
Tiara kembali ke pesta ulang tahun Ciara setelah acara sudah hampir selesai, sampai di sana dia langsung disambut oleh wajah cemberut Davi.
"Sepertinya Davi marah sama kamu, anak itu diam terus sejak tahu kalau kalau kamu pergi," ujar Rere yang juga ada di samping Tiara.
"Hem, ya udah gak apa-apa, biar aku yang ngomong nanti sama Davi," jawab Tiara tanpa mengalihkan perhatiannya pada anak laki-laki yang tampak sedang duduk sendiri di salah satu kursi yang tidak terlalu mencolok.
"Heem, sepertinya memang cuma kamu yang bisa merayunya lagi," jawab Rere.
Tiara mengangguk dia kemudian tersenyum pada Rere. "Makasih ya, udah jagain Davi untukku," ujar Tiara sebelum dia melangkah menghampiri Davi.
Tiara duduk di samping Davi yang sedang merajuk, dia tersenyum kemudian mengangkat tanganya untuk mengusap pelan rambut Davi.
Davi tampak memalingkan wajah sambil sedikit menghindar dari belaian tangan Tiara.
"Davi marah ya, sama mama?" tanya Tiara yang tidak mendapat jawaban sama sekali dari anak itu. Tiara kembali tersenyum mendapati Davi yang benar-benar merajuk, dia kemudian mendekatkan kursi duduknya hingga kini semakin merapat dengan Davi dan langsung memeluk anak laki-laki itu.
"Maafin mama ya sayang, mama tadi ada urusan sebentar," ujar lirih Tiara sambil mengusap pelan punggung kecil anak itu, sesekali ciuman penuh kasih sayang juga dia lakukan di kepala Davi.
Pertahanan Davi hancur ketika merasakan kasih sayang dan kehangatan sang mama, dia mulai menangis tersedu di pelukan Tiara, tangan kecilnya mendekap erat tubuh raping sang mama.
"Mama jangan tinggalin Davi, Davi gak mau sendirian lagi," ujar anak itu di sela isak tangisnya.
Ya, Davi sebenarnya tidak marah, dia hanya merasa takut kehilangan Tiara untuk kedua kalinya, anak laki-laki yang belum bisa mengungkapkan semua jenis perasaan itu hanya bisa merajuk untuk memperlihatkan apa yang dia tidak sukai.
Tiara kembali tersenyum dia mendekap tubuh bergetar milik anaknya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca mendengar tangis pilu anak kecil itu.
"Maafin mama, sayang. Maafin mama." Tidak ada janji yang terucap, Tiara hanya mampu mengucapkan kata maaf berulang kali.
Cukup lama keduanya sempat terdiam dengan posisi yang sama, Tiara tidak melepaskan pelukannya sebelum dia mendengar tangis Davi yang mulai berhenti.
"Sekarang udah lebih tenang?" tanya Tiara sambil mengurai pelukannya, dia tatap wajah sang anak yang terlihat basah dan sembab, tangannya perlahan mengusap jejak air mata di pipi Davi.
Anak itu mengangguk dengan isakan yang masih terdengar. Tiara tersenyum hangat mendapati sang anak yang sudah kembali tenang. Mereka pun ikut bergabung lagi dengan tamu lainnya untuk memeriahkan acara, hingga akhirnya keduanya pulang setelah acara selesai, ketika langit sudah mulai berwarna jingga.
__ADS_1
Tiara menyeringai tipis begitu melihat punggung sopirnya terlihat berjalan menjauh, sepertinya dia hendak mengambil mobil di parkiran sekaligus menghilangkan diri dari kecurigaan Tiara padanya.
Mereka pun kembali ke rumah seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya, baik Tiara dan sang sopir, mereka sama-sama memegang rahasianya sendiri.
.
Sementara itu Dery sedang menerima laporan dari orang pesuruhnya yang dia tugaskan untuk mengintai Charly.
"Jadi dia berada di hotel xx dari siang hingga sore hari?" tanya Dery begitu laki-laki di depannya selesai memberikan laporan.
"Benar, Tuan. Dia berada di kamar bersama seorang wanita. Saya yakin itu, karena saya tidak pernah meninggalkan tempat saya," jawab laki-laki itu dengan nada suara yakin.
Kerutan di kening Dery tampak terlihat jelas, laki-laki itu tengah mengingat tempat acara ulang tahun salah satu teman Davi yang juga bertempat di sebuah hotel.
"Baiklah kamu boleh kembali," jawab Dery dingin, kemudian menghembuskan napas kasar.
Setelah kepergian pesuruhnya Dery kemudian menghubungi sopir yang dia tugaskan untuk mengawasi Tiara. Kecurigaannya semakin kuat saat dia mengetahui jika tempat acara ulang tahun temannya Davi juga berada di hotel yang sama.
"Apa ini adalah suatu kebetulan, mereka ada di satu hotel yang sama dan waktu yang sama juga?" gumam Dery sambil duduk bersandar di kursi kerjanya.
.
Tatapannya kembali mengarah pada rumah di seberang. Entah mengapa, sejak dia pindah ke negara ini, menatap rumah seberang itu menjadi kegiatan favoritnya di saat ada waktu senggang.
