Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.44 Masalah Sarapan


__ADS_3

Setengah jam kemudian Tiara mendatangi Davi yang sedang bermain dengan sopir, setelah sebelumya dia menyelesaikan urusannya dengan Charly, dia juga memberikan hasil rekaman suara percakapan antara Niken dan laki-laki itu pada Charly.


Ya, tadi semasa Tiara menguping pembicaraan antara Niken dan kekasinya, dia sengaja mengganti mode ponselnya menjadi tidak bisa dihubungi kemudian merekam percakapan mereka.


Namun, karena Tiara lupa mengisi batre ponselnya, beberapa saat setelah dia mengintai Niken dan kekasihnya, ponsel milik Tiara mati.


"Terima kasih sudah menemani Davi, sekarang kamu bisa beristirahat," ujar Tiara pada sopirnya.


"Baik, Nyonya," sopir itu tampak mengangguk kemudian memilih ke luar dari area bermain anak di pusat perbelanjaan itu. Dia mengawasi Tiara dari luar area bermain.


Siang itu, Tiara benar-benar membiarkan Davi bermain sepuasnya. Melihat tawa ceria anak itu, membuat Tiara merasakan kehangatan di dalam hatinya.


Sementara itu, dari jauh Charly tampak memperhatikan Tiara dan Davi, dia juga sempat mengambil beberapa gambar mereka berdua. Sopir Tiara juga tidak luput dari perhatian Charly yang menurutnya mencurigakan.


.


Setelah hari itu, Niken berubah menjadi baik kepada Tiara, wanita itu selalu memberikan makanan atau minuman untuk Tiara dengan alasan meminta maaf dan ingin berbaikan.


Istri ke dua Dery itu berdalih ingin menjalani hidup lebih baik dan berdamai dengan Tiara sebelum melahirkan. Namun, Tiara yang tahu maksud dari sikap baik Niken padanya, selalu menolak apa pun yang wanita itu berikan padanya.


Kadang Tiara berpura-pura menerimanya kemudian diam-diam membuangnya tanpa sepengetahuan Niken. Sayang sekali, Tiara tidak berhasil mencari tahu di mana Niken menyembunyikan botol obat yang diberikan oleh kekasihnya itu, hingga sampai saat ini dia harus kerepotan dengan rencana madunya.


Seperti pagi ini, di saat dirinya sedang membantu Davi untuk pergi ke sekolah, wanita hamil itu kembali memuat ulah.


"Mas Dery, hari ini aku sedang ingin sarapan bersama dengan Tiara dan Davi," rengek Niken saat mereka sudah berkumpul di meja makan.


"Benarkah? Kalau begitu suruh pelayan memanggil Tiara dan Davi," jawab Dery dengan wajah yang masih saja terlihat acuh.


Tampaknya laki-laki itu memang selalu mudah dihasut oleh Niken, hingga saat ini Dery terlihat sudah percaya jika kini Niken telah berubah.


Niken yang mendapat persetujuan dari Dery langsung tersenyum senang, wanita itu tampak menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil Tiara dan Davi agar sarapan bersama.


.


Sementara itu di kamar Davi, saat ini Tiara sedang bersiap untuk pergi ke sekolah dengan Davi. Pagi ini, dia tidak berencana untuk memasak sarapan keduanya karena ada urusan di luar sebelum mengantar Davi sekolah.


Namun, ketukkan di pintu terdengar jelas hingga mengalihkan perhatian Tiara dan Davi. Wanita itu tampak mengusap rambut Davi sebelum berbicara dengan nada lembut. "Sebentar ya, sayang, Mama buka pintu dulu."


Anak itu mengangguk patuh, sementara Tiara beranjak melangkahkan kaki menuju ke pintu ke luar, dia kemudian membuka pintu itu.

__ADS_1


"Nyonya, Tuan Dery memanggil Anda di meja makan," ujar salah satu pelayanan yang tampak berdiri di depan pintu dengan wajah canggung.


Tiara mengernyit, tidak biasanya Dery memanggilnya di meja makan.


