Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.60 Bukan anak Dery


__ADS_3

Menjelang siang Liora pun bersiap untuk datang ke rumahnya, dia juga sudah memastikan jika Dery sudah berada di sana. Liora sudah mengantongi surat gugatan cerai yang memang di siapkan dari hari sebelumnya.


"Baiklah, sekarang giliran aku yang beraksi," gumam Liora sebelum dia ke luar dari rumah milik Charly.


"Hati-hati. Beri tanda kepada kita jika suami kamu berbuat kekerasan padamu," pesan Charly sambil memasangkan sebuah kamera kecil di baju Tiara yang akan langsung terhubung pada laptop miliknya.


"Baik, Mr. Charly," jawab Liora lengkap dengan gayanya yang menggoda, sama persis seperti dahulu.


Charly mematung melihat kepergian Liora, dia seolah dibawa kembali pada saat pertemuan terakhir antara dirinya dan Liora, sebelum kejadian penembakan yang mengakibatkan Liora mengalami kecelakaan dan gagalnya misi Charly.


Kali ini, aku mohon kembalilah dengan selamat, tanpa ada luka sedikit pun di tubuhmu ... Liora.


Charly membatin, sambil terus melihat kepergian Liora yang semakin menjauh darinya. Dia baru masuk ke rumah setelah Liora benar-benar sudah melewati gerbang rumah di seberang. Tidak mau kehilangan jejak Liora, kini Charly memilih melihat dari balkon kamarnya, sementara laptop yang terhubung dengan kamera di baju Liora, dia biarkan terbuka, untuk memantau apa yang terjadi pada wanita itu.


Charly dibuat khawatir sampai hendak berlari ke luar, ketika melihat Dery hampir saja menampar Liora. Namun, untung saja wanita itu masih bisa mengendalikan situasi, hingga Charly tidak sampai hilang kendali dan berbuat bodoh.


Flashback selesai, kita kembali ke kondisi saat ini. Masih ingat kan, kita sampai di mana? Yang gak inget, bisa baca ulang di bab 58 ya.


.


"Apa lagi yang kamu rencanakan, wanita sialan?!" tanya Dery yang merasa mulai waspada terhadap Tiara.


"Tidak ada, hanya sedikit kebenaran yang selama ini direncanakan oleh wanita itu. Mungkin kamu juga sudah mengetahuinya?" jawab Tiara acuh.


"Rasanya sayang sekali, jika aku tidak membagi semua ini padamu," sambung Tiara lagi. Dia kemudian mengambil sebuah ponsel dan memutar rekaman suara yang sudah dia siapkan sebelum datang ke rumah ini.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi anak kita di dalam sana? Apa si brengsek itu tidak melakukan apa pun padamu dan membahayakan anak kita?"


Terdengar suara laki-laki yang tak lain adalah Boy. Dery mengerutkan kening mendengar suara itu.


"Tenang saja, Dery tidak akan berani menyentuhku selama dia masih menganggapku hamil anaknya. Dia akan patuh padaku karena anak ini akan menjadi penerus bisnis gelapnya. Dia tidak mungkin memberikan bisnis itu pada anak wanita bodoh itu."


Dery melebarkan matanya ketika mendengar rekaman suara yang begitu dia kenal. Ya, itu memang rekaman suara Niken dan Boy yang Tiara ambil di pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. Kini Tiara bisa menggunakan semua itu sebagai salah satu senjata untuk menghancurkan Dery.


"Apa ini? Dari mana kamu dapatkan rekaman suara ini, hah?!" sentak Dery sambil melempar ponsel itu ke sembarang arah, hingga hancur berantakan.


"Whoow!" Tiara berseru sambil terkekeh ringan melihat ponsel yang dia bawa telah pecah menjadi beberapa bagian.


Untung saja itu bukan ponselku, batin Tiara dalam hati. Wanita itu tampak menatap miris nasib ponsel tidak bersalah yang kini sudah berubah menjadi sampah tak berguna.


"Sabar dong!" ujar Tiara lagi dengan suara tegas, tetapi masih terdengar santai.


Wanita itu merasa sangat kesal ketika ingatan tentang kejahatan Niken dan Boy yang sangat keterlaluan, mereka bahkan berani membahayakan anak kecil seperti Davi, hanya untuk kekayaan.


"Mau tau apa yang lebih menyedihkannya lagi?" tanya Tiara sambil menatap tajam Dery. Dia kemudian tersenyum miring sebelum melanjutkan perkataannya.


"Kamu!" Tiara menunjuk wajah Dery tepat di hidungnya.


