Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.35 Terkejut hingga linglung


__ADS_3

"Kita kirimkan semua ini pada Dery," ujar wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertua Niken.


Dia tengah memegang ponsel yang memperlihatkan foto-foto kebersamaan Tiara dan Charly di dalamnya. Bahkan di sana juga ada foto Tiara yang tersenyum bahagia ketika menyambut Davi di rumah Charly, kemudian Davi digendong oleh laki-laki itu tanpa ragu.


"Ibu, benar. Mas Dery pasti langsung memberikan hukuman pada Tiara. Selama ini bukannya dia begitu percaya diri kalau Tiara tidak akan meninggalkannya, sekarang apa masih bisa dia membiarkan wanita itu bebas, setelah melihat semua ini?" jawab Niken dengan seringai jahat di wajahnya.


Ibu: Sejak kamu pergi dari rumah, istri pertama kamu sekarang jarang ada di rumah, dia sibuk dengan pacar barunya yang merupakan tetangga depan rumah kamu sendiri!


Hati Dery semakin terasa panas, saat melihat barisan kata dari pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Dery bahkan bergerak gelisah seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, agar lebih cepat sampai di rumah. Laki-laki itu ingin membuktikan pesan dari ibunya, dengan mata kepala sendiri.


Sampai di rumah Dery langsung mencari Tiara ke kamarnya, tetapi wanita itu tidak ada, dia mencoba bertanya pada pelayan yang kebetulan lewat, hingga akhirnya Dery mengetahui jika ada yang melihat Tiara naik ke lantai dua.


Dengan langkah cepat Dery menaiki anak tangga, hingga saat dia ingin membuka pintu kamar, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam dan terlihat Tiara yang berdiri di sana. Dery yaang sudah dikuasai emosi, semakin merasa geram ketika melihat wanita itu ada di dalam kamarnya.


Melihat keberanian Tiara, membuatnya merasa marah. Dia tidak suka jika Tiara sudah mulai melawan, apa lagi sekarang sudah berani menyelinap dan masuk ke kamar utama ketika dirinya dan Niken tidak ada di rumah.


.


"Ayo melawan lah sekuat yang kamu bisa, Tiara. Karena semakin kamu melawan, maka aku akan semakin bersemangat. Hahaha!" Dery tertawa bahagia melihat keringat yang sudah bercucuran di tubuh Tiara, wajah berantakan wanita itu dan napas yang memburu. Dery sangat menikmati semua itu.


Setiap hembusan napas yang terdengar ditambah dengan dada Tiara yang naik turun membuat hasrat Dery semakin naik. Laki-laki itu membawa tangan Tiara ke atas kepala kemudian mengikat tangan Tiara menggunakan dasi yang dia lepaskan paksa dari lehernya.


Dery menyeringai sambil mulai beranjak dari atas tubuh Tiara dan turun dari ranjang. Tiara melihat celah dari sana, dengan sisa kekuatannya Tiara berguling ke arah samping kemudian turun dari ranjang secepat mungkin, dia berlari menuju pintu.


Namun, Dery kembali mengejar dan kini menarik rambut Tiara dan menyeretnya kembali ke atas ranjang, dia menghempaskan tubuh Tiara kembali, hingga kepala Tiara membentur kaki ranjang dengan cukup keras.


"Memohon lah, Tiara, maka aku akan melepaskan kamu," ujar Dery dengan seringai menyeramkan.


Tiara menatap wajah laki-laki yang tampak sedang menikmati penyiksaan yang dia lakukan padanya. Dia tahu jika saja dirinya memohon, maka itu tidak akan membuat Dery merasa iba. Sebaliknya, Dery malah akan lebih merasa senang dengan setiap kesakitan yang dia rasakan.


"Cih! Dasar gila! Aku tidak sudi memohon kepada laki-laki pengecut sepertimu!" Tiara mengumpat, memperlihatkan kekuatan walau sebenarnya tubuhnya semakin lemah.

__ADS_1


"Hei!" Dery berteriak murka, dia membuka ikat pinggang miliknya kemudian menggulung ujungnya di satu tangan.


"Dasar wanita ******! Kamu bahkan berani berhubungan dengan laki-laki lain ketika aku tidak ada di rumah, dan sekarang kamu malah menolak untuk melayani suamimu sendiri, hah!"


"Lalu, apa bedanya kamu yang memungut seorang wanita malam untuk dijadikan istri kedua?!" Tiara membalas cepat.


Suara pukulan ikat pinggang menggema di seluruh kamar utama itu, bersamaan dengan rasa perih bercampur sakit di kaki Tiara, hingga membuat wanita itu memjamkan mata erat.


Tiara berdesis lirih, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan rasa sakitnya pada Dery, walau tubuhnya sudah terasa remuk.


"Tidak pantas kamu berbicara seperti itu pada suamimu, Tiara! Aku laki-laki–"


"Kenapa kalau kamu laki-laki, hah? Apa itu berarti kamu bisa melakukan semua itu, sedangkan aku tidak?!" Tiara memotong perkataan Dery yang belum selesai. Wanita itu tampak mendengkus kesal.


"Tidak adil!" ujarnya lagi sambil terkekeh ringan. Tanpa Dery ketahui Tiara berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya, dengan berbekal keterampilannya dulu sebagai ketua gengster.


Rasa sakit karena penghinaan yang Dery lakukan padanya, ditambah perlindungan diri alami yang muncul saat merasakan ada sebuah ancaman, memberikan sebuah kekuatan yang membuatnya masih bisa melawan sampai sekarang.


