
"Ngapain kamu, di sini?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Niken.
Wanita yang mengenakan gaun tidur yang sangat seksi itu, tampak berdiri di belakang Liora dengan membawa gelas kosong di tangannya.
Liora melebarkan matanya, dengan kepala mulai mencari alasan agar Niken tidak mencurigainya dan mengadukan dia pada Dery. Akan lebih sulit lagi nanti jika sampai Dery mulai curiga padanya dan bertindak waspada.
"A–aku?" Liora menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang bingung.
"Aku sedang apa di sini?" tanya Liora seolah dia sendiri tidak menyadari kenapa dirinya bisa ada di sana.
"Apa maksud kamu? Kenapa malah nanya sama aku?" Niken tampak tidak terima.
"Apa kebiasaan tidur berjalanku kambuh lagi? Oh, astaga!" desah Liora berpura-pura prustrasi.
"Alah, gak usah banyak alasan, kamu pasti mau masuk ke ruangan kerja Mas Dery, kan? Awas saja, nanti aku laporkan kamu sama Mas Dery," ancam Niken.
Liora meolotot, dia berpura-pura terkejut dengan ancaman Niken, padahal dirinya sangat tahu itu akan terjadi.
"Jadi ini ruang kerja Mas Dery? Wah kalau tahu begini aku udah masuk dari tadi." Liora berlagak tidak mengetahui itu, dia memanfaatkan lupa ingatan yang dia derita. Liora kemudian tersenyum pada Niken sambil berjalan mendekat.
"Terima kasih, ya. Sekarang aku tahu di mana letak ruang kerja Mas Dery," ujarnya pelan, tepat di depan telinga Niken, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, tanpa menoleh lagi pada Niken.
Niken tampak melebarkan matanya, dia tidak menyangka kalau dirinya malah memberi tahu tentang letak ruang kerja Dery, yang sebelumnya Liora tidak pernah tahu.
Di dalam cahaya remang, dia melihat punggung Liora yang berjalan tegap menjauhinya, hingga akhirnya menghilang di balik pintu. Tangan Niken mengepal kuat, menahan rasa geram pada Liora yang kini semakin pintar mencari alasan untuk melawannya.
"Dia semakin pintar," gumamnya, kemudian menaruh gelas di tangan pada meja di dekat sana dengan gerakan kasar, lalu berjalan kembali menaiki tangga dengan langkah kesalnya.
.
Sementara itu di tempat lain, Charly dan Ramon terus mengikuti mobil yang menjadi target mereka malam ini, hingga akhirnya mobil itu berhenti kembali di sebuah pom bensin. Seorang laki-laki tampak ke luar dari mobil kemudian berjalan menuju toilet yang ada di sana.
Charly ikut ke luar dari mobil, kemudian mengikuti laki-laki itu, sedangkan Ramon masih berjaga di dalam mobilnya. Begitu sampai di dalam toilet pom bensin yang terlihat sepi, Charly tampak mendekati laki-laki itu, lalu mencoba mendesaknya hingga membentur tembok.
Namun, dia dibuat terkejut karena orang yang dia ikuti ternyata bukan laki-laki yang dia maksud.
__ADS_1
"Siapa kamu? Di mana Dery?!" desak Charly sambil memiting tangan laki-laki itu hingga tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh Charly.
"A–aku tidak tahu, Tuan. Aku hanya disuruh untuk membawa mobil itu ke sini," jawab laki-laki itu dengan nada bicara terbata.
"Jangan mengelak! Cepat bicara atau aku patahkan tangamu!" geram Charly masih belum mempercayai ucapan laki-laki itu.
"Benar, Tuan. Aku dibayar untuk melakukan ini," ujar laki-laki itu dengan napas yang sudah mulai sesak.
"A–ampuni aku, Tuan," ujarnya lagi dengan tubuh bergetar menahan takut.
Charly melepas kuncian tangannya dengan kasar, dia menyugar rambutnya sambil mengumpat kesal, "Sial!"
Charly melihat sekilas wajah laki-laki yang dibayar oleh Dery untuk mengelabuinya, kemudian berjalan cepat meninggalkan toilet dan kembali ke mobilnya. Ramon yang melihat Charly ke luar dengan tangan kosong mengernyit bingung, dia kemudian ke luar dari mobil dan menghampiri temannya itu.
"Ada apa, Charly?" tanya Ramon.
"Kita ditipu, rencana ini gagal. Sepertinya mereka sudah tau kalau kita sedang menargetkan mereka," jawab Charly kesal.
"Apa? Berarti kita tertinggal satu langkah?" tanya Ramon, ikut kesal dengan kejadian ini.
"Itu semua belum pasti, sekarang kita kembali dulu saja," ujarnya kemudian.
Roman mengangguk, mereka berdua pun kembali masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian pergi meninggalkan pom bensin itu dengan rasa kesal di dalam dada.
.
Sementara itu di salah satu kamar hotel, seorang laki-laki menggunakan stelan jas lengkap terlihat sedang mencum–bu tubuh wanita yang sudah hampir tanpa busana.
