aku datang?" tanya Charly begitu dia duduk di sofa kamar hotel tersebut.
Laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Jordi –mantan pengacara keluarga Tiara– tampak berjalan menuju ke dekat ranjang, dia mengambil sebuah map kemudian memberikannya pada Charly.
Tanpa bertanya Charly langsung mengambil map itu, dia kemudian membacanya dengan seksama, keningnya mengernyit dalam ketika melihat beberapa rangkaian kata yang terasa janggal di sana.
"Apa maksudnya ini? Kenapa surat pengalihan hak kuasa bisa ada dua?" tanya Charly sambil mengalihkan pandangannya pada laki-laki paruh baya di depannya, kemudian kembali menatap lembar kertas di tangannya.
"Itu adalah surat yang asli," jawab Jordi yang langsung membuat Charly mengangkat kepala dan melihatnya dengan tatapan tajam.
"Jadi kemarin kamu menipuku?!" tanya Charly dengan emosi yang mulai mencuat, dia mengeraskan rahang hingga urat di sekitar leher terlihat menonjol.
"Tidak! Aku sama sekali tidak menipumu," jawab Jordi cepat.
"Lalu?" tekan Charly masih mencoba menahan emosinya. Dia tidak suka dipermainkan, apa lagi oleh laki-laki lemah dan pengecut seperti Jordi.
"Yang aku berikan kemarin adalah surat hak kuasa yang sudah dimanipulasi oleh Dery dan keluarganya. Sementara ini adalah surat asli yang sengaja aku sembunyikan," jelas Jordi dengan wajah sedikit panik.
Charly terdiam, dia kembali mengalihkan perhatiannya pada surat itu, ada sesuatu yang berbeda dari keduanya. Di surat yang ini dinyatakan jika keluarga Dery hanya berhak mengelola perusahaan sampai Tiara berusia dua puluh lima tahun, setelah itu mereka wajib menyerahkan kembali perusahaan itu pada Tiara beserta semua saham milik wanita itu. Sementara di surat yang palsu tidak ada batas waktu untuk keluarga Dery mengelola perusahaan, mereka bahkan meminta agar Dery menikah dengan Tiara sebagai imbalan karena telah membesarkan Tiara, juga agar hubungan di antara mereka tidak pernah terputus walau kedua orang tua Tiara telah meninggal.
Carly menggeleng lemah, sungguh permainan yang sangat cantik dan terencana, sepertinya keluarga Dery memang sudah merencanakan ini sebelumnya.
"Lalu, apa tanda tangan di sana juga dipalsukan?" tanya Charly kembali beralih pada Jordi.
"Benar, entah bagaimana bisa mereka membuat tanda tangan palsu yang hampir sempurna. Tapi, aku yakin kamu pasti tahu mereka memang memiliki kemampuan untuk melakukan semua itu," jawab Jordi yakin.
Charly terdiam, dia tentu tahu bagaimana Dery bisa memalsukan tanda tangan dengan sangat baik. Jika memang mereka memiliki koneksi dengan Roxy maka hanya memalsukan tanda tangan akan sangat mudah bagi mereka.
__ADS_1
"Baiklah, surat ini akan saya bawa, terima kasih sudah mau memberikannya padaku," ujar Charly sambil kembali menutup map di tangannya kemudian beranjak berdiri.
"T–tapi, kamu masih ingat kan dengan janjimu tempo hari, kalau aku dan keluargaku akan aman dari mereka." Jordi tampak berkata dengan wajah gusar. Dia menahan Charly yang hendak berpamitan.
"Keluargamu sudah dalam perjalanan menuju ke tempat yang aman, begitu mereka sampai akan aku kirimkan foto mereka padamu," jawab Charly yakin.
"Kamu bisa menyusul setelah masalah ini selesai, dan Tiara mendapatkan perusahaan kedua orang tuanya kembali. Sementara itu tetaplah di sini, jangan pernah ke liar dari kamar dan jangan membuka pintu jika bukan aku dan pekerja hotel yang biasa melayanimu," sambung Charly lagi.
