
Liora menghantikan mobilnya ketika tiba-tiba saja Charly menyalip dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Liora.
"Kenapa sih dia?" gerutu Liora sambil membuka sabuk pengaman kemudian ke luar dari mobil dengan gerakan kasar. Charly pun tampak ke luar dari mobilnya, begitu pun dengan Rere yang menyusul Liora.
"Kita harus bicara!" ujar Charly begitu Liora sampai di depannya.
"Untuk apa lagi sih? Bukannya aku sudah bilang kalau kita cukup jalan masing-masing saja. Sudah cukup kali ini, sekarang kamu harus fokuspada Roxi, jangan terus mengurusi aku." Liora masih tidak mau bekerja sama dengan Charly. Rasanya masih begitu sesak ketika mereka harus terus bersama laki-laki di depannya itu.
Sejak Charly menyatakan perasaannya, Liora juga tidak bisa menyangkal jika ada rasa yang perlahan tumbuh di dalam hatinya untuk Charly. Namun, dia juga sadar jika antara dirinya dan Charly tidak akan ada kesempatan untuk bersama, Liora juga tidak mau menodai tubuh orang lain hanya karena hasratnya dalam bercinta. Semua itu membuat hatinya selalu merasa sakit setiap kali melihat wajah Charly.
"Ayolah, semua ini tidak akan bisa selesai jika kita tidak bersama-sama, Liora. Sekarang mereka sudah menyatu, jadi kita harus lebih waspada dari sebelumnya, Liora. Kamu tidak tau bagaimana berbahayanya seorang Roxi, dia bisa saja mencelakai kamu dan Davi, jika tau selama ini kita bekerja sama," desak Charly sambil berusaha meraih tangan Liora. Namun, wanita itu terus saja menepis tangan Charly.
"Tiara-- em, Liora, sebaiknya kamu dengarkan dulu apa yang Charly ingin katakan. Pergilah, aku akan membawa mobil dan Davi ke apartemen." Rere tampak ikut membujuk Liora untuk pergi dengan Charly.
Liora tampak terdiam sambil menatap Rere dan Charly yang menatapnya penuh permohonan secara bergantian. "Oke-oke, aku ikuti kemauan kalian berdua." Akhirnya Liora menyerah.
"Nah, gitu dong. Kalau gitu kalian pergi saja duluan, aku akan bawa mobil kamu ke apartemen setelah jemput Davi sama Mak Onah di rumah," ujar Rere dengan senyum cerianya.
"Kamu beneran gak mau kita antar pulang dulu?" Charly tampak memastikan.
"Aku bukan anak kecil lagi ... aku bisa pulang sendiri, gak usah khawatir," jawab Rere sambil menatap Liora dan Charly secara bergantian.
"Oke, kalau gitu kita berdua pergi dulu," ujar Liora sebelum dia masuk ke mobil Charly.
Ketiganya pun berisah di sana. Rere tampak kembali ke mobil, setelah melihat mobil Charly melaju lebih dulu meninggalkannya. Tak ada yang janggal ketika dia memasuki mobil hingga pertengahan jalan. Namun, di saat dia hanya tinggal beberapa meter lagi sampai di komplek perumahannya, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang mengunci pergerakannya sambil menempelkan ujung sebuah senjata api di lehernya.
Tubuh Rere menegang dengan mata melebar, tangannya bergetar ketika suara yang terdengar dalam dan berat itu menyapu telinganya. Hingga untuk sesaat mobil yang dia kendarai terlihat oleng hingga hampir saja menyerempet mobil lainnya.
"Terus berkendara dengan benar, atau peluru ini akan langsung menembus kepalamu!" ujar laki-laki di belakangnya.
Rere melirik ke arah belakang dari kaca spion tengah, dia melihat satu orang laki-laki berpakaian serba hitam, dia sama sekali tidak bisa melihat wajahnya, karena terhalang oleh masker.
__ADS_1
"S--siapa kamu? A--apa yang kamu inginkan?" tanya Rere sambil berusaha terus mengendalikan stir mobilnya di tengah ketegangan yang terjadi.
"Jangan banyak tanya! Menyetir saja terus, aku akan menunjukkan jalannya!" jawab laki-laki itu sambil menekan ujung senjata api lebih dalam di leher Rere.
"I--iya, b--baik," jawab Rere panik bercampur dengan takut.
"Bagus!" ujar laki-laki itu memuji, walau itu tidak mengurangi rasa takut Rere sama sekali.
"A--aku mau di bawa ke mana?" tanya Rere lagi ketika dia akan menemui persimpangan jalan.
