Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.37 Bimbang


__ADS_3

Hari berganti begitu saja, kini sudah seminggu berlalu setelah kejadian yang menimpa Tiara. Dari semenjak hari itu, Tiara tidak lagi bertemu dengan Charly. Dery yang tidak terima atas hubungan dirnya dan Charly, kini memberikan pasilitas sopir pribadi untuk mengantarnya ke mana pun Tiara mau.


Sikap Dery pun terlihat lebih lembut dari sebelumnya, dia tidak lagi selalu memaksanya untuk menuruti kemauan dari Niken dan ibu mertuanya, walau Dery juga tidak pernah membelanya di handapan dua orang itu.


Sepertinya karena perlawanan Tiara yang tidak main-main, membuat laki-laki itu sedikit waspada, walau sebenarnya Tiara sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari Dery. Selama ini laki-laki itu selalu bersikap tidak peduli dan mengacuhkannya seolah sudah tidak mencintainya lagi, tetapi sekarang Dery malah bertindak seolah takut kehilangannya.


Namun, Tiara juga memilih untuk tidak ambil pusing dengan perubahan Dery padanya, dia malah lebih fokus untuk melakukan rencananya dan Charly secara diam-diam. Seperti malam ini, Tiara yang sudah menidurkan Davi kembali masuk ke kamarnya, kemudian membuka laptop peninggalan Tiara yang asli.


Tiara langsung membuka email dari Charly yang terlihat sudah dikirim dari tadi sore. Getar ponsel yang tergeletak di samping laptop itu pun terdengar hingga mengalihkan perhatian Tiara.


Wanita itu langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Charly, sepertinya laki-laki itu melihat dirinya sedang aktif hingga langsung menghubunginya.


"Iya, ada apa?" tanya Tiara sambil menempelkan ponsel di telinga, sedangkan matanya masih terlihat fokus pada layar laptop di depannya.


"Sudah menerima email yang aku kirim?" tanya Charly langsung pada intinya.


"Aku sedang melihatnya," jawab Tiara sambil membagi fokus untuk membaca laporan di layar laptopnya.


"Baiklah, kamu baca saja dulu, aku hanya ingin menanyakan itu." Charly terdengar kembali berbicara, sepertinya laki-laki itu hendak memutuskan sambungan telepon di antara mereka.


"Tunggu sebentar. Bukannya ini adalah surat kuasa hak waris yang selama ini aku cari? Kamu dapatkan dari mana? Apa dari pengacara itu?" Tiara langsung memberondong Charly dengan banyak pertanyaan begitu dia membaca keseluruhan laporan yang dikirimkan oleh Charly.


Ya, seminggu lalu, ketika Charly merawatnya karena kekerasan yang dilakukan oleh Dery, Tiara mengingat tentang pengacara keluarganya yang dulu sempat dia datangi dan memperlihatkan sikap mencurigakan. Tiara memutuskan untuk memberitahu Charly atas semua itu.


"Iya, kami berhasil mendapatkan kepercayaan pengacara itu, dan dia akhirnya mau untuk bekerja sama dengan kita," jawab Charly.


"Benarkah? Apa yang kalian lakukan sampai dia mau berpihak pada kita? Padahal dulu, dia bahkan langsung pergi ketika melihatku," tanya Tiara dengan suara yang terdengar sumringah.


Tanpa sadar, Charly yang sedang berdiri di balkon rumahnya sambil melihat rumah Tiara yang ada tepat di depannya tersenyum tipis hanya karena suara penuh semangat wanita itu.


"Kamu tidak perlu tau, yang penting sekarang dia mau memberikan informasi untuk kita," jawab Charly sambil sedikit menundukkan kepalanya walau itu hanya sesaat.

__ADS_1


"Heem, baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Makasih, ya, kamu sudah mau membantuku sampai sejauh ini," ujar Tiara jujur. Dia sangat bersyukur dengan pertolongan dari Charly, Tiara sadar jika dirinya tidak akan bisa sampai di tahap sekarang bila tanpa bantuan Charly.


"Ini terlalu awal untuk berterima kasih, Tiara. Kita bahkan belum masuk ke arena pertarungan yang sesungguhnya. Sudahlah, kamu pelajari saja dulu, apa yang aku kirimkan. Besok ada beberapa berkas yang akan aku kirimkan lagi," ujar Charly sebelum memutuskan sambungan telepon antar keduanya.


"Eh, kenapa harus menunggu besok? Kenapa tidak sekarang saja?" Tiara tampak bertanya dengan penuh penasaran di dalam benaknya.


"Sudahlah, tidak usah membantah, turuti saja perintahku." Charly langsung menjawab lalu menutup sambungan telepon begitu saja.


"Ish!" Tiara mencebik kesal, walau akhirnya dia tersenyum sambil melihat ponsel yang sudah mati, dia tidak menyangka jika mereka yang awalnya musuh kini bisa bekerja sama setelah dia terjebak di dalam tubuh wanita yang telah bersuami ini.


