
Charly memukul setir mobilnya dengan kekutan penuh, dia melampiaskan kekesalannya pada benda mati itu karena terpaksa harus menghentikan mobilnya di lampu merah.
"Sial!" umpat Charly sambil melihat tiga mobil yang membawa Dery kini berjalan semakin menjauh darinya, sementara dia sendiri malah terjebak dengan lampu lalu lintas yang masih menyala merah.
"Kamu sudah tulis nomor polisinya?" tanyanya pada Ramon yang masih duduk tenang di sampingnya. Bagi Ramon, melihat Charly uring-uringan seperti sekarang, sudah hal biasa. Apa lagi sekarang Charly juga sedang dalam suasana hati yang tidak baik, karena sudah beberapa hari ini tidak lagi berhubungan dengan Liora.
"Aku sudah kirimkan padanya," jawab Ramon sambil memperihatkan layar ponselnya yang berisi chat dirinya dan rekan kerja lainnya.
"Suruh dia untuk memeriksa CCTV juga, cari tahu mereka pergi ke arah mana," titah Charly dengan nada suara yang terdengar berat.
"Oke," jawab Ramon sambil kembali fokus pada ponsel di tangannya.
.
Semantara itu, Liora tampak sedang duduk santai di sebuah salon ternama di kota itu bersama dengan Rere yang selalu menemaninya. Sedangkan Davi, mereka biarkan bermain di rumah Rere bersama dengan Mak Onah dan orang tua Rere yang ternyata bisa menerima dengan baik kehadiran Davi.
"Kamu yakin akan datang langsung ke acara pertemuan para pemegang saham besok pagi?" tanya Rere sambil melihat Liora yang tengah menutup mata, menikmati perawatan yang sedang dia jalani saat ini.
"Tentu saja.. Memang kenapa? Apa kamu ragu sekarang?" tanya Liora masih dengan mata yang tertutup rapat.
"Eum, aku hanya bingung saja. Kenapa kamu tidak mau ikut mencalonkan diri menjadi CEO dan menggantikan Dery? Bukankah dengan kamu mejadi CEO itu akan lebih memudahkan kamu memantau perusahaan?" tanya Rere masih tetap menatap wajah Liora.
Liora tersenyum, dia kemudian menoleh dengan mata terbuka, hingga untuk sesaat mata keduanya sempat bertemu.
"Aku hanya ingin memilih seseorang yang benar-benar akan menjaga perusahaan milik Tiara sampai dia kembali atau mungkin Davi siap mengelolanya sendiri nanti," Jawab Liora dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya.
Kerutan yang cukup dalam terlihat jelas di kening Rere, sepertinya wanita itu menangkap sesuatu yang janggal dari ucapan Liora..
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Rere sambil terus menatap Liora, tiba-tiba saja tubuhnya terasa menegang.
"Tidak ada, aku hanya asal bicara saja." Liora mengedikkan bahu sambil terkekeh ringan, seolah senang karena sudah berhasil mengerjai Rere.
__ADS_1
Namun, Rere tidak begitu. Rere malah takut jika perkataan Liora mengandung maksud tersembunyi di dalamnya.
Apa kamu juga akan meninggalkan Davi? Bagaimana aku bisa menghadapi anak itu jika kamu tidak ada di sisinya? batin Rere dengan berbagai pertanyaan yang kini mengusik hatinya.
"Jadi apa rencana kamu sekarang?" tanya Rere yang masih penasaran dengan pemikiran Liora. Entah mengapa, Liora begitu sulit untuk dia selami, mungkin karena Rere juga tidak tahu masa lalu Liora yang sebenarnya.
Liora tersenyum sambil kembali menatap Rere. "Kita lihat saja nanti," jawabnya ambigu.
.
Hari berganti begitu saja, pagi ini matahari bersinar begitu cerah. Liora dan Rere sudah berada di dalam mobil yang perlahan mulai memasuki area perusahaan dan kemudian berhenti tepat di depan lobi kantor.
"Sudah siap?" tanya Liora sambil menatap wajah Rere yang tampak tegang.
Rere menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar, mencoba meringankan rasa tegang dan gelisah yang terus mengganggunya.
"Tenang saja, ada aku di sini. Kamu percaya padaku, bukan?" ujar Liora sambil menggengam tangan Rere lembut, memberikan kekutan dan percaya diri pada sahabat Tiara itu.
Hari ini, Liora memakai kemeja berwarna putih yang dibalut oleh blazer hitam yang juga memiliki warna putih di kerahnya. Celana dengan potongan tailored trausers berwarna senada dengan bazer yang dia pakai, kemudian dipadukan bersama sepatu pump heels berwarna putih dengan sedikit aksen tali kecil di pergelangan kakinya yang tampak memperindah menampilan Liora pagi ini.
