Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.19 Sesuatu yang janggal


__ADS_3

"Selamat pagi," ujar Liora sopan, dia pun tersenyum lembut berusaha agar terlihat seperti Tiara yang sebenarnya.


"Siapa, ya?" tanya laki-laki paruh baya yang Liora yakini bernama Jordi.


"Saya Tiara Larasati. Apa benar ini dengan Bapak Jordi?" tanya Liora sopan.


Laki-laki berkacamata dengan kemeja berwarna putih itu tempak melebarkan mata begitu mendengar nama Tiara Larasati disebut. Itu semua membuat Liora yakin jika Pak Jordi memang mengetahui sesuatu di kehidupan mendiang kedua orang tua Tiara.


"Maaf, sepertinya Nona salah orang!" Tiba-tiba saja Pak Jordi merubah raut wajahnya menjadi panik dan menutup pintu gerbang begitu saja.


"Pak, Bapak ... tunggu dulu, ada yang harus kita bicarakan, tolong temui saya, Pak!" Liora berteriak sambil kembali mengetuk pintu pagar berbagai besi itu, mencoba untuk menghentikan laki-laki paruh baya yang terlihat sedang berjalan menjauh dengan langkah terburu-buru.


"Pak! Pak Jordi!" Liora meringis melihat Pak Jordi sudah masuk kembali ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun padanya.


"Huh!" Liora menghembuskan napas kasar sambil mengibaskan tangannya yang ternyata terluka karena tergores sisi pagar yang sedikit tajam karena sudah mulai lapuk.


"Haish, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak kenapa juga dia sampai ketakutan begitu ketika aku sebut nama Tiara?" gumam Liora sambil kembali mencoba melihat ke dalam.


Namun, tidak ada tanda-tanda kalau laki-laki paruh baya itu akan ke luar. Terpaksa, Liora pun menyerah untuk kali ini, panas matahari sudah mulai menyengat, dia mengusap kening yang sudah dipenuhi bulir keringat, hingga tiba-tiba matanya melihat sebuah warung kaki lima di seberang jalan yang masih terbuka.


Liora kemudian melihat luka di telapak tangannya, bibirnya tampak tertarik membentuk seringai penuh rencana di dalam kepala.


Menoleh ke kanan dan kiri, memastikan jika tidak kondisi jalan aman untuk menyebrang, kemudian mulai melangkahkan kaki dengan salah satu tangan terulur ke samping untuk memberi tanda pada kendaraan yang sedang melaju menghampirinya.


Terlihat ada seorang laki-laki muda yang sedang duduk sambil menyesap sebatang rok*k, di pintu kecil di bagian samping warung berbentuk gubuk kecil itu. Liora yakin jika dia adalah penjaga warung itu.


"Pagi, apakah ada plester luka?" tanya Liora sopan.


Laki-laki muda itu tampak menatap Liora sekilas kemudian menaruh batang rokok di tempat yang sudah tersedia dan mengangguk.

__ADS_1


"Ada, mau berapa?" tanyanya.


"Dua saja," jawab Liora.


"Minumnya satu, ya." Liora langsung mengambil air di dalam kemasan botol lima ratus mililiter kemudian membukanya dan menggunakannya untuk membasuh luka.


"Eum, kamu sudah lama jualan di sini?" tanya Liora sebatas basa-basi.


"Udah dua tahunan, emang kenapa?" tanyanya sambil mengulurkan dua buah plester luka.


"Kamu tau kantor pengacara di depan sana? Itu masih beroperasi atau sudah tutup?" Liora bertanya sambil mengambil plester, lalu membalut lukanya.


Laki-laki muda itu tampak melihat ke seberang jalan. "Gak tau!"


Liora mengernyit ketika mendengar nada suara laki-laki muda itu terdengar berubah, dia yang awalnya tidak memperhatikan wajah lawan bicaranya karena tengah fokus pada lukanya, kini menoleh hanya untuk melihatnya.


"Jadi sepuluh ribu!" ujarnya cepat, seolah mengusir Liora secara tidak langsung.


"Terima kasih," ujarnya sambil tersenyum dengan kepala sedikit dimiringkan.


"Oh iya, kalau berubah pikiran dan mau memberi informasi tentang rumah di depan, kami boleh menghubungi nomor di uang itu, ya," sambungnya sebelum berbalik kemudian berjalan menjauh dari warung kaki lima itu.


