Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.80 Sebab dan alasan


__ADS_3

...Sebelum baca lanjutan cerita Liora dan Charly, aku mau promosi cerita baruku sebentar, ya🤭...


...Ini adalah cerita dari Livia, salah satu pemeran pendamping di karya aku sebelumnya, yaitu MAFIA STORY. Adakah di sini yang pernah baca MAFIA STORY sebelumnya? Kalau ada coba komen dong, masih ingat gak sama sosok Livia di sana🥰...


...Ya udah, jangan panjang lebar, ya. Sekarang aku kasih banner aja ya, biar kalian bisa liat gambaran kecil dari cerita baruku. Semoga aja ada yang tertarik, kan. Syukur-syukur kalau semuanya pada mampir dan baca juga. Wah itu sih aku bakal seneng banget 🤭😍...



...Udah ah promomya jangan kebanyakan, nanti pada protes. Sekarang kita kembali ke cerita, ya. *Happy Reading ❤️**❤️❤️*...


Liora mengerjapkan matanya perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat direnggut secara paksa darinya.


Namun, disaat dia mengingat semua kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri, Liora langsung membulatkan matanya, melawan rasa pening yang masih terasa di kepala. Dia mengendarkan pandanganya, melihat semua yang ada di sekitarnya.


Tampak sebuah ruangan kumuh dan kosong dengan dinding kaca besar di salah satu sisi ruangan. Sepertinya ini adalah kamar hotel yang langsung menghadap ke lautan.


"Mama."


Mata Liora langsung melebar dengan kepala menoleh cepat ke arah samping, ketika mendengar suara anak kecil yang tidak asing di telinganya.


"Davi! Sayang!" Liora langsung memanggil bocah yang sudah menjadi anaknya dalam beberapa waktu ini.


"Mama! Davi takut! Davi mau sama, Mama!" Davi menangis keras, sambil memanggil Liora, air mata pun berderai membasahi wajah mungil anak itu. Dia mengadu apa yang terjadi padanya dan dia rasakan pada Liora.


Hati Liora merasa sakit melihat anak itu yang tampak kacau. Wajahnya pucat dengan lingkar hitam di matanya, suaranya pun terdengar parau, mungkin karena sudah terlalu lama menangis.


Liora mengepalkan tangannya yang terikat di belakang kursi, dia berusaha melepaskan diri, walau itu memang tidak mudah. Dia ingin memeluk anak itu, dia ingin menenangkan Davi dan melindunginya, hingga merasa aman. Namun, kini dirinya tidak berdaya. Tubuhnya terikat kuat pada kursi kayu itu, hingga sulit untuknya bergerak.


"Ssh, Davi, sayangnya Mama. Mama di sini sekarang, mama janji akan membawa kamu ke luar dari sini. Jadi, sekarang Davi jangan nangis lagi, ya," ujar Liora dengan nada suara yang sangat lembut.


Tangis Davi berhenti walau masih tersisa sesegukan di mulutnya. Liora tersenyum melihat Davi menurut dengannya.


"Anak pintar," ujarnya memberikan pujian pada anak itu.


Prok prok prok!


Suara tepuk tangan terdengar menggema di ruangan itu, Liora langsung mengalihkan perhatinanya ke arah suara, di mana Dua orang laki-laki berbeda usia dan perempuan setengah tua terlihat berjalan masuk, diikuti dengan beberapa pengawal di belakangnya.

__ADS_1


Tunggu ... dari semua yang ada di sana, Liora mengenal salah satunya. Dia memicingkan matanya, melihat wanita setengah tua yang ada di sana.


"Ibu?" gumamnya sambil menatap tajam wanita itu. Setelah penglihatannya jelas, Liora semkain dibuat kesal tak terkira.


Ya, itu adalah ibunya Dery, dia ada di antara dua orang laki-laki lainnya. Wanita tua itu bahkan tidak mengasihani cucunya sendiri, dia tega mengikat Davi dan membiarkannya menangis hingga suaranya hampir hilang. Liora semakin geram ketika melihat ibu Dery terlihat saling pandang dengan sorot mata menggoda pada laki-laki tua yang ada di sana.


Apa dia adalah ayahnya Dery? Jadi mereka adalah keluarga brengsek semua? batin Liora penuh tanya, mengingat selama ini dia tidak pernah melihat ayahnya Dery.


"Dasar tua bangka tidak tau malu!" gumam Liora dengan wajah menahan kesal, dia terus menatap mereka dengan penuh kebencian.


"Oh, honey, kamu semakin manis jika sedang marah begini," ujar Roxi tiba-tiba, yang langusng mengalihkan perhatian Liora.


Siapa kiranya yang Roxi panggil honey, sedangkan di ruangan ini tidak ada lagi perempuan selain Liora dan ibu mertuanya? Mana mungkin bukan jika dia juga adalah laki-laki simpanan ibu mertuanya?


"Ck! Mereka sangat menjijikan," gumam Liora lagi.


"Bukan dia, honey. Aku berbicara denganmu."


Semua prasangka Liora beberapa saat yang lalu kini terbantahkan oleh ucapan dari Roxi. Kini laki-laki itu tampak sedang berjalan menghampiri Liora.


"Cih! Kupingku saja terasa jijik mendengar suaramu, dasar bajingan gila!" umpat Liora sambil berdecih kasar.


