Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.43 Tempat untuk bertemu


__ADS_3

"Di mana pengkhianat itu?" tanya Liora sambil mulai melakukan sarapan, di depannya ada Deren –wakil ketua gengster yang kini dipimpin oleh Liora, mereka adalah teman sejak kecil. Deren sengaja diadopsi oleh ayah Liora untuk menjadi teman sekaligus menjaga Liora.


"Sesuai perintah Anda, kami sudah membawanya ke penjara, Nona," jawab Deren sigap.


Liora mengangguk kemudian melanjutkan sarapannya sambil berbicara hal lain mengenai keadaan gengster dan wilayah yang dia kuasai.


"Aku ingin menemui pengkhianat itu," ujar Liora setelah dia menyelesaikan sarapannya.


"Saya antar, Nona." Sigap, Deren langsung berdiri kemudian berjalan mendahului Liora dan mengantarnya menuju ke ruang penjara yang ada di bangunan berbeda dengan mansion utama.


Suara ketukkan ujung hak sepatu terdengar berirama seiring langkah wanita yang terlihat cantik dan anggun itu, walau sebenarnya menyembunyikan keberanian dan kekejaman di dalam dirinya. Para anak buah dan pelayan yang tampak sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing langsung membungkuk, tidak berani menatap wajah sang ketua begitu Liora melintas.


Sampai di bangunan sederhana di bagian belakang mansion, seorang penjaga langsung membuka pintu untuk Deren dan Liora. Udara langsung terasa berbeda begitu mereka memasuki bangunan tersebut, cahaya yang minim membuatnya terasa sangat pengap dan lembap, ditambah dengan debu yang menumpuk akibat tidak pernah dibersihkan.


Beberapa saat berjalan melewati barisan ruangan kecil dengan tembok besi sebagai pembatasnya, Tidak ada orang di sana, Liora cukup jarang menggunakan tempat itu, karena dia lebih suka membunuh para musuhnya secara langsung, tidak seperti ayahnya yang akan memenjarakan mereka dan menyiksanya hingga mati secara perlahan.


Namun, berbeda dengan pengkhianat, Liora memilih kembali menggunakan tempat ini, setelah sekian lama ditutup dan berdebu. Langkahnya terhenti di ujung lorong di mana seorang laki-laki berbadan besar tampak berada di sana, terikat di dinding dengan tangan direntangkan, bekas luka cambuk yang semalam dia perintahkan terlihat jelas di seluruh tubuhnya yang hanya memakai celana panjang saja.


Liora tersenyum tipis mendapati laki-laki itu sudah tidak berdaya, tubuhnya lemas dengan mata merah menahan rasa sakit.


"B–bunuh saja aku." Bibir pucat dan bergetar itu terlihat mengucapkan sesuatu yang bisa ditangkap oleh Liora, seringai di bibir merah Liora semakin terlihat karenanya.


"Masukan dia ke ruang bawah tanah dan biarkan dia mati tanpa makan dan minum," titah Liora tanpa ampun, hingga membuat laki-laki pengkhianat itu langsung melebarkan matanya, dia mencoba bergerak untuk melepaskan diri dan memohon ampun pada Liora.


"Maafkan saya, Nona, ampuni saya, biarkan saya hidup, Nona."


Tidak ada yang mau dihukum di dalam ruang bawah tanah itu, ruangan itu bagaikan sebuah mimpi buruk tak berujung, gelap dan hampa. Tidak ada cahaya yang bisa menembus ke dalam sana, dan tidak ada lampu yang bisa membantu mereka melihat, orang sehat saja hanya akan bertahan tidak lebih dari satu minggu, jika tidak mati maka dia akan menjadi gila.


Liora tidak mendengar semua itu, dia hanya mengacuhkannya kemudian berjalan kembali ke luar, meninggalkan laki-laki yang kini mulai meratapi kesalahannya karena sudah berkhianat pada Liora.


"Umumkan hukuman ini pada semua anggota dan orang yang berada di wilayah kekuasaan kita, mulai sekarang jika ada yang berani berkhianat dia akan mendapatkan hukuman sama seperti laki-laki itu," ujar Liora di tengah langkahnya.