Tiara tampak meletakkan ponsel miliknya di samping laptop kemudian kembali membuka email yang masih tersisa dan mempelajari apa saja yang dikirimkan oleh Charly hari ini.


Ya, begitulah sekarang mereka berkomunikasi dan menjalankan misi, Tiara yang mengawasi Dery di dalam rumah, sementara Charly mencari informasi tentang Dery dan semua usahanya.


Sementara itu, setelah Charly memutus sambungan telepon dengan Tiara, telepon dari sambungan luar negeri kembali membuat ponsel yang masih di tangan bergetar. Dia mengernyit ketika itu adalah nomor milik atasannya yang memberikan misi ini kepadanya.


"Siap, Pak!" ujar Charly cukup lantang. Tanpa sadar dia bahkan menegakkan tubuhnya seolah sedang melakukan posisi siap saat upacara.


"Saya masih mencoba mencari posisi Roxi Nicholas di negara ini, Pak. Namun, ternyata itu cukup sulit, karena selama ini mereka belum pernah bertemu secara langsung," jawab Charly dengan nada suara yang terdengar kurang bersemangat.


"Benarkah? Atau semua itu hanya alasan karena sekarang kamu tidak hanya fokus pada misi yang aku berikan?" tanya laki-laki di seberang sana, seolah tahu apa yang terjadi pada Charly di sini.


Charly mengerjapkan mata beberapa kali, dia cukup terkejut dengan pertanyaan atasannya itu, walau sebenarnya sudah tidak heran jika atasanya tahu tentang dirinya di sini.


"Tidak ada, Pak. Kami memang belum menemukan celah dan tanda keberadaan Roxi di negara ini," jawab Charly cukup lantang dan yakin.


Charly bisa mendengar hembusan napas kasar di seberang saja, sebelum laki-laki yang bernama Eldon itu berbicara kembali.


"Baiklah, aku percaya padamu, Charly. Selama ini kamu tidak pernah mengecewakan, dan aku harap kali ini juga begitu," ujar Eldon seperti sebuah pesan sekaligus peringatan untuk Charly.


Telepon mereka pun berlanjut dengan membicarakan misi yang sekarang sedang dilakukan Charly di negara ini, hingga beberapa saat mereka sempat berbincang sebelum akhirnya memutuskan sambungan setelah lima belas menit berbicara.

__ADS_1


Charly menggengam ponsel di tangannya dengan cukup erat, dia menatap rumah Tiara yang tepat berada di depan rumah yang sekarang dia tempati. Pikirannya tiba-tiba bercabang, dengan semua yang telah dia lakukan sekarang bersama Tiara.


Peringatan secara tidak langsung yang dikatakan oleh Eldon membuat hatinya menjadi ragu dengan keputusannya untuk membantu Tiara. Dia takut jika nanti semua ini akan berdampak buruk bagi wanita itu, apa lagi jika sampai atasanya itu tahu kalau Tiara mengetahui identitas pekerjaannya.


Jelas itu akan memberatkan Tiara, karena mereka pasti mencurigai wanita itu yang tiba-tiba bisa mengetahui identitas seorang agen rahasia, yang seharusnya akan terus menjadi rahasia hingga anggota agen rahasia itu mati.


Charly tampak menghembuskan napas kasar berulang kali sambil terus menatap rumah milik Tiara. Angin malam yang berhembus menerpa tubuhnya bahkan tidak dirinya pedulikan sama sekali. Setelah malam mulai larut dan rintik hujan mulai turun bersama dengan angin malam, Charly baru menarik diri dan masuk ke dalam rumah.


Saat dia berbalik, terlihat Ramon yang berdiri di belakngnya, laki-laki itu tampak bergerak gelisah seolah merasa bersalah. Charly mengernyit melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya.


"Ada apa, Mon?" tanya Charly sambil terus melangkah kemudian memilih duduk di kursi kerjanya.


"Apa Pak Eldon menghubungimu, Charly?" tanya Ramon dengan mata terlihat enggan menatap Charly.


Charly tampak memperhatikan Ramon untuk sesaat, kemudian mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa, apa dia juga menghubungimu?" tanya Charly sambil mulai membuka laptop miliknya dan kembali fokus pada pekerjaan untuk menyusun berkas laporan tentang petunjuk yang sudah mereka dapatkan selama ini.


Ramon mengangguk ragu.


Charly tampak menoleh kembali untuk beberapa saat, kemudian menghembuskan napas pelan.


"Lalu, kamu bilang apa? Apa kamu berbicara tentang Tiara?" tanya Charly kemudian.


"Tidak! Aku tidak akan berani mengatakan itu, Charly!" jawab Ramon cepat.


"Baguslah. Tidak usah khawatir, mungkin dia hanya mendengar kabar simpang siur saja." Charly mencoba menenangkan rekan kerjanya.


"Sudahlah, lebih baik kamu bantu aku untuk memeriksa ini," sambung Charly lagi sambil mengulurkan sebuah USB pada Ramon.


Ramon langsung menerimanya, mereka pun kembali pada kesibukannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2