
Dery duduk di sofa dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua siku tangannya tampak bertumpu di paha, keningnya berkerut dalam dengan sesekali napas kasar terdengar dia lakukan, seolah dirinya sedang menahan sesak di dalam dada.
Sementara itu di depannya Niken yang terlihat sudah tertidur pulas, setelah sebelumnya tidak sadarkan diri. Menurut dokter yang tadi memeriksanya, tidak ada yang serius dengan kesehatan Niken, dia mungkin hanya sedang banyak pikiran dan terlalu lelah.
Lagi-lagi acara makan malam pun kembali hancur karena perdebatan antara kedua istrinya, Dery pun kembali melewatkan makan malamnya.
Setelah cukup lama terdiam, laki-laki itu tampak beranjak berdiri kemudian berjalan ke luar dari kamar utama, meninggalkan Niken sendirian.
Dery tampak berjalan menuju ke salah satu ruangan di lantai dua rumahnya. Begitu dia membuka pintu, suasana remang dengan pemandangan lemari tempat penyimpanan botol anggur dan berbagai minuman keras lainnya yang tersusun rapih di sana langsung menyapa penglihatannya.
Laki-laki itu berjalan menuju salah satu lemari kemudian mengambil salah satu botol di sana. Lalu, berjalan kembali untuk mengambil gelas kristal khusus untuk minum minuman beralkohol yang sudah tersedia di sana. Setelah itu dia berjalan ke luar kembali dan membawanya menuju ke balkon.
Dery duduk di kursi kayu yang ada di sana kemudian mulai membuka botol minuman keras itu dan menumpahkannya ke dalam gelas yang sudah dia siapkan. Mengambil gelas berisi minuman berwarna kuning kecoklatan mirip seperti teh itu yang memiliki aroma cukup menyengat. Seorang penjaga tampak datang dengan membawa wadah berisi es batu sebagai pelengkap untuk minuman itu.
Seakan sudah tahu tugasnya, penjaga itu langsung menuangkan es batu di tangannya ke dalam gelas milik Dery. Dery mengambil gelas berisi minuman yang telah dia siapkan, dia menghirup wangi aroma minuman itu sebelum akhirnya meminumnya sedikit.
Rasa pahit, pedas, dan sedikit manis ditambah dengan dingin dari es batu, juga bau alkohol menyatu menjadi satu di dalam mulut begitu dia menyesap sedikit air berwarna kecoklatan itu.
Dery tersenyum mendapatkan sensasi yang menyegarkan itu, kepalanya yang tadinya terasa berat dan penuh dengan berbagai masalah yang sedang dia hadapi perlahan menemukan rasa rileks karena kenikmatan ini.
Bayangan kejadian tadi sore membuatnya kesal bukan main, dia yang tiba-tiba dipanggil oleh seseorang yang selama ini berdiri di belakangnya, membuatnya harus menembus hujan demi untuk sampai ke tempat orang itu.
Namun, begitu sampai di sana, dia hanya mendapatkan sebuah kemarahan dan makian yang membuatnya merasa sangat terhina.
"Aku dengar kantor kamu kedatangan seorang penyusup, apa kamu sudah menangkapnya?" tanya seorang laki-laki yang kini tampak duduk di sofa singgle berbalut kulir berwarna coklat tua dengan sandaran tinggi, laki-laki yang berumur kira-kira lima puluh tahunan itu tampak tumpang kaki dengan cerutu yang diapit diantara jari tengah dan telunjuknya.
"Benar, Tuan, itu terjadi beberapa hari lalu, dan sampai sekarang saya masih mencari tau identitasnya," jawab Dery dengan kepala menunduk.
Brak!
Dery berjingkat kaget begitu mendengar suara tangan yang menggebrak meja dengan keras di depannya.
"Kamu bilang kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu, tapi kamu masih belum bisa melacak identitas orang itu, hah?! Dasar bodoh! Apa yang kamu lakukan selama ini, brengsek?!" sentak laki-laki itu dengan tatapan nyalang.