"Baik, Nona," patuh Deren.


......................


Setelah cukup lama mengendarai mobil dan berkutat dengan keramaian jalan, Charly akhirnya sampai di parkiran pusat perbelanjaan tersebut, secepat kilat dia ke luar kemudian berlari masuk ka dalam gedung lewat pintu basemen.

__ADS_1


Apa dia tidak tau siapa yang sedang berurusan dengannya sekarang? Atau Tiara lupa kalau dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga? Kenapa dia nekat harus mengintai sendiri? Walaupun Niken itu adalah madunya, tetapi Niken juga bekas wanita malam yang pasti sudah bertemu berbagai macam orang brengsek di dunia ini.


Charly terus bergumam dalam hati, dia tidak suka dengan keputusan Tiara yang mencoba mengintai tanpa menunggu persetujuan dirinya dulu. Laki-laki itu langsung berlari mengelilingi hampir seluruh bagian pusat perbelanjaan itu, dia tidak perduli pada orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.


Beberapa saat kemudian, Charly sudah menemukan restoran yang ada di dalam foto kiriman dari Tiara, tetapi ternyata di sana sudah tidak ada lagi Niken dan laki-laki itu. Dia bahkan tidak melihat keberadaan Tiara di sana.


"Ke mana dia?" gumam Charly yang mulai terlihat putus asa, dia mencoba menanyakan tentang Tiara menggunakan foto wanita itu yang dia punya di dalam ponsel, tetapi tidak ada satu pelayan restoran pun yang melihat Tiara datang ke sana.


Sementara itu Davi dan sopir pribadi Tiara pun akhirnya sampai di parkiran, mereka memasuki gedung bersama-sama, sopir itu tampak tidak sabar saat harus berjalan mengikuti langkah Davi yang berjalan sangat pelan, padahal memang begitulah anak kecil berjalan, Davi tidak memperlambat langkahnya sama sekali.


Namun, karena rasa curiga sopir itu pada Tiara dan juga rasa takut jika sampai Dery tahu dirinya meninggalkan Tiara dengan waktu yang lama, membuat sopir itu merasa tidak tenang.


Cukup memakan waktu lama hanya untuk berjalan menuju ke salon yang sudah Tiara katakan sebelumnya, karena Davi juga sering berhenti jika ada sesuatu yang menarik.


Setelah cukup lama mengasah kesabaran dengan anak majikannya itu, akhirnya mereka sampai di salon tempat Tiara melakukan perawatan, tetapi ternyata tidak ada Tiara di sana. Sopir itu dibuat panik karenanya, dia langsung menelepon nomor Tiara. Namun, nomor juga tidak tersambung.


Ke mana dia, apa dia mengelabuiku menggunakan anaknya? gumam sopir itu yang mulai berpikir buruk pada majikannya itu, sambil mengedarkan pandangannya.


"Mama gak ada ya, Om?" tanya Davi dengan mata mulai berkaca-kaca. Anak itu tampaknya takut kembali kehilangan ibunya.


"Tidak, Nyonya pasti di salon lain, ayo kita cari dulu," jawab sopir itu, walaupun dia juga panik saat ini.


"Iya, Nyonya. Nyonya ada di mana?" tanya sopir itu dengan hembusan kasar terdengar.


"Aku ada di salon, S, kalian ke sini dulu," ujar Tiara yang langsung disetujui oleh sopir itu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai di salon yang dimaksud Tiara, wanita itu tampak menunggu keduanya di luar dengan handuk masih menutup kepala, tampaknya Tiara belum selesai melakukan perawatan.


"Nyonya, kenapa tidak di salon yang tadi? Kami mencari Anda ke sana," ujar sopir itu.


"Di sana antre, aku malas menunggu. Karena ini adalah salon khusus perempuan sebaiknya kamu temani Davi bermain dulu, nanti kalau aku sudah selesai akan aku hubungi lagi.


"Tapi, Nyonya--" sopir itu tampak keberatan.


