
Liora mengerjapkan matanya perlahan, kerutan dalam terlihat di keningnya dengan mata yang mencoba memandang suasana di dalam ruangannya saat ini. Ruangan bernuansa putih itu terlihat sangat asing, ditambah dengan suasana yang terasa sunyi bagaikan tidak ada orang lagi di sana, membuat wanita itu semakin penasaran.
"Apa aku sudah mati?" gumam Liora sambil mulai mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, rasa sakit dan kaku di seluruh tubuhnya, menghentikan pergerakannya hingga dia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Di mana aku?" gumam Liora lagi sambil kembali mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, semuanya tetap saja terasa sangat sulit untuknya.
Brak! Suara pintu terbuka membuat Liora mengalihkan perhatiannya, dia melihat seseorang yang kini tampak berdiri mematung di depannya.
"A--Anda sudah sadar, Nona?" gumam seseorang yang kini berjalan mendekat padanya.
"Deren?" Liora bergumam pelan, dia cukup terkejut dengan siapa yang kini beridiri di depannya.
Ya, itu adalah Deren, asisten sekaligus orang yang ayahnya percaya untuk selalu mendapinginya. Keberadaan laki-laki itu membuatnya sadar, jika sekarang dia sudah berada di dalam tubuhnya kembali.
"Nona, mengingatku?" tanya Deren dengan senyum lebar saat mendengar gumamam pelan dari bibir Liora.
"Tunggu sebentar, biar aku panggilkan dokter Gisel," sambung Deren lagi sambil berbalik pergi ke luar dari ruangan itu lagi.
Liora menghembuskan napasanya kasar, dia mengangkat tangannya agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi padanya sekarang ini.
"Jadi, sekarang aku sudah kembali ke dalam tubuh asliku?" gumam Liora sambil menatap jari-jari tangannya yang terlihat lebih panjang daripada jari milik Tiara.
Apakah semua itu nyata? Tiara, Davi, Rere, dan Charly? Apa semua kejadian itu nyata? Atau aku hanya bermimpi? batin Liora, mengingat masa dia masih menjadi Tiara dan hubungannya dengan Dery.
"Jadi selama ini aku belum mati?" gumamnya lagi dengan wajah yang terlihat linglung.
"Akhirnya Anda sadar juga, Nona." Seorang wanita paruh baya terlihat berjalan menghampirinya sambil tersenyum senang.
Gisel, seorang dokter sekaligus adik angkat ayahnya yang sudah mengasuh Liora sejak ibunya meninggal. Dia adalah wanita yang ditolong ayah Liora ketika hampir saja mendapatkan pelecehan seksual dari para preman di pinggir jalan.
Ayahnya juga yang membiayai sekolah Gisel hingga akhirnya bisa menjadi seorang dokter dan mengabdikan dirinya di dalam gengster yang kini dipimpin oleh Liora. Kini, Gisel sudah menjadi seorang profesor dengan berbagai prestasi yang dia raih dengan sangat baik dan membanggakan.
"Aunty Gisel?" gumam Liora sambil tersenyum tipis.
Gisel tampak memeriksa keseluruhan kondisi kesehatan Liora, hingga setelah memastikan tidak ada yang janggal wanita itu pun tersenyum.
"Semuanya baik, kamu sudah sembuh sekarang," ujar Gisel sambil mengelus pelan rambut berwarna coklat milik Liora.
"Tapi, untuk memastikan semuanya, aku akan melakukan pemeriksaan lebih mendetail lagi," sambung Gisel lagi.
Liora mengangguk saja, disituasi ini, dirinya sendiri sudah terlalu asing untuknya. Ternyata selama ini dia sudah terlalu terbiasa dengan kehidupan Tiara yang berjalan biasa saja, tanpa ada pangkat dan tahta di dalamnya.
__ADS_1
"Kita ada di mana?" tanya Liora sambil megedarkan pandangannya, melihat tembok putih yang mengelilingi seluruh ruangan itu, bahkan di sini sama sekali tidak ada jendela untuk melihat ke luar. Liora sampai tidak tahu entah ini siang atau malam.
"Kita berada di pulau pribadi Anda, Nona. Pulau yang Tuan Roses hadiahkan ketika Anda berusia tujuh belas tahun," jawab Gisel yang memang mengetahui tentang pulau ini. Gisel juga yang menyarankan untuk membawa Liora pergi ke pulau ini, demi keamanannya ketika para anak buah Liora membawa wanita itu yang sudah dalam keadaan terluka parah.
Liora kembali mengangguk saja, setidaknya kini dia tahu tengah berada di mana.
"Setelah kondisi Anda stabil, kami akan memindahkan Anda ke ruang atas." Deren mengambil alih pembicaraan yang langsunh diangguki oleh Gisel.
Setelah berbicara beberapa saat, Deren dan Gisel pun pamit ke luar, meninggalkan Liora dengan kebingungannya sendiri.
Ternyata, di saat dia tenggelam, para anak buah yang mengikutinya secara diam-diam dari belakang langsung terjun ke lautan dan menyelamatkan tubuh Liora. Mereka membawanya dengan menggunakan jalan rahasia, hingga bisa terhindar dari kejaran Charly dan semua rekan kerjanya.
.
Sementara itu, Charly mampir lebih dulu ke rumah Rere untuk menemui Davi, dia membawakan mainan mobil remot kontrol dan sebuah kamera, sebagai tanda perpisahan untuk Davi.
"Om, mau ke mana? Davi boleh ikut gak sama, Om?" tanya Davi, ketika mereka berdua berbicara di kursi taman kediaman orang tua Rere.
