
Tanpa pikir panjang, Liora mengambil jepit rambut seukuran lidi yang sengaja dia pakai untuk berjaga-jaga, kemudian mulai membuka kunci laci menggunakan jepir rambut tersebut.
Di sisi lain Charly mendapatkan sebuah berkas lama dari sebuah kotak di bawah lemari. Dia memotret apa yang dia temukan menggunakan kamera ponsel kemudian menggembalikanya ke tempat semula agar Dery tidak curiga.
"Apa sudah terbuka?" Seolah sudah tahu kalau Liora sedang berusaha membuka kunci laci, Charly langsung bertanya begitu sampai di samping Liora.
"Sudah," jawab Liora begitu dia merasakan kuncinya sudah terbuka.
Wanita itu pun langsung membuka laci yang terkunci itu. Namun, saat dia memeriksa salah satu berkas di dalamnya, Liora kembali dikejutkan dengan sesuatu yang sama sekali tidak dirinya sangka.
Liora menemukan sebuah surat kepemilikan atas beberapa klub malam di kota besar, bahkan salah satunya adalah klub malam tempat Niken bekerja.
Ternyata bukan hanya Liora yang terkejut dengan apa yang mereka dapatkan, tetapi Charly pun terkejut dengan semua itu.
.
Jam dua dini hari, Liora dan Charly kini sudah berada di kamarnya masing-masing, mereka sama sekali tidak menemukan surat hak waris dari kedua orang tua Tiara, tetapi mereka malah menemukan berbagai bukti usaha gelap yang ternyata dimiliki oleh Dery, selain dari perusahaan kedua orang tua Tiara yang saat ini dikelola olehnya.
Siapa sebenarnya Dery? Kenapa dia bisa memiliki banyak klub malam? Bagaimana bisa dia juga masih menyimpan foto Tiara dan dia, padahal dia sendiri sangat membenci Tiara? batin Liora dengan penuh tanya
Apa Niken juga tau kalau pemilik tempat kerjanya dulu adalah Dery? Atau Dery memang membeli klub malam itu untuk Niken?
Berbagai macam pertanyaan terus berputar di kepala, membuat Liora mulai merasakan sakit kembali di kepalanya, karena terlalu memaksakan.
Malam itu, Liora baru saja bisa menutup mata dan tertidur setelah hampir fajar, sementara Charly bahkan tidak tidur sama sekali. Keduanya sibuk memikirkan bukti yang mereka dapatkan dari ruang kerja Dery.
__ADS_1
.
Charly langsung mengirimkan laporan semua bukti yang dia dapatkan dari ruang kerja Dery beberapa saat lalu, pada rekan kerjanya yang lain.
"Periksa semua klub malam yang sudah aku kirimkan namanya. Aku butuh informasinya segera," ujar Charly kemudian, sementara Ramon masih memantau keadaan rumah milik Tiara, sampai semua orang terbangun. dan terlihat baik-baik saja.
Tanpa terasa malam terlewat begitu saja, kini langit sudah berubah menjadi terang dengan sinar matahari yang bersinar cukup terik. Hari ini Tiara tidak bisa lari pagi seperti biasa, karena sejak pagi buta dua wanita menyebalkan di rumahnya sudah memberinya banyak pekerjaan.
Mulai dari sang ibu hamil yang tiba-tiba saja merasa mual dan bersikap manja, karena ibu mertua tidak membiarkannya untuk turun dari tempat tidur. Bagaikan sedang memanfaatkan situasi, Niken malah meminta banyak hal kepada Tiara.
Seperti sekarang ini misalnya, Niken sedang ingin dipijat ringan oleh Tiara, hingga dengan terpaksa dia harus melakukannya karena ibu mertua yang bawel bin cerewet itu terus mengoceh sambil menemani menantu kesayangannya.
Tiara menguap lebar dengan tangan yang masih setia memijat ringan kaki Niken. Matanya masih sangat sulit untuk dibuka karena kegiatannya tadi malam.
"Tiara, gak boleh menguap begitu di depan Ibu." Niken tampak cari perhatian pada mertua mereka dengan cara menegur Tiara.
