
Liora mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling tempatnya berdiri saat ini. Padang bunga mawar. Itu lah yang terlihat dari tempatnya berdiri sampai ujung pandangan.
"Di mana ini?" gumamnya, sambil membawa kakinya melangkah mencari petunjuk.
Lama berjalan dia tidak menemukan apa pun dia sana, yang ada hanya tanaman bunga berduri dengan berbagai warna.
"Eliora."
Suara lembut yang terdengar memanggil namanya membuat perempuan itu menoleh cepat. Matanya melebar begitu melihat sosok wanita bergaun putih bersih yang tampak tersenyum lembut ke arahnya. Namun, walau begitu dia masih bisa melihat ada setitik sendu di dalam sorot matanya.
"Ti--Tiara?" gumam Liora yang mengenali wajah itu.
"Tolong bantu aku dan anakku mendapatkan keadilan, Liora. Aku tau, kamu bisa melakukannya," ujar Tiara dengan air mata berderai.
Dalam hitungan detik, senyum lembut itu kini berubah menjadi deras air mata. Ada getaran aneh di dalam hatinya saat melihat mata pilu dan penuh luka Tiara.
Tiba-tiba dia meraskan ada tekad yang kuat di dalam dirinya untuk menyetujui permintaan tolong wanita di depannya.
Liora semakin dibuat meradang di dalam kebingungan ketika tiba-tiba saja dia melihat gaun di tubuh Tiara yang awalanya putih bersih kini berubah menjadi penuh darah.
"A--apa yang terjadi padamu? Ke--kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Liora menatap khawatir Tiara.
"Liora, sebenarnya kecelakaan itu ...."
"Tidak, jangan menghilang dulu. Tiara, apa yang ingin kamu katakan padaku? Kecelakaan itu kenapa?!" Liora berteriak panik sambil mengedarkan pandangannya ketika tiba-tiba tubuh Tiara menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.
"Hah!" Liora langsung membuka matanya dengan napas yang sudah memburu, tetes keringat bahkan terasa di sisi wajahnya.
Dia menoleh ke samping di mana seseorang tampak memeluknya begitu erat. Perlahan dia lepaskan tangan mungil yang memeluk erat perut rampingnya, kemudian beranjak duduk menyandar di kepala ranjang. Tangannya mengambil gelas berisi air putih di atas nakas kemudian meminumnya hingga hampir tandas.
Ya, itu adalah Deva, tadi malam dia meminta untuk tidur bersama. Katanya dia rindu pada Tiara dan ingin tidur bersama. Liora tak kuasa menolak permohonan anak kecil itu, hingga dia akhirnya rela mengacuhkan kenyamannanya sendiri demi membiarkan anak itu tidur bersamanya.
Cuma mimpi? Tapi, kenapa terasa sangat nyata? Apa sekarang dia mendatangiku di dalam mimpi? Batin Liora bertanya, kerutan dalam bahkan terlihat jelas di keningnya yang masih terlihat lembap oleh keringat.
"Apa yang sebenarnya dia mau katakan padaku? Ada apa dengan kecelakaan itu?" gumam Liora masih dengan kening yang tampak berkerut.
Ingatannya kembali pada saat dia bertemu dengan Dery sore hari tadi, laki-laki itu datang ke kamarnya hanya untuk memberi peringatan padanya agar tidak bertindak melebihi batas.
Ternyata, semua pikiran buruknya tentang Dery yang ingin meminta hak sebagai suami, memang salah besar. Nyatanya, laki-laki itu tidak sedikitpun menyentuhnya walau mereka hanya berdua di dalam kamar.
__ADS_1
"Aku tau kamu mengalami hilang ingatan, tapi itu tidak memberikanmu wewenang untuk melawanku, Tiara! Di rumah ini, akulah yang berkuasa atas segalanya. Jika kamu masih ingin hidup dengan nyaman dan melihat Deva, maka jangan pernah mencoba untuk melawanku, atau kamu aku bisa membuat kamu tidak pernah melihat wajah anakmu lagi."
Ancaman yang diucapkan oleh Dery tadi sore sepertinya tidak main-main. Cara laki-laki itu berucap dan menatap Tiara benar-benar berbeda dari sebelumnya, aura yang dikeluarkan pun terasa lebih mencekam.
Sepertinya Dery bukan pengusaha biasa, batin Liora mencoba menebak.
Walaupun suasana dan tempat juga lebih mendukung untuk membuat Liora meraskan tekanan, mengingat itu adalah di kamar dan mereka hanya berdua, sangat berbeda dengan tadi sore ketika mereka berdebat di luar dan ada Niken juga Rere bersama mereka.
Namun, Liora bukanlah orang yang mudah merasakan terancam, apa lagi hanya karna sebuah kata ancaman saja. Dia adalah ketua gengster yang tentunya sudah sering mendapatkan ancaman yang lebih mengerikan sekalipun.
"Apa mungkin perasaan itu ada, karena aku masih bisa merasakan perasaan Tiara?" gumam Liora lagi.
.
Matahari bahkan belum ke luar dari peraduannya ketika Suara ketukan di pintu terdengar begitu nyaring, hingga mengganggu tidur lelap Liora dan Deva.
"Ish, berisik sekali!" decak Liora tanpa mau membuka matanya.
Memilih acuh, Liora malah memiringkan tubuhnya kemudian merengkuh tubuh bocah berusia tujuh tahun itu ke dalam pelukannya, sambil menarik selimut hingga yang terlihat kini hanya kepala dirinya dan Deva saja.