"M--maafkan saya, Tuan. Saya akan bekerja lebih giat lagi untuk mencari tau siapa orang yang telah berani menyusup ke kantor." Tubuh Dery mengkerut merasa takut dengan suasana mencekam di dalam ruangan ini. Bukan dia tidak tahu bagaimana kekejaman laki-laki di depannya, dia bahkan bisa langsung membunuhnya saat ini juga jika sampai dia melakukan kesalahan yang tidak bisa laki-laki itu maafkan.
__ADS_1
"Jangan karena aku terus memberikan kamu kebebasan kamu jadi lupa diri, Dery! Aku mempercayai kamu untuk menjadi kepercayaanku bukan hanya karena kamu memiliki perusahaan! Kamu lupa, apa yang akan terjadi jika sampai aku melepaskan perusahaan kamu itu, heh? Aku jamin perusahaan kebanggaan kamu itu langsung hancur sampai tidak ada lagi yang kamu bisa lakukan untuk menyelamatkannya!" ujar laki-laki paruh baya itu, dengan tubuh sedikit condong dan tatapan penuh ancaman.
Laki-laki itu terlihat kembali menengakkan tubuhnya sambil menghembuskan napas kasar sebelum meneruskan kembali ucapannya.
"Kenapa kamu bisa lengah begini, heh? Tidak biasanya kamu seperti ini, Dery!" Laki-laki paruh baya itu tampak menyesap cerutu di tangannya kemudian menghembuskan asapnya ke atas.
"Maafkan saya, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Dery dengan kepala masih menunduk dalam.
Bruk!
Sebuah amplop coklat tampak dileparkan ke atas meja, tepat di depan Dery.
"Lihat itu!" titahnya kemudian.
Deri langsung mengambil amplop itu, di dalamnya ada beberapa foto yang dia sendiri sudah tahu itu siapa. Namun Dery masih bingung dengan maksud dari tuannya itu, hingga kini dia menatap laki-laki paruh baya di depannya dengan kening berkerut dalam.
"Apa kamu tidak curiga sama sekali padanya? Dia adalah seseorang yang baru pindah ke depan rumah kamu dan akhirnya dekat dengan istri pertama kamu. Oh, ayolah Dery, apa otakmu sekarang menjadi tumpul karena terlalu banyak bermain dengan pela-cur, heh?" Laki-laki paruh baya itu tampak menatap kesal Dery.
Dery tampak melihat beberapa lembar foto yang ada di tangannya, semua itu memperlihatkan laki-laki yang sama, dan ada beberapa gambar Tiara juga yang sedang membersamai laki-laki itu. Cukup lama dia terdiam menahan geram dan marah karena di setiap foto, Tiara tampak tersenyum pada laki-laki itu. Setelah menenangkan emosinya Dery mengangkat kepala cepat dengan mata melebar. Dery mengerti apa yang tuannya itu maksud dengan memberikan foto ini padanya.
Mereka berdua tampak melanjutkan pembahasan hingga cukup lama kemudian Dery pamit, lalu berjalan cepat ke luar dari sana setelah mendapatkan izin.
Dery kembali meneguk minuman di tangannya, matanya terpejam dengan kepala mendongak saat minuman itu dia diamkan di dalam mulut untuk beberapa saat sebelum melewati tenggorokannya. Matanya kemudian terbuka kembali dengan kepala tegak lurus ke depan, hingga tatapannya tiba-tiba melihat seseorang di balkon seberang yang sedang berdiri sambil memandang rumahnya. Dalam kegelapan malam yang semakin larut, dia bisa memastikan jika itu adalah laki-laki yang sering ditemui oleh Tiara.
"Ngapain dia melihat rumahku di tengah malam begini?" gumam Dery sambil memicingkan matanya.
Walau yang terlihat hanyalah seluet seseorang yang tengah berdiri di balkon rumah seberang, tetapi dari perawakannya di tahu kalau itu Charly. Seringai tipis terlihat di bibir tebal milik Dery, tatapannya tiba-tiba memperlihatkan sorot mata buas, seolah seekor singa yang sudah menemukan mangsanya.
