
"Aku mendapatkannya, itu tidak terlalu jauh dari lokasi kapal pesiar," ujar Helen dari seberang sana.
"Kirimkan padaku sekarang," jawab Liora sambil membagi folus pada jalanan yang sedang dia lewati. Suasana yang cukup padat, membuatnya tidak bisa berkendara dengan kecepatan penuh, walau dia terus mencoba menyalip kendaraan lainnya.
Ya, kali ini Liora kembali menggunakan motornya, agar lebih mempersingkat waktu dan menghindar dari kemacetan kota itu.
"Oke, aku kirimkan sekarang," jawab Helen, sambil terus fokus pada keyboard dan layar di depannya.
Walaupun kedua wanita itu masih saja tidak terlihat akur, tetapi ternyata keduanya bisa berkompromi katika sedang menghadapi situasi genting seperti sekarang. Baik Liora maupun Helen bisa menyingkirkan ego mereka dan fokus pada misi yang kini memiliki tujuan yang sama.
Roxi dan semua antek-enteknya, termasuk Dery. Mereka lah sekarang yang menjadi target Charly dan semua anggorta agen rahasia, begitu juga dengan Liora.
Liora melihat ponselnya yang dia letakan di stang motor, dia membuka pesan dari Helen yang berupa sebuah peta menuju lokasi bekas hotel itu. Setelah mendapatkannya, Liora mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, dia berbelok di sebuah pertigaan.
.
Sementara itu, di lain tempat Charly yang baru saja ditenangkan oleh Ramon dan baru kembali ke mobilnya mendapatkan telepon dari Helen, dia memberitahukan lokasi hotel yang kini tengah menjadi tujuan Liora.
"Kirimkan padaku sekarang, aku akan menyusulnya! Dan, hubungi rekan yang lain, suruh mereka menyusul ke sana," ujar Charly sambil mulai menyalakan mobinya kembali.
"Oke," jawab Helen dari seberang sana.
.
"Kenapa kamu menyiksa anak itu lagi, sayang?" tanya wanita paruh baya yang kini sedang duduk bersama dengan laki-laki yang biasa dipanggil tuan oleh Dery.
"Anakmu itu terlalu bodoh, dia selalu saja melakukan kesalahan. Aku tidak bisa terus membelanya di hadapan Tuan Roxi, Baby," jawab laki-laki itu sambil melingkarkan tangannya di pinggang ibu Dery.
Keduanya kini tampak sedang berada di salah satu club malam milik Dery, mereka sedang menikmati waktu berdua di saat klub malam itu tengah tutup.
"Memang apa lagi yang dia lakukan sekarang hingga Tuan Roxi kembali menghukumnya?" Ibu Dery tampak tidak sungkan walau tangan laki-laki di sampingnya terus bergerak nakal menuju area sensitif–nya.
"Dia bahkan tidak sadar jika laki-laki yang selama ini tinggal di depan rumahnya adalah anggota agen rahasia yang sedang mengawasi pergerakannya. Dia masih tetap santai di saat istrinya sudah bekerja sama dengan agen rahasia itu," jawab laki-laki itu sambil meremas bohong ibu Dery dengan cukup keras.
Ibu Dery menutup mata katika cengkraman tangan laki-laki di sampingnya terasa di bagian belakangnya. Dia membiarkan itu, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ish, benarkah? Aku tidak percaya kalau dia tumbuh sama seperti ayahnya. Bodoh!" umpat Ibu Dery sambil mengambil gelas anggur di atas meja kemudian meminumnya sedikit.
"Hem, andai saja kamu tidak datang padaku dan meminta untuk menolongnya, aku tidak akan repot-repot mengusik Tuan Roxi hanya agar dia mau memberikan anak bodohmu itu satu kesempatan lagi," jawab laki-laki itu dengan wajah sombongnya.
__ADS_1
"Heh, maafkan aku, sayang. Tapi, setidaknya dia masih berguna bukan bagi kalian?" tanya ibu Dery.
"Ya, walaupun hanya sedikit."
"Heh, walau bodoh, setidaknya aku tidak menyesal melahirkannya, karena berkat dia kita bisa bertemu." Ibu Dery menyeringai di menyandarkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu.
"Ya, benar. Walau harusnya kamu mendidiknya agar dia sama denganmu, yang liar dan kejam, honey." Tangan laki-laki itu kini beralih menuju ke atas, dia mencengkram tengkuk ibu Dery kemudian menariknya hingga wajah Ibu Dery mendongak, kemudian dia melahap bibirnya begitu saja.
"Hei, nakal sekali kamu?" gerutu ibu Dery begitu ciuman itu terlepas, walau nyatanya dia tersenyum mendapatkan perlakuan begitu.
"Aku merindukanmu, honey," jawab laki-laki itu, kemudan menarik tangan ibu Dery untuk berjalan menuju area belakang, di mana letak kamar yang biasa digunakan para tamu di malam hari berada.
Siang itu, di salah satu klub malam milik Dery telah terjadi sebuah pertempuran antara dua orang dewasa yang mungkin sudah tidak punya malu.
.
Sementara itu, Liora terus menyusuri jalanan yang masih bagus itu untuk menuju ke hotel yang berada di atas bukit. Gerimis kecil membuat jalanan yang hampir semuanya tanjakan sedikit licin, hingga dia harus berkendara dengan lebih hati-hati lagi.
Di tengah jalan, tiba-tiba ada mobil yang menyusulnya, Liora mengenal mobil itu, dia tersenyum dan sedikit melambatkan motornya, membiarkan mobil itu menyamai dirinya.
"Berhenti dulu!" teriak Charly dari balik kemudi, dia membuka kaca mobinya demi berkomunikasi dengan Liora.
Wanita itu tampak membuka helm full face yang dipakainya kemudian mengibaskan rambut yang dia gelung asal di balik helem, hingga terurai dengan sendirinya.
Charly tutun dari mobil dia menghampiri Liora yang masih duduk santai di atas motor besarnya itu. Manik mata Charly sempat melebar ketika melihat Lioara mengibaskan rambutnya. Jantungnya terasa berdebar cepat ketika melihat wanita yang memang sudah menempati tempat spesial di dalam hatinya.
Dia memang tidak pernah gagal dalam menebar pesona, entah itu sebagai ketua gengster atau ibu rumah tangga, batin Charly dengan mata yang berbinar.
Namun, itu hanya bisa bertahan beberapa detik saja, secepat kilat Charly merubah kembali raut wajahnya menjadi datar dan serius.
"Pindah ke mobil sekarang, biarkan Ramon yang mengendari motormu," ujar Charly begitu dia sampai di depan Liora.
"Aku lebih suka mengendarai motorku," jawab Liora yang tampak enggan betukar posisi dengan Ramon.
"Ini terlalu berbahaya, jalanan di sini terlalu licin untuk motor," debat Charly.
"Kamu pikir aku tidak bisa berkendara di jalan seperti ini?" tanya Liora sinis. Dia merasa saat ini Charly sedang meremehkannya.
"Bukan begitu." Kening Charly tampak berkerut dalam, bingung dengan sikap Liora yang selalu mudah emosi.
__ADS_1
"Ah, pokoknya kamu turun sekarang, biarkan Ramon yang mengendarai motor ini," sambung Charly lagi menarik tangan Liora hingga terpaksa wanita itu mengikuti keinginan Charly untuk turun dari motor.
"Haish, dasar tukang paksa!" gerutu Liora walau dia juga tidak menolak ketika Charly menyuruhnya untuk duduk di dalam mobil.
"Ramon, kamu bertukar dengan Liora. Aku harus menjelaskan rencana kita pada dia dulu," ujar Charly setelah dia memastikan kalau Liora sudah duduk tenang di dalam mobil.
"Bilang daja kalau kamu mau berduaan denganya," cibir Ramon.
"Sekali mendayung dua pulau terlapaui," ujar Charly dengan seringai di bibirnya, kemudian berjalan menuju kursi kemudi.
"Sssh, susah memang kalau bekerja dengan orang yang sedang dimabuk cinta," desah Ramon sambil bersiap untuk mengendarai motor milik Liora.
"Siap? Sekarang kita akan menuju arena permainan," ujar Charly sebelum melajukan mobilnya. Laki-laki itu tampak menyeringai pada wanita di sampingnya.
"Tentu," jawab Liora mengangguk pasti.
"Aku rindu berada di situasi seperti ini," sambungnya lagi dengan senyum sumringah. Jantungnya berpacu cepat, adrenalinnya naik berkali-kali lipat, kini Liora bisa sepenuhnya kembali ke masa di mana dirinya pernah menjadi ketua gengster.
Namun, tiba-tiba Charly menggenggam tangannya dengan tatapan yang berbeda. Liora hampir saja tersedak salivanya sendiri ketika melihat Charly yang berbeda dari sebelumnya. Laki-laki itu terlihat lemah dan penuh harap.
"Tapi, untuk kali ini, aku ingin kamu berjanji sesuatu padaku," ujar Charly lembut.
"A--apa maksudmu?" tanya Liora dengan suara terbata.
"Aku ingin kamu berjanji untuk selamat dan jangan sampai terluka. Tetaplah berada di belakangku. Biarkan aku melindungimu kali ini," ujar Charly serius.
Deg! Liora dibuat terpana oleh perkataan Charly. Baru kali ini dia dipandang sebagai seorang wanita yang patut dilindungi, setelah sekian lama dia selalu disamakan dengan seorang laki-laki dan seorang yang sangat dihormati.
"Hahaha!" Liora tertawa untuk menyamarkan rasa gugup yang tiba-tiba mendera dirinya, tangannya bahkan sampai bergetar hanya karena rangkaian kata yang diucapkan oleh Charly.
"Aku wanita kuat, mana mungkin aku akan terluka. Sudahlah jangan konyol, ayo sekarang kita berangkat," jawab Liora masih dengan kekehan di sela perkataannya.
"Aku tidak bercanda, Liora. Berjanjilah jika kamu akan baik-baik saja dan kita akan kembali bersama-sama," ujar Charly dengan sorot mata penuh harap.
Liora terdiam, tatapan mata keduanya tampak bertaut dalam, dia tidak bisa lagi menyangkal perasaan di dalam hatinya. Sungguh, saat ini Liora merasa tersentuh oleh perlakuan laki-laki itu.
"Aku akan berusaha," jawab Liora seolah enggan untuk berjanji pada Charly.
"Ayo, kita berangkat sekarang, atau nanti mereka akan curiga," sambung Liora lagi sambil melepaskan genggaman tangan Charly dan menegakkan tubuhnya kembali.
__ADS_1