
Charly ke luar dari mobil dengan kepala yang penuh dengan berbagai pertanyaan yang masih terus mengganggunya. Sementara Tiara dia tinggalkan di apartemen milik Rere, karena mau menginap di sana. Dia berjalan gontai masuk ke dalam rumah kemudian mulai menaiki anak tangga.
Ramon yang baru saja ke luar dari dapur terlihat menatap Charly dengan kening berkerut dalam. Dia kemudian mengikuti Charly dengan membawa makan malam di tangannya.
"Kamu sudah pulang? Bagaimana? Apa yang terjadi sebenarnya pada Tiara? Dia sudah mengatakan semuanya padamu, Charly?" Ramon langsung memberi Charly pertanyaan beruntun sambil terus mengikuti sahabatnya itu.
"Aku lelah, mau mandi dulu," jawab Charly setelah keduanya sampai di depan pintu kamar, dia kemudian masuk begitu saja dan menutup pintu rapat, meninggalkan Ramon yang hanya menatapnya dengan wajah bingung.
"Kenapa dia?" gumam Ramon sambil berbalik kembali dan memilih masuk ke kamarnya sendiri.
Sementara itu, Charly berjalan menuju ke kamar mandi sambil melepaskan satu per satu kain yang menutupi tubuh atletisnya. Dia kemudian berdiri di bawah shower dan membiarkan air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya. Berulang kali dia menyugar rambutnya sambil menghembuskan napas kasar, seolah ingin melepaskan beban yang terasa menyesakkan di dalam dada.
Bayangan semua percakapannya bersama dengan Tiara, atau mungkin Liora, terus memenuhi semua pikirannya hingga membuatnya tidak bisa berpikir yang lainnya. Cukup lama Charly terdiam di sana hingga akhirnya dia memilih beranjak setelah rasa dingin sudah hampir sampai ke tulangnya.
Entah apa yang kini dia rasakan ketika dengan terang-terangan Tiara mengaku sebagai Liora, seorang ketua gengster yang terkenal dengan kecantikannya di seantero California. Target misi yang tidak pernah dia dia selesaikan, karena sampai saat ini dia bahkan tidak bisa menemukan jasad wanita itu di lautan. Entah bagaimana nasibnya, tidak ada yang tahu sama sekali, termasuk dirinya. Yang pasti, setelah kejadian itu, gengster yang selama ini dipimpin oleh Liora pun bagaikan menghilang ditelan bumi, para elit mereka tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.
Charly ke luar dari kamar mandi dengan handuk yang melihat sampai di pinggangnya, dia tampak menghentikan langkahnya ketika melihat Ramon yang kini tampak berbaring di tempat tidurnya.
"Buat apa kamu ada di sini?" tanya Charly sambil meneruskan langkahnya menuju lemari dan mengambil baju untuk dirinya pakai.
Ramon tampak bangun kemudian duduk di tepi ranjang, dia menatap Charly dengan mata yang malas. Bibirnya tampak mencebik kesal melihat Charly yang tampak acuh.
"Aku mau meminta penjelasan dari kejadian tadi siang," jawab Ramon, langsung pada intinya.
__ADS_1
"Aku lapar, berikan aku makanan dulu, baru nanti akan aku katakan apa yang ingin kamu ketahui," jawab Charly sambil berjalan ke luar dari kamar begitu saja.
"Ck!" Ramon berdecak kesal sambil berjalan mengikuti Charly yang tampak tidak menghiraukannya sama sekali.
.
Sementara itu, Tiara tampak duduk berdua di balkon apartemen milik Rere, sementara Davi telah tidur di kamar setelah dia lelah menunggu Tiara pulang selama seharian tadi. Tiara baru saja memperlihatkan salinan video yang ada di dalam flash disk yang Tiara temukan di depan ruang kerja Dery, perempuan itu juga tampak terkejut dengan apa yang Dery lakukan selama ini.
"Boleh aku minta salinan dari video ini? Aku akan memperlihatkannya pada ayahku, agar dia mau membantu kira menekan para pemegang saham di perusahaan Dery. Aku yakin, mereka tidak akan mampu melawan kalau ayahku yang berbicara," ujar Rere dengan wajah yang sangat meyakinkan.
"Beneran? Kamu mau bantu aku, Re?" tanya Tiara antusias, yang langsung mendapat anggukkan dari Rere.
"Lalu gimana dengan Charly? Apa dia sekarang tau apa yang terjadi padamu?" tanya Rere setelah keduanya lama terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tiara yang sekarang, adalah sosok mandiri, berani, dan lebih tegas. Jauh berbeda dengan Tiara yang dahulu, yang memiliki sifat lembut, sedikit tertutup dan tidak mau merepotkan orang lain. Kecurigaannya semakin besar ketika dia melihat jika Tiara bahkan bisa memesan sebuah senjata ilegal dan melakukan hal-hal yang dia tahu, tidak bisa dilakukan oleh Tiara yang dulu.