Wajah Dery memerah, dia kembali mengangkat tangannya dan bersiap untuk kembali melayangkan ikat pinggang itu ke tubuh Tiara.


Tiara tak gentar dia masih menatap laki-laki yang kini menjadi suaminya itu, dan di saat ikatan di tangannya terlepas segera di berdiri dan menantang Dery walau tubuhnya sedikit goyah.


"Mau pukul lagi? Silahkan! Itu hanya akan membuatku mudah terlepas darimu, karena luka ini bisa menjadi bukti kekerasan yang kamu lakukan padaku selama ini." Tiara tammpak berjalan lebih dekat pada Dery. Seringai bahkan terlihat menghias di wajah yang sudah terlihat kacau itu.


Dery tampak melebarkan matanya melihat keberanian Tiara. Dirinya sudah cukup terkejut karena Tiara masih bisa bertahan sejauh ini, dan sekarang wanita itu masih bisa berdiri di depannya. Sungguh, sesuatu yang sangat mengejutkan.


"Dasar wanita sial! Ke luar dari kamarku sekarang! Aku mau lihat, sampai di mana kamu akan kuat melawan efek dari obat itu!" teriak Dery dengan mata penuh amarah. Hasratnya tiba-tiba menurun karena melihat Tiara yang selalu berhasil menahan apa yang dia lakukan.


Tiara tersenyum dia kemudian berjalan tertatih menuju pintu dan ke luar begitu saja dari kamar. Dalam hati wanita itu merasa sangat lega karena Dery sudah melepaskannya. Walau dia juga mulai kewalahan saat rasa panas yang diiringi dengan jantung yang berdebar cepat mulai membuatnya hilang arah.


Aku harus segera menemui Charly!

__ADS_1


Hanya nama itu yang sekarang dia ingat untuk membantunya mencari penawar obat perang-sang ini. Dengan tangan berpegang erat pada pagar pembatas tangga, dia mulai membawa kakinya melangkah menuruni tangga secepat mungkin.


Tanpa memperdulikan keadaannya yang sudah sangat berantakan dan tubuh menggigil hebat, dia berlari ke luar rumah kemudian. Tiara mengacuhkan para penjaga dan pelayan yang melihatnya berjalan ke luar rumah dengan kondisi seperti itu. Tiara menyebrang jalan komplek untuk sampai di rumah Charly. Wanita itu bahkan tidak memperdulikan kondisi dirinya yang sampai terjatuh karena tubuhnya sudah terlalu lemah.


Namun, dia tidak memedulikan kondisi tubuhnya yang sudah penuh dengan luka, Tiara kembali bangkit dan berjalan dengan sisa kekuatan dan kesadaran yang tinggal sedikit lagi.


Untung saja penjaga gerbang Charly sudah mengenalnya hingga ketika dia datang gerbang langsung dibuka dengan otomatis.


Sementara itu, Charly yang sedang menelepon di balkon rumahnya menoleh ke arah gerbang saat suara pagar besi berwarna hitam itu terdengar terbuka. Matanya melebar melihat Tiara yang berjalan dengan penampilan yang tidak karuan.


"Tiara?" guamanya, dia langsung memutuskan sambungan teleponnya kemudian berjalan cepat menuju ke lantai satu, untuk menghampiri Tiara.


Ada rasa khawatir yang tiba-tiba menyerah hatinya saat melihat kondisi Tiara, walau dia belum melihat wanita itu dengan jelas. Sampai di bawah, Charly mendengar suara pintu di ketuk dengan sangat pelan.


Charly berlari dengan langkah lebarnya, alangkah terkejutnya dia saat membuka pintu, karena tubuh Tiara langsung jatuh menimpa tubuhnya.


"Tolong bantu aku," lirih Tiara dengan mata terpejam erat, tubuhnya sudah hampir kehilangan tenaga hingga rasanya bahkan sulit untuk membuka mata.


"Kenapa bisa begini?" tanya Charly dengan wajah khawatir, dia langsung menggendong tubuh Tiara dan membawanya ke dalam rumah.


"Panas, sakit," lirih Tiara, tanpa sadar tangannya mencengkram erat punggung Charly.


Charly bertambah panik saat mendengar rintihan kesakitan wanita di dalam gendongannya itu. Charly membawanya ke lantai dua, dia menidurkan Tiara di kamarnya.


Namun, saat dia hendak menarik diri, tangan Tiara menahannya. Wanita itu menatapnya dengan sorot mata penuh gai-rah. Charly terdiam dengan kening berkerut dalam, dia meneliti wajah Tiara yang berjarak sangat dekat darinya.


Apa ini? Sebenarnya dia kenapa? batin Charly masih belum mengerti keadaan.


"Apa yang kamu rasakan? Siapa yang melakukan ini padamu, Tiara?" tanya Charly mencoba berkomunikasi dengan wanita yang tampak begitu lemah dan terus bergerak gelisah, napasnya bahkan mulai tersengal.


"D–dia memberikan obat. Cahrly, tolong aku." Tidak sabar Tiara langsung menarik kerah baju laki-laki itu, hingga akhirnya bibir keduanya menyatu.

__ADS_1


Charly yang terkejut akan ulah Tiara, melebarkan matanya dengan tubuh mematung. Untuk sejenak pikiran laki-laki cerdas itu tiba-tiba saja terasa kosong tak bersisa


__ADS_2