"Ke rumahmu!" jawab laki-laki itu yang membuat Rere melebarkan matanya.
Ke rumah? Mau apa dia ke rumahku? batin Rere penuh tanya.
"Ayo, cepat!" sentak laki-laki itu hingga membuat Rere terkejut bukan main.
Telapak tangannya sudah terasa basah oleh keringat, dia bahkan tidak bisa lagi merasakan gagang stir mobil yang dia genggam, semuanya mati rasa karena terlalu gugup.
Sayanganya, karena penjaga gerbang sudah tahu mobilnya mereka langsung membuka gerbang begitu saja, tanpa melihat keadaan yang sedang terjadi pada Rere.
"Ayo, masuk sekarang! Kamu harus membawa Davi pergi bersamamu bagaimana pun caranya," titah laki-laki di belakangnya.
"A--apa? M--mem-bawa Davi?" gugup Rere hingga dia berbicara dengan terbata.
"Iya, telepon keluargamu sekarang dan suruh Davi untuk menghampirimu ke sini!" titah laki-laki itu lagi begitu Rere berhasil menghentikan mobilnya di depan rumah.
"Cepat!" Lagi-lagi Rere mendapatkan bentakkan yag cukup keras, hingga membuat dia terkejut bukan main.
"I--iya," jawab Rere sambil mengambil ponselnya di dalam tas, dengan tangan bergetar.
Namun, belum juga menelepon Davi lebih dulu datang sambil berlari dengan wajah cerianya. Sepertinya anak itu mendengar suara mobil yang dibawa Rere, saat anak itu menunggu Liora.
__ADS_1
"Mama!" Teriakan anak kecil itu membuat hati Rere terasa sangat sakit. Ingin sekali dia berteriak untuk mencegah Davi datang ke padanya.
"Mama!" Dengan polosnya, Davi mengetuk pintu mobil sambil terus memanggil Liora. Sesekali anak itu juga tampak melompat kecil sambil mengintip ke dalam mobil.
"Heh, ternyata dia malah menghampiri kita. Dasar anak bodoh!" sinis laki-laki itu, menatap Davi dari sisi wajah Rere.
"Buka pintunya sekarang! Biarkan dia masuk ke dalam sendiri," titah laki-laki itu.
Rere memejamkan matanya ketika suara klik di senjata yang dipegang pengancam terdengar di telinga. Terpaksa dia membuka pintu samping kemudi, lalu menampakkan diri. Semantara laki-laki itu bersembunyi di kursi belakang dengan ujung senjata dia alihkan ke arah samping perut Rere.
"Tante, mama mana?" tanya Davi ketika dia melihat wajah Rere tanpa ada Liora di sana.
"Mama nunggu kita di apartemen, sekarang Davi masuk ya, kita ke sana," jawab Rere dengan suara yang jelas sekali terdengar bergetar.
Kening Davi berkerut dalam ketika melihat Rere yang tampak berbeda. Wajah Rere yang pucat pasi ditambah dengan bulir keringat sebesar biji jagung di keningnya, membuat Davi sedikit curiga.
"Tante, kenapa? Tante, sakit ya?" tanya Davi, malah tetap diam di samping pintu kemudi. Wajah polos anak itu membuat Rere tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
"Eu--enggak kok, tante cuman-cuman, lupa nyalain AC. Iya, tante lupa nyalain AC, jawab Rere mencari alasan dari rasa gugupnya. Dia kembali menutup mata meraskaan ujung senjata itu semakin dalam menusuk pinggangnya.
"Oh gitu ya. Kalau gitu aku mau pamit sama oma dan opa dulu, sekalian panggil Mak Onah," jawab Davi sambil langsung berlari tanpa menunggu persetujuan Rere.
"Eh, tapi, Dav--Davi." Perkataan Rere tidak bisa lagi dia teruskan ketika melihat Davi sudah masuk ke dalam rumah dalam sekejap mata.
"Dasar bodoh! Ngapain kamu malah membiarkan anak itu masuk ke rumah lagi hah?!" kesal laki-laki itu sambil memukul kepala Rere dengan gagang senjata api itu.
"Akh!" Rere berteriak cukup keras hingga membuat penjaga gerbang mengalihkan perhatiannya. Tampaknya mereka mulai merasakan sesuatu yang janggal dari Rere.
Sejak tadi mereka memang sudah memperhatikan anak majikannya itu yang tampak berbeda, apa lagi mereka tidak melihat Rere ke luar dari mobil setelah cukup lama berhenti. Itu sama sekali tidak seperti Rere yang biasanya.
__ADS_1