"Kamu mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku inginkan, honey. Keberanianmu dan sikamu yang kasar, membuatmu malah terlihat sama seperti dia," ujar Roxi sambil terus melangkah mendekatinya, kemudian berdiri tepat di depan Liora.


"Cuih!" Liora meludah tepat pada wajah Roxi.


Roxi menutup matanya ketika mendapatkan perlakuan tidak sopan dari Liora. Ada rasa terhina di dalam hatinya. Dia menjadi sangat geram dan marah. Namun, entah kenapa, itu semua tidak menyurutkan keinginannya untuk memiliki wanita di depannya itu.


"Tiara! Jaga sikapmu kalau kamu dan anak cengengmu itu masih mau hidup!" sentak ibunya Dery sambil menatap tajam Liora. Dia hampir ingin kembali mengomeli menantunya itu ketika tiba-tiba Roxi mengangkat tangan, sebagai tanda agar dirinya diam.


Roxi kemudian mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan dan menghirup saliva yang dia dapatkan dari Liora.


"Kamu tau? Semua ini malah membuatku ingin segera memilikimu, honey," ujar Roxi dengan wajah yang terlihat begitu buas. Dia seolah sudah dipenuhi oleh fantasi liar, hanya dengan menghirup bau saliva Liora yang ada di tangannya.


"Cih! Jangan harap! Aku labih memilih mati, daripada harus berada di bawahmu, dasar bajingan gila!" Liora membuang muka.


"Ah, aku kecewa. Ternyata kamu juga menolakku? Sama seperti dia," keluh Roxi sambil memegang dadanya seolah ada yang terluka di sana. Namun, beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah drastis, menjadi buas dan kejam.

__ADS_1


"Kamu mau mati?" Dalam sekejap nada suara Roxi berubah menjadi dalam dan dingin.


Liora melebarkan matanya, dia kemudian menatap lekat laki-laki yang ada di depannya itu. Tunggu ... rasanya dia tidak terlalu asing dengan perkataan dan bentuk wajah laki-laki ity. Pikirannya tiba-tiba saja berkelana pada saat dirinya masih menjadi seorang anggota gengster.


Flash back ....


"Aku tidak akan pernah memberikan apa yang kamu mau, Lexis! Jangan harap kamu bisa mendapatkan aku!" Liora menolak lamaran seorang laki-laki yang sudah beberapa bulan lalu bertemu di salah satu pesta.


"Aku tidak akan pernah menyerah, Liora. Aku akan pastikan kamu hanya jatuh ke dalam pelukanku." Laki-laki itu masih saja berusaha.


"Aku mencintaimu sejak pertemuan pertama kita, Liora. Bukankah itu suatu pertanda jika kita berjodoh?" ujanya lagi.


"Maaf, Lexis. Tapi, aku tidak pernah menyukaimu. Kita bahkan musuh sekarang, mana mungkin kamu bisa mencintaiku," ujar Liora sambil berbalik hendak meninggalkan laki-laki itu.


Namun, tiba-tiba Lexis menariknya kemudian mendesaknya ke tembok, dia mencengkram dan melakukan pelecehan sek*ual pada Liora.


"Aku tidak perduli dengan status musah atau rekan, Liora. Yang aku inginkan hanya kamu menjadi milkikku!" bisiknya tepat di depan telinga Liora.


"Jika memang kamu tidak mau dengan cara lembut, maka jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar padamu, Liora!" ujarnya sambil menarik rambut Liora kemudian berusaha untuk meraih bibirnya. Namun, gerakan Liora yang lincah berhasil menghindar dari perlakuan kurang ajar Lexis.


"Jangan kurang ajar, Lexis! Aku lebih baik mati dari pada harus melayani napsu bejatmu!" teriak Liora dengan wajah memerah, menahan amarah.


Lexis tersenyum remeh, dia kemudian berjalan mendekati Liora lagi. "Jadi, kamu mau mati?" tanyanya dengan suara yang berubah menjadi dalam dan dingin.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku kabukan keinginanmu, heh? Aku lebih suka merusak mainan yang sudah dipegang orang lain, lalu membuangnya ke lautan!"


Flash back off ....


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku kabukan keinginanmu, heh? Aku lebih suka merusak mainan yang sudah dipegang orang lain, lalu membuangnya ke lautan!" Roxi tampak terkekeh ringan sambil melangkah menjauhi Liora, dia kemudian membuat jarinya menjadi seperti senjata api yang siap menembak, lalu mengarahkannya padanya.


"Dor!" ujarnya seolah sedang menembak Liora tepat di jantungnya.


"Lexis?" gumam Liora pelan. Kini dia juga mengingat saat dirinya ditembak oleh musuh ketika lari dari kejaran Charly dan anak buahnya. Sebelum motornya kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, dia juga melihat Lexis ada di sana dan tersenyum padanya.


Jadi yang menembakku waktu itu dan menyebabkan aku seperti ini sekarang, adalah dia? Lexis dan Roxi adalah orang yang sama? gumam Liora di dalam hati.


Ya, sekarang dia yakin, jika yang menyebabkan dia seperti ini adalah Roxi, dan mungkin ini juga alasan dia ada di dalam tubuh Tiara sekarang. Liora harus mencegah orang-orang baik ini menjadi salah satu korban kegilaan Roxi lagi, sama seperti dirinya.

__ADS_1


Dasar laki-laki gila! Kali ini aku tidak akan kalah lagi darimu, Roxi. Aku akan pastikan kamu mati di tanganku! geram Liora dalam hati.


__ADS_2