"Kamu mau nyamar jadi perempuan terus masuk ke dalam, heh?!" tekan Tiara menatap kesal sopir di depannya. Sopir itu langsung bungkam.


"Davi main sama om dulu ya, nanti Mama nyusul, mama harus menyelesaikan ini dulu." Tiara beralih pada Davi, di berjongkok di depan anak laki-laki itu.

__ADS_1


Davi mengangguk patuh, membuat senyum Tiara terbit. "Anak pintar," ujarnya sambil memcubit gemas pipi Davi.


Setelah kepergian Davi dan sopirnya Tiara kembali masuk ke dalam salon, dia menuju sebuah ruangan di mana di sana sudah ada seseorang yang menunggunya.


"Pintar juga kamu memilih tempat," ujar orang itu yang ternyata adalah Charly.


"Kebetulan salon ini milik ibunya Rere, jadi aku bisa memanfaatkannya untuk bertemu kamu," jawab Tiara sambil duduk kembali.


Charly tersenyum tipis sambil kembali menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi, sementara Tiara mulai menjalani perawatan kembali.


Beberapa saat yang lalu


Charly yang masih sibuk mencari keberadaan Tiara, tiba-tiba saja dikejutkan oleh seorang yang menepuk pundaknya dari belakang, dia langsung menoleh dengan napas yang memburu. Matanya melebar begitu dia melihat Tiara tengah berada di sana.


"Ayo ikut aku," ujar Tiara tanpa jeda, wanita itu langsung menarik tangan Charly untuk mengikuti langkahnya.


Charly terdiam, karena terkejut untuk sesaat dia sempat lupa dengan rasa kesal dan khawatirnya, melihat Tiara berada di depannya dengan tubuh yang masih sempurna tanpa ada luka sedikit pun sudah membuatnya tenang dan bahagia, setelah beberapa hari ini mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja.


Tiara baru saja ke luar dari toilet untuk melepaskan jaket dan kerudung yang dia pakai sebelumnya, saat melihat Charly yang tampak linglung seperti sedang mencari seseorang.


Keduanya masuk melalui pintu belakang sebuah salon khusus perempuan, awalnya Charly sempat menolak dan ingin bertanya tetapi Tiara mencegahnya.


"Nanti aku jelaskan setelah kita ada di dalam," jawab Tiara tanpa memberikannya kesempatan Charly untuk berbicara.


Charly pun kembali membungkam mulutnya dan hanya pasrah dengan rencana wanita di depannya. Beberapa saat kemudian seorang manajer salon mengantarkannya ke sebuah ruangan, di sana Tiara akan mendapat perawatan sekaligus berbicara dengan Charly.


"Kenapa kamu melakukan pengintaian sendiri, hah? Kamu tau itu sangat berbahaya? Dia itu mantan pekerja malam, kamu tau? Sedangkan kamu hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bagaimana kalau wanita itu ternyata sedang berencana untuk menjebak kamu, hah?!"


Begitu melihat kepala menejer salon pergi dan pintu tertutup rapat kembali, Charly langsung mengajukan pertanyaan beruntun pada Tiara.


"Kenapa juga ponsel kamu tidak bisa dihubungi, bikin orang khawatir saja," sambung Charly lagi.


Tiara terkekeh dengan sikap Charly yang berbeda dari biasanya. Laki-laki yang selalu bersikap dingin itu, sekarang terlihat seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan kekasihnya.


"Ponselku kehabisan batre," ujar santai Tiara sambil memperlihatkan ponselnya yang memang telah mati.


"Aku tidak sebodoh itu, Charly. Walaupun aku hanyalah ibu rumah tangga biasa, tapi aku juga tahu saatnya wanita itu menjebakku atau saat aku menemukan kesempatan untuk mengetahui apa yang dia rencanakan," sambung wanita itu lagi.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu sudah merasa pintar? Lalu, apa yang sekarang kamu dapatkan dengan menguntit madumu itu, hem?" tantang Charly seolah tidak percaya dengan apa yang Tiara bicarakan.


"Sebentar aku carger ponselku dulu," jawab Tiara kemudian beranjak untuk mengisi daya batre ponselnya.


__ADS_2