
Liora, Rere, Davi, dan Mak Onah, baru ke luar dari gedung pusat perbelanjaan itu, setelah matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Saking asik bermain dan berkeliling di gedung itu, keempat orang itu bahkan sampai tidak sadar jika di luar sana langit sudah berubah menjadi gelap.
Sementara itu, laki-laki yang sejak tadi mengawasi Liora dan yang lainnya tampak terus mengikuti mereka hingga akhirnya masuk kembali ke rumah milik Tiara.
Liora tentu tahu jika ada yang mengikutinya sejak tadi, tetapi dia memang sengaja bersikap cuek dan pura-pura tidak tahu. Padahal, di balik itu Liora sudah berhasil mengambil gambar orang yang mengikutinya, dengan cara berpura-pura perfoto selfi dengan Davi dan yang lainnya.
Liora kemudian mengirimkannya pada Charly untuk mencari tahu, tentang orang itu. Apakah dia adalah anak buah Charly atau anak buah Dery, bahkan Niken.
Liora tahu jika Charly sudah menerima pesan darinya, walau laki-laki itu tidak membalas pesan darinya.
"Makasih, ya, Re. Kamu sudah mau bawa aku dan Davi jalan-jalan," ujar Liora ketika dirinya hendak turun dari mobil, karena Rere memutuskan untuk tidak mampir ke rumah Tiara dulu.
"Aku juga senang bisa nemenin kalian semua. Aku langsung pulang, ya," jawab Rere.
Liora hanya mengangguk sambil ke luar dari mobil, dia kemudian melambaikan tangannya saat Rere sudah mulai mengemudikan mobil menjauh melewati gerbang, kemudian menghilang ditengah gelapnya malam.
.
Pagi hari mejelang, seperti biasa Liora bersiap untuk lari pagi, dengan stelan olah raga berwarna biru wardah yang tampak cantik di tubuhnya. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Liora berjalan ke luar dari kamar.
Untung saja, sepertinya pagi itu penghuni kawasan lantai dua masih belum berniat untuk turun ke bawah, hingga sampai hari yang sudah mulai siang keduanya masih belum turun juga.
Liora ke luar dari rumah bersamaan dengan Charly yang juga ke luar dari gerbang rumahnya. Mereka pun lari pagi bersama. Keduanya masih terlihat seperti biasa, hingga setelah dirasa jauh dari area rumah keduanya mulai berbicara serius di sela lari pagi mereka.
"Siapa laki-laki yang aku kirimkan fotonya kemarin padamu? Apa kamu sudah berhasil mencaritahu?" tanya Liora dengan suara yang pelan, hingga hanya keduanya yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Dia adalah anak buah suamimu. Sepertinya mereka sudah mulai mencurigaimu," jawab Charly.
Liora terdiam, dia masih mendengarkan apa yang akan Charly katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Sebaiknya untuk sekarang, kamu jangan terlalu bersikap mencurigakan. Kita lihat saja dulu apa saja yang mereka lakukan." Charly memberikan saran, walau lebih terdengar seperti perintah di telinganya Liora.
Liora melirik Charly tajam kemudian mendengkus kesal.
"Kamu tidak tahu, bagaimana sulitnya aku tinggal di sana," gerutu Liora tidak sabaran. Bibirnya mencebik kesal, hingga sedikit maju.
Charly menghembuskan napas kasar, berurusan dengan orang yang bukan profesional memang sangatlah melelahkan, itu sebabnya dia malas bekerja sama sedang wanita di sampingnya.
Namun, karena dirinya juga membutuhkan bantuan agar misinya kali ini cepat selesai, Charly terpaksa menyetujui permintaan Liora, walau dia tahu jika semuanya pasti akan sangat melelahkan.
"Tapi, kita harus tetap waspada, agar suami kamu tidak menyadari jika sekarang kamu sedang merencanakan semua ini," ujar Charly mencoba menjelaskan dengan sederhana, tentu saja tanpa mengatakan yang sebenarnya tentang usaha gelap milik Dery yang sekarang sedang dirinya curigai.
Liora tidak menjawab, dia hanya mengangguk kilas dengan wajah yang sangat terpaksa.
"Bagaimana dengan alat perekam yang kamu selipkan di jok mobilnya?" tanya Charly kemudian.
Beberapa hari setelah dia memasang alat perekam itu, dirinya disibukkan untuk mengikuti Dery. Namun, tidak ada hasil apa pun. Tidak ada tanda-tanda Dery mengatakan sesuatu tentang kedua orang tuanya.
Sebenarnya Liora tidak heran jika saat ini Dery tidak lagi membicarakan semua itu, mengingat kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Mungkin sekarang mereka bahkan sudah melupakan jika perusahaan itu adalah milik kedua orang tua Tiara.
Charly mengangguk pelan, dia tidak lagi membahas semua itu, keduanya kembali berlari bersama kemudian menyempatkan diri untuk beristirahat sebentar di taman komplek, bergabung dengan para penghuni komplek lainnya yang sedang menikmati akhir pekan bersama keluarga.
.
Hari berlalu begitu saja, Liora mengikuti arahan dari Charly untuk bersikap biasa saja tanpa ada usaha yang mencolok untuk mengorek informasi di dalam rumah.
Selama seminggu ini dia benar-benar berperan menjadi seorang ibu untuk Davi dan mengikuti semua perintah dari Dery, walau terkadang perdebatan dengan Niken masih saja terjadi, seperti saat ini.
Niken yang mau makan ikan bakar sedang merajuk dan berusaha menghasut Dery untuk memaksa Liora pergi ke pasar, karena persediaan ikan di kulkas sudah habis.
__ADS_1
Sementara itu, Liora yang enggan untuk ke pasar hanya untuk menuruti kemauan Niken yang menurutnya dibuat-buat, terus menolak dan menyuruh Niken memakan apa yang sudah dirinya dan Mak Onah siapkan.
"Mas, ini kan bukan maunya aku, ini kemauan anak kamu lho, Mas. Kamu mau nanti anak kamu ileran pas udah lahir?" rajuk Niken sambil bergelayut manja di tangan Dery, matanya sesekali melihat Liora dengan tatapan penuh rencana.
Dery tidak menjawab, sepertinya laki-laki itu sudah pusing menghadapi pertengkaran di antara kedua istrinya yang terjadi hampir setiap hari. Tiara yang sudah bisa melawan membuatnya selalu kesulitan karena terus menentang keinginan Niken.
Sementara itu, Liora yang mengetahui jika semua itu hanya rencana Niken untuk mengerjainya, tetap berdiri di depan kedua orang itu dengan bersidekap dada, menonton pertunjukan di depan mata. Sungguh, dirinya sudah muak dengan semua drama yang dibuat oleh Niken dengan mengatasnamakan kehamilannya.
Terkadang, rasanya ingin sekali dia memberikan racun di makanan yang dirinya siapkan agar Niken bisa keguguran atau mati saja sekalian. Namun, dia masih sedikit memiliki empati, tidak mungkin dia membunuh bayi yang tidak bersalah, bahkan belum sempat dilahirkan.
Walau sewaktu dirinya masih di Claifornia, Liora merupakan seorang ketua gengster, tetapi dia tidak akan melakukan pembunuhan atau mengorbankan orang yang tidak bersalah hanya untuk keinginannya. Meski terkadang semua itu memang tidak bisa dia hindari, dan menjadi akibat dari pertempuran antara dua kelompok gengster yang beradu kekuasaan wilayah.
Namun, setelah itu Liora akan menugaskan anak buahnya untuk bertanggungjawab dan memberikan sedikit santunan untuk keluarga korban. Dirinya memang tidak segan membunuh lawan atau bahkan anak buah yang berhianat, tetapi tidak untuk orang biasa yang tidak bersalah.
Kini, semua itu ditambah dengan perasaan Tiara yang masih tertinggal di dalam dirinya, semua itu membuat Liora semakin sulit untuk mengendalikan dirinya agar bisa berbuat kriminal seperti dahulu.
Perasaan Tiara yang hanya tertinggal beberapa persen itu, ternyata mampu menekan sedikit perasaan ketua gengster yang sudah dia latih sejak kecil. Kini, Liora merasa bagaikan orang biasa yang memiliki rasa takut dan gugup jika melakukan sesuatu hal yang salah.
"Ada apa ini, kenapa menantu kesayanganku menangis seperti ini?"
Liora mengalihkan pandangannya ketika suara wanita yang tidak terlalu asing di telinganya kini terdengar kembali, dan mengintimidasi seluruh ruangan.
Dia sempat melebarkan matanya sekilas sebelum akhirnya menormalkan perasaannya lagi, ketika melihat ibu dari Dery kembali datang ke rumah dengan tanpa permisi.
Padahal sudah cukup lama wanita paruh baya itu tidak datang ke rumah, hingga membuatnya leluasa dalam bertindak karena Niken tidak memiliki dukungan selain Dery yang menurutnya terlalu plinplan.
Namun, kini dia menatap jengah wanita yang masih berjalan angkuh menuju ke arah ruang makan itu. Pakaian bermerek dan perhiasan yang berlebihan tampak terlihat dia kenakan, hingga membuat Liora bagaikan sedang melihat toko berjalan.
Nenek lampir sudah kembali. Liora membatin, bersiap untuk menghadapi drama yang lebih memusingkan lagi.
__ADS_1