Sementara itu, penampilan Rere juga tak jauh berbeda dengan Liora, hanya saja dia lebih memilih memaki kemeja salur berwarna hitam dan putih dengan pita di bagian dada, yang dia padukan dengan rok span sebatas lutut berwarna hitam polos dan sepatu model stiletto yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang.
Keduanya tampak berjalan beriringan masuk ke dalam lobi. Kedatangan kedua wanita itu tentu saja mampu membuat orang-orang yang ada di sana mengalihkan perhatiannya. Ditambah ada juga beberapa orang yang tampak masih mengenali Tiara sebagai salah satu mantan karyawan di perusahaan, sekaligus istri dari Dery.
`"Angkat kepalamu, Re, jangan perlihatkan kelemahanmu di depan orang lain," bisik Liora yang melihat Rere sedikit menundukkan pandangannya.
Mendengar itu pun Rere langsung mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Liora.
"Itu bukannya Bu Tiara? Istri Pak Dery yang juga pernah bekerja di sini sebagai karyawan biasa?"
"Sepertinya iya. Aku masih ingat banget sama dia, dia itu orang yang baik dan rendah hati, padahal waktu itu dia itu sudah bertunangan dengan Pak Dery."
__ADS_1
"Iya. Dia, kan resign dari kantor setelah menikah dan hamil, katanya ingin fokus ngurus anak dan suami."
"Gak nyanga banget ya, wanita sempurna kayak Bu Tiara saja masih aja dikhianati. Apa coba yang kurang dari Bu Tiara? Udah pinter, lembut, baik hati, cantik pula. Tapi malah dimadu sama Pak Dery."
"Iya, mending kalau cewek selingkuhannya lebih baik dari Bu Tiara. Kabarnya, wanita yang jadi istri ke dua Pak Dery itu hanya wanita malam. Mereka itu MBA."
"Hah, beneran mariried by accsident?"
"Kalau yang aku denger sih begitu. Dan kalian tau yang lebih parahnya lagi? Madunya Bu Tiara sekarang ditangkap polisi karena mencoba membunuh Bu Tiara."
"What?! Wah, itu sih bener-bener gak tau diri. Sudah untung Bu Tiara ngizinin Pak Dery buat nikahin dia, eh malah mau ngebunuh Bu Tiara."
"Gak kebayang deh sakitnya jadi Bu Tiara, apa lagi katanya Bu Tiara pernah kecelakaan sampai koma selama satu bulan, dan itu semua ulah madunya. Bener-bener gak punya hati memeng tuh wanita penggoda."
"Yaelah, mana ada pelakor punya hati. Kalau memang mereka punya hati, gak mungkin mereka mau merebut suami orang, apa lagi udah punya anak."
"Iya juga sih. Tapi, kira-kira mau ngapain ya, Bu Tiara datang ke sini?"
"Gak tau lah, itu semua, kan urusan orang dia atas, kalau kita, yang penting kerja dan perusahaan kembali seperti biasa lagi."
Banyak dari para pegawai kantor yang asik membicarakan kedatangan Tiara dan masa lalu Tiara di kantor itu. Ya, memang setelah insiden penangkapan Niken di rumahnya, kabar tentang rumah tangganya pun menyebar tanpa terkendali. Untung saja tidak ada yang merugikannya, walau memang beberapa ada yang Liora blokir penyebarannya, karena takut Davi sampai melihatnya.
Namun yang namanya para deterzen, mereka bisa saja mendapatkan berbagai informasi yang kadang membuat dirinya sendiri terkejut melihatnya.
Sebenarnya Liora mendengar sedikit bisik-bisik para karyawan yang membicarakannya, tetapi wanita itu memilih untuk mengacuhkannya, apa lagi dia sama sekali tidak kenal dengan orang yang mungkin dulu pernah bekerja sama dengan Tiara. Dari pada salah langkah, lebih baik Liora berpura-pura tidak mendengar apa pun. Begitu pula dengan Rere, yang ikut pura-pura tidak mendengar apa pun.
Keduanya dibawa menuju ke sebuh lift untuk mengantarkan mereka menuju lantai paling atas gedung, di mana ruang rapat khusu berada.
Begitu sampai di sana, Liora bisa melihat beberapa petinggi perusahaan sudah hadir, begitu juga dengan beberapa pemegang saham. Mereka tampak saling menyapa dengan senyuman dan pujian yang terdengar seperti sebuah kebohongan di telinga Liora.
Acara pun dibuka setelah semua yang berkepentingan dalam rapat kali ini hadir.
__ADS_1