Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.77 War


__ADS_3

"Siapa pun kami, nanti juga kalian akan tahu," jawab Charly dingin.


Ketiganya tampak bergerak waspada, mereka bersiap dengan posiis kuda-kuda, hingga ketika Charly mengucapkan kata--


"Sekarang!" Liora dan Ramon bergerak serempak untuk melawan para anak buah Roxi yang berjumlah enam orang itu.


Charly, Liora, dan Ramon, membagi rata lawan, mereka masing-masing memegang dua orang lawan.


Liora mengambil tangan lawannya kemudian memutarnya sambil mengambil senjata api itu hingga berpindah ke tangannya, lalu dia mengangkat tubuhnya dan mengunci leher lawan satunya lagi tanpa melepaskan tangannya, dia menjatuhkan tubuhnya sendiri bersama dengan kedua laki-laki berbadan tinggi besar itu hanya menggunakan satu gerakan saja.


Cepat dia mengambil satu lagi senjata api di lawan satunya sementara mereka masih linglung karena terjatuh. Liora langsung berdiri tegap lagi dengan kedua senjata kini sudah beralih ke tangannya. Namun, dia kembali kehilangan keseimbangan ketika salah satu lawannya berhasil menendang kakinya.


"Sial!" geram Liora sambil kembali berdiri, sementara tanganya menyimpan dua senjata api itu di pinggang. Dia kemudian kembali menyerang dan melawan dua laki-laki yang masih tampak bugar itu.


Ternyata semua anak buah Roxi sudah sangat terlatih, mereka tidak mudah untuk ditumbangkan. Setelah berkali-kali terjatuh, semuanya tampak bangun lagi dan kembali menyerang dengan brutal.


"Gila, tenaga mereka seperti tidak ada habisnya," umpat Liora ketika dia mendapatkan sedikit ruang setelah membuat keduanya kembali terjatuh untuk ke sekian kalinya. Matanya sedikit melirik Charly dan Remon yang juga bernasib sama sepertinya.


"Di mana bantuannnya? Kenapa lama sekali?" tanya Charly pada earphone yang tersambung langsung pada Helen.


"Mereka sudah berangkat, sekitar sepuluh menit lagi mereka sampai!" jawab Helen.


Charly tampak sedikit mengerutkan keningnya. Lawan mereka kali ini tidak main-main. Namun, walau begitu, mereka harus bertahan seidaknya sampai sepuluh menit lagi, sampai bantuan datang dan membantu mereka.


"Oke!" Hanya itu yang bisa Charly ucapkan karena dia kembali harus menahan serangan dari dua orang laki-laki tanpa rasa lelah itu.


Brak!


"Akh!" Liora terlempar hingga menabrak mobil ketika salah satu lawannya berhasil menendangnya dengan cukup kuat. Kondisi fisik yang tidak bisa sempurna seperti saat dia di dalam tubuh aslinya, membuat Liora cukup kewalahan menghadapi dua laki-laki itu.


"Liora!" Charly berteriak cemas sambil melihat Liora di sela pertarungannya.


Maafkan aku Tiara, batin Liora yang merasa sudah melukai tubuh orang lain.


Liora bisa merasakan sensasi rasa sakit bercampur panas di punggungnya, karena terbentur mobil milik Charly, selain itu dia juga merasakan sesak karena bekas tendangan dari salah satu lawannya yang mengenai perut bagian atas.


Terpaksa dia mengambil dua senjata api di balik pinggangnya, lalu langsung menarik pelatuknya hingga.

__ADS_1


Dor! Dor!


Dua tembakan dari dua ujung senjata api itu tepat mengeni kaki lawannya. Mereka pun lagusng ambruk dengan darah yang mengalir dari salah satu kaki mereka. Tentu saja, semua itu juga mengejutkan Charly, Ramon, dan keempat lawan mereka. Semuanya seolah terdiam untuk beberapa saat demi melihat apa yang terjadi pada Liora dan dua lawannya.


"Demi menghemat tenaga," gumam Liora yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalihkan ujung senjata apinya pada dua lawan Charly. Namun, mereka cukup gesit hingga tembakan Liora meleset.


"Akh, sial!" umpat Liora kesal sendiri. Liora mencoba untuk mengukur kemampuannya untuk menembak lagi, tetapi ternyata cukup sulit untuk menentapkan sasaran ketika mereka tengah bertarung dan terus berganti posisi.


"Haish, sial! Aku bukan penembak jitu, mana bisa aku melakukan ini!" kesalnya sambil kembali menyelipkan dua senjata api itu di pinggangnya dan melangkah untuk melakukan pertarungan secara langsung lagi, agar bisa membantu Charly dan Ramon.


Ya, Liora adalah pemimpin gengster bukan pembunuh bayaran, dia hanya dilatih untuk bertarung secara langsung agar bisa melindungi dirinya sendiri dari serangan para musuhnya. Namun, keahliannya yang itu pun kini sudah banyak berkurang, karena di bukanlah berada di dalam tubuh aslinya. Tubuh Tiara terlalu lemah. Walau mereka sama perempuan, tetapi keduanya berbeda jauh.


Tubuhnya sudah dilatih sejak kecil untuk menjalani setiap pertarungan yang bisa terjadi kapan saja, hingga staminanya pun sudah terbentuk dengan kuat. Sementara tubuh Tiara bahkan tidak pernah menerima latihan bela diri sebelumnya, hingga ketika Liora melatihnya untuk kuat, itu cukup sulit, mengingat umur Tiara juga sudah lebih dari tiga puluh tahun.