"Ada apa?" tanyanya.


"Sepertinya Nyonya Niken, ingin Nyonya Tiara untuk sarapan bersama," jawab pelayan itu dengan nada suara sedikit terbata.


Tiara menghembuskan napas pelan, ini semua pasti salah satu rencana Niken agar dirinya mau makan makanan buatan wanita itu. Tiara menggeleng pelan, dia salut dengan kegigihan wanita itu untuk membunuhnya, Niken bahkan mau berpura-pura baik padanya agar dia tidak curiga.


Namun, sayang sekali, Tiara sudah mengetahui apa yang Niken rencanakan, hingga tidak akan mudah bagi wanita hamil itu menjalankan rencananya untuk membunuh Tiara.


"Bilang pada Mas Dery, aku sudah berjanji dengan Rere untuk sarapan bersama sebelum masuk ke sekolah. Jadi, maaf, aku tidak bisa sarapan bersama pagi ini," jawab Tiara dengan ekspresi dibuat menyesal dan mengiba.


"B--baik Nyonya, saya akan mengatakan pesan dari Anda," angguk pelayan itu kemudian berbalik dan melangkah pergi menjauhi Tiara.


Sepeninggal pelayan itu, Tiara langsung menghampiri Davi, dia memberi peringatan agar tidak menyentuh apa pun yang Niken berikan untuknya, jika sampai nanti mereka tidak berhasil menghindai Niken dan Dery.


Setelah melihat anggukkan kepala Davi, Tiara mengajak anak itu untuk pergi dari rumah. Namun, baru saja mereka hendak ke luar melewati jalan dapur, Dery yang melihatnya langsung menghentikan keduanya.


"Tiara, kemarilah, kita makan bersama," ujarnya santai.


"Sarapan sama Rere kan bisa kapan saja. Kamu juga harus memberi Niken kesempatan, dia sudah membuat sarapan ini sendiri karena ingin memperbaiki hubungan kalian."


Tiara memutar bola matanya, selalu saja begini, Dery akan langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh Niken dan menyuruhnya untuk berdamai, jika dirinya menolak maka Tiara lah yang akan terlihat bersalah dan menjadi orang jahat di rumah ini.


Heh, dasar kuntilanak bunting, bermuka dua, bisanya ngaduain aku sama Dery! Tiara mengumpat kesal di dalam hati.


"Maaf, Mas, tapi aku benar-benar tidak bisa ikut kalian sarapan bersama kali ini," ujar Tiara dengan wajah yang berubah sendu.


"Masa kamu tega sih sama aku, Tiara ... ini bukan hanya keinginan aku, lho, ini adalah keinginan anak dalam handungan aku juga, Tiara. Kamu mau kalau nanti anak aku ileran," ujar sendu Niken mencoba memprofokasi Dery, agar marah kepada Tiara.


Tiara menghembuskan napas pelan, merasa geram dengan sikap Niken yang selalu berlagak sebagai korban. Tiara melihat Davi yang masih menggenggam tangannya, dia kemudian berjongkok di depan anak itu.


"Davi pergi ke mobil dulu, ya. Nanti Mama nyusul," ujar Tiara lembut, tangannya menyingkirkan rambut Davi yang terlihat jatuh menutupi keningnya, karena terus menunduk. Tiara tahu jika anak itu tengah ketakutan.


Davi menatap Tiara dengan mata tampak berkaca-kaca. Dia ingin sekali segera pergi dari sini, tetapi dia juga merasa khawatir pada mamanya. "Tapi, Ma--"


"Mama gak apa-apa, sayang. Sekarang Davi pergi ke mobil dulu ya, Mama mau bicara sama Momy Niken dan Papa." Tiara tersenyum dengan ucapan yang terdengar meyakinkan, tatapan wanita itu tiba-tiba saja berubah menjadi teduh, hingga Davi tak kuasa menolak, walau anak itu juga merasa khawatir pada ibunya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, ya, Ma," ujar Davi sambil melirik sekilas pada pada Niken dan Dery.