"A–apa maksud kamu, Re?" tanya Tiara yang belum mengerti maksud dari Rere. Setelah dia ke luar dari rumah sakit dan berdamai dengan keadaan, mereka tidak pernah lagi membahas tentang siapa sebenarnya dia. Hingga saat ini, ketika Rere tiba-tiba membicarakan semua itu, Tiara pun menjadi kaget luar biasa.
Rere tersenyum hambar, dia kemudian sedikit menundukkan kepalanya sambil menghembuskan napas pelan sebelum kembali menatap wajah terkejut Tiara yang kini bukan lagi Tiara.
"Aku ini sahabat Tiara sejak kita masuk kuliah. Selama ini dia memang hanya punya aku, begitu pun dengan aku. Jadi, aku tau betul bagaimana sifat Tiara, dan itu sangat berbeda dengan kamu yang sekarang," ujar Rere dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Awalnya aku mencoba percaya jika semua perubahan kamu selama ini disebabkan oleh efek dari kecelakaan kamu dan lupa ingatan yang kamu alami. Tapi, aku kemudian sadar, kalau Tiara tidak pernah berhubungan dengan dunia hitam. Dia adalah wanita polos, yang bahkan akan menangis ketika melihat adegan sedih di film. Dia adalah wanita yang lembut dan akan merasa bersalah, hanya karena lupa dengan hal yang kecil, seperti membawakan Davi bekal, atau bahkan lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku."
__ADS_1
"Saat itu aku tau, kalau kamu memang bukan Tiara, kalian berbeda, bahkan sangat berbeda. Ketika aku melihat dan mengenang kebersamaan kita, aku sadar jika sikap, sifat, cara berfikir, dan semuanya tampak berbeda, hanya saja selama ini aku menutup mana akan perbedaan kalian berdua."
Liora menelan salivanya susah payah, dia tidak pernah menyangka jika pengakuan dari Rere dadanya begitu sesak karena menahan sakit di dalam hatinya. Entah kenapa semua itu bisa terjadi, Liora pun bingung dengan perasaannya sendiri. Dulu dia menginginkan semua orang mengetahui siapa dirinya sebenarnya dan membantunya untuk kembali, tetapi kini ... di saat Rere sudah menyadari semuanya, dia malah merasakan sakit tak terkira.
"Jadi kamu sudah sadar kalau aku bukan Tiara?" tanya Liora lirih, yang langsung mendapat anggukkan kepala Rere.
"Lalu, kenapa kamu masih mau membantuku melakukan apa pun yang aku rencanakan, Re? Kenapa kamu percaya padaku begitu saja?" Liora menundukkan kepalanya dalam, dia menyembunyikan air mata yang sudah jatuh tak tertahan.
"Karena aku tau kalau semua yang kamu lakukan selama ini hanya demi Davi dan Tiara," jawab Rere sambil menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya. Dia kemudian menatap Liora yang tampak masih menundukkan kepala.
"Siapa pun kamu, walau kamu bukan Tiara sekali pun, aku tetap akan menganggapmu sebagai sahabat. Jika memang semua itu terjadi dan kalian akan kembali pada tubuh kalian masing-masing suatu saat nanti, maka aku berharap kamu akan tetap menganggapku sebagai sahabatmu, dan aku akan menunggumu datang padaku dengan rupa aslimu," ujar Rere yang membuat Liora kini tak tahan lagi menahan isak tangisnya.
Liora yang mengira tidak akan diterima oleh Rere, setelah perempuan itu mengetahui yang sebenarnya, kini seolah kembali mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan juga begitu membahagiakan. Dia benar-benar bersyukur dengan kehidupan keduanya ini, karena di sini dia dipertemukan dengan orang-orang yang tulus dan baik hati.
"Kamu tidak marah padaku? Karena telah mengambil keputusan untuk hidup Tiara dan Davi, padahal aku bukanlah siapa-siapa mereka?" tanya Liora.
"Aku yakin, semua keputusanmu benar dan memang itu yang selama ini diinginkan oleh Tiara. Aku yakin, jika saja Tiara melihat semua yang kamu lakukan untuk dia dan anaknya, maka dia akan sangat berterima kasih padamu," jawab Rere dengan senyum tipis di wajahnya.
"Aku harap juga begitu," lirih Liora tulus.
Sementara itu tanpa keduanya tahu, dari balik pintu kamar, Davi tampak mengusap air matanya, mendengar semua perbincangan dari kedua wanita di depannya.
__ADS_1