Liora menendang salah satu lawan Charly hingga dia mengalihkan peratiannya pada Liora dan beralih melawan Liora.


Charly menatap Liora ketika keduanya berdiri sejajar. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada yang jelas terdengar khawatir.


"Aku oke," jawab Liora singkat sambil tersenyum tipis pada Charly.


Mereka sudah hampir menang, ketika tiba-tiba dari arah dalam gerbang hotel kembali datang lebih banyak lagi anak buah Roxi yang dipimpin langsung oleh Dery.


"Ternyata dia memang bersembunyi di sini," gumam Liora ketika pertarungan mereka terpaksa berhenti. Liora menyeringai ketika melihat kedatangan Dery.


"Apa kamu masih sanggup melawan mereka semua?" bisik Charly ketika ketiganya berdiri bersisian dengan Liora berada di antara Charly dan Ramon.


"Tentu saja. Ini yang sejak tadi aku tunggu," jawab Liora yakin.


Sementara itu, Dery yang sempat melihat bagaimana Liora bertarung dengan salah satu anak buahnya yang sudah terlatih tampak melebarkan matanya. Dia terkejut dengan apa yang bisa dilakukan oleh Tiara atau sekarang sudah berganti menjadi Liora.


Tiara? Sejak kapan dia bisa bela diri? batin Dery terkejut bukan main.


Dery sangat mengenal Tiara, bisa dibilang mereka itu tumbuh bersama. Selama itu, dia tidak pernah tahu jika Tiara belajar tentang bela diri. Dia hanya tahu kalau Tiara adalah seorang wanita yang lemah dan berhati sangat lembut, Tiara bahkan akan merasa bersalah untuk hal kecil. Mana bisa dia mempelajari sebuah bela diri yang berarti harus berlatih dan terbiasa dengan luka.


"Mau apa kalian datang ke sini? Ini bukan tempat untuk kalian bisa datang seenaknya!" ujar Dery.


"Aku mau membawa Davi bersamaku!" jawab Liora dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Bagaimana jika Davi tidak ada di sini?"


"Aku pastikan kamu akan membawanya datang kepadaku dengan suka rela!" Liora tampak semakin geram.


Dery tampak tersenyum remeh. "Kalian ini bodoh atau memang ingin menyerahkan nyawa dengan suka rela, heh? Kalian tidak lihat perbedaan antara kita?" tanya Dery sambil melihat dirinya yang memiliki banyak anak buah, sementara Liora yang hanya bertiga bersama Charly dan Ramon.


"Tidak semua yang unggul dalam jumlah selalu menang. Jangan terlalu senang dengan sesuatu yang belum pasti." Kini giliran Charly yang ikut membuka suara.


"Heh! Dasar brengsek!" Dery tampak membuang muka sambil menghembuskan napas kasar sebelum kemudian kembali menatap Liora, Charly, dan Ramon dengan tatapan tajam.


"Baiklah kalau ini memang mau kalian, kita buktikan saja sekarang, kita-kira siapa yang akan menjadi pecundang di sini," sambungnya lagi.


"Oke," angguk Charly tanpa ragu.


"Serang mereka!" titah Dery pada semua anak buahnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang terlatih.


Otomatis semua anak buah Dery pun menyerang Charly dan Ramon secara bersamaan, tetapi untuk Liora berbeda. Dery melukannya sendiri.


"Aku mau tau, sampai di mana kamu bisa melawanku, Tiara?" gumam Dery dengan seringai di bibirnya.


"Oke, jika itu maumu. Mari kita lihat, siapa yang akan kalah," jawab Liora kemudian langsung menyerang Dery secara brutal. Namun, ternyata laki-laki itu memang tidak mudah dikalahkan, dia bahkan tampak masih mempertahankan senyumnya ketika menangkis setiap serangan dari Liora.


"Lawan aku atau biarkan aku melawan anak buahmu, brengsek!" teriak Liora kesal, ketika Dery terus menangkis tanpa balik menyerang dirinya.


"Jangan terlalu sombong, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa melawanku, Tiara," jawab Dery dengan gerakan yang masih terlihat santai.


"Kamu yang jangan terlalu sombong. Padahal kamu belum pernah melawanku dan belum tau kemampuanku yang sesungguhnya." Liora masih saja mendebat Dery di tengah gerakannya yang terus menyerang Dery.


"Begitukah?" tanya Dery masih dengan seringai di wajahnya. Laki-laki itu kemudian menangkis tangan Liora kemudian memukul di bagian dada wanita itu menggunakan telapak tangannya. Namun, ketika Liora terhuyung ke belakang, Dery langsung menangkap pinggang Liora secepat mungkin.


"Bagaimana? Apa kamu masih mau melawanku?" tanya Dery dengan posisi seolah keduanya tengah dalam pose dansa.


Untuk sesaat Liora terdiam dengan mata bertaut, entah apa yang wanita itu pikirkan saat ini. Sementara Charly yang melawan banyak musuh, sedikit terlihat oleh interaksi antara Liora dan Dery. Dia hampir saja kehilangan fokus karena terlalu khawatir pada wanita itu, hingga akhirnya satu tendangan berhasil mengenai perutnya.


Karena itu, dia pun fokus kembali pada pertarungan agar semua ini cepat berakhir dan dia bisa menolong Liora dari cengkraman permainan Dery.


__ADS_1


__ADS_2