
"Argh! Dasar brengsek! Gak guna! Wanita ja-lang!" teriak Dery begitu laki-laki itu berhasil tersadar oleh keterkejutannya.
"Tiara! Tiara!" teriak Dery lagi sambil berlari menuju gerbang untuk menyusul Tiara. Namun, ternyata wanita itu sudah tidak ada di sana. Tiara sudah pergi bersama Mak Onah dan laki-laki yang memiliki rumah di seberang.
"Haish, sial!" kesal Dery sambil mengacak rambutnya. Dia kembali ke rumah kemudian masuk ke kamar Tiara. Laki-laki itu berusaha mencari barang berharga milik wanita itu. Namun, ternyata pencariannya tidak mendapatkan apa pun. Hanya ada beberapa baju yang mungkin sengaja Tiara tinggalkan di rumah ini.
"Aaargh!" Dery berteriak sambil menghancurkan kamar milik Tiara. Dia melempar semua barang yang ada di sana, hingga hancur berantakan.
"Kamu gak akan bisa pergi dariku, Tiara! Aku akan cari kamu di mana pun kamu berada! Aku berjanji akan menyeretmu kembali ke rumah ini!" teriak Dery sambil terus mengamuk, membabi buta. Melampiaskan semua amarahnya pada apa saja yang ada di dekatnya.
Tidak ada siapa pun yang berani mendekati Dery ketika sedang mengamuk begitu. Semua pelayan yang masih berada di sana juga memilih mengunci diri di kamar, karena takut akan menjadi salah satu sasaran pelampiasan amarah Dery.
.
Hari berlalu begitu saja, kini Liora dan Charly tengah sibuk mempersiapkan berbagai hidangan barbeque, sementara itu tidak jauh dari tempat keduanya berdiri, tampak Mak Onah dan Rere yang sedang menyiapkan tikar untuk berpiknik dan makanan pelengkap lainnya.
Ramon dan Davi pun tengah asik bermain di sebuah tenda yang lebih dulu disiapkan oleh Charly dan Ramon. Ya, akhir pekan ini Liora sengaja membawa mereka semua untuk berlibur sejenak. Dia ingin menghilangkan sedikit penat yang selama ini terasa menyiksanya.
Awalnya Charly menolak rencana Liora, mengingat itu tidak ada dalam jadwal kerja mereka. Namun, Liora meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja, lagi pula mereka hanya akan pergi dua hari, itu pun tidak jauh dari kota. Liora hanya ingin menepi ke tempat yang lebih sunyi, setelah melewati satu masalah yang selama ini menjadi tujuannya. Walau masalah perusahaan belum tuntas sepenuhnya. Sekaligus memberi Davi sedikit kebahagiaan setelah selama ini selalu terkurung dengan berbagai peraturan dari Dery.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah setuju dengan pendapatku?" tanya Liora sambil melirik Charly yang tampak tersenyum saat melihat Ramon yang sedang bermain tembak-tembakan bersama Davi.
__ADS_1
Secepat kilat laki-laki itu tampak merubah raut wajahnya menjadi datar kembali, lalu berdehem pelan. Jelas saja, tingkah Charly malah membuat Liora terkekeh dibuatnya.
"Sudahlah, tidak usah sok cool seperti itu, santai saja. Sekarang ini bukannya kita sedang menikmati kebersamaan?" ujar Liora sambil kembali menatap Charly dengan senyum lebarnya.
"Jadi, sekarang coba tersenyum ... seperti ini." Liora menarik kedua sudut bibir Charly menggunakan ujung kedua jari telunjuknya. Hingga membuatnya melengkung ke atas.
Perlahan Charly pun mempetahankan senyum itu, walau masih terlihat sangat kaku di mata Liora.
Berbeda dengan kehidupan Charly yang banyak diisi dengan menjalankan misi. Liora, lebih suka menentukan waktu untuk menjalani liburan atau pesta dengan para anak buahnya, setidaknya satu kali dalam satu bulan. Liora senang, berada dekat dengan para anak buahnya dan menikmati waktu santai, di tengah kesibukannya sebagai ketua gengster itu.
"Nah, seperti itu. Jangan terlalu tegang, di saat kita seharusnya bersantai. Kita nikmati waktu yang sangat jarang kita temukan ini," ujar Liora sambil kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada daging barbeque yang ada di depannya.
Diam-diam, Charly tersenyum penuh sambil melihat wajah Liora yang tampak begitu bercahaya hari ini.
Charly membatin, saat tiba-tiba diingatannya melintas bayangan wajah Liora yang selalu tersenyum ketika bertemu dengannya, walau pada saat itu Liora tahu jika dia adalah sebuah ancaman untuk hidupnya dan gengster yang dia pimpin.
Berbeda dengan para buronan atau elit mafia yang selama ini menjadi target misinya. Mereka akan dengan terang-terangan memusuhi bahkan tidak ragu untuk langsung mengangkat senjata untuk membunuhnya secara langsung. Liora, tidak pernah berusaha melawannnya, dia malah akan tersenyum dengan sedikit godaan di dalam perkatannya, kemudian berlari dan kabur menggunakan otak cerdik juga kelincahannya.
Namun, entah karena Charly terlalu lengah karena melihat Liora yang tidak pernah melawan, atau memang Liora yang terlalu pintar mengendalikan situasi, hingga di setiap pertemuan mereka, wanita itu selalu berhasil kabur dari kejaran dirinya dan semua rekan kerjanya.
Itulah salah satu alasan, mengapa Charly tidak bisa melupakan Liora. Dia bahkan ikut menyelam ke dasar laut demi menemukan tubuh wanita itu. Selama sepuluh hari waktu pencarian, Charly tidak pernah absen untuk ikut mencari Liora. Kesehatannya bahkan sampai drop karena terlalu lelah. Charly juga yang terus berusaha meminta tambahan waktu pencarian jasad Liora, tetapi sebagai anggota agen rahasia, tentu dia tidak bisa terlalu melawan, karena sejatinya dia sendiri tahu aturan yang berlaku dalam semua itu.
__ADS_1
Makanan sudah hampir matang ketika tiba-tiba saja ada satu keluarga yang juga tengah mendirikan sebuah tenda tidak jauh dari tempat mereka berkemah. Charly mengalihkan perhatiannya pada orang yang baru saja datang itu.
"Bukannya itu adalah keluarga Bagaskara? Bukannya mereka memiliki sepuluh persen saham di peruhaanmu?" tanya Charly sambil kembali menatap Liora dengan kening bertaut.
Liora tersenyum penuh maksud. "Kamu pikir, aku mengajak kalian ke sini hanya untuk berpiknik saja, tanpa ada sesuatu yang aku rencanakan?"
"Jadi, kamu sudah tau kalau mereka akan datang ke sini? Itu sebabnya tadi pagi kamu ribut agar kita cepat berangkat?" tanya Charly penuh selidik.
"Akan sangat mencolok jika mereka datang lebih dulu dibandingkan kita, bukan?" ujar Liora sambil mengerlingkan matanya.
Ujung bibirnya Charly berkedut ketika melihat wajah penuh semangat Liora. Dia tidak menyangka jika ternyata kedatangan mereka kemari adalah salah satu rencana Liora, untuk mendapatkan saham.
"Aku cuma butuh lima persen saham lagi agar bisa menjadi pemegang saham tertinggi dan memastikan tidak akan ada yang mengusiknya dalam jangka waktu yang lama. Jika tidak bisa mendapatkan semua saham mereka, maka setengahnya pun tidak masalah," ujar Liora lagi.
Keluarga Bagaskara adalah pemain saham yang sangat baik, memang cukup sulit untuk bernegosiasi dengan mereka. Makanya, Liora memilih mendekati mereka secara pribadi lebih dulu, sebelum mengutarakan maksud yang sebenarnya. Keluarga Bagaskara juga terkenal sangat mencintai alam, dan sering berkemah seperti sekarang ini. Itu sudah menjadi jadwal rutin keluarga mereka, hingga dengan mudahnya Liora bisa tahu di mana mereka akan berkemah untuk akhir pekan ini.
"Dasar ketua gengster!" gumam Charly yang masih bisa didengar oleh Liora. Sebenarnya itu adalah sebuah pujian dari Charly untuk otak cerdik Liora yang seakan tidak pernah kehilangan ide.
"Ya, Tuan agen rahasia," jawab Liora dengan salah satu alisnya terangkat.
Tanpa sadar Charly terkekeh karenanya. Mata Liora melebar saat melihat itu, tiba-tiba jantungnya berdebar lebih cepat, hanya karena kekehan kecil yang tampak membuat wajah Charly semakin tampan dan bersinar di matanya.
__ADS_1
Wah, inilah anugerah Tuhan yang tidak akan mampu aku lewatkan, batin Liora dengan mata yang masih menatap takjub wajah laki-laki di sampingnya.