
Malam sudah hampir berganti menjadi pagi, ketika dering suara ponsel Liora mengalihkan perhatian wanita yang bahkan tidak bisa untuk menutup mata itu. Liora menatap layar bertuliskan pesan dari nomor yang tidak dikenal. Ketika dia membukanya, ternyata ada sebuah video yang baru saja Liora terima.
Liora yang sedang menikmati angin malam di halaman belakang rumah itu pun mulai membuka video itu. Matanya melebar ketika melihat video yang sangat mengejutkan itu. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan bergetar, Liora mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang kini ada di pikirannya.
Wanita itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Charly. Namun, entah ke mana laki-laki itu, hingga dia tidak menemukannya di mana pun.
Hingga akhirnya dia menghentikan langkahnya di depan sebuah kaca yang memperlihatkan Helen masih terjaga di depan barisan layar komputer di depannya.
Liora tampak terdiam, dia menatap kembali ponsel yang masih berada di dalam genggaman. Hatinya merasa sakit bercampur khawatir ketikan mengingat isi video yang baru saja dia terima.
Perlahan dia mencoba mengetuk pintu kaca itu, walau hatinya pun masih ragu, mengingat perdebatannya dengan Helen malam tadi, yang sangat memperlihatkan jika wanita itu sama sekali belum bisa menerimanya.
Helen menoleh, wanita itu tampak memutar bola matanya ketika melihat Liora berada di sana.
"Boleh aku masuk?" tanya Liora, masih mencoba untuk bersikap sopan di depan tuan rumah.
"Ada apa?" tanya Helen sinis. Wanita itu bahkan langsung memutar kembali kursi kerjanya, hingga memunggungi Liora.
Liora pun berjalan menghampiri Helen. Untuk saat ini, dia harus menekan ego dan harga dirinya demi bisa menyelamatkan Davi yang kini berada di tangan Roxi.
"Aku menerima sebuah video," ujarnya sambil menaruh ponsel miliknya di depan Helen.
Helen tampak mengerutkan keningnya, dia pun memeriksa video di ponsel Liora. Wanita itu tampak mengepalkan tangannya ketika melihat video yang berisi tentang seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Davi sedang berada di ruangan kosong dalam keadaan terikat di sebuah kursi.
Apa lagi mereka terus membiarkan Davi menangis dan terus memanggil mamanya. Suara Davi bahkan sudah terdengar serak dan terbata karena terhalang oleh suara isak tangis.
Liora membuang muka dengan tangan terkepal kuat. Hatinya terasa teriris ketika mendengar suara tangis anak kecil yang begitu menyedihkan, apa lagi Davi terus memanggilnya di sela tangis. Wanita itu menggigit bibir bawahnya mencoba mengalihkan sedikit sesak di dalam dada.
__ADS_1
Kedua wanita itu sama-sama menahan geram dengan kekejaman seorang Roxi pada anak kecil seperti Davi. Hingga tiba-tiba ponsel yang masih berada di tangan Helen berdering dengan nomor telepon yang disamarkan.
"Tunggu dulu, biar aku cari lokasi si penelepon!" ujar Helen sambil menyerahkan ponsel itu kembali pada Liora.
Helen pun tampak kembali sibuk dengan keyboard dan layar di depannya untuk beberapa saat, hingga setelah dia bersiap, Helen memberi isyarat pada Liora untuk segera mengangkat telepon dari nomor tak dikenal itu.
"Halo," sapa Liora sambil menyalakan pengeras suara, agar Helen masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Kamu pasti sudah melihat video yang aku kirimkan, bukan?" tanya seseorang di seberang sana dengan suara yang terdengar tidak terlalu jelas.
"Dasar kalian tidak punya hati! Di mana anakku sekarang?! Aku bersumpah akan membunuh kalian semua jika sampai terjadi sesuatu pada anakku!" geram Liora, dengan nada menggebu-gebu.
