Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.26 Drama ibu mertua jahat


__ADS_3

"Heuh!" Liora menghembuskan napas kesal untuk yang ke sekian kalinya.


Saat ini Liora sedang berada di depan sebuah pasar tradisional yang sering Mak Onah datangi, untuk berbelanja. Matahari yang sudah mulai terik, ditambah dengan suara bising kendaraan dan orang-orang yang sedang melakukan jual beli membuatnya semakin merasa risih berada di sana.


Semua itu semakin menyiksa begitu dia berjalan semakin masuk ke dalam pasar, bau menyengat dari berbagai macam barang dagangan di setiap lapak yang dia lewati, berhasil membuat perutnya bergejolak hebat.


"Haish, ini benar-benar menjijikan," gerutunya saat melewati beberapa tempat yang terlihat becek oleh genangan air dari bekas mencuci ikan dan daging.


Liora menutup hidungnya menggunakan tisu, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lapak penjual ikan yang tadi sempat ditunjukkan oleh Mak Onah di rumah.


Ya, saat ini Liora sedang berjalan ke pasar seorang diri, semua itu rela dia kerjakan demi tidak membuat semua orang mencurigainya. Akhirnya dia memilih mengalah dan menuruti kemauan Niken dan ibu mertua Tiara untuk membeli ikan langsung ke pasar.


Untung saja, Mak Onah memiliki nomor ponsel penjual ikan langganan mereka, hingga Liora hanya tinggal mengambilnya saja, tanpa pusing harus memilih jenis dan menawar lagi.


"Bang, mau ngambil ikan milik Mak Onah," ujar Liora begitu sampai di depan toko ikan langganan Mak Onah.


Pedagang yang semuanya memang laki-laki terlihat cukup terkejut melihat Liora yang ada di sana, terlebih saat ini Liora sudah tidak lagi seperti Tiara yang dulu.


Liora begitu memperhatikan tubuhnya hingga kini dia tampil cantik walau hanya berpakaian sederhana, bahkan tanpa riasan sedikit pun. Kulit Tiara yang awalanya terlihat kusam tanpa ada masalah kulit lainnya yang menyertai, tidak membutuhkan banyak waktu untuk pulih dan bertambah sehat, hingga kini terlihat kenyal dan segar.


Setelah menerima pesanan ikan dan membayarnya, Liora pun segera kembali ke luar dari pasar tradisional yang secara tidak langsung telah menyiksanya.


Beberapa saat menikmati panasnya berada di dalam kendaraan umum, Liora pun sampai di rumah dengan kulit penuh debu dan rambut lepek oleh keringat, di kedua tangannya terlihat dua kantong kresek berisi berbagai macam ikan.


"Ck!" Liora berdecak kesal melihat Niken dan ibu mertuanya asik menertawakannya, ketika mereka yang sedang bersantai di teras samping melihatnya berjalan memasuki pintu dapur.


"Ya ampun, Non Tiara, sini biar Mak yang bersihkan." Mak Onah tampak menatap khawatir wajah sang anak asuh, kemudian mengambil alih kantong plastik di kedua tangan Liora.


"Hehe ... terima kasih, Mak," ujar Liora sambil terkekeh ringan kemudian memberikan kantong plastik berisi ikan itu ke tangan Mak Onah.


Namun, baru saja dia hendak kembali berbicara untuk pamit membersihkan diri, suara lain mengintrupsinya hingga Liora kembali terdiam.


"Siapa yang menyuruh kamu untuk beristirahat? Bersihkan semua ikan itu dan segera memasak untuk makan siang! Menantuku belum makan karena menunggu ikan bakar buatan kamu, Tiara!" perintah ibu mertua Tiara yang ternyata mengikuti Liora ke dapur.


"Nyonya, biarkan saya yang membersihkan ikannya, nanti kalau sudah siap Non Tiara yang akan memasak." Mak Onah mencoba untuk membela Liora.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan! Tiara, bersihkan semua ikannya lalu masak segera!" titah ibu mertua jahat itu kemudian, sambil menatap tajam wajah Liora.


Liora mengepalkan kedua tangannya, dia hampir saja membentak ibu mertuanya, jika saja dirinya tidak mengingat kalau sekarang tengah berpura-pura lemah, untuk membuat mereka lengah.


"Sini, Mak. Biar aku yang kerjakan." Tanpa mau menatap wajah ibu mertua Tiara, Liora langsung meminta kembali ikan di tangan Mak Onah kemudian berjalan ke arah wastafel yang ada di dapur untuk membersihkannya.


"Cepatlah, kami semua sudah lapar! Dan, kamu wanita tua, jangan berani membantunya, atau akan aku buat anakku memecatmu saat ini juga!" Mertua Tiara itu tampak berseru sebelum akhirnya kembali ke luar.


Liora menatap sinis wanita paruh baya yang begitu menyebalkan itu dari ujung matanya. Tangannya sibuk membuka kantong plastik dan mengeluarkan ikan yang ada di dalamnya.


"Ugh!" Liora meringis begitu melihat ikan yang mengeluarkan lendir dan berbau amis di depannya. Untung saja ikan itu sudah mati, jadi dia tinggal membersihkannya saja.