Dia kemudian menenggak kembali sisa miuman di gelas sebelum menyimpan gelas itu di meja dan meninggalkannya begitu saja.
.
"Ma, aku dapat surat undangan ulang tahun teman sekelasku, aku mau datang ya, Ma," rengek Davi saat anak itu baru saja ke luar dari sekolah sambil menenteng sebuah kertas undangan berwarna biru di tangannya.
"Ohya, memang kapan acaranya?" tanya Tiara, dia kini berada di depan sekolah Davi. Wanita itu mengambil surat undangan di tangan anaknya kemudian membacanya.
__ADS_1
"Dua hari lagi, Ma. Kita langsung cari kado sekarang aja, ya, Ma." Davi terlihat begitu semangat, entah itu memang terjadi setiap ada temannya yang berulang tahun, atau ada sesuatu yang lain. Tiara tidak tahu, karena ini baru pertama kali Davi mendapatkan undangan ulang tahun setelah dia menjadi Tiara.
"Hem, gimana ya?" Tiara tampak bergaya seolah sedang berpikir keras.
"Ayolah, Ma, kita berangkat sekarang, ya," rengek Davi sambil menggoyangkan pelan lengan Tiara.
Tiara tersenyum, jarang sekali dia melihat Davi yang begitu bersemangat seperti ini, dia jadi ingin mengerjai anak tampan itu.
"Eum, sepertinya hari ini gak bisa deh, sayang, soalnya Mama ada acara lain. Gimana kalau besok saja?" jawab Tiara dengan wajah menyesal.
"Yah, Mamah," lemas Davi dengan raut wajah berubah muram, anak itu bahkan terlihat menundukkan kepalanya dalam.
Tiara mengulum senyum, dia kemudian mengusap kepala Davi lembut, lalu mengambil tangan kecil anak itu.
"Ayo kita pulang, sudah mau hujan, nanti macet kalau keburu hujan deras," ajak Tiara sambil mulai menuntun Davi untuk masuk ke mobil.
Anak itu menurut, dia masuk ke mobil walau raut wajah kecewa begitu kentara. Mobil pun perlahan melaju membelah jalan kota itu. Diam-diam Tiara mengirimkan pesan pada sopir agar mengantar mereka ke pusat perbelanjaan lebih dulu.
"Maaf ya, sayang," ujar Tiara penuh sesal.
Davi hanya mengangguk, anak itu tampak menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan mata menatap ke luar jendela.
Sebenarnya Tiara tidak tega melihat wajah murung Davi, tetapi dia berusaha bertahan untuk mengerjai anak itu. Hingga akhirnya mobil mulai memasuki area pusat perbelanjaan, Davi yang mulai tersadar langsung menengakkan tubuhnya sambil menatap Tiara dengan mata berbinar.
"Mama?!" serunya dengan senyum lebar menghias wajah.
"Mama, gak mau lihat anak tampan ini cembrut jadi terpaksa ke sini deh," ujar Tiara sambil mengulum senyum.
"Makasih, Mama! Davi sayang, Mama!" Davi langsung memeluk tubuh ibunya dengan rasa bahagia.
"Heem, Mama juga sayang Davi," jawab Tiara dengan getar rasa yang tiba-tiba saja terasa berbeda. Ada rasa perih yang tiba-tiba muncul di dalam dada, saat menyadari jika kalimat sayang itu tidak terucap untuknya, tetapi untuk Tiara asli. Tanpa sadar satu bulir bening itu jatuh begitu saja membasahi pipinya.
Cepat Tiara menghapus jejak air mata itu sebelum melepas pelukan Davi, dia tidak mau jika sampai Davi melihat dirinya yang tiba-tiba melow seperti ini.
"Ayo, lebih baik kita ke luar sekarang, Mama akan antar Davi membeli kado untuk teman yang ulang tahun," ujar Tiara yang sambil membuka pintu mobil yang sudah berhenti di parkiran.
__ADS_1
"Ayo!" jawab Davi penuh semangat. Ibu dan anak itu pun turun dari mobil kemudian masuk ke area pusat perbelanjaan untuk mencari kado, sekaligus berjalan-jalan dan bermain di sana.