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku akan berusaha untuk mengingat lagi apa yang bisa kita gunakan untuk menekan Dery dan mengambil alih perusahaan dari laki-laki licik itu." Jordi berbicara dengan yakin, walau dia sendiri tidak tahu bisa bertahan hingga akhir atau tidak di dalam masalah antara Tiara dan Dery. Namun, ini semua dia lakukan untuk menebus kesalahannya yang lalu kepada keluarga Tiara.
Charly mengangguk, dia kemudian berpamitan dan ke luar lagi dari hotel itu. Laki-laki itu melanjutkan perjalanannya ke tempat selanjutnya.
Waktu sudah melewati makan siang ketika Charly menghentikan mobilnya di sebuah perkampungan, dia berada di sini karena mencari tahu alamat penerima paket guci yang dulu dikirimkan oleh Dery, setelah cukup lama mencari ternyata itu adalah alamat rumah yang berada di perkampungan yang cukup terpencil dan jauh dari kota.
Yang membuat dia sulit untuk menemukannya karena ternyata itu juga hanyalah alamat rumah yang sangat tua dan seperti tidak terawat, di halamannya terlihat sudah banyak rumput liar yang tubuh cukup tinggi.
Untuk beberapa waktu laki-laki itu hanya duduk diam di dalam mobil sambil terus memperhatikan rumah yang tampak sudah tak berpenghuni, di depannya. Keningnya tampak berkerut dalam, dia merasa ada sesuatu di dalam sana, yang harus dia cari tahu secepatnya.
Charly sudah cukup memastikan jika ada alamat yang dia cari dan itu adalah rumah tua, dia hanya perlu kembali besok siang untuk memastikan apa yang ada di dalam sana.
.
Sementara itu, Tiara yang baru pulang mengantar Davi ke sekolah kini kembali ditahan oleh Niken yang mengajak Tiara untuk berjalan-jalan bersama, wanita itu bahkan menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam yang baru saja dia minta pada Dery untuk bekal mereka berdua.
"Aku tidak tertarik," tolak Tiara langsung.
"Ayolah, Tiara, aku hanya ingin mengajak kamu untuk berbelanja peralatan bayi. Kamu, kan sudah pernah melahirkan, jadi kamu pasti tahu mana produk yang baik dan akan dibutuhkan setelah anak ini lahir," ujar sendu Niken yang jelas terlihat itu dibuat-buat.
"Aku tidak punya waktu untuk itu, lagi pula kehamilan kamu juga masih lama untuk melahirkan," tolak Tiara masih bersikap acuh pada Niken.
Wanita yang tengah hamil itu memulai drama, dia menangis karena sikap acuh Tiara hingga banyak para pekerja di rumah itu berbisik menghardik Tiara yang kini berperan sebagai antagonis.
__ADS_1
"Ck!" Tiara berdecak kesal, sungguh sekarang dia sudah merasa sangat jengah pada setiap drama di rumah ini.
"Aku tidak suka berbelanja, aku juga tidak memiliki alasan untuk menemani kamu, jadi kalau kamu mau berbelaja maka ajak saja suami tersayangmu itu," ujar Tiara tanpa perduli pada tangisan palsu Niken.
Tiara melenggang pergi dan masuk ke rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa perduli pada Niken lalu mengunci pintunya. Wanita itu menghembuskan napasnya kasar, hidupnya saat ini terasa bagaikan di dalam penjara. Tidak ada ketenangan sama sekali, di rumah ada Niken yang selalu mengganggu sementara ke luar juga selalu diawasi oleh sopir yang ditugaskan oleh Dery.
"Sial! Dery dan Niken benar-benar tidak membiarkan aku bernapas sama sekali, mereka memang pasangan gila!" runtuk Tiara menahan kesal yang sudah sangat besar.