"Non, biar Mak saja, ya." Mak Onah masih berusaha merebut ikan di tangan Liora.


"Enggak usah, Mak, aku pasti bisa kok," tolak Liora sambil tersenyum pada wanita tua itu. Dia pun berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan menekan rasa jijiknya agar Mak Onah tidak khawatir padanya.


"Tapi, Non–"


"Jika memang Mak Onah mau dipecat dan kita terpisah, silahkan Mak kerjakan sendiri." Liora memotong ucapan Mak Onah yang terus membantahnya.


"Enggak, Non, Mak gak mau ninggalin Non Tiara. Mak sudah janji sama ibu Non mau menjaga Non Tiara," ujar lirih Mak Onah sambil menggelengkan kepala pelan.


Melihat mata Mak Onah yang berkaca-kaca, Liora menghembuskan napas pelan kemudian menggeser tubuhnya agar menghadap Mak Onah sepenuhnya. Dia bersiap untuk berperan menjadi Tiara yang lemah lembut.


"Kalau begitu nurut sama aku ya, Mak. Aku bisa melakukan ini sendiri, Mak kerjakan yang lainnya saja," ujar Liora dengan nada suara yang lebih lembut.


Mak Onah mengangguk. "Kalau gitu, biar Mak bantu siapin bahan masakan yang lain ya, Non."


Liora mengangguk sambil tersenyum. Keduanya pun akhirnya berbagi tugas untuk menyiapkan makan siang.


.


Ibu mertua Tiara dan Niken lebih dulu sampai di meja makan, keduanya menatap semua makanan yang dimasak oleh Liora. Lalu dengan seringai jahat mereka menambahkan banyak garam di ikan bakar yang dengan susah payah Liora masak.


"Tiara! Makanan apa ini? Kamu mau ngeracunin kita semua, ya?!"

__ADS_1


Liora yang baru saja bersiap untuk menjemput Davi di sekolah –setelah sibuk berkutat dengan bahan masakan di dapur– terkejut oleh teriakan ibu mertuanya dari arah meja makan.


"Ish, ada apa lagi sih?!" gumamnya kesal sambil berjalan menuju meja makan.


Sementara itu di belakangnya ternyata Dery yang baru ke luar dari ruang kerja, menyusul dengan rasa penasaran karena keributan di arah meja makan.


"Ada apa, Bu?" tanya Liora begitu dia sampai di depan kedua wanita yang sangat menyebalkan itu.


Liora bisa melihat wajah penuh amarah ibu mertua Tiara dan wajah lemah dan teraniaya Niken. Sepertinya kedua wanita itu akan memulai drama lagi.


"Kamu gimana sih, masak ikan bakar saja gak bisa! Masa rasanya asin banget. Kamu mau bikin menantuku ini darah tinggi, heh?!" maki mertua Tiara sambil memeluk Niken yang mulai terisak penuh kesedihan.


"Kalau kamu gak mau bikinin aku ikan bakar, seharusnya kamu ngomong saja. Gak usah malah merusak makanan seperti ini, kan sayang kalau sampai makanan ini kebuang." Niken tampak berbicara dengan sendu seolah dia adalah korban yang paling tersakiti.


"Heuh!" Liora menghembuskan napas kasar sambil membuang muka.


"Kalau gak suka sama masakan aku ya gak usah dimakan. Gampang, kan? Buat apa pakai drama paling tersakiti seperti ini? Menjijikan!" kesal Liora, kemudian berjalan pergi begitu saja.


Rasanya terlalu malas untuk meladeni drama yang terus berulang di rumah itu, lagi pula dia sudah hampir terlambat untuk menjemput Davi di sekolahnya.


"Tiara! Apa maksud kamu bicara seperti itu, hah?!" Dery menyentak tangan Liora hingga wanita itu terpaksa menghentikan langkahnya kemudian berbalik demi melihat wajah sang suami.


"Apa? Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Apa aku salah, Mas?" tanya Liora sarkas.


"Tidak pantas kamu berbicara seperti itu di depan ibuku, Tiara! Ke mana sopan santunmu, hah?!" Dery menatap Liora dengan menahan amarah hingga seklera matanya tampak memerah.


Liora tersenyum miring, dia tahu apa pun yang dirinya katakan tidak akan pernah didengar oleh Dery. Walau dirinya berusaha menjelaskan apa yang terjadi padanya, Dery akan tetap membela ibunya dan Niken.


"Terserah apa katamu, Mas. Aku harus menjemput Davi, jadi tolong lepaskan tangan kamu," ujar Liora sambil mulai memutar tanganya agar bisa terlepas dari Dery.


Namun, tampaknya laki-laki itu masih enggan untuk melepaskan, dia tetap menatap Liora dengan tangan menggenggam erat pergelangan tangan istri pertamanya.


Liora yang sudah kesal dan terburu-buru tidak bisa lagi bersabar. Hari ini suasana hatinya benar-benar berantakan karena dua orang wanita yang habis-habisan mengerjainya dari pagi sampai siang seperti ini.


"Aku bilang lepas, ya, lepas!" Liora menyentak tangannya hingga tangan Dery terlepas, lalu langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ketiga orang menyebalkan itu.

__ADS_1


__ADS_2