"Hahaha!" Tawa dari sambungan telepon terdengar begitu mengejek, hingga semakin membakar emosi Liora, wanita itu mengeraskan rahang, mencoba menahan emosi.
"Jika kamu mau anakmu kembali, maka lepaskan perusahaan itu dan berhenti mengusik kehidupan mantan suamimu," ujar orang di seberang sana.
"Dasar pengecut! Kamu hanya berani mengancam wanita lemah sepertiku, dengan menggunakan anak kecil! Heh, tidak tahu malu!" desis Liora yang terus mengumpat.
"Terima kasih atas pujiannya, aku sangat senang mendengarnya, hahaha!" jawab orang itu dari seberang sana.
"Aku peringatan sekali lagi! Jika kamu tidak mau melihat nyawa anakmu terancam, maka ikuti saja perintahku!" ujar laki-laki itu sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon begitu saja.
"Hei, tunggu dulu, aku belum selesai berbicara!" teriak Liora yang sudah tidak bisa lagi terdengar oleh lawan bicaranya.
"Sial!" umpat Liora kesal.
"Ish! Dasar sialan! Sebentar lagi aku akan mendapatkan lokasinya, tapi dia lebih dulu mematikan sambungan teleponnya!" umpat Helen sambil menggebrak meja kerjanya. Dia gemas sekaligus geram pada si penelepon itu.
__ADS_1
Liora pun ikut menggeram kesal, dia hampir saja membanting ponselnya untuk meluapkan kekesalan di dalam hati.
"Ada apa ini?" Charly yang baru saja datang terlihat panik ketika mendapati dua wanita yang masih belum akur itu berada di ruangan yang sama dengan wajah geram.
"Kamu dari mana saja sih, aku cari dari tadi gak ada?!" kesal Liora, dengan wajah menahan kesal.
"Aku habis mengecek vila milik Dery! Maaf, aku memang tidak bilang dulu padamu, karena aku melihat kamu belum tenang sepenuhnya," jawab Charly sambil membawa Liora untuk duduk di sofa.
Mata laki-laki itu melirik pada Helen, seolah meminta penjelasan tantang yang sudah terjadi hingga dia melihat Liora yang tampak kembali tak tenang seperti kemarin sore.
"Dia mendapatkan kiriman video dan telepon ancaman dari seorang anonim," jawab Helen sambil memperlihatkan video di salah satu layar komputernya.
"Putar," titah Charly yang langsung dikerjakan oleh Helen.
Charly melihat dengan seksama apa yang ada di dalam video itu, walau sesekali matanya melirik ke arah Liora yang ikut melihat kembali video itu di layar yang lebih besar.
"Coba putar menggunakan earphone, aku seperti mendengar suara lain di sana," ujar Charly sambil beranjak menghampiri Helen dan memakai earphone yang ada di sana. Laki-laki itu kembali fokus mendengarkan suara yang ada di dalam video hingga merasa tidak melewatkan apa pun.
"Apa yang kamu dapatkan dari vila itu?" Liora ikut bergabung setelah dirinya mulai tenang.
"Tidak ada, vila itu kosong. Warga di sana juga mengatakan, jika vila itu sudah lama tidak pernah didatangi oleh pemiliknya. Hanya sesekali saja vila itu disewakan oleh penjaga. Sepertinya mereka memang sengaja mengecoh kita dengan cara seperti itu," jawab Charly, sambil menggeleng lemah.
"Lalu di mana Davi sekarang, Charly? Kasihan dia kalau terlalu lama bersama dengan mereka, dia pasti sangat ketakutan sekarang," ujar Liora dengan wajah yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tenang dulu, kita pasti akan menemukan Davi, oke. Tapi, kamu harus tenang, agar kita bisa bekerja sama untuk melakukannya bersama-sama." Charly berusaha untuk menenangkan Liora.
"Lebih baik kamu sekarang istirahat dulu, besok ketika matahari sudah terbit, aku akan mengantarmu ke rumahmu, kita cari petunjuk di sana," sambung Charly lagi.
__ADS_1