"Tiara, bangun!" Kini suara teriakan ikut terdengar mengiringi ketukan di pintu yang semakin kencang.
Liora masih enggan untuk bangun, dia kembali menarik selimut hingga kini kepalanya pun tertelan oleh kain tebal itu. Keduanya bagaikan kura-kura yang sedang ingin bermalas-malasan di dalam cangkang.
"Mah, itu suara Mommy Niken," bisik Deva yang ikut terbangun karena suara berisik di luar.
Mommy? Liora mencibir di dalam hati.
"Biarkan saja lah, lebih baik kita tidur lagi. Aku masih ngantuk," jawab Liora tanpa membuka mata, dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Deva.
"Bukannya Mama selalu bilang kalau kita harus bangun pagi, biar tubuh kita sehat? Ayo sekarang bangun, Mah, aku kangen jalan-jalan di taman belakang komplek sama Mama pagi-pagi begini." Deva tampak membuka matanya, melihat wajah sang Mama yang begitu dia sayangi.
Liora mengernyit, dia kemudian membuka matanya sedikit, demi melihat wajah anak kecil itu.
Kebiasaan apa lagi ini? Di luar aku di suruh memasak, sekarang anak ini malah menyuruhku untuk bangun pagi? Oh astaga, aku rasanya ingin mati saja sekarang!" batin Liora, merasa frustasi dengan keseharian Tiara yang begitu sulit untuknya.
"Heh!" Liora menghembuskan napas kasar sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Baiklah, ayo sekarang kita bangun," sambungnya lagi sambil beranjak duduk dengan gerakan malas.
__ADS_1
Liora baru saja tertidur menjelang pagi setelah terbangun gara-gara mimpi semalam, dan sekarang dia harus kembali bangun di pagi buta. Padahal biasanya dia selalu bangun di saat matahari sudah mulai meninggi, kecuali jika ada urusan mendesak, itu pun sangat jarang terjadi, karena jam kerjanya dimulai siang hingga malam hari. Berbeda dengan kebanyakan orang biasa yang kerja di pagi hingga sore hari.
"Asik, kita mau jalan-jalan di taman belakang? Atau ... gimana kalau kita pergi ke pasar bersama? Aku mau jajan kue talam sama bubur ayam yang ada di perempatan jalan," ujar Deva yang semakin membuat Liora bingung di buatnya.
Nama-nama itu begitu asing di telinga, hingga membuat Liora hanya bisa menggaruk belakang kepala.
"Kita pikirkan nanti saja. Sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar dan bersiap, aku juga akan bersiap dulu," ujar Liora sambil beranjak turun dari ranjang.
Deva mengikuti di belakang, dia kemudian memeluk kilas kaki Liora sebelum berjalan menuju ke pintu kamar. Liora membuka pintu untuk Deva, hingga akhirnya dia bertahap muka langsung dengan Niken yang sejak tadi mengetuk pintu untuk membangunkannya.
"Telinga kamu tuli? Kenapa tidak menjawab panggilanku, hah?" tanya sinis Niken sambil bertolak pinggang di depan pintu. Dia bahkan berani berkata kasar di depan anak kecil seperti Deva.
"Oh, tadi itu, kamu memanggilku? Aku kira sedang ada perang di sini?" ujar Liora dengan wajah yang dibuat bingung. Dia kemudian menyuruh Deva segera pergi ke kamarnya dengan isyarat mata.
Wajah Niken tampak mulai memerah, menandakan jika sebentar lagi emosinya akan meledak. Liora tidak mau jika sampai Deva melihat pertengkaran dirinya dan wanita hamil di depannya.
"Kamu kira aku ini apa? Dasar wanita pemalas tidak tau diri, sudah dibiarkan hidup, setidaknya tau posisi kamu di rumah ini!" teriak Niken murka.
"Hei, santai, Bu ... jangan sampai nanti kamu melahirkan di depan kamarku," ujar santai Liora dengan senyum mengejek.
"Aku sangat sadar akan posisiku sekarang. Mungkin sebenarnya kamu yang tidak sadar dengan posisi kamu di rumah ini. Iya, kan?" Liora sedikit mencondongkan tubuhnya hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
"Istri ke dua. Ah, atau lebih tepatnya wanita malam yang terpaksa dinikahi karena--" Liora menggerakkan kedua tangannya seolah menujukkan jika Niken sedang hamil.
"Kamu!" tunjuk Niken tepat pada wajah Liora.
"Apa?" tantang Liora tidak mau kalah.
"Awas saja nanti, aku laporkan sama Mas Dery!" ancam Niken sambil menurunkan tangannya sendiri dengan gerakan kasar kemudian berlalu begitu saja.
Sepertinya wanita itu sudah lupa dengan niatnya membangunkan Liora, karena pertengkaran yang terjadi di antara mereka berdua.
Liora tersenyum miring sambil melihat Niken yang meninggalkannya dengan langkah kasar, hingga hetakkan kakinya terdengar bising di telinga. Dia kemudian mengedikkan bahu, acuh dengan apa yang akan terjadi jika sampai Dery mengetahui apa yang terjadi pagi ini.
Seorang selir tidak akan pernah bisa menjadi ratu, dia akan tetap berada di tempatnya sampai mati sekalipun, batin Liora sambil tersenyum miring.
Sekarang dia harus mulai memikirkan cara apa agar suaminya tidak akan marah dan membatasinya untuk bertemu dengan Deva. Tujuannya berada di rumah ini selain membutuhkan tempat tinggal, dia juga merasa harus membantu Tiara dan Deva.
__ADS_1
Kamar tidur Liora sebagai Tiara.