"Om, mau kembali ke negara Om. Davi baik-baik di sini, ya. Om percaya Davi adalah anak yang kuat dan pintar, anak yang bisa menjadi pelindung Mama dan kebanggaan untuk Mama," ujar Charly sambil tersenyum lembut.
"Om, gak mau bawa Davi?" Anak itu masih saja fokus pada keinginannya untuk ikut bersama Charly.
"Mamah kamu lebih membutuhkan kamu daripada, Om. Kamu sayang kan sama Mama?"
"Makanya, Davi harus tetap berada di sisi Mamah. Nanti kalau Davi sudah besar, Davi bisa mengunjungi Om di negara Om, atau mungkin Om yang akan datang ke sini lagi," ujar Charly sambil mengusap pelan kepala anak kecil itu.
"Davi pasti akan main ke rumah, Om. Davi janji!" ujar anak itu dengan tatapan polosnya.
Charly tersenyum, ternyata seiring waktu, anak itu sudah mulai mencuri perhatian di hatinya, hingga tanpa terasa dia telah menempati salah satu sudut di hati Charly.
"Belajar yang giat ya. Karena Om gak akan mau menemui kamu kalau kamu belum menjadi anak yang baik dan pintar," ujar Charly menggoda Davi sekaligus memberikan motifasi agar anak itu ingin terus belajar.
"Eum, Davi pasti jadi anak pintar kayak Om," ujar Davi yakin.
Charly kembali tersenyum sambil mengacak rambut di puncak kepala Davi perlahan. Setelah dirasa cukup berpamitan dengan Davi, Charly pun pergi dari sana dengan hati yang masih gusar.
.
"Aku ingin mengundurkan diri," ujar Charly dihadapan atasannya, setelah dia melaporkan semua yang terjadi dengan penangkapan Roxi.
Ternyata kejadian di gedung bekas hotel itu cukup membuat trauma di dalam diri Charly. Banyaknya nyawa yang menjadi koraban membuat Charly merasa menyesal dengan apa yang sudah terjadi, dia merasa bersalah dan tidak berdaya walau dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
__ADS_1
"Mengundurkan diri? Kenapa?" tanya laki-laki paruh baya yang ada di depannya.
"Aku hanya ingin hidup tenang. Aku ingin mengabulkan keinginan terakhir kedua orangtuaku, agar aku menjalani hidupku dengan normal," jawab Charly.
"Memang apa salahnya menjadi agen rahasia? Apa selama ini kamu merasa hidup dengan tidak normal?" tanya atasan Charly dengan suara yang terdengar meninggi.
"Maafkan aku, Tuan, aku sudah tidak bisa melanjutkan semua ini lagi," ujar Charly tetap kukuh dengan pendiriannya.
Laki-laki paruh baya di depan Charly tampak menghembuskan napas kasar, dia kemudian mengangguk beberapa kali.
"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu. Tapi, kamu tahu kan, jika memang cukup sulit untuk ke luar dari sini, begitu juga dengan persyaratan yang harus kamu setujui saat kamu ke luar dari organisasi ini?"
"Iya, Tuan. Aku sudah siap memenuhi semua syarat untuk ke luar dari organisasi ini," jawab Charly yakin.
Setelah dirasa cukup untuk menyampaikan kepentingannya, Charly pun berpamitan kepada ketua timnya itu. Mereka pun menawarkan untuk melakukan acara perpisahan untuk kepergian Charly nanti malam.
"Akan aku usahakan untuk datang," ujar Charly pada rekan kerjanya, tanpa mau berjanji.
.
Malam pun menjelang, mereka menghabiskan waktu untuk minum di sebuah klub malam. Setelah melakukan misi, mereka memang sering diberikan hari libur untuk beberapa waktu. Itulah yang sedang mereka nikmati, selain untuk merayakan perpisahan Charly di tim mereka.
"Aku menerima sinyal balasan dari seseorang yang Tiara hubungi menggunkan laptopku," ujar Helen perlahan, hinga membuat Charly menoleh cepat pada wanita itu.
Ya, di saat mereka bekerja sama, Liora sempat meminjam laptop milik Helen untuk berkomunikasi dengan seorang hacker yang dia sewa untuk mencari keberadaan anggota gengster yang dinyatakan menghilang. Liora yakin jika mereka pasti mengetahui sesuatu tentang dirinya.
"Kapan? Dan, siapa yang dia hubungi?" tanya Charly dengan wajah seriusnya. Sebenarnya, setelah dia menerima pesan teks dari Rere beberapa hari yang lalu, membuatnya merasa kembali ditinggalkan oleh Liora dan tidak akan kembali bisa bertemu dengan wanita itu. Namun, karena informasi ini, kini dia mulai merasa ada sedikit harapan lagi.
"Seorang peretas handal yang sulit ditemui. Sepertinya dia cukup dekat dengan Tiara, sampai wanita itu bisa memerintahnya," jawab Helen.
"Memang apa yang dia perintahkan pada orang itu?" Charly semakin penasaran.
"Mencari lokasi peretas lainnya yang kita curigai bergabung dengan gengster," jawab Helen.
Peretas? Untuk apa dia mencari orang itu? batin Charly penuh tanya.
"Lalu, apa dia memberikan alamat peretas itu?" tanya Charly lagi.
"Iya. Peretas itu ada di sebuah pulau pribadi di negara XX," jawab Helen.
"Ini adalah alamat IP peretas itu, siapa tau kamu akan membutuhkannya," bisik Helen sambil memberikan secarik kertas kepada Charly.
__ADS_1
"Terima kasih, Helen," ujar Charly tulus.
Apa mungkin dia sedang mencari para anggota genster yang menghilang? Mungkinkah tubuh Liora ada bersama mereka? batin Charly penuh tanya.