"Heem." Tiara mengangguk cepat sambil berdehem sebagai jawabannya.


Davi pun berbalik dan berjalan menjauh dari Tiara, dia menundukkan kepalanya merasa takut jika nanti ibunya menerima teriakan dari Dery, karena Tiara menyuruh Davi untuk pergi dan melawan perintah ayahnya.


"Kenapa kamu suruh Davi pergi? Bukannya sudah aku bilang kalau kita sarapan bersama!"


Benar saja perkiraan Davi, belum juga ke luar dia dari pintu dapur, suara Dery yang mulai berteriak terdengar menyapa telinga, membuatnya terkejut akan hal itu.


Tiara tersenyum dia kemudian menghampiri Dery dan Niken di meja makan.


"Davi anakku, jangan pernah kalian mencoba menyentuhnya. Dia berhak melakukan apa pun yang dia inginkan." Tiara berkata dengan lantang.


"Tiara!" Dery langsung berdiri tepat di depan Tiara dengan penuh emosi.


"Apa? Kamu mau menyuruh aku menghargai jerih payah istri kedua kamu ini? Apa kamu lupa sikap dia padaku selama ini? Memang pernah dia menghargai aku, Mas?" tantang Tiara, seolah sedang mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.


Dery terdiam, sepertinya laki-laki itu dibuat kehabisan kata-kata oleh Tiara. Semua yang dikatakan Tiara memang benar adanya, selama ini Niken hanya menyuruh Tiara memasak, tetapi nyatanya wanita itu selalu mencari alasan agar tidak memakan masakan Tiara.


Sementara itu, Niken sudah menangis tersedu di tempat duduknya. Wanita itu tampak sedang menarik perhatian Dery dan berpura-pura lemah, seperti biasanya.


"Maafin aku, Tiara. Aku enggak sengaja waktu itu. Sekarang aku mau memperbaiki semuanya, aku mau kita hidup rukun bersama sebagai istri Mas Dery," ujar Niken di sela isak tangisnya.


Tiara berdecih lirih, rasanya sangat muak dia melihat wajah palsu Niken.


"Cih, mimpi saja kamu! Mana ada di dunia ini dua orang istri yang akan hidup rukun, itu hanya berlaku bagi orang bodoh, atau mungkin mereka hanya menginginkan harta suaminya," ujar santai Tiara.


"Tiara, jaga ucapan kamu!" Sepertinya kali ini Dery yang tersinggung oleh ucapan Tiara. Namun, Tiara tak merasa takut, wanita itu malah terkekeh ringan.


"Wanita itu serakah, Mas. Mereka gak akan mau membagi apa pun yang dirasa menjadi miliknya, jangankan suami bahkan anaknya saja terkadang sulit dia bagi dengan menantunya." Tiara terkekeh ringan seolah tengah mengejek Dery.


"Gimana sih, punya istri dua tapi gak bisa tahu sifat utama perempuan?" sambung Tiara lagi. Biarkan semua orang menganggapnya jahat kali ini, setidaknya dia tidak lagi dapat ditindas oleh suami dan madunya seperti dulu.


"Akh, karena kalian aku jadi terlambat. Sudahlah, aku pergi dulu, kalian nikmati saja sarapan berdua, biar romantis." Tiara kembali berbicara sambil melihat jam di peegelangan tangannya, dia tersenyum sekilas pada Dery dan Niken kemudian pergi meninggalkan keduanya begitu saja.


Dery mengepalkan tangannya dia menatap geram kepergian Tiara yang terasa semakin jauh darinya dan sulit dia kendalikan. Sementara itu, Niken mengumpat di dalam hati sambil melihat punggung Tiara yang semakin menjauh dari pandangannya. Lagi-lagi dia gagal untuk memberikan racun yang sudah dia siapkan untuk Tiara.


Tiara bukanlah wanita naif seperti dulu, istri pertama Dery itu kini terlihat lebih cerdik dan tegas daripada sebelum dia mengalami kecelakaan.

__ADS_1


__ADS_2