Suara desa–han terdengar membangkitkan gairah laki-laki yang kini masih berpakaian lengkap itu. Rasa panas mulai menjalar di seluruh tubuhnya seiring bulir keringat yang terlihat, beberapa saat kemudian laki-laki itu membuka satu per satu kain yang menutupi tubuhnya.
Seringai penuh hasrat terlihat jelas oleh sang wanita yang sudah siap dengan posisinya terbaring di atas ranjang. Perlahan laki-laki itu naik ke atas tubuh sang wanita, hingga senyum di bibir merah merekah yang sudah terlihat bengkak dan kacau itu kian melebar.
Namun, senyum itu langsung hilang, ketika tiba-tiba tangan kokoh itu menjambak kasar rambut panjang nan wangi sang wanita, hingga kepala wanita itu mendongak dengan bibir meringis menahan sakit. Kulit kepalanya terasa hampir saja lepas karena perlakuan kasar laki-laki di atasnya.
Jerit kesakitan dan isak tangis yang mulai ke luar dari bibir bergetar yang mulai terlihat pucat itu, semakin menambah gairah dan semangat sang laki-laki.
__ADS_1
Berbeda dengan wanita itu yang terasa sedang berada di dalam neraka. Tubuhnya terasa remuk redam, dengan kesadaran yang hampir menghilang. Malam yang dia kira akan menjadi malam penuh kebanggaan karena berhasil melayani salah satu pemilik perusahaan besar di ibu kota, ternyata malah menjadi malam kelam untuknya. Gigitan, pukulan, jambakan, bahkan hentakkan kasar dia terima tanpa ampun, hingga membuat dirinya terasa ingin mati saja.
Beberapa saat berlalu, suara teriakan kenikmatan menjadi akhir dari pergumulan panas malam ini. Laki-laki itu akhirnya menyudahi tingkah gilanya dan beranjak dari atas tubuh wanita yang sudah tak sadarkan diri dengan berbagai luka di tubuhnya. Dia kemudian melemparkan banyak uang di atas tubuh wanita itu, hingga berserakan.
Senyum bangga pun terlihat jelas, ketika laki-laki itu melihat akibat dari perbuatan gilanya, dia kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesaat kemudian laki-laki itu sudah ke luar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi kembali.
"Jaga kamar ini sampai wanita itu terbangun, jangan sampai ada yang masuk ke dalam," titahnya pada dua orang pengawal yang sejak tadi berjaga di depan pintu.
Setelah mendapat jawab dari para pengawalnya, laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya dengan senyum yang tidak pernah luntur. Ingatannya kembali pada saat penggrebekan terjadi.
Dirinya yang sudah memesan seorang wanita untuk melayaninya malam ini, tidak ikut ke luar bersama dengan para anak buahnya, melainkan malah memasukkan wanita yang sudah bersiap sejak tadi ke dalam kamar bekas memantau pekerjaan sebelumnya.
Ketika seluruh kamar diperiksa oleh polisi, dirinya hanya tinggal memperlihatkan wajahnya yang terdapat lipstik di ujung bibir dan kancing kemeja yang sudah berantakan.
Sebagai salah satu pemimpin perusahaan yang sudah ada sejak lama, tentu dirinya memiliki nilai tersendiri, hingga membuat para penegak hukum berpangkat rendah itu tidak berani untuk masuk ke dalam kamarnya. Hingga akhirnya mereka pun aman dari penggledahan yang dilakukan malam itu.
Ke luar dari lift di lantai satu, laki-laki itu lebih dulu mampir ke meja resepsionis untuk menambahkan uang tips karena dirinya merasa sangat puas untuk malam ini.
"Bagaimana dengan pelayanan kami, Tuan Dery?" tanya sang resepsionis dengan senyum ramah.
"Sangat memuaskan. Biarkan dia istirahat di kamar, para pengawalku akan menjaganya," ujarnya sambil memberikan amplop berisi uang tambahan pada sang resepsionis.
Dengan wajah sumringah resepsionis itu menerima amplop dari tangan Dery, kemudian mengangguk patuh.
"Tentu saja, Tuan. Sesuai keinginan Anda," jawabnya.
Dery melanjutkan langkahnya menuju sebuah mobil yang sudah disiapkan, kemudian mulai melajukannya dengan kecepatan sedang, ke luar dari hotel. Dia kembali memasang earphone di telinga seraya menghubungi seseorang.
"Transaksi berhasil, uang didapatkan. Semua orang aman, yang tertangkap hanya seorang preman bayaran," lapornya pada seseorang di seberang sana.
"Bagus, kamu memang selalu dapat diandalkan, Dery. Aku bangga padamu."
Dery tersenyum bangga, di malam yang sudah menjelang pagi, dia membuka kaca mobilnya, menikmati semilir dingin angin malam dengan hati berbunga. Hasrat terpenuhi, tujuan berhasil, dan mendapat pujian dari bos besar. Benar-benar malam yang sempurna.
Bodo amat dengan barang yang sudah disita polisi, itu semua karena kelalaian dari pembeli itu sendiri. Yang terpenting adalah uang sudah ditangan dan sekarang hanya tinggal menghapus jejak kemudian menghilang dari pelanggan baru yang sama sekali tidak pernah melihat wajahnya.
__ADS_1