"Lah, bukannya ini ajaran dari Ibu?" Tiara tampak berucap santai sambil menatap malas kedua wanita yang tengah duduk tegap di depannya.
"Kamu! Dasar wanita tidak tau diri!" hardik Mertua Tiara menunjuknya penuh amarah tepat di wajahnya.
Tiara enggan untuk meladeni drama yang selalu dibuat oleh mertua dan madunya itu. Dia hanya menghembuskan napas pelan kemudian bersikap acuh. Namun, diam-diam dia menambahkan tenaga pijatan di kaki Niken.
"Aduh! Tiara, kamu menyakiti aku," keluh Niken manja, matanya bahkan sampai berkaca-kaca seolah memang menahan sakit yang teramat.
"Tiara! Pelan-pelan dong. Kasar banget sih kamu jadi perempuan! Niken itu sedang hamil!" Wanita paruh baya itu kembali membela Niken, dia bahkan sampai memukul tangan Tiara yang ada di atas kaki Niken dengan cukup kencang.
__ADS_1
Tiara beranjak dia berdiri sambil mengibaskan tangannya yang terasa pegal, karena ini sudah hampir tiga puluh menit dia menjadi tukang pijat dadakan.
"Ya sudah, kalau gak suka. Lagian aku juga bukan tukang pijat," ujar Tiara sambil berjalan ke luar dari kamar utama.
Sialan tuh nenek lampir sama kuntilanak bunting! Masa pagi-pagi begini aku sudah dibuat jadi tukang pijat. Kalau saja gak ada nenek lampiran yang terus ngancam mau laporin aku sama Dery, aku gak akan mau melakukan semua ini!
Tiara menggerutu kesal di dalam hatinya. Dia menatap jam besar yang tergantung di dinding, sudah saatnya mengantar Davi ke sekolah. Menyadari itu, Tiara pun mempercepat langkahnya menuruni tangga, agar bisa menemui Davi yang pasti sedang sarapan di meja makan.
Bila sedang tidak ada Niken dan Dery di rumah, Davi memang mau makan di meja makan, tetapi jika ada kedua orang itu Davi selalu menolak untuk makan bersama. Dia selalu memilih untuk makan sendiri di kamarnya.
Makanya Tiara selalu menyempatkan diri untuk menemani Davi makan, walau terkadang Niken dan Ibu mertuanya menghalangi semua itu dengan permintaan mereka yang menyita waktunya.
Tiara tersenyum ketika melihat Davi sedang duduk di meja makan, tetapi keningnya terlihat berkerut ketika dia mendapati piring berisi nasi goreng buatannya masih utuh tanpa tersentuh.
"Kenapa belum dimakan, Davi sayang?" tanya Tiara sambil duduk di samping anak itu.
"Davi nungguin Mama. Mama pasti belum makan juga, kan?" jawab Davi yang membuat hati Tiara merasa perih bagaikan teriris.
Tiara merasa miris sekaligus bangga melihat anak kecil seperti Davi yang terlihat begitu kesepian di dalam rumahnya sendiri, tetapi masih mau memikirkan ibunya.
"Ya sudah, kita makan bareng." Liora mengambil sendok yang masih tertata rapih di samping piring, dia kemudian mulai menyendok nasi goreng dan menyodorkan ke depan Davi.
"Ayo, Aaaa," sambung Tiara lagi sambil tersenyum lembut, berusaha menjadi seperti Tiara yang sesungguhnya.
Davi tersenyum dengan mata berkaca-kaca kemudian membuka mulutnya untuk menerima suapan pertama dari sang Mama.
__ADS_1
"Mama juga makan," ujar Davi sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Tiara mengangguk, dia kemudian mulai makan dari sendok yang sama dengan Davi. Pagi itu, mereka makan dari piring yang sama. Untuk ke sekian kalinya Tiara atau Liora kembali merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya kepada Davi. Entah itu adalah perasaan milik Tiara yang masih tertinggal atau memang Liora sudah memiliki rasa sayang pada anak itu?