Seringai tipis terlihat di bibir tipis milik laki-laki itu saat bayangan kejadian tadi siang melintas diingatan. Ya, sejak ke luar dari rumahnya, Charly memang sudah merasa jika dia sedang diikuti oleh seseorang, hingga di tengah jalan dia pun merubah rencana yang tadinya akan menjemput Jordi di hotel tempat laki-laki itu menginap menjadi bertemu di tempat.
Charly juga meminta bantuan kepada Ramon untuk mencarikannya seorang wanita agar mau ikut bersandiwara dengannya, demi kelancaran rencana mereka hari ini. Hingga akhirnya begitu dia sampai di hotel seorang wanita yang pernah memggodanya di klub malam milik Dery pun menyambut kedatangannya
Sialan kamu Ramon, bisa-bisanya dia menggunakan wanita itu untuk bersama dengaku!
Charly bergumam di dalam hati saat melirik kilas siapa yang saat ini tengah berjalan sambil bergelayut manja di tangannya. Dia merasa sangat risih dan kesal dengan sikap wanita itu, tetapi demi kelancaran rencana yang sudah dia susun untuk hari ini, terpaksa Charly harus menahan rasa kesalnya itu agar orang yang mengikutinya tidak curiga.
Mereka pun memesan salah satu kamar di hotel itu dan masuk ke dalam, begitu pintu kamar tertutup Charly langsung melepaskan tangan wanita itu dan menjauhinya.
__ADS_1
"Ck!" Wanita itu berdecak kesal saat Charly terang-terangan menolaknya. Padahal dia sudah berdandan secantik mungkin.
"Memang susah kalau saingannya bukan sama yang lebih cantik. Mana bisa aku jadi tampan, sementara dia aja udah ganteng banget," gerutu wanita itu lagi sambil duduk di tepi ranjang dengan perasaan dongkol.
"Kamu tau kan peran kamu sekarang? Aku membayarmu bukan untuk melayaniku, tapi untuk bersandiwara di depan mata-mata keluargaku," ujar Charly dengan nada suara berat, dia terpaksa berbohong dan kembali berperan menjadi seseorang yang menyukai sesama jenis di depan wanita itu.
"Iya, aku tau," jawab wanita itu dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
Tidak lama setelah itu suara pintu kamar diketuk terdengar, Charly sengaja mengacak rambut dan membuka dua kancing kemeja miliknya sebelum membuka pintu. Seorang laki-laki dengan pakaian petugas hotel terlihat di depannya dengan sebuah troli makan siang di depannya.
Charly membuka pintu lebar, dia pun mempersilahkan laki-laki itu masuk. Setelah menutup pintu, laki-laki yang tenyata juga seseorang yang sudah bekerja sama dengan Charly itu langsung mengganti pakaiannya dan bertukar dengan Charly.
"Kalian boleh melakukan apa pun di kamar ini, asalkan jangan ke luar dari sini sampai aku kembali," ujar Charly pada dua orang di depannya.
"Oke," jawab keduanya tanpa bertanya lagi mereka terlihat saling melirik dari semenjak laki-laki itu masuk.
Setelah yakin dengan pakaiannya, Charly ke luar dengan memakai topi milik laki-laki itu dan pergi begitu saja menghindari mata-mata yang Dery kirim untuknya. Dia pun langsung menuju tempat acara di mana sudah ada Jordi yang sebelumnya sudah dijemput oleh Ramon lebih dulu.
Ramon memberikan tas berisi baju ganti untuk Charly, laki-laki itu pun langsung kembali mengganti bajunya dengan baju formal di tempat itu. Setelah semua selesai, Ramon langsung pergi dari tempat itu dengan membawa tas berisi baju ganti milik Charly.
"Sepertinya dia sudah mulai curiga padaku? Mulai sekarang aku harus lebih hati-hati lagi dalam bertindak," gumam Charly.
Untung saja hari ini dia bisa mengelabuhi mata-mata yang dikirim Dery untuknya, walau itu dengan berbagai rencana yang sangat merepotkan. Namun, bagaimana dengan hari-hari berikutnya, apa dia harus terus bersandiwara seolah-olah tidak tahu apa-apa? Entahlah, biar dia pikirkan nanti saja.
Yang terpenting sekarang, hasil dari pertemuan dirinya, Tiara, dan beberapa pemegang saham terbesar di perusahaan, tadi siang. Mereka masih terlihat ambigu, walau mungkin ada beberapa yang mulai terintimidasi dengan perkataan darinya dan Tiara.
Namun, itu semua belum membuat Charly tenang, sebelum mereka bisa memutuskan dan menandatangani surat yang menunjukkan jika mereka berpihak pada Tiara dan ingin Tiara mengambil alih kembali perusahaan kedua orang tuanya.
Ini baru awal, kita baru saja sampai di depan pintu masuk arena perang, Tiara. Mulai sekarang, kita mungkin akan berhadapan langsung dengan Dery atau bahkan Roxy.
Charly membatin, seolah sedang berbicara pada Tiara yang bahkan dia tidak tahu sedang apa di dalam rumah di seberang sana.
......................
__ADS_1