Jika saja dia bisa pergi ke rumah Charly, maka dirinya akan lebih memilih diam di rumah itu dan menikmati ketenangan di sana. Namun, sayang sekali saat ini dia tidak bisa melakukannya, penjagaan di rumah diperketat, sepertinya Dery benar-benar berniat ingin mengurungnya di rumah.
Tiara merebahkan diri di atas ranjang, dia lelah dengan tugas yang tidak ada hentinya, entah sampai kapan dia akan terjebak di dalam tubuh Tiara, dan di mana Tiara asli berada sekarang. Ingin sekali dia bertanya pada Charly, bagaimana nasib tubuhnya di California, apa dia selamat dan sekarang bertukar tubuh dengan Tiara, atau memang sudah mati.
"Bagaimana nasib tubuhku di sana? Apa aku masih memiliki kesempatan hidup atau aku sudah mati? Apa tubuhku ditemukan?" gumam Tiara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia mengingat bagaimana dulu dirinya terjun dari jembatan dan terlempar ke lautan, sekuat tenaga dia berusaha berenang, tetapi rasa sakit di dalam dada dan kesadaran yang mulai menghilang membuatnya bahkan tidak bisa naik lagi ke permukaan, tubuhnya lemas hingga akhirnya kesadarannya terenggut begitu saja, kemudian dia tersadar sudah berada dalam tubuh Tiara.
Walau terkadang dia tidak ingin pergi dari tubuh ini, tetapi dia tetap saja Liora yang menginginkan kembali pada jati dirinya sendiri. Tidak ada orang yang ingin hidup sebagai orang lain, begitu juga dengan Liora. Perannya sebagai Tiara sekarang, memang mendapatkan cinta dan pelajaran hidup yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan jati dirinya sendiri yang kini mungkin sudah hampir terkikis karena rasa sayang yang mulai tumbuh pada orang yang dia temui saat ini.
Seorang anak yang tampan dan patuh, ibu asuh yang begitu sangat menyayanginya, dan ... hubungannya bersama Charly–
"Ish, mikir apa sih aku?! Kita hanya rekan kerja, jangan ada perasaan lebih, Liora, dia mungkin tidak akan pernah menerima kamu jika dia tahu kalau kamu adalah Liora." Liora menggelengkan kepala saat pikirannya tiba-tiba saja bergerak liar pada laki-laki itu. Tiba-tiba saja hatinya teras sakit saat memikirkan semua itu.
"Sadarlah Liora, status kamu sebagai Tiara maupun Liora tidak akan bisa mempersatukan kamu dan Charly, jadi jangan pernah berpikir lebih tentang laki-laki itu." Liora bangun, dia duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk, wanita itu tengah mengatur napas yang tiba-tiba saja terasa sesak. Perih terasa mengingat nasib yang selalu mempermainkannya.
Getar ponsel yang dia biarkan tergeletak di atas ranjang mengalihkan perhatian Tiara, matanya melebar ketika nama yang kini tengah dia pikirkan terlihat di layar.
Tanpa sengaja satu panggilan terlewatkan begitu saja, entah mengapa suasana hatinya saat ini sangat tidak baik, rasanya dia ingin menangis saja. Walau dia seorang ketua gengster, tetapi Liora tetaplah seorang wanita, terkadang hatinya juga terasa rapuh seperti sekarang ini.
Suara rintik gerimis yang mulai turun mengalihkan perhatian wanita itu, dia menoleh menatap ke liar jendela di mana air tampak mulai turun membasahi dedaunan di luar sana. Tiara tersenyum miris, bahkan saat ini alam pun seakan sedang mendukung suasana sendu hatinya.
Saat ini dia merasa tidak ada kasih sayang yang tersisa untuknya, semua yang dia jalani kali ini adalah kepalsuan, begitu juga semua kasih sayang yang dia dapatkan. Yang mereka tahu dia adalah Tiara, dan kasih sayang dan perhatian itu pun tertuju hanya untuk Tiara, bukan dirinya. Bukan Liora.
Telepon kembali bergetar dengan nama yang sama untuk ke dua kalinya, Tiara kembali menatap layar ponselnya.
__ADS_1