"Suami yang harusnya menjadi pelindung untuk anak dan istrinya, malah menjadi alasan rasa sakit dan kecewa yang dialami aku dan Davi! Lalu, sekarang kamu masih berani bilang tidak akan menceraikan aku? Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah, heh? Kamu bahkan tidak memikirkan kondisi sikologis anak kamu sendiri, hanya demi memenuhi ego kamu yang tidak ada puasnya itu!"


Tiara menghentikan ucapannya, dia tampak membuang muka sambil mendengus kasar. Wanita itu sudah sangat muak untuk terus berpura-pura sebagai Tiara. Sekarang ini, dia ingin terlihat kuat sebagaimana Liora dikenal sebelum terjebak di dalam tubuh lemah Tiara.

__ADS_1


"Bila tidak bisa menjadi suami yang baik, setidaknya berusaha lah untuk menjadi ayah yang baik! Jangan menjadi bajingan yang hanya bisa menuruti napsu dan ego yang tidak akan pernah ada habisnya!" teriak Tiara tepat di depan wajah Dery.


"Oh iya, mengenai surat cerai ... aku bisa mengurusnya sendiri. Aku tidak butuh persetujuanmu untuk semua itu, karena dengan semua bukti yang aku miliki, aku rasa sudah cukup untuk membuat hakim mengabulkan permohonan ceraiku," sambung Tiara lagi kemudian berjalan menuju ke pintu utama, hendak pergi dari rumah itu.


"Dasar banci, bajingan, pengecut, brengsek." Tiara terus bersungut-sungut, memaki laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Untuk beberapa saat, Dery tampak mematung mendapati semua ucapan Tiara yang begitu menusuk hati. Selama ini laki-laki itu memang tidak bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Tiara, dia sering membuat Tiara menangis karena ulahnya yang sering main perempuan dan bersikap kasar. Sekarang dirinya juga bukanlah ayah yang baik untuk Davi. Dia bahkan sering lupa jika dia sudah memiliki anak yang sedang membutuhkan kasih sayang darinya sebagai seorang ayah. Bayi yang di kandung Niken pun ternyata bukanlah anaknya.


Lalu, sekarang apa yang harus laki-laki itu lakukan? Dan, apa sebenarnya yang saat ini dia inginkan? Menyesal? Sepertinya sudah terlambat. Bertaubat? Tidak ada jalan untuk itu, karena dirinya sudah terlalu jauh masuk ke dalam lembah hitam. Memaksakan untuk ke luar dari sana, hanya akan membuat semua keluarganya dalam bahaya. Lagi pula, apa benar Dery mampu kehilangan semua kekayaannya untuk Tiara dan Davi? Ah, sepertinya tidak mungkin.


"Tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja dari rumah ini!" Dery yang baru tersadar langsung berlari mengejar Tiara.


"Ya, memang seharusnya aku tidak pernah pergi dari rumah ini. Karena yang seharusnya pergi itu adalah kamu, Dery! Rumah ini sudah menjadi milikku dan Davi. Jadi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini, itu pun jika kamu masih memiliki rasa malu!" ujar Tiara yang malah semakin membuat Dery tersentak kaget.


"Tidak! Kamu tidak bisa berbuat begitu padaku, Tiara! Aku yang membeli rumah ini, jadi masih ada hak aku di sini. Lagi pula, siapa kamu, sampai berani mengaturku seperti ini, hah?" bantah Dery tanpa rasa malu.


"Aku Tiara! Apa kamu lupa, hah?!" sentak Tiara.


"Rumah ini juga kita beli menggunakan uang bersama, dan sudah atas namaku dari awal kita membelinya!" Tiara melotot tajam, tidak rela jika Dery mengakui rumah ini sebagai rumahnya.


"Tapi, kalau kamu begitu miskin sampai tidak bisa menyewa hostel untuk menginap. Aku biarkan kamu tinggal di sini, tentunya tanpa aku dan Davi, karena kita sudah memutuskan untuk tinggal berdua," ujar Tiara kemudian kembali bersiap untuk berjalan ke luar rumah.


Tiara sengaja menggunakan kata 'hostel' agar Dery semakin merasa terhina oleh kata-kata.


"Jangan tahan aku lagi, atau aku akan teriak saat ini juga. Kamu tau pasti jika di luar ada para tetangga atau wartawan yang masih berkerumun akibat penangkapan Niken?"

__ADS_1


Dery tampak panik, dia terlihat enggan untuk melepas Tiara pergi, tetapi dia juga tidak berdaya dalam menghadapi Tiara yang kini sudah berubah menjadi lebih keras kepala dan cerdik dalam bertindak untuk melawannya. Saat ini, bukan hanya tenaga Tiara yang lebih kuat, tetapi cara bicara dan berpikir Tiara juga jauh berbeda dari biasanya, hingga membuat Dery bingung sendiri untuk menghadapi sosok Tiara yang baru itu.



__ADS_2