Matanya mengedar melihat keadaan sekitar, melihat setiap CCTV di sekitar rumah itu yang mungkin aktif dan bisa dia manfaatkan suatu hari nanti.


Hah, adai saja aku mempunyai seorang hecker atau mungkin seseorang yang memiliki koneksi di kepolisian, batin Liora.


Dia menyayangkan karena dirinya tidak bisa melakukan keterampilan seperti itu, biasanya dia mengandalkan salah satu anggota gengster yang pandai dalam hal itu, tetapi sekarang dia hanya sendiri dengan keahlian yang terbatas.


"Baiklah, sekarang kita pulang dulu, dan maksimalkan alat yang aku punya," gumamnya menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


.


Hari sudah bergant malam, Liora bersiap untuk ke liar dari kamar ketika jarum jam menunjukan pukul satu dini hari. Sebelum itu dia menenggak habis air putih di dalam gelas kemudian membawanya ke luar, berjalan santai di tengah lampu yang redup dengan mata sedikit terpejam.


Sampai di dapur, Liora mulai menuangkan air dengan gaya santai, tetapi ketika gelas baru terisi setengah kepalanya menoleh ke arah pintu menuju garasi yang ada di samping dapur. Perlahan dia menaruh gelas di meja dapur kemudian berjalan menuju ke garasi.


Dalam ruangan yang lebih gelap dari ruangan lainnya, Liora berjalan menuju salah satu mobil di paling depan, dia kemudian berjongkok seolah mencari sesuatu di bawah mobil.


Tangannya bergerak mengambil sebuah jepit di rambutnya dan mulai membuka kunci pintu mobil dengan sangat hati-hati. Hingga beberapa saat kemudian senyumnya terbit ketika telinganya mendengar suara klik, tanda kunci sudah berhasil terbuka.


Ternyata kemampuanku masih cukup bagus, batin Liora sambil menyeringai puas dan kembali memasang jepit rambut itu.


Perlahan dia membuka pintu mobil itu dan menyimpan alat perekam suara mini itu di sela jok mobil di bagian belakang. Sebanyak yang Liora tahu, Dery jarang sekali membawa orang banyak, hingga jok belakang hampir jarang terisi. Menurutnya itu adalah lokasi teraman.


Sementara itu, Dery yang ternyata masih berada di ruang kerjanya terlihat menoleh pada salah atu layar yang memperlihatkan beberapa video rekaman CCTV di dalam rumah, hingga matanya melebar saat melihat Tiara tampak menghilang di samping mobilnya.


"Apa yang sedang dia lakukan di sana?" ujarnya panik.


Pasalnya posisi Liora saat ini berada dalam titik buta CCTV, hingga dia tidak bisa memantau apa yang sedang istri pertamanya itu lakukan.


Walau dia masih menganggap Tiara adalah wanita lemah yang selalu kalah ketika diancam dengan menggunakan Davi, tetapi dia juga harus tetap waspada pada wanita yang telah dia nikahi lebih dari delapan tahun itu.


"Sial! Apa yang dia lakukan di sana?!" Dery langsung beranjak ketika dia tidak juga melihat Liora setelah beberapa waktu berlalu.


Dengan langkah cepat di segera menyusul Liora menuju ke ruang garasi. Entah mengapa setelah Tiara pulang dari rumah sakit, dia merasa istri pertamanya itu sedikit berubah hingga mampu membuatnya was-was saat menghadapinya.


Sorot mata yang jelas berbeda dan juga perubahannya yang terlalu tiba-tiba membuatnya tidak tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Tiara. Walau hatinya selalu mengatakan jika Tiara hanyalah wanita lemah, nyatanya mata dan logikanya melihat hal yang berbeda.


Tiara yang sekarang, bukanlah Tiara yang dahulu, dia bagaikan orang yang berbeda walau kelemahannya tetaplah sama, yaitu Davi.

__ADS_1


Dengan wajah menahan kesal dan pikiran buruk yang menyertainya, Dery membuka pintu garasi, bersiap untuk memaki Tiara, jika saja wanita itu berani untuk berbuat masalah dengannya.


Lalu, apa yang akan Dery temukan? Bagaimana dengan nasib Liora? Kira lihat di bab berikutnya🤭👋


__ADS_2