
Charly baru membuka mata setelah matahari hampir berada di atas kepala. Semalam, setelah dia menghadiri acara lelang, dia tidak langsung pulang untuk mencari tahu sesuatu yang menurutnya janggal.
Ya, semalam selain Dery membeli lukisan langka itu, dia juga membeli sebuah guci keramik, tetapi saat dia mencari tahu alamat pengirimannya, itu bukanlah alamat rumah atau kantor Dery. Karena itu juga, Charly hampir begadang semalaman hingga akhirnya dia menyerah saat pajar sudah mulai terlihat.
Charly bangun dia lebih dulu duduk di sisi ranjang untuk mengumpulkan kesadarannya, dia kemudian beranjak dari sana dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Membasuh wajah di depan washtafel, Charly kemudian membungkukkan tubuhnya dengan helaan napas kasar, tangannya bertumpu di sisi washtafel dengan mata menatap pantulan wajahnya di cermin.
Kejadian tadi malam sungguh masih sangat mengganggu pikirannya, mengenai ke pada siapa barang berharga itu Dery kirimkan. Nama Roxi yang selalu menjadi bebean tersendiri di pikirannya kini mulai menjadi salah satu nama yang mungkin berkesampatan untuk menerima guci antik itu.
.
Sementara itu, siang ini setelah mengantar Davi ke sekolah Tiara meminta untuk diantarkan ke sebuah pusat perbelanjaan, dia ingin berjalan-jalan setelah seminggu lebih terkurung di rumah karena ide konyol Dery yang kini memberikannya sopir sekaligus pengawal.
"Kali ini kamu tidak usah mengikutiku," ujar Tiara pada sopir yang mengantarkannya, sebelum turun dari mobil.
"Tapi, Nyonya, saya ditugaskan untuk menjaga Anda." Sopir itu merasa enggan. Karena sebenarnya tugasnya bukan hanya untuk menjaga Tiara, tetapi juga untuk mengawasi wanita itu.
"Aku hanya berjalan-jalan di dalam, tidak ada yang bisa mencelakai aku," malas Tiara, mendengar alasan sopirnya itu yang selalu berulang, padahal dia sudah tahu apa niat laki-laki itu mengikutinya ke mana pun.
"Kalau begitu coba Nyonya berbicara dulu pada Tuan Dery, saya akan menuruti apa pun perintah Tuan Dery." Sopir itu melirik kilas pada Tiara yang kini masih duduk di jok belakang mobil mengurungkan diri untuk ke luar karena perdebatan kecil ini.
"Ck! Terserah kamu saja lah, yang penting aku mau kamu tidak mengikutiku secara langsung, awasi saja aku dari jauh," ucap kesal Tiara kemudian membuka pintu mobil dengan cepat lalu ke luar tanpa menunggu sopir yang merupakan anak buah Dery.
Dasar Dery brengsek! Digaji berapa sih sopir itu sama dia, sampe patuh banget begitu, kayak kerbau yang ditusuk hidungnya, padahal sekarang Dery bahkan gak ada di sini!
Tiara menggerutu kesal saat kebebasannya terus direnggut oleh Dery. Dia bukanlah Tiara yang dulu, yang akan diam saja walau diperlakukan bagaimana pun oleh Dery. Sekarang di dalam tubuh Tiara ada jiwa Liora, yang merupakan mantan ketua gengster, dia terbiasa mengatur, bukan diatur seperti ini.
Beberapa saat berjalan santai di dalam pusat perbelanjaan, tiba-tiba matanya terhenti pada seseorang yang samar terlihat familiar di matanya sedang duduk berdua dengan seseorang lainnya di sebuah restoran.
__ADS_1
"Niken? Sama siapa dia?" gumam Tiara sambil memicingkan mata, untuk memperjelas pandangannya.
Tiara kemudian mencari tahu di mana sopirnya berada, dia harus mengalihkan perhatian sopir itu agar dirinya bisa leluasa mengawasi Niken dari dekat.
"Cepat berfikir, Liora, ini adalah kesempatan untuk mencari tahu tentang Niken yang sebenarnya," gumam Tiara berusaha memacu kerja otaknya, hingga tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di kepalanya.
Melihat dari sikap Niken selama ini dan dari mana Niken berasal, Tiara sedikit memiliki curiga pada wanita itu. Bila memang dia biasa dipakai oleh Dery, sementara Dery memiliki kelainan se-ks yang sangat merugikan pihak wanita, bahkan mungkin akan sampai menimbulkan trauma, tetapi bagaimana bisa Niken bertahan bahkan sampai hamil? Bukankah itu terasa janggal?
Tiara kemudian menghubungi sopir itu dari ponsel miliknya. "Aku akan pergi ke salon, tolong kamu jemput Davi di sekolah, tadi gurunya mengatakan jika sekarang kelas Davi pulang awal."
"Tapi, Nyonya--"
"Kamu mau aku bilang ke suamiku kalau kamu membiarkan Davi menunggu di sekolah? Aku yakin saat itu juga kamu akan dipecat sama Mas Dery." Tiara langsung memotong ucapan sopir itu, hingga tidak bisa menolak lagi.
"B--baik, Nyonya. Tapi, Nyonya benar-benar akan pergi ke salon?" tanya sopir itu masih merasa ragu.
"Iya, nanti kamu bawa Davi ke sana, aku akan menemaninya bermain setelah selesai melakukan perawatan," ujar Tiara meyakinkan.
Tiara mengangguk sebagai jawaban, kemudian memutuskan sambungan telepon di antara mereka. Tiara pun memastikan jika sopir itu sudah benar-benar pergi dari sana.
Niken kemudian membeli sebuah jaket dan kerudung untuk perlengkapan dia menyamar. Dia lebih dulu mengambil gambar Niken dengan orang itu dan mengirimkannya pada Charly sebelum akhirnya melakukan rencananya untuk memata-matai Niken.
Tiara kemudian mengambil sebuah earphone di dalam tas miliknya kemudian memakainya, walau sebenarnya tidak ada suara di sana, itu hanya sebagai kamuflase agar dirinya tidak dicurigai oleh Niken dan orang yang bertemu dengan wanita itu.
Dia menyusul Niken yang tampak masih duduk berdua dengan seorang laki-laki. Tiara mengambil kursi yang berada tepat di belakang Niken, dia duduk saling memunggungi dengan Niken hingga Tiara bisa mendengar jelas pembicaraan antara Niken dan laki-laki itu.
Tidak ada hal yang membuat kecurigaan Tiara terbukti, selama beberapa menit dia duduk di sana, mereka hanya membicarakan hal omong kosong seperti seorang teman lama yang baru saja bertemu kembali. Awalnya Tiara sudah hampir menyerah dan meninggalkan Niken dan laki-laki itu di sana, hingga laki-laki yang tampak duduk di depan Niken bertanya tentang kehamilan Niken.
"Bagaimana kondisi anak kita di dalam sana? Apa si brengsek itu tidak melakukan apa pun padamu dan membahayakan anak kita?"
__ADS_1
Tiara melebarkan matanya, dia tidak menyangka jika ternyata anak yang saat ini sedang dikandung oleh Niken bukanlah anak dari Dery.
"Tenang saja, Dery tidak akan berani menyentuhku selama dia masih menganggapku hamil anaknya. Dia akan patuh padaku karena anak ini akan menjadi penerus bisnis gelapnya. Dia tidak mungkin memberikan bisnis itu pada anak wanita bodoh itu." jawab Niken dengan penuh percaya diri.
"Benarkah? Tapi, bagaimana kalau wanita bodoh itu mati? Bukannya tidak ada lagi yang akan menghalangi dia untuk menunjukkan wujud aslinya di depan anak pertamanya? Bukannya selama ini dia masih menyembunyikan semua ini, karena dia takut ditinggalkan oleh wanita bodoh itu?"
Tiara semakin terkejut mendengar perkataan laki-laki itu. Dia mengepalkan tangannya menahan geram di dalam hati. Namun, perkataan terakhir laki-laki itu juga cukup mengusik pikirannya.
Apa Tiara begitu berarti bagi Dery? Atau dia hanya takut kehilangan harta milik orang tua Tiara? batin Liora menerka.
"Aku juga akan mengirim anak bodoh itu menyusul ibunya. Andaikan dulu kamu tidak gagal untuk menyingkirkan wanita itu, aku pastikan sekarang tidak akan ada lagi penghalang untuk kita menguasai harta mereka," geram Niken.
Ternyata kecelakaan Tiara bukan kecelakaan biasa? Itu sudah direncanakan sama kuntilanak bunting ini? Astaga, sebenarnya apa yang terjadi di keluarga ini? Kenapa aku merasa menjadi orang bodoh sekarang? Ternyata masih banyak yang aku tidak ketahui di sini.
Liora menghembuskan napas pelan sambil menutup mata, menahan rasa geram di dalam dada. Rasanya dia ingin menjambak rambut Niken sampai botak saat ini juga, setelah mendengar apa yang telah mereka lakukan pada Tiara, dan sekarang tengah merencanakan untuk membunuhnya dan Davi juga.
"Kamu memang pintar," puji lak-laki itu sambil terkekeh ringan.
"Masukan ini ke dalam makanan wanita bodoh itu, maka aku pastikan dia akan mati secara perlahan tanpa ada yang mengira kalau kita membunuhnya. Dia akan dikira mati akibat sakit, karena obat ini akan menyerang organ tubuhnya secara perlahan," sambung laki-laki itu lagi.
Jadi sekarang mereka berencana membunuhku secara perlahan? Heh, dasar iblis! Kita lihat saja nanti, siapa yang akan kalah duluan, kalian atau aku. Aku sudah mati sekali, jadi tidak masalah jika aku mati lagi, tapi aku pastikan sebelum aku mati, kalian akan mati lebih dulu.
Tiara membatin, mengeluarkan apa yang ada di dalam kepala, walau itu hanya bergumam dalam hati. Jika saja saat ini dirinya masih berada di dalam tubuh Liora, maka sudah dipastikan dua orang ini akan langsung dia seret ke ruangan penyiksaan di bawah tanah.
Namun, saat ini semua itu hanya tinggal angan. Kekuasaan yang dulu dia miliki, kini hanya kenangan yang bahkan tidak bisa dia ungkapkan, karena sekarang dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.
"Kamu yakin obat ini akan berhasil?" Niken tampak masih terdengar meragukan.
"Walau ini akan memakan waktu lebih lama dari kecelakaan tempo hari, tapi aku yakin seratus persen akan berhasil, sayang. Kamu tinggal pastikan, dia meminum obat ini setiap hari," ujar laki-laki itu dengan seringai yang tampak menyeramkan.
__ADS_1
"Oke, aku percaya padamu," balas Niken kemudian menaruh botol